Cekricek.id — Yang paling dulu menarik mata ketika menara itu diangkat di jalanan Kota Pariaman bukan puncaknya, melainkan kakinya. Di bagian paling bawah berdiri seekor makhluk bertubuh kuda, bersayap lebar terkembang ke dua sisi, dengan kepala perempuan berkerudung. Namanya Burak. Ia menyangga seluruh susunan di atasnya sekaligus menjadi bagian yang paling sulit dilupakan orang yang pertama kali melihatnya, karena tidak ada satu pun binatang nyata yang bentuknya seperti itu. Bagian itu bukan hiasan yang ditempel belakangan; ia dasar tempat seluruh menara berdiri.
Burak adalah satu dari delapan komponen yang menyusun Tabuik, menara berundak yang diarak masyarakat Pariaman sepanjang sepuluh hari pertama bulan Muharam untuk mengenang gugurnya Husain bin Ali dalam Perang Karbala. Tujuh sisanya bernama Bungo Salapan, Gomaik, Biliak-Biliak, Jantuang-Jantuang, Pasu-Pasu, Tonggak Atam, dan Tonggak Miriang. Kedelapannya dirakit dari bambu, rotan, kayu, dan kertas hias, lalu disusun tegak menjadi satu bangunan yang harus tetap berdiri sekalipun digoyang beramai-ramai dalam prosesi yang disebut Hoyak Tabuik. Tidak satu pun dari kedelapan bagian itu diberi nama secara serampangan.
Susunan itu yang dibongkar satu per satu oleh Ara Salsabila Alland Putri, Elvis, dan Jufrinaldi dari Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Hasilnya mereka tulis dalam artikel Tabuik Pariaman: A Formal Analysis, yang terbit di jurnal V-Art: Journal of Fine Art Vol. 5 No. 2 pada 2026, halaman 109 sampai 125. Mereka turun langsung ke tempat Tabuik dibuat dan diarak, mewawancarai tokoh masyarakat dan anak tabuik, lalu membaca bentuknya memakai kerangka analisis formal yang disusun Edmund Burke Feldman. Datanya diolah dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña: dipadatkan, disajikan, baru ditarik simpulannya. Analisis formal sendiri bekerja dengan memeriksa unsur-unsur rupa — garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, ruang, volume — beserta prinsip yang mengaturnya: keseimbangan, proporsi, irama, kesatuan, dan penekanan.
Daftar Isi
Ketika Burak Menahan Seluruh Bangunan

Dalam pembacaan mereka, tubuh Burak dikuasai bentuk organik: garis-garis melengkung yang memberi kesan gerak dan tenaga. Sayapnya yang terkembang ke kiri dan kanan menciptakan keseimbangan simetris sekaligus menegaskan arah mendatar di bagian dasar menara. Kepala perempuan itu bekerja sebagai titik pusat perhatian. Ketiganya — tubuh, sayap, kepala — menyatu menjadi komposisi yang oleh Feldman disebut memenuhi prinsip keseimbangan dan kesatuan, dua istilah yang dalam kajian rupa dipakai untuk menilai apakah sebuah bentuk berdiri utuh atau berserakan. Bentuk organik itu juga membuat Burak menonjol di antara komponen lain yang hampir seluruhnya geometris, dan kontras itulah yang menahan mata orang di bagian bawah lebih lama daripada semestinya.
Artinya tidak berhenti di situ. Dalam tradisi Pariaman, Burak dipahami sebagai makhluk yang sanggup melintasi batas dunia nyata dan dunia gaib, dan diyakini membawa jasad Husain ke langit setelah peristiwa Karbala. Masyarakat Pariaman hari ini, catat para peneliti, cenderung memperlakukan sosok itu sebagai warisan budaya dan ingatan sejarah, bukan sebagai ajaran teologis tertentu. Perpindahan makna itulah yang membuat Tabuik bertahan ketika kandungan ritual aslinya tidak lagi dianut secara harfiah. Ia berhenti menjadi ibadah dan berubah menjadi milik bersama satu kota, lengkap dengan festival tahunan, arus wisatawan, dan kebanggaan yang tidak lagi bisa dipisahkan dari nama Pariaman.
Baca juga Ketika Buaya dan Badak Menggantikan Wajah Penguasa
Untuk membaca lapisan makna semacam ini, para peneliti bersandar pada Clifford Geertz, antropolog yang memperlakukan simbol budaya sebagai kendaraan tempat sebuah masyarakat menaruh pandangan hidupnya. Dengan kerangka itu, sayap Burak tidak dibaca sebagai hiasan yang kebetulan indah, melainkan sebagai bagian dari sistem tanda yang menyambungkan cerita Karbala di abad ketujuh dengan identitas orang Pariaman hari ini. Bentuk, dalam bacaan ini, adalah cara sebuah kota mengingat sesuatu yang tidak pernah terjadi di tanahnya sendiri. Peristiwanya berlangsung di Karbala pada 680 Masehi; yang tersisa di Pariaman adalah bambu, rotan, dan kertas yang setiap tahun disusun ulang dari nol.
Setelah Delapan Bunga Kertas Dihitung Ulang
Naik ke bagian atas, bentuknya berubah watak. Bungo Salapan — harfiahnya “delapan bunga” — berupa struktur setengah lingkaran menyerupai payung besar, dihiasi ornamen kertas putih yang dibentuk menjadi motif bunga. Delapan payung itu disusun memutar dan simetris, menghasilkan irama visual yang berulang. Letaknya di puncak membuat mata penonton terdorong ke atas, dan justru dorongan itulah yang memberi Tabuik kesan menjulang meski bahannya ringan. Dalam istilah analisis formal, pengulangan delapan kelopak itu menghasilkan irama sekaligus mengunci kesatuan seluruh bangunan — bagian atas dan bagian bawah terbaca sebagai satu benda, bukan dua.
Angka delapan di situ bukan pilihan estetis semata. Menurut para peneliti, delapan bunga itu dibaca masyarakat sebagai lambang delapan suku yang secara historis tumbuh di Pariaman dan Sumatra Barat, dan karena itu membawa nilai persatuan serta kerekatan sosial yang menjadi dasar hidup beradat di Minangkabau. Angka yang sama muncul lagi di bagian lain: Tonggak Atam, delapan tiang penyangga yang disusun simetris, dibaca sebagai lambang menyatunya adat dan agama — rumusan yang di Minangkabau berbunyi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Delapan tiang itu berukuran lebih kecil dari komponen utama, tetapi tanpa keduanya menara kehilangan tumpuan ketika mulai bergerak.
Di antara keduanya bekerja komponen-komponen yang lebih pendiam. Gomaik berbentuk kubah masjid, dipasang antara Pasu-Pasu dan puncak, dan berfungsi teknis sebagai penyeimbang yang membagi beban di bagian atas ketika Tabuik digoyang. Pasu-Pasu berbentuk trapesium yang meniru bentuk atap masjid-masjid tua di Pariaman, dan warnanya — merah dan kuning — dibaca sebagai keberanian dan pengorbanan di satu sisi, kemuliaan di sisi lain. Biliak-Biliak, kotak-kotak bertingkat di bagian tengah, berbentuk balok yang disusun berulang; jumlahnya selalu ganjil. Pengulangan bentuk yang seragam itu menghasilkan irama dan keteraturan, sementara dominasi bidang persegi memberi kesan padat yang menyangga bagian di atasnya.
Baca juga Air Garam dan Mantra Sakit Perut dari Desa Jomboran
Jumlah ganjil itu, kata para peneliti, dikaitkan warga dengan musyawarah dan kepemimpinan: khatib, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, urang sumando, sampai anak kamanakan. Empat Jantuang-Jantuang berbentuk jantung pisang dipasang simetris dan dibaca sebagai kesuburan serta keberlanjutan hidup. Empat Tonggak Miriang dipasang miring terhadap sumbu tegak, dan kemiringan itu bukan kelalaian tukang: ia membagi beban lebih merata sehingga menara tetap kukuh saat digetarkan sepanjang arak-arakan. Kemiringan itu sekaligus memasukkan unsur gerak ke dalam susunan yang seluruhnya tegak — satu-satunya garis diagonal di antara deretan garis lurus.
Yang Tersisa Ketika Menara Itu Digoyang
Para peneliti sendiri memasang rambu di tengah bacaan mereka. Tafsir tentang jumlah Biliak-Biliak dan kaitannya dengan unsur kepemimpinan adat, tulis mereka, adalah pengetahuan lokal yang berasal dari tradisi lisan dan wawancara lapangan; sifatnya kontekstual dan bisa berbeda dari satu pembuat Tabuik ke pembuat lain. Kalimat itu penting dibaca berdampingan dengan seluruh daftar makna di atas, sebab yang mereka susun adalah pembacaan atas keterangan warga, bukan aturan baku yang tertulis di suatu tempat. Wawancaranya sendiri bersifat semiterstruktur, dilakukan dengan tokoh masyarakat, anggota kelompok pembuat Tabuik, dan orang-orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaannya.
Tabuik sendiri tidak lahir di Pariaman. Tradisi ini, menurut rujukan yang mereka pakai, dibawa serdadu dan buruh Muslim asal Bengal dan Madras pada abad kesembilan belas di masa kolonial Inggris, lalu berakulturasi dengan kebudayaan Minangkabau sampai bentuknya berbeda dari ritual Asyura di Timur Tengah maupun Asia Selatan. Kata Tabuik sendiri berasal dari bahasa Arab tabūt, yang berarti peti atau usungan untuk membawa sesuatu yang dianggap suci. Dalam pemakaian di Pariaman, kata itu berpindah arti: bukan lagi peti, melainkan menara berundak yang dihias dan diarak dari hari pertama sampai hari kesepuluh Muharam.
Baca juga Kompyang Pak Haryono, Roti Tanpa Merek di Pasar Gede
Yang belum banyak dikerjakan, dan itulah alasan artikel ini ditulis, justru bentuk fisiknya. Kajian sebelumnya lebih banyak mengurus sejarah, ritual keagamaan, identitas budaya, dan pelestarian; struktur dan susunan rupanya jarang dibedah. Padahal susunan itulah yang setiap tahun dilihat ribuan orang, difoto, dan diingat — bukan penjelasannya. Menempatkan Tabuik sebagai warisan budaya takbenda — kategori yang mencakup pengetahuan tradisional, ritus sosial, ekspresi artistik, dan identitas komunal — menurut para peneliti menuntut dokumentasi bentuknya, bukan hanya pencatatan maknanya.
Kembali ke kaki menara, ke makhluk bertubuh kuda berkepala perempuan itu. Dari sudut yang berbeda, Burak bukan lagi bagian yang paling menarik perhatian, melainkan bagian yang paling banyak menanggung: seluruh delapan komponen di atasnya, seluruh beban kertas dan bambu, dan seluruh arti yang ditumpangkan orang Pariaman kepadanya selama lebih dari satu abad. Setahun sekali ia dibangun lagi dari bambu yang belum pernah dipakai, dan setahun sekali pula orang datang untuk melihat bagian yang paling bawah lebih dulu.














