Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook

A A

Ilustrasi seorang perempuan muda duduk di meja dekat jendela berdaun biru sambil menatap layar telepon pintarnya. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sebuah unggahan tentang pakaian berdebu dan sebuah unggahan tentang lonceng gereja muncul di beranda Facebook yang sama, ditulis oleh dua orang yang sama-sama menyebut dirinya muslim, dan keduanya sama-sama bersandar pada teks suci. Yang satu memakai kutipan itu untuk mengunci sebuah perkara, yang satu lagi memakainya untuk membuka percakapan. Dari selisih sekecil itulah dua peneliti bahasa menyusun peta.

Petanya dibuat M. Wildan dari Universitas Pamulang, Banten, bersama Muhammad Ridwan dari Pukyong National University, Korea Selatan, dalam artikel Discourse analysis on the use of language by fundamentalist and moderate Islamic groups on Facebook, terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 2 tahun 2025. Bahannya status dan komentar dari 20 akun Facebook yang mereka pilah menjadi dua kelompok, satu berhaluan fundamentalis dan satu berhaluan moderat, diamati tiap pekan lalu direkam dalam bentuk dokumen teks dan tangkapan layar. Yang mereka kejar bukan isi keyakinannya, melainkan cara kalimat disusun: apa yang ditaruh di depan, apa yang ditaruh di belakang, dan pekerjaan apa yang dibebankan pada kutipan yang menyertainya.

Daftar Isi
  1. Yang literal: ayat dikutip untuk menutup perkara
  2. Yang kontekstual: ayat dipakai untuk membuka percakapan
  3. Dua puluh akun, satu papan tulis yang sama
  4. Apa yang tidak terbaca dari tangkapan layar

Yang literal: ayat dikutip untuk menutup perkara

Ilustrasi mushaf Alquran terbuka di atas rehal kayu lipat dengan latar polos berwarna biru muda.
Ilustrasi mushaf Alquran terbuka di atas rehal kayu lipat dengan latar polos berwarna biru muda. [Foto: Pexels]

Akun bernama Solahudin Ibrahim mengunggah satu kalimat dengan huruf kapital seluruhnya, bahwa terkadang pakaian berdebu lebih baik daripada pakaian berparfum. Kalimat itu tidak dibiarkan berdiri sendiri. Di bawahnya menyusul hadis riwayat Tirmizi tentang debu di jalan Allah yang tidak akan berkumpul dengan asap neraka dalam diri seorang hamba. Susunannya khas, kata kedua peneliti: pernyataan lebih dulu, teks suci sesudahnya, dan teks itu ditempatkan sebagai penutup yang membuat pernyataan tadi tidak lagi bisa diperdebatkan. Wildan dan Ridwan menolak menyebut susunan itu sederhana. Menurut mereka, kalimat pembukanya justru rumit dan dipilih dengan hati-hati, dan yang menandainya sebagai bahasa kelompok fundamentalis bukan kerumitan itu melainkan keyakinan bahwa kebenaran berhenti pada bunyi teks.

Pola serupa muncul pada akun Helmi Yusuf, yang menulis status berjudul renungan tahun baru. Isinya mengajak pembaca memaknai pergantian tahun dari sudut pandang Nabi, lalu diperkuat hadis tentang lima perkara yang harus dimanfaatkan sebelum datang lima perkara lain: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sibuk, hidup sebelum mati. Perayaan yang dianggap tidak sejalan dengan ajaran ditandai, lalu diganti dengan daftar yang lebih tertib. Dua hal menonjol dari pilihan katanya, kata kedua peneliti: waktu, dan desakan agar pembaca menganggap serius hitungan waktu tersebut. Ajakan itu ditujukan pada orang banyak, bukan pada seorang lawan bicara.

Baca juga Kesantunan Bahasa Jawa Tak Selalu Lewat Putaran

Dua contoh lain dicatat dengan nada politik yang lebih terang. Status Habib Rizieq Syihab, dalam kutipan yang disalin papernya, berbunyi “AYAT SUCI DI ATAS AYAT KONSTITUSI”, dengan tambahan bahwa ayat konstitusi tidak boleh bertentangan dengan ayat suci, lalu ditutup ajakan menegakkan konstitusi sepanjang sejalan dengan ayat suci. Sementara akun K.H. Muhammad Arifin Ilham membela pernikahan anaknya pada usia muda dengan menyandarkan alasannya pada perintah menikahkan yang ia kutip dari Alquran. Wildan dan Ridwan menyimpulkan empat ciri dari kumpulan status itu: agresif, literalis, doktrinal, dan politis. Ciri politisnya terbaca dari ajakan memenangkan satu pihak dalam perebutan jabatan, ciri doktrinalnya dari penandaan hari dan aksi tertentu sebagai penanda kelompok.

Yang kontekstual: ayat dipakai untuk membuka percakapan

Di kelompok kedua, teks suci jarang muncul sebagai penutup. Akun yang mengumpulkan kutipan Gus Mus, misalnya, mengunggah kalimat “KEBENCIAN yang bercampur dengan IRI DENGKI menyebabkan orang kalap dan seringkali menghalalkan segala cara”. Tidak ada ayat yang mengikuti, tidak ada perintah yang diturunkan. Yang ditawarkan sebuah gambaran tentang apa yang terjadi pada manusia, dan pembaca dibiarkan menimbang sendiri di mana ia berdiri dalam gambaran itu. Kata kedua peneliti, bahasa semacam ini mengajak orang menjaga kerukunan tanpa pernah menyebut siapa yang salah, dan justru karena tidak menunjuk siapa pun, kalimatnya bisa dibaca oleh kedua kubu.

Akun Robi Sugara memilih jalan sindiran. Ia mendaftar larangan yang beredar pada masanya, mulai dari larangan memakai lonceng karena dianggap tradisi gereja, larangan meniup terompet karena dianggap tradisi Yahudi, sampai larangan memakan roti merek tertentu sebagai bentuk dukungan pada aksi bela Islam, lalu menutupnya dengan kalimat bahwa perang sudah usai dan yang tersisa adalah urusan kualitas diri. Kedua peneliti membaca status itu sebagai penanda sikap toleran yang membaca teks secara lentur. Yang disindir bukan orang yang melarang, melainkan cara berpikir yang menganggap benda sehari-hari bisa merusak keyakinan. Larangan atas lonceng, terompet, dan roti diletakkan berderet justru supaya deretnya sendiri terdengar janggal.

Baca juga Menonton Dara Petak Dara Jingga di Candi Pulau Sawah

Contoh ketiga datang dari akun Sepri Yono, yang mengunggah satu kalimat saja: “Sebuah Indonesia yang aman, damai, dan nyaman jangan sampai dirusak oleh kekuatan perusak mana pun, atas nama apa pun.” Tidak ada ayat, tidak ada hadis, tidak ada nama pihak yang dituduh. Kalimat itu muncul ketika ketegangan politik pemilihan kepala daerah Jakarta sedang tinggi. Dari kumpulan status kelompok ini, Wildan dan Ridwan menarik dua ciri saja, jauh lebih sedikit daripada kelompok pertama: dialogis, serta berorientasi pada kebangsaan dan kemanusiaan.

Dua puluh akun, satu papan tulis yang sama

Kedua kelompok itu memakai papan tulis yang persis sama. Sama-sama Facebook, sama-sama status pendek dengan huruf kapital pada bagian yang ingin ditekankan, sama-sama mengutip sumber yang diyakini bersama. Yang berbeda adalah pekerjaan yang dibebankan pada kutipan tersebut, dan perbedaan itu baru kelihatan kalau statusnya dibaca berdampingan, bukan satu per satu. Pada kelompok pertama, kutipan bekerja sebagai bukti akhir yang menghentikan tawar-menawar. Pada kelompok kedua, kutipan lebih sering berubah jadi bahan renungan yang sengaja dibiarkan terbuka ujungnya. Perbedaan itu terbawa sampai ke pilihan sasaran. Kelompok pertama menulis untuk sesama anggota yang sudah sepakat, kelompok kedua menulis untuk pembaca yang belum tentu sepakat, dan bentuk kalimatnya mengikuti sasaran masing-masing.

Cara kerja penelitiannya sendiri sederhana dan manual. Dua puluh akun dipilih karena taat mengunggah isi bermuatan ideologis, ditandai lewat pengamatan atas narasi keagamaan yang mereka naikkan. Akun yang tekun mengunggah kutipan ayat dan hadis dengan tafsir harfiah dimasukkan ke kelompok fundamentalis; akun yang mengunggah narasi lebih kontekstual dan inklusif ditandai sebagai moderat. Pengamatan dilakukan tiap pekan, dan tiap unggahan dicatat sebagai dokumen teks sekaligus tangkapan layar, lengkap dengan gambar dan tautan yang menyertainya. Data lalu dikelompokkan menurut tema yang muncul, mulai dari pemakaian ayat, retorika politik keagamaan, sampai penekanan pada nilai demokrasi dan toleransi.

Baca juga Saat Dua Bahasa di Kepala Berebut Giliran Bicara

Keabsahannya dijaga dengan dua cara. Temuan dari satu akun dibandingkan dengan temuan dari akun lain serta dengan penelitian terdahulu tentang kelompok serupa di media sosial, lalu hasil analisisnya diperiksa seorang ahli bahasa di luar tim. Kerangka bacanya diambil dari analisis wacana kritis yang menempatkan bahasa sebagai alat pembentuk pendapat umum dan penguat identitas kelompok, dan dari teori komunikasi bermedia komputer yang menyebut pola bahasa di layar berbeda dari pola bahasa dalam pertemuan tatap muka karena keterbatasan tubuh diganti oleh teks, gambar, dan lambang.

Apa yang tidak terbaca dari tangkapan layar

Di sinilah batas penelitian ini mulai terasa. Dua puluh akun bukan potret umat, dan papernya tidak memuat bagian keterbatasan yang menyatakan hal itu secara terbuka. Sebagian status yang dianalisis jelas berasal dari masa panas politik Jakarta beberapa tahun sebelum artikel ini terbit, sehingga yang terbaca sebenarnya bahasa pada satu periode tertentu. Tidak ada wawancara dengan pemilik akun, tidak ada catatan berapa orang yang membaca, membagikan, atau justru mengabaikan unggahan tersebut, dan tidak ada perbandingan dengan cara orang yang sama berbicara di luar layar.

Penggolongannya pun bertumpu pada penilaian peneliti atas narasi yang diunggah, bukan pada pernyataan pemilik akun tentang dirinya sendiri. Label fundamentalis dan moderat, dalam paper ini, adalah kategori analisis yang dipinjam dari sejumlah rujukan, bukan keterangan resmi siapa pun. Membacanya sebagai penilaian atas keislaman seseorang akan menaikkan derajat temuan jauh melampaui apa yang sanggup ditopang dua puluh tangkapan layar. Sebuah status pendek juga bukan seluruh isi kepala orang yang menulisnya.

Simpulan kedua peneliti tetap ditulis dengan nada yang tegas. Bahasa kelompok fundamentalis, kata mereka, mencerminkan sikap yang tertutup terhadap tafsir dan dialog yang lebih luas, sedangkan bahasa kelompok moderat cenderung lebih inklusif meski tetap dibentuk oleh dinamika politik dan budaya global. Facebook, dalam bacaan mereka, adalah arena yang bisa berjalan dua arah sekaligus: memperuncing kutub, atau membuka percakapan yang melintasi batas kelompok.

Dua unggahan di awal tadi masih ada di sana, berjajar di beranda yang sama. Yang satu menutup dengan hadis, yang satu menutup dengan sindiran. Keduanya sama-sama yakin sedang menjaga sesuatu, dan keduanya sama-sama menulis untuk dibaca orang yang tidak mereka temui.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi sepasang tangan mengetik pada layar telepon pintar yang menyala terang di ruangan bercahaya merah.
Ujaran Kebencian @jokowi di Mata Linguistik Forensik
Ilustrasi sepasang tangan memegang telepon pintar yang menampilkan lini masa berisi deretan gambar unggahan media sosial.
Makna Tersirat di Balik Komik Strip Sampahisasi
Halaman naskah Jawa beriluminasi dengan bingkai hias bermotif kotak-kotak dan gambar pepohonan yang dilukis di bagian atas.
Dewi Kilisuci Hamil dalam Naskah Panji Jayakusuma
Tumpukan naskah lontar Bali.
Ular di Halaman, Babi di Jalan: Kutukan Lontar Bali
Pasar Gede Harjonagoro, Surakarta.
Kompyang Pak Haryono, Roti Tanpa Merek di Pasar Gede
Dalem Jayadipuran, Yogyakarta, tempat Kongres Perempuan Indonesia I berlangsung pada Desember 1928.
Siti Hajinah dan Jalan Tengah Kongres Perempuan 1928