Cekricek.id — Di ruang kelas Pendidikan Bahasa Inggris di Serang, huruf v yang keluar sebagai f dicatat sebagai galat pelafalan; di ruang wawancara kerja, bunyi yang sama dicatat sebagai ukuran kecerdasan. Dua ruangan itu memakai daftar periksa yang berlainan, tetapi menimbang satu hal yang persis sama, yaitu cara mulut seseorang memperlakukan bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Khaerul Fajri dari Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Istifadah dari University of Wisconsin-Madison menaruh kedua ruangan itu berdampingan dalam Power and Linguistic Meritocracy: Dialect Interference and Symbolic Capital among Sundanese-Banten EFL Learners, yang terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 2 tahun 2025.
Papernya menanyakan dua hal sekaligus. Yang pertama teknis: bentuk gangguan apa saja yang muncul ketika penutur dialek Sunda Banten mengucapkan bahasa Inggris. Yang kedua sosial: sistem nilai apa yang tumbuh di masyarakat dari gangguan tadi. Pertanyaan pertama dijawab dengan alat fonetik artikulatoris, pertanyaan kedua dengan kerangka Pierre Bourdieu tentang modal simbolik. Sepuluh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di kampus Serang direkam membaca teks berbahasa Inggris, lalu rekaman itu disalin ke abjad fonetis internasional dan ditandai kata demi kata. Semuanya sudah memakai dialek Sunda Banten lebih dari lima tahun dan berorang tua asal Banten. Pengamatan berjalan hampir satu semester sebelum kesepuluh nama itu terpilih. Kuesioner dipakai untuk menjaring data diri dan kebiasaan berbahasa, teks bacaan dipakai untuk memancing bunyinya keluar.
Daftar Isi
Bunyi yang Melemah dan Bunyi yang Menguat

Pada satu sisi ada pelemahan. Fajri dan Istifadah menyebutnya lenisi, mengikuti kerangka Terry Crowley: sebuah bunyi berpindah ke versi yang lebih ringan dan lebih murah diucapkan. Kata activities keluar dengan ekor s alih-alih z. Bunyi v di tengah availability jatuh menjadi f, begitu pula pada virulent dan division. Pada sisi seberangnya ada penguatan, yang mereka sebut fortisi. Bunyi th yang berdesis pada then dan rather mengeras menjadi d. Dua gerakan itu berlawanan arah, tetapi lahir dari sebab yang sama, yaitu perangkat bunyi bahasa pertama tidak menyediakan tempat bagi bunyi yang diminta bahasa ketiga. Bagi kebanyakan orang Indonesia bahasa Inggris memang bahasa ketiga, datang sesudah bahasa daerah dan bahasa nasional.
Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah
Timbangannya berat sebelah. Pelemahan muncul di banyak responden dan menumpuk pada empat kelompok kata, sementara penguatan hanya tercatat pada dua responden dan hanya menyangkut bunyi th. Selain itu ada penggantian yang tidak masuk ke salah satu kutub: bunyi j pada agency, antigen, dan emergency berubah menjadi g, karena dialek Sunda Banten membentuk bunyi j dari sumber yang berbeda dengan bahasa Inggris. Bunyi z di ujung kata pun bercabang dua arah, kadang mengeras jadi s pada was, kadang meluncur jadi r pada numbers dan indicators.
Huruf yang Rontok dan Huruf yang Disisipkan
Sebagian bunyi hilang. Fajri dan Istifadah mencatat sinkope, yakni bunyi yang lenyap di tengah kata: s pada transportation dan inspection, k pada masks. Di sebelahnya ada apokope, yakni bunyi yang lenyap di ujung: t pada government dan effect, z pada means dan areas, seluruh suku akhir pada optimistic. Bagi telinga yang tidak menunggu bunyi itu, kata tetap terdengar utuh. Bagi penguji yang memegang daftar transkripsi, satu huruf yang tidak muncul sudah cukup untuk memberi tanda. Dua gejala itu berbagi satu logika: yang paling gampang gugur adalah bunyi yang paling sulit disusun oleh lidah yang tidak terbiasa.
Sebagian bunyi justru bertambah. Epentesis menyisipkan huruf di tengah, dan yang paling sering disisipkan adalah r: travelers diucapkan seolah ada r sebelum akhiran, government mendapat r yang tidak tertulis. Paragoge menempelkan bunyi di ujung, juga sebagian besar berupa r, seperti pada after, longer, dan booster. Sebabnya berkebalikan dengan sinkope. Huruf yang dalam lafal baku Inggris dibiarkan bisu justru tetap dibunyikan, sebab dalam dialek Sunda Banten huruf yang ditulis memang lazim dibunyikan.
Baca juga Janlup dan Gercep di Kolom Komentar TikTok
Yang tidak ditemukan sama pentingnya dengan yang ditemukan. Dari senarai perubahan bunyi Crowley, papernya tidak menjumpai metatesis, disimilasi, asimilasi, fisi, fusi, maupun perubahan nada. Beberapa gangguan hanya muncul satu kali pada satu responden, dan Fajri serta Istifadah menolak menghitungnya sebagai pola. Mereka meminjam istilah Walter van Heuven dan rekan-rekannya, pinjaman leksikal yang kebetulan, untuk kejadian tunggal semacam itu. Enam jenis perubahan bunyi bertahan sebagai temuan; sisanya dilepas. Cara memilah seperti itu membuat daftar temuannya lebih pendek daripada yang mungkin diinginkan pembaca, tetapi juga lebih tahan diuji ulang.
Sepuluh Mahasiswa Serang dan Standar dari Jauh
Ukuran yang dipakai untuk menilai kesepuluh mulut itu tidak lahir di Serang. Dua ragam yang paling banyak diajarkan di dunia adalah Inggris British dan Inggris Amerika, dan menurut kajian Emily Myers dan rekan-rekannya yang dikutip papernya, penutur di kawasan perkotaan lebih lihai meniru keduanya. Banten berdiri persis di sebelah kawasan itu. Provinsi ini baru dipisahkan dari Jawa Barat pada 2000, berbatasan langsung dengan Jakarta di timur, dan sebagian besar penduduknya berbahasa pertama dialek Jawa Banten atau dialek Sunda Banten. Dekat secara jarak, jauh secara sumber daya. Perbandingan itulah yang membuat kasus Banten menarik bagi kedua penulisnya. Kalau kedekatan geografis dengan pusat bahasa asing otomatis menular, dialek di Serang mestinya sudah luntur; kenyataannya justru sebaliknya, ciri lokal masih menonjol pada mahasiswa yang bercita-cita menjadi guru bahasa Inggris.
Di titik itu papernya berpindah dari fonetik ke sosiologi. Bourdieu menempatkan bahasa bukan sebagai alat netral melainkan sebagai sumber daya simbolik yang nilainya ditentukan oleh arena. Nancy Flores dan Estefania Saldivar Garcia, yang juga dikutip papernya, menyebut keyakinan bahwa kefasihan berbahasa global adalah petunjuk obyektif atas kecerdasan dan kerja keras dengan nama meritokrasi linguistik. Fajri dan Istifadah menutup abstraknya dengan kalimat yang sulit diparafrasekan tanpa kehilangan tekanan: pelafalan menjadi “bukan sekadar ciri kebahasaan, melainkan penanda keabsahan sosial dan modal simbolik”. Kalimat itu mengubah status seluruh tabel fonetik di halaman sebelumnya: yang tadinya daftar galat teknis kini menjadi daftar penanda kelas.
Nilai di Kelas dan Nilai di Pasar Kerja
Penilaian pertama terjadi di ruang kuliah. Bunyi v yang menjadi f dan suku kata yang rontok masuk ke dalam nilai kemampuan berbicara, dan nilai itu kemudian ikut menyusun catatan akademis seorang mahasiswa. Penilaian kedua terjadi jauh sesudahnya, ketika catatan akademis dan cara berbicara sama-sama dibawa ke bursa kerja. Bedanya, di ruang kuliah gangguan itu masih bisa diperbaiki dengan latihan; di bursa kerja ia sudah berubah menjadi kesan tentang orangnya. Papernya menyebut pergeseran itu sebagai naturalisasi, ketika penilaian berbasis bahasa terasa adil semata-mata karena terlihat obyektif. Pierre Bourdieu dan Jean-Claude Passeron sudah lebih dulu menunjukkan bahwa sekolah menyimpan aturan tak tertulis tentang bagaimana orang mesti berbicara dan berpakaian, dan aturan itu bekerja paling kuat justru ketika tidak pernah diucapkan.
Baca juga Kampung Pitu dan Pantangan Tujuh Kartu Keluarga
Dua filsuf dipakai untuk membongkar rasa adil tadi. Norman Daniels sudah menulis pada 1978 bahwa jasa seseorang tidak lahir dari kemampuannya sendiri, melainkan dari kenyataan bahwa kemampuan itu kebetulan berguna bagi masyarakat, dan kesetaraan kesempatan menuntut langkah aktif, bukan sekadar penghapusan hambatan. Michael Sandel menambahkan pada 2021 bahwa perekrutan berbasis jasa tampak setara padahal peluang untuk mengasah bakat sejak awal tidak pernah dibagi rata. Keduanya tidak berbicara tentang Banten. Papernya yang meminjam mereka untuk membaca Banten. Hasilnya sebuah sandingan yang tidak nyaman: satu pihak dinilai dengan tolok ukur yang perangkat untuk mencapainya justru tidak tersedia di tempat ia dibesarkan.
Sandingan terakhirnya bersifat geografis. Serang, Lebak, dan Pandeglang, tiga wilayah yang menjadi lokasi penelitian, masih memuat kantong daerah tertinggal meski jaraknya ke ibu kota pendek. Akses pada pengajaran bahasa asing di sana tidak sebanding dengan yang tersedia di kota besar tempat standar pelafalan itu dirumuskan. Fajri dan Istifadah tidak mengukur hubungan itu secara statistik dan tidak mengklaim adanya sebab-akibat. Mereka hanya meletakkan dua fakta berdampingan dan membiarkan jaraknya terbaca. Anne Lie dan rekan-rekannya, yang juga dikutip papernya, sebelumnya menemukan gejala serupa pada keyakinan guru di Indonesia, bahwa anak yang tumbuh dengan modal budaya lebih besar cenderung lebih dulu dianggap berhasil.
Batas papernya diakui sendiri di bagian penutup. Sepuluh responden dari satu jurusan di satu kampus bukan potret satu provinsi, apalagi satu bangsa penutur dialek Sunda. Metodenya kualitatif, sehingga persentase yang disajikan menggambarkan sepuluh mulut itu saja. Sebagian gangguan, tulis kedua penulisnya, muncul tanpa konsistensi dan tanpa frekuensi yang memadai, sehingga sifat gangguan bahasa tetap berlapis dan belum selesai dipetakan. Mereka menyarankan penelitian lanjutan yang mencari cara meredam gangguan itu, bukan sekadar mendaftarnya, sekaligus dukungan pembelajaran yang lebih setara bagi penutur dialek yang tidak dominan.
Maka tinggal dua ruangan tadi. Yang satu mencatat bunyi supaya bisa diperbaiki, yang lain mencatat bunyi supaya bisa memilih. Papernya tidak menyatakan mana yang lebih benar dan tidak meminta salah satunya dibubarkan. Ia hanya menunjukkan bahwa keduanya memakai telinga yang sama, dan bahwa telinga itu sudah lebih dulu tahu apa yang ingin didengarnya.














