Muang Jong dan Sehari Ketika Laut Belitung Ditutup

A A

Ilustrasi perahu kayu bercadik melaju di laut lepas. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sebuah perahu kecil dan sebuah rumah kecil dilepas ke tengah laut di Juru Sebrang, Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung. Keduanya berisi sesaji. Di badan keduanya terpasang bendera merah putih. Begitu keduanya lepas dari tangan, orang-orang yang berdiri di pantai bersorak, berteriak, lalu saling menyiram air satu sama lain sampai rangkaian upacara itu benar-benar dinyatakan selesai.

Perahu kecil itu bernama Jong. Rumah kecil itu bernama Ancak. Upacara yang baru saja tuntas bernama Muang Jong, selamatan laut yang dijalankan suku Sawang setiap tahun untuk memohon perlindungan kepada dewa laut agar mereka terhindar dari malapetaka selama mengarungi perairan yang menghidupi mereka. Rangkaiannya panjang, disiapkan berminggu-minggu sebelum hari pelepasan, dan bagian yang paling ramai justru datang di ujung, tepat setelah bagian yang paling sunyi selesai dijalankan.

Semua itu dicatat Reza Pahlawan, Danti Rizki Amalia, Dedy Sartono, dan Cholis Mahardhika dari Departemen Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta, lewat artikel Kajian Nilai Edukatif dalam Tradisi Muang Jong Warisan Budaya Suku Sawang di Belitung yang terbit di jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 9 No. 1 pada 2025. Mereka mendatangi Juru Sebrang dengan metode etnografi, tinggal cukup lama untuk mengamati dan mewawancarai, lalu membaca temuannya memakai kerangka dua belas nilai yang disusun Diane Tillman pada 2004.

Daftar Isi
  1. Juru Sebrang
  2. Jong, Ancak, dan Sesaji
  3. Hari Ketika Laut Ditutup
  4. Dua Jong untuk Tahun yang Terlewat

Juru Sebrang

Pantai berpasir putih dengan pohon rindang dan pulau karang di kejauhan
Ilustrasi pantai berpasir putih dengan air laut dangkal yang jernih. [Foto: Pexels]

Yang datang ke pantai itu bukan hanya orang Sawang. Dalam catatan lapangan para peneliti, hadir pula orang Bugis, Melayu, Jawa, dan Tionghoa, dan sebagian di antara mereka tidak hanya menonton melainkan ikut terlibat langsung di dalam prosesi. Pejabat pemerintah daerah juga turun ke acara. Kehadiran yang bercampur itu, tulis para peneliti, adalah tanda pertama yang mereka baca sebagai nilai kedamaian.

Menan, ketua adat suku Sawang, menjelaskan kepada para peneliti bahwa pintu upacara memang dibuka selebar itu sejak awal, dan bukan sebagai penyesuaian belakangan terhadap tamu yang datang. “Ritual Muang Jong diselenggarakan untuk semua kalangan dengan tujuan diberikan rezeki melimpah setiap tahunnya,” katanya. Kalimat itu ia ucapkan saat menerangkan siapa saja yang boleh berdiri di garis pantai pada hari pelepasan.

Sebelum apa pun dimulai, tetua adat yang berperan sebagai dukun suku Sawang memimpin doa. Doa itu tidak hanya dibacakan pada hari upacara, tetapi juga pada saat Jong dan Ancak mulai dikerjakan, jauh sebelum ada orang berkumpul di pantai. Para peneliti membaca kebiasaan itu sebagai nilai kedamaian dalam pengertian Tillman: keadaan pikiran yang tenang, yang sengaja dihadirkan lebih dulu sebelum sebuah pekerjaan bersama dijalankan.

Baca juga 800 Meter Zona Sakral di Tengah Wisata Yaro Wora

Menan menyebut alasan yang jauh lebih luas dari sekadar keselamatan melaut. “Saya sangat mencintai negara Indonesia ini karena segala sesuatu ada di negara kita, yang perlu kita lakukan hanyalah menjaga dan tidak merusak lingkungan,” ujarnya. Ia mengatakannya sambil menerangkan mengapa bendera merah putih dipasang pada Jong dan Ancak — sebuah pilihan yang oleh para peneliti dibaca sebagai cinta yang tidak berhenti pada sesama manusia, tetapi juga tertuju pada tanah dan laut tempat mereka lahir.

Jong, Ancak, dan Sesaji

Beberapa langkah dari titik pelepasan, di tempat kedua benda itu dirakit, bentuknya sendiri sudah bercerita. Ancak dibuat sederhana. Tidak megah, tidak berlebihan, dan memang tidak dimaksudkan untuk menandingi apa pun. Para peneliti mencatat kesederhanaan itu bukan sebagai keterbatasan bahan, melainkan sebagai pilihan yang disengaja dan diulang setiap tahun oleh orang yang sama.

Pilihan itu sejalan dengan kebiasaan yang mereka temukan di keseharian: suku Sawang tidak mengambil hasil laut secara berlebihan, memanfaatkan sumber daya alam dengan hitungan, dan menjaga kebersihan laut yang mereka pakai setiap hari. Sikap itu, tulis para peneliti, diwariskan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan tidak diajarkan lewat pelajaran khusus melainkan lewat pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama.

Setiap unsur di dalam upacara — bentuk perahu, bentuk rumah, bahan yang dipakai, sampai sesaji yang disertakan — dinilai memiliki makna filosofis yang mencerminkan pandangan hidup dan spiritualitas suku Sawang. Para peneliti menyandingkannya dengan temuan Suprianto dan rekan-rekannya pada 2020 atas tenun Tembe Nggoli di Dompu, yang menunjukkan bahwa tiap motif pada benda budaya membawa arti dan fungsi tertentu, bukan sekadar hiasan.

Ada pula syarat yang tidak kelihatan dari luar. Kejujuran, kata para peneliti, diperlakukan sebagai bagian yang tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan, terutama pada saat menyiapkan sesajen dan mengikuti aturan yang berlaku. Suku Sawang meyakini hal-hal buruk akan datang bila bagian itu dikerjakan tidak sebagaimana mestinya. Keyakinan itu membuat ketelitian berubah menjadi urusan bersama seluruh komunitas, bukan urusan segelintir orang yang kebetulan mendapat tugas menyiapkan perlengkapan.

Baca juga Enam Pantun Meminang dari Desa Semata, Sambas

Riwayat upacaranya sendiri tidak pendek. Para peneliti mengutip Ahmad Saepuloh, yang pada 2019 menulis di jurnal Panggung bahwa ritual kerakyatan di pesisir ini punya sejarah panjang dan tetap dijalankan sampai masa kini. Yang berubah bukan upacaranya, melainkan lingkungan tempat ia berdiri: generasi yang tumbuh dikelilingi teknologi, dan tradisi lokal yang perlahan terdorong ke pinggir sistem pendidikan formal.

Hari Ketika Laut Ditutup

Di sisi lain garis pantai, pada hari upacara berlangsung, laut tidak boleh dilayari siapa pun. Larangan itu berlaku untuk semua orang di Belitung, bukan hanya untuk suku Sawang yang menyelenggarakannya. Selama satu hari penuh, pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan sebagian besar penduduk pesisir pulau itu berhenti seluruhnya, tidak ada perahu yang keluar dari pantai, dan tidak ada jaring yang diturunkan sampai upacara dinyatakan tuntas.

Yang dicatat para peneliti bukan larangannya, melainkan bagaimana larangan itu diterima. Semua pihak menghormati dan mengikuti ketentuan tersebut, termasuk kelompok-kelompok yang tidak menganut kepercayaan yang melahirkan aturan itu. Dalam kerangka Tillman, sikap semacam itu masuk kategori toleransi: penghargaan atas perbedaan yang tumbuh dari pemahaman bersama, bukan dari keseragaman keyakinan.

Kerja samanya terlihat jauh sebelum hari pelepasan. Seluruh anggota suku Sawang yang tinggal di pulau itu datang beramai-ramai untuk mengambil bagian, dan warga Melayu ikut menyumbang tenaga. Para peneliti menempatkan hal ini sebagai nilai kerja sama dalam pengertian Tillman, yaitu usaha bersama yang menuntut kesadaran bahwa keikutsertaan setiap orang memang diperlukan agar pekerjaannya selesai.

“Seluruh masyarakat yang berada di Belitung turut berperan dalam kesuksesan ritual Muang Jong, karena memang tujuan dari acara ini adalah untuk semua warga Belitung,” kata Menan kepada para peneliti. Kalimat itu sekaligus menerangkan mengapa larangan melaut selama sehari tidak pernah diperlakukan sebagai beban yang ditimpakan satu kelompok kepada kelompok lain, melainkan sebagai ongkos yang ditanggung bersama oleh seluruh penghuni pulau.

Dua Jong untuk Tahun yang Terlewat

Kembali ke tempat Jong dan Ancak dirakit, ada satu aturan yang membuat upacara ini sulit ditinggalkan begitu saja. Bila Muang Jong tidak diselenggarakan pada satu tahun, kewajibannya tidak hilang dan tidak dihapus. Ia berpindah, utuh, ke tahun berikutnya, lalu menunggu di sana sampai dibayar oleh orang-orang yang sama, di pantai yang sama, dengan bahan yang harus dicari dua kali lipat lebih banyak.

Menan menerangkan akibatnya dalam ukuran yang sangat teknis: Jong dan Ancak yang semestinya dibuat satu buah harus dibuat dua buah, sebagai pengganti tahun yang dilewatkan. Beban pekerjaannya berlipat, waktu pengerjaannya bertambah, dan yang menanggung bukan satu orang melainkan seluruh komunitas yang tahun sebelumnya sama-sama absen.

Menan juga menyebut alasan mengapa aturan sekeras itu tetap dipelihara sampai sekarang. “Dengan melaksanakan ritual ini sebagai simbol, kami menjaga alam dan hal ini membuat kami senantiasa menerima rezeki yang berlimpah,” katanya. Bagi para peneliti, kalimat itu menutup lingkaran antara kewajiban tahunan, laut yang dijaga, dan penghidupan yang diambil dari laut yang sama — tiga hal yang selama ini mereka susun sepotong-sepotong dari pengamatan lapangan.

Baca juga Pantun Kerbau dan Perda Ulayat di Koto Tangah

Dari sepuluh nilai yang mereka temukan — kedamaian, cinta, penghargaan, toleransi, kejujuran, kerja sama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan persatuan — para peneliti menyimpulkan tradisi ini layak dipertimbangkan masuk ke pendidikan karakter di sekolah. Kesimpulan itu berpijak pada satu desa dan satu komunitas, dan mereka sendiri menyarankan penelitian lanjutan untuk menguji sejauh mana nilai-nilai tersebut benar-benar dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

Yang bisa dilihat di Juru Sebrang tetap sederhana. Sebuah perahu kecil dan sebuah rumah kecil, keduanya berbendera merah putih, dilepas ke tengah laut oleh orang-orang yang keesokan harinya kembali melaut di air yang sama, dengan perahu yang jauh lebih besar dan tanpa seorang pun yang bersorak.

Bagikan

Baca Juga

Xilofon berwarna-warni dan lonceng tangan tertata di atas meja
Lagu Anak Jepang dan Naiknya Fokus Anak TK di Padang
Aneka kue tradisional berwarna-warni tertata di atas nampan kayu berlatar gelap
Kue Mangkuak Sianok Bertahan di Adat, Kalah di Pasar
Dinding kayu masjid berwarna biru dengan panel ukiran bercat emas dan latar pepohonan
Motif Aceh yang Menyelinap ke Ukiran Masjid Bingkudu
Sejumlah mahasiswa duduk berderet mengerjakan tugas di depan komputer dalam sebuah laboratorium.
Telkom University Wajibkan Mahasiswa Pakai AI Sejak Tahun Kedua
Lima orang berdiri di belakang meja kayu berisi dua kotak media pembelajaran sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Media Belajar Mahasiswa UNY Disiapkan untuk 81 SLB di DIY
Dua rektor menandatangani dokumen di meja beralas kain hijau disaksikan enam pejabat di ruang rapat berlayar proyektor.
USK Latih 17 Tenaga Kependidikan UTU untuk Fakultas Kedokteran