Cekricek.id — Cukuran anak adalah nama sebuah upacara di Desa Tenam, Kabupaten Batanghari, Jambi, dan artinya sesederhana bunyinya: memotong rambut anak. Yang dipotong bayi berusia tiga sampai tujuh bulan, digendong ayahnya, dan rambutnya digunting bergantian oleh tujuh orang — kakek dari pihak ayah, kakek dari pihak ibu, paman dari kedua pihak, datuk tuo tengganai atau orang yang dituakan, bapak imam, lalu ayahnya sendiri. Pemotongan itu diperlakukan sebagai pembersihan mahkota anak sekaligus guntingan pertama sejak ia lahir.
Selama gunting berpindah tangan, sekelompok laki-laki memukul rebana dan melantunkan Shalawat Jibril tanpa henti. Musiknya bernama kompangan, dan itulah yang menjadi pokok penelitian Abdul Rokhan, Asril, dan Muhammad Zulfahmi dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Artikel mereka, Bentuk Penyajian dan Fungsi Musik Kompangan dalam Upacara Cukuran Anak di Desa Tenam Batanghari Jambi, terbit di Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol. 6 No. 1 pada 2026. Mereka bekerja dengan metode kualitatif, mengumpulkan data lewat pengamatan langsung, dokumentasi, dan wawancara tidak terstruktur di lokasi kesenian itu dimainkan.
Daftar Isi
Kompang, Gendang Pipih Berkulit Kambing

Kompang adalah nama alatnya: gendang pipih dan bundar dari tabung kayu pendek, salah satu ujungnya ditutup kulit. Dalam penggolongan alat musik, ia termasuk membranofon — alat yang bunyinya lahir dari selaput yang dipukul, bukan dari dawai atau tabung udara. Di Desa Tenam kayunya dipilih dari nangka, karena kayu itu dianggap berkualitas baik dan gampang dibentuk. Kompang bukan alat asli setempat: rebana dan kompang menyebar di tanah Melayu seiring masuknya pengaruh Islam, lalu berakulturasi dengan kebudayaan lokal — dan di Desa Tenam ia dipakai bukan hanya untuk cukuran, tetapi juga untuk arak-arakan pengantin, perayaan tahun baru Islam, dan penyambutan tamu penting.
Ukurannya sengaja tidak seragam. Rahman, seniman kompangan Desa Tenam, menerangkan kepada para peneliti bahwa garis tengah kompang rata-rata 20 sampai 30 sentimeter, dan di desanya dipakai dua ukuran sekaligus, 23 dan 29 sentimeter. Perbedaan itu bukan soal kenyamanan memegang, melainkan soal warna bunyi: garis tengah yang berbeda menghasilkan nada yang berbeda ketika dipukul bersamaan. Yang lebih kecil menghasilkan bunyi yang lebih nyaring, yang lebih besar mengisi wilayah menengah, dan keduanya diperlukan agar lapisan bunyinya tidak rata.
Pembedaan yang sama diteruskan sampai ke kulitnya. Kulit kambing betina yang lebih tipis dipakai untuk mendapatkan bunyi nyaring, kulit kambing jantan yang lebih tebal untuk bunyi menengah. Paku payung yang menahan kulit di sekeliling bingkai ikut menentukan hasilnya; kalau pemakuannya tidak rapat dan tidak merata, warna bunyi yang diincar tidak keluar. Satu lagi alat melengkapi kelompok itu: bass drum dari besi dan plastik, pengganti bedug, dipakai untuk mengisi nada rendah karena lebih ringan dibawa ke mana-mana. Stiknya dari kayu dan karet. Penggantian itu contoh kecil bagaimana kesenian ini menyesuaikan diri tanpa mengubah susunan bunyinya: yang dicari tetap nada rendah, hanya alatnya yang berganti.
Baca juga Tiga Nilai Nabi dalam Satu Episode Nussa dan Rara
Ningka Satu dan Ningka Duo, Nama Lima Pola Pukulan
Sepuluh sampai lima belas laki-laki memainkannya bersama-sama. Pukulannya tidak seragam, melainkan terbagi lima pola yang masing-masing punya nama: dasar untuk kompang pertama, slengan dasar untuk kompang kedua, ningka satu untuk kompang ketiga, ningka duo untuk kompang keempat, dan dram bass untuk yang terakhir. Kelimanya berjalan bersamaan dan saling bersahutan, bukan berurutan. Nama-nama itu sekaligus menunjuk posisi pemain: kompang satu memegang pola dasar, kompang dua sampai empat mengisi di antaranya, dan bass drum menandai bagian bawah.
Cara memainkannya menyesuaikan acara. Dalam arak-arakan, kompangan dibawa sambil berjalan; pada cukuran anak, pemainnya berdiam di tempat, duduk atau berdiri, tanpa berpindah sedikit pun. Pilihan itu bukan soal selera: yang diiringi di sini bukan rombongan yang bergerak, melainkan satu bayi yang berpindah dari tangan ke tangan di satu titik.
Lagu yang mereka bawakan satu saja, Shalawat Jibril, dinyanyikan monofoni — satu jalur suara, tanpa suara kedua — dipimpin seorang tukang shalawat. Isinya permohonan agar Allah menambahkan rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Lagu itu dan kelima pola pukulan tadi diulang terus-menerus sejak bayi keluar dari kamar dalam gendongan ayahnya sampai gunting terakhir selesai. Karena itu panjang musiknya tidak ditentukan lagu, melainkan ditentukan berapa lama tujuh orang tadi menyelesaikan giliran masing-masing.
Pemainnya kini kebanyakan remaja dan orang dewasa muda, sebagian besar pelajar sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan mahasiswa. Menurut Rahman, komposisi itu disengaja: memberi tempat kepada penerus supaya kompangan di Desa Tenam tidak berhenti bersama pemain lamanya. Kostumnya pun tidak khusus — baju koko, batik, celana atau kain sarung, dan peci — supaya pemain tidak tampak berjarak dari tamu yang hadir. Ini berbeda dari kompangan untuk arak-arakan pengantin, yang punya ketentuan pakaian sendiri.
Barzanji Nazom, Riwayat Nabi yang Dibaca Bergantian
Upacaranya sendiri punya tujuh tahapan dan berjalan malam hari, dimulai selepas magrib sekitar pukul 19.00. Pembukanya Ummul Kitab, harfiahnya “induk kitab”, sebutan untuk surah Al-Fatihah, yang dibacakan bapak imam desa. Sesudahnya menyusul pembacaan ayat Al-Qur’an yang suratnya menyesuaikan jenis kelamin bayi: Surah Luqman bila yang dicukur anak laki-laki, Surah An-Nisa bila anak perempuan. Undangan untuk acara malam itu disampaikan sejak sore, sekitar pukul 16.00, lewat seorang tukang ngundang — orang yang bertugas menyampaikan pesan ke rumah-rumah.
Barzanji Nazom datang berikutnya: kitab sastra berisi riwayat Nabi Muhammad dari kelahiran sampai wafat, dibaca bergantian oleh dua orang guru mengaji dengan nada tinggi, sementara hadirin menyebut nama Allah di tiap akhir kalimat. Baru sesudah itu rambut bayi dipotong, dan potongannya dimasukkan ke dalam dogan — kelapa muda yang ujungnya dikupas — lalu ditutup kain dan hiasan bunga yang dipegang bapak-bapak. Harapannya, kata para peneliti, agar rambut yang dicukur itu kelak tumbuh subur — jasmani maupun rohani.
Bagian yang mengiringi pemotongan disebut marhaban, istilah yang di Desa Tenam dipakai untuk menandai inti upacara: semua yang hadir berdiri menyambut bayi yang keluar dari kamar. Rangkaiannya ditutup pembacaan doa oleh imam masjid desa, dengan harapan yang disebut terbuka — agar anak itu kelak berguna bagi orang tuanya, masyarakat, agama, dan bangsa. Pertunjukannya sendiri berlangsung di dalam rumah atau di terasnya, tanpa panggung, dan pemain tetap diam di tempat — tuan rumah lebih sering memilih teras supaya warga sekitar bisa ikut menonton.
Baca juga Lagu Padha Nonton Gandrung Hidup Kembali di Kolom Komentar
Ramatama, Makan Bersama Sesudah Semuanya Selesai
Ramatama adalah nama tahap terakhir, dan di Desa Tenam artinya makan bersama. Tuan rumah menyediakan hidangan di tempat, atau membagikan berkat — makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang. Kalau yang dipilih cara kedua, yang disuguhkan di rumah tinggal kopi, teh, dan kue ringan. Bagian ini yang membuat upacara tidak berhenti pada keluarga penyelenggara: ia berakhir dengan orang sekampung makan di tempat yang sama.
Untuk membaca apa yang sebenarnya dikerjakan musik itu, para peneliti memakai sepuluh fungsi musik yang disusun Alan P. Merriam pada 1964, dan menemukan kesepuluhnya bekerja di Desa Tenam: pengungkapan emosional, penghayatan estetis, hiburan, komunikasi, perlambangan, rekreasi jasmani, penegakan norma sosial, pengesahan upacara keagamaan, kesinambungan kebudayaan, dan pemersatu masyarakat. Rahman menyebut para pemain merasakan kepuasan batin ketika memainkannya, karena musik itu mereka anggap bagian dari ibadah sekaligus tradisi. Pemain tidak sekadar memukul, tetapi ikut melantunkan shalawatnya, sehingga terbentuk keterlibatan yang sama antara pemain, keluarga, dan warga yang hadir. Penghayatan estetisnya, catat para peneliti, sudah dimulai sejak Barzanji dibacakan dua orang tuo tengganai dengan nada tinggi secara bergantian.
Yang menonton, menurut catatan lapangan mereka, kebanyakan bapak-bapak dan anak sekolah dasar. Generasi yang lebih muda ikut menyaksikan, tetapi banyak yang hanya melihat sebentar dan menganggap kesenian ini kuno dibanding permainan atau pertunjukan band. Ketegangan itu yang membuat pembentukan kelompok kompangan anak-anak di desa tersebut punya arti lebih dari sekadar kaderisasi. Selama masih ada rumah yang mengadakan cukuran, kesenian ini punya panggung yang tidak perlu dicari; begitu undangan itu berhenti datang, lima pola pukulan tadi kehilangan tempat berlatih.
Baca juga Guyub Rukun di Balik Sepak Bola Komunitas Yogyakarta
Sebagai penelitian, cakupannya satu desa, dengan data dari pengamatan, dokumentasi, dan wawancara tidak terstruktur di satu tempat — sehingga yang dipetakan adalah bagaimana kompangan bekerja di Tenam, bukan bagaimana kompang dimainkan di seluruh tanah Melayu. Para penelitinya menyebut kajian terdahulu sudah menyentuh kompang di Bengkalis dan kompangan di pesta perkawinan Kampung Baru, tetapi belum ada yang menempatkannya di dalam upacara cukuran anak. Itu yang mereka isi: satu upacara, tujuh tahap, lima pola pukulan, dan satu lagu yang diulang sampai gunting terakhir berhenti.














