Cekricek.id — Salsa Maharani menghabiskan satu tahun menggulir satu akun Instagram dan menekan tombol tangkapan layar setiap kali dua tokoh komik saling menjawab dengan cara yang tidak lurus. Ia tidak mengumpulkan lelucon. Ia mengumpulkan jarak antara apa yang diucapkan tokoh dan apa yang sebenarnya dimaksudkan. Ketika berhenti, mahasiswa Universitas Negeri Padang itu memegang seratus tuturan yang seluruhnya menyimpan maksud terpendam, dan seratus tuturan itulah yang kemudian ia bedah bersama pembimbingnya.
Hasilnya terbit sebagai Implikatur Percakapan dalam Komik Strip pada Akun @sampahisasi di Instagram, ditulis Salsa Maharani bersama Ngusman Abdul Manaf, keduanya dari Universitas Negeri Padang, di jurnal Persona Volume 5 Nomor 1 tahun 2026. Objeknya satu akun komik strip yang dibuat Dhimas Bagus sejak 2016, yang selama ini lebih dikenal sebagai lapak humor absurd ketimbang sebagai bahan kuliah linguistik. Isu yang diangkatnya berkisar pada hal-hal yang akrab: jam kerja yang panjang, biaya hidup, budaya pamer, dan hubungan antarorang.
Daftar Isi
Menyaring Seratus Tuturan dari Satu Akun

Salsa membatasi bahan bakunya pada unggahan sepanjang Januari sampai Desember 2025. Alasannya praktis: konteks sosial dalam satu tahun relatif seragam, sehingga lelucon yang bergantung pada peristiwa tertentu tidak bercampur dengan lelucon dari zaman lain. Ia menyimak, menangkap layar, menyimpan, lalu mencatat tuturan yang mengandung maksud tersirat. Tidak semua strip masuk. Yang tidak menyimpan jarak antara ucapan dan maksud ia lewati. Instrumen utamanya, tulis Salsa dan Ngusman, adalah peneliti itu sendiri, dibantu gawai dan format inventarisasi. Teknik menyimak dan mencatat semacam itu mereka pinjam dari panduan metode Sudaryanto, sementara kerangka penelitian kualitatifnya mengikuti Lexy Moleong.
Alat teorinya dipinjam dari tiga orang. Paul Grice merumuskan gagasan bahwa makna tuturan tidak berhenti pada apa yang dikatakan, melainkan berlanjut pada apa yang diimplikasikan oleh konteks. George Yule membagi implikatur percakapan menjadi tiga jenis. John Searle menyediakan senarai fungsi tindak tutur, dari yang menyatakan sampai yang menetapkan. Ngusman Abdul Manaf, yang menjadi pembimbing sekaligus penulis kedua, juga bertindak sebagai penguji keabsahan data, membandingkan hasil klasifikasi Salsa dengan teori acuan. Kunci seluruh kerangka itu, mengikuti rumusan Kunjana Rahardi yang mereka kutip, adalah konteks: cabang linguistik ini mempelajari maksud penutur dengan menghubungkan bentuk, makna, dan situasi tuturnya.
Baca juga Tiga Puluh Empat Laporan Warisan Budaya di Meja BRIN
Pilihan bahannya sendiri punya alasan angka. Salsa dan Ngusman mengutip laporan We Are Social untuk 2025 yang mencatat 143 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia, setara separuh penduduk, dengan Instagram dipakai sekitar 103 juta orang. Di lapak sebesar itu, pesan lebih sering datang dalam bentuk pendek, visual, dan tidak tuntas diucapkan. Komik strip, kata keduanya, memadatkan teks dan gambar sekaligus, sehingga satu panel bisa memuat humor, sindiran, dan pesan moral dalam waktu baca beberapa detik.
Memilah Tiga Jenis Maksud Tersirat
Dari seratus data itu, Salsa menemukan implikatur percakapan khusus mendominasi dengan 71 data. Jenis ini menuntut pembaca mengetahui konteks tertentu sebelum bisa menangkap maksudnya. Implikatur umum, yang bisa dipahami tanpa bekal pengetahuan khusus, muncul 21 kali. Implikatur berskala, yang bekerja lewat ukuran atau kuantitas, hanya 8 kali. Susunan itu bukan sekadar angka. Ia berarti tiga dari empat lelucon di akun tersebut hanya lucu bagi orang yang sudah lebih dulu tahu situasinya. Humor semacam itu menutup pintunya sendiri bagi pembaca yang datang dari luar konteks.
Contoh yang dipakai Salsa untuk jenis berskala datang dari sebuah strip tentang keterlambatan. Seorang tokoh mempertanyakan mengapa pasangannya lama, dan jawabannya, dalam komik itu, berbunyi bahwa toilet kafe tersebut “jauh, 50 km dari sini”. Angka itu jelas mustahil, sebab tidak ada kafe yang menaruh toiletnya sejauh itu. Justru kemustahilannya yang membawa pesan, karena ukuran yang dilebih-lebihkan dipakai untuk menutupi hal lain yang tidak ingin dikatakan. Yule menyebut mekanisme semacam ini sebagai skala nilai yang menyiratkan makna lewat pilihan kata.
Baca juga Nilai Bahasa Jawa Naik Usai Aplikasi Masuk Kelas
Untuk jenis umum, Salsa mencatat percakapan sepasang kekasih tentang potongan rambut yang tidak disadari. Untuk jenis khusus, ia mencatat dua pengunjung yang merasa berhasil mengelabui penjual tiket, tuturan yang hanya bisa dipahami kalau pembaca melihat gambar di panel sebelumnya. Perbedaan antara ketiganya, menurut Salsa dan Ngusman, terletak pada seberapa banyak pengetahuan bersama yang harus dibawa pembaca sebelum masuk ke dalam panel. Semakin sedikit yang dijelaskan gambar, semakin banyak yang harus sudah ada di kepala pembacanya.
Menghitung Tema dan Fungsi Tuturan
Lapisan kedua pekerjaan Salsa adalah menimbang isi. Ia memilah seratus tuturan tadi ke empat tema, mengikuti kerangka Teun van Dijk yang melihat wacana sebagai cerminan struktur sosial dan ideologi. Tema sosial memimpin dengan 49 data, disusul moral 24, edukatif 15, dan ideologis 12. Di dalam tema sosial, subtema relasi antarpribadi paling sering muncul dengan 14 data, diikuti gaya hidup masyarakat 11 data, lalu status sosial dan konflik sosial masing-masing 8 data.
Angka-angka itu menggambarkan sebuah akun yang lebih banyak berbicara tentang hubungan orang ketimbang tentang gagasan besar. Satu contoh tema sosial yang dicatat Salsa berupa adegan pamit di rumah, ketika seorang tokoh berangkat kerja dan dijawab “Iya, ampela-ampela ya Pa”, plesetan dari hati-hati yang hanya bekerja karena pembacanya tahu bunyi kalimat aslinya. Tidak ada kritik di situ. Yang ada hanya cara sebuah keluarga bercakap, dan cara itu pun ternyata bisa dihitung.
Lapisan ketiga menyangkut fungsi. Memakai kelima kategori Searle, Salsa menemukan fungsi direktif paling banyak dengan 38 data, yaitu tuturan yang berusaha memengaruhi tindakan lawan bicara tanpa memerintah secara terbuka. Fungsi ekspresif menyusul dengan 29 data, representatif 23, komisif 8, dan deklarasi hanya 2. Susunannya masuk akal untuk sebuah komik. Orang jarang mengumumkan perubahan keadaan lewat empat panel; mereka lebih sering menyindir dan mengeluh. Salsa mencatat satu-satunya kelompok deklarasi berupa adegan pemutusan hubungan, tuturan yang mengubah keadaan begitu diucapkan.
Baca juga Hutan Nagari Halaban dan Ladang di Kawasan Lindung
Dari sini Salsa dan Ngusman menarik satu kesimpulan yang agak jarang dilekatkan pada komik daring. Menurut mereka, komik strip di media sosial dapat berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan sosial, moral, dan edukatif secara tidak langsung. Kritik terhadap sistem pendidikan tercatat sekali, literasi tiga kali, motivasi belajar tiga kali. Jumlahnya kecil, tetapi keberadaannya menunjukkan bahwa akun yang menamai dirinya dengan istilah sampah pun menyimpan muatan yang tidak sepele. Kajian sejenis sebelumnya, seperti yang dikerjakan Nina Syufrida atas komik Si Juki dan Happy Desiyon Windasari atas Panji Koming, sudah menemukan pelanggaran kaidah percakapan sebagai cara membangun sindiran; yang belum dilakukan, kata Salsa dan Ngusman, adalah menggabungkan jenis, tema, dan fungsi dalam satu kajian.
Menimbang yang Lolos dari Hitungan
Bagian paling jujur dari paper itu justru bagian yang mengurangi wibawanya sendiri. Salsa dan Ngusman menuliskan keterbatasan penelitian secara terbuka: sumber datanya hanya satu akun Instagram, jangkauannya hanya tahun 2025, dan analisisnya kualitatif sehingga bergantung pada tafsir peneliti. Tidak semua komik di akun itu dianalisis, melainkan hanya yang mengandung implikatur percakapan. Persentase yang mereka sajikan, dengan demikian, adalah persentase dari seratus data pilihan, bukan dari seluruh isi akun, dan bukan potret cara orang Indonesia berbahasa di media sosial pada umumnya.
Keterbatasan itu penting dibaca sebelum angkanya dibawa ke mana-mana. Satu akun bukan Instagram, dan Instagram bukan bahasa Indonesia. Salsa dan Ngusman juga tidak mengukur bagaimana pembaca sebenarnya menangkap maksud tersirat itu; yang mereka petakan adalah tuturannya, bukan tanggapan orang atas tuturannya. Justru di situ mereka menaruh saran untuk peneliti berikutnya, yaitu menguji respons pembaca dan memperluas sumber data ke akun maupun media lain.
Ada satu hal yang sudah ditunjukkan Salsa sejak awal dan tidak berubah oleh keterbatasan itu. Dari seratus tuturan, sebagian besar hanya bisa dipahami oleh orang yang membawa konteks dari luar panel. Kesenjangan pemahaman itu, tulis Salsa dan Ngusman, membuat tidak semua pembaca sanggup menangkap pesan yang disampaikan, dan justru kesenjangan itulah yang mereka sebut sebagai alasan penelitian ini dikerjakan. Lelucon yang sama bisa mendarat pada satu orang dan luput pada orang lain, tanpa ada yang salah membaca huruf.
Setahun menggulir, seratus tangkapan layar, empat panel setiap kali. Yang dikumpulkan Salsa Maharani sebenarnya bukan komik, melainkan seratus bukti bahwa di dalam panel-panel itu maksud hampir selalu ditempuh lewat jalan memutar. Dhimas Bagus menggambar itu sejak 2016 dan menyebutnya humor. Salsa mengarsipkannya panel demi panel dan sebuah jurnal linguistik menyebutnya data.













