Enam Pantun Meminang dari Desa Semata, Sambas

A A

Tepak sirih, wadah adat masyarakat Melayu. [Foto: Riski Syahputra/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Alatnya cuma dua: sebuah perekam suara dan sebuah buku catatan. Dengan dua benda itu data dikumpulkan dari empat laki-laki di Desa Semata, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Yang tertua Manap, 73 tahun, tetua adat. Lalu Pari, 70 tahun, petani; Qobli, 65 tahun, juga petani; dan Ilham, 59 tahun, pegawai negeri. Di Sambas keempatnya dipanggil muhakam, orang yang mendampingi pihak laki-laki atau pihak perempuan ketika adat meminang berlangsung.

Yang mereka serahkan bukan silsilah, bukan doa, bukan nasihat panjang. Enam pantun. Bait-bait pendek yang menurut keempatnya paling sering dipakai ketika rombongan pihak laki-laki sudah duduk di ruang tamu keluarga perempuan dan belum boleh menyebut maksudnya secara langsung. Dalam keenam bait itu maksudnya selalu jatuh di dua baris terakhir. Dua baris pertama hanya mengantar bunyinya.

Enam bait itu menjadi bahan The symbolic meaning of Malay Sambas marriage pantuns: Islam, love, and culture, tulisan Febi Adhadika dan Mariyadi dari Universitas Tanjungpura. Artikelnya terbit di jurnal LITERA Volume 24 Nomor 3, November 2025, halaman 245 sampai 254. Keduanya membaca pantun itu dengan semiotika Roland Barthes, yang memilah makna denotasi, arti harfiah sebuah kata, dari makna konotasi, arti yang tumbuh karena kesepakatan orang yang memakainya.

Daftar Isi
  1. Desa Semata
  2. Basmalah di Larik Ketiga
  3. Cincin dan Burung Gelatik
  4. Pinang di Dalam Tepak

Desa Semata

Empat muhakam itu tidak dipilih sembarangan. Syaratnya tiga: lahir dan besar di Kabupaten Sambas, menguasai pantun, dan benar-benar sering menjalankan adat meminang. Keabsahan datanya dijaga dengan ketekunan pengamatan, yaitu mencatat setiap bentuk pantun meminang beserta konteks pemakaiannya. Rekaman suara diketik ulang, lalu diperlakukan dengan cara Miles dan Huberman: direduksi, disajikan, baru ditarik simpulannya.

Di Kabupaten Sambas, pantun bukan pelengkap acara. Ia justru dihormati pada peristiwa yang dianggap penting, pertunangan salah satunya, dan dipakai untuk menyatakan niat baik serta harapan yang sejalan dengan ajaran Islam. Ideologi syariat itu dirunut sampai ke tradisi yang diajarkan Kesultanan Sambas. Sejak itu pantun meminang diwariskan sebagai cara nenek moyang berbicara sekaligus cara mereka menurunkan adab.

Bentuknya pun sudah ditentukan sejak awal. Dalam upacara perkawinan selalu ada yang membacakan dan ada yang mendengarkan, dan pada acara meminang keduanya adalah pihak laki-laki dan pihak perempuan. Isi yang dibawa bermacam-macam: unsur keagamaan, nasihat, humor, cinta. Karena bentuknya pendek dan bahasanya santun, pantun dipakai sebagai alat komunikasi utama untuk menyampaikan perasaan dan harapan sepanjang upacara.

Baca juga Semalam di Huma Baduy, Mendengarkan Carita Pantun

Bait yang paling sering muncul dalam analisis dibuka dengan gulai buatan Long Dolah, dimasak dari pagi hingga malam. Dua baris berikutnya menyebut yang sebenarnya dikerjakan: “Bermule dengan bacaan basmalah”, lalu “Dibuka dengan ucapan salam”. Rombongan itu tidak membuka pembicaraan dengan lamaran. Mereka membukanya dengan nama Allah.

Basmalah di Larik Ketiga

Menyebut nama Allah di awal kegiatan adalah sunah, dan pantun itu memindahkan kebiasaan tersebut ke dalam bentuk sastra lisan. Pola yang sama terlihat pada bait kedua, yang menutup dengan “Kami ucapkan syukur Alhamdulillah” ketika rombongan disambut baik. Hamdalah di situ bukan basa-basi. Ia menandai bahwa kebaikan tuan rumah dianggap datang dari Allah, bukan dari diri orang yang menerima sambutan.

Salam menempati posisi berbeda. Dalam hukum Islam mengucapkannya sunah, sedangkan menjawabnya wajib, dan dalam adat meminang Sambas ucapan itu jatuh sesudah wakil kedua pihak saling berbalas pantun. Kata itu bukan sekadar sapaan pembuka. Di dalamnya terkandung keselamatan, kedamaian, dan keberkahan, tiga hal yang dimintakan lebih dulu sebelum ada yang berani menyebut soal perkawinan.

Cincin dan Burung Gelatik

Pada bait ketiga ruangnya berubah. Ada rama-rama yang hinggap di kamar dan tidak bisa terbang karena sayapnya luka, lalu dua baris terakhir menyebut maksud yang sebenarnya: “Maksud kumbang datang ingin melamar”, disusul syarat yang diucapkan halus, “Jika memang bunge ndak ade yang punye”. Dalam bacaan kedua peneliti, cinta di situ tidak boleh dinyatakan sembarangan; ia harus melewati prosedur adat, dan pinangan adalah bentuknya.

Bait berikutnya memakai burung gelatik yang sayapnya tersentuh duri, lalu berpindah ke benda: “Sungguh cantik cincin lamaran”, “Sebagai tanda pengikat hati”. Cincin itu menandai perempuan yang dilamar sudah terikat dan tidak lagi boleh dipinang orang lain. Bentuknya bulat dan tidak berujung. Justru bentuk itulah, dalam tafsir kedua peneliti, yang dipakai melambangkan ikatan tanpa kesudahan.

Baca juga Warna Ritual Toraja: Hitam Ternyata Bukan Duka

Cara bacanya sederhana kalau diurutkan. Denotasi lebih dulu: kumbang tetaplah serangga, cincin tetaplah lingkaran logam, pinang tetaplah buah. Konotasi menyusul, dan di situlah kumbang menjadi pihak laki-laki, cincin menjadi janji, pinang menjadi tanda hormat. Lambang dalam pantun Melayu memang banyak diambil dari flora dan fauna yang setiap hari dilihat orang.

Pinangan, dalam bacaan itu, bukan pertemuan dua orang. Ia ikatan antara dua keluarga yang berdiri di atas norma agama sekaligus adat. Laki-laki yang datang menunjukkan kesungguhan; perempuan yang menerima menempatkan cinta di dalam kerangka kehormatan. Semua itu dibaca dari empat baris yang, kalau dilafalkan cepat, terdengar seperti permainan bunyi belaka.

Pinang di Dalam Tepak

Dua bait terakhir membawa urusan keluar dari ruang tamu. Yang satu dibuka dengan “Burung merbah suarenye lantang” yang hinggap di dahan teruntum, lalu menyatakan “Lama sudah niat nak datang” dan “Hendak menjenguk bunga sekuntum”. Prosesi meminang di Sambas selalu dimulai dengan silaturahmi. Cinta dianggap belum cukup kalau hanya hidup di antara dua orang; ia harus hadir di depan keluarga besar.

Silaturahmi dalam meminang, menurut bacaan itu, bukan sekadar bertemu muka. Ia cara mempererat dua keluarga besar yang nantinya disatukan pernikahan, sekaligus tanda keterbukaan dan penghormatan pada tradisi. Nilai yang dijaga di situ moral dan sosial sekaligus: memelihara hubungan baik, menguatkan persaudaraan, dan memastikan cinta berdiri di atas restu keluarga.

Bait penutup menyebut daun miding yang dibelah dan “Buah pinang dipilih-pilih”, lalu mengunci maksudnya dengan “Adat meminang bertepak sirih”. Pinang wajib dibawa dan diletakkan di dalam tepak, berdampingan dengan sirih, kapur, dan gambir. Dengan membawa pinang, pihak laki-laki dianggap datang sesuai adat, dan pinangannya dinilai lebih terhormat serta lebih mudah diterima.

Pinang tidak berdiri sendiri dalam adat Melayu. Ia terikat pada kebiasaan menyirih, dan di dalam prosesi meminang keberadaannya menandai pembuka: tanda bahwa keinginan keluarga pihak laki-laki mulai disampaikan kepada keluarga pihak perempuan. Masyarakat Melayu Sambas, sampai kajian ini dikerjakan, masih memelihara tradisi tersebut.

Baca juga Prasasti 907 Masehi Menyebut Wayang, Kabar Tertua Pertunjukan Jawa

Kalau ketiga temuan itu dijajarkan, urutannya kelihatan. Bait pertama dan kedua mengurus hubungan dengan Allah, bait ketiga dan keempat mengurus hubungan dua orang, bait kelima dan keenam mengurus hubungan dua keluarga. Tidak satu pun berdiri sendiri. Ketiga lapis itu, menurut analisis kedua peneliti, bekerja sekaligus di dalam satu prosesi.

Febi Adhadika dan Mariyadi menyatakan kajian mereka berbeda dari kajian terdahulu karena menyatukan tiga dimensi yang selama ini dibahas terpisah: penerapan syariat Islam, ungkapan cinta, dan pelestarian budaya. Sulissusiawan pada 2015 menyoroti kata tauhid dan nama Allah dalam pantun Melayu Sambas. Rizky dan Simarmata pada 2018 menyoroti kata-kata yang menyatakan hajat meminang. Wahyu pada 2024 membaca pantun pasar terapung sebagai sarana pelestarian budaya.

Ada alasan praktis di balik kerja penafsiran itu. Makna pantun Melayu disebut luas dan dalam, sampai orang Melayu sendiri sulit menafsirkannya. Akibatnya generasi muda kehilangan minat memakai maupun menikmatinya, sementara dokumentasi kegiatan adat tetap tipis. Enam bait dari Desa Semata itu, begitu ditulis dan diurai, berubah dari hafalan empat orang menjadi bahan yang bisa dibaca siapa saja.

Batasnya perlu disebut. Enam pantun dari empat orang di satu desa bukan potret seluruh Melayu Sambas, apalagi seluruh Melayu. Keempat muhakam itu laki-laki, berusia 59 sampai 73 tahun, sehingga suara pihak perempuan tidak masuk ke dalam data. Kedua penulisnya sendiri mengakui kajian ini belum menyandingkan pantun meminang Sambas dengan pantun daerah Melayu lain, dan menyarankan peneliti berikutnya mengerjakannya, termasuk lewat pendekatan sosiolinguistik atau antropologi budaya.

Saran lain diarahkan ke ruang kelas. Pantun meminang, menurut keduanya, bisa dipakai sebagai bahan ajar bahasa, sastra, dan muatan lokal, supaya yang dipelajari bukan hanya rima melainkan juga aturan yang dijaga di baliknya. Sasarannya jelas: anak-anak yang kelak duduk di ruang tamu yang sama, di sisi mana pun mereka duduk.

Perekam suara itu sudah dimatikan dan buku catatannya sudah penuh. Yang tersisa di Desa Semata tetap sama seperti sebelum keduanya datang: empat orang yang tahu bait mana dipakai untuk membuka pintu, dan sebuah tepak berisi pinang yang harus diletakkan lebih dulu sebelum ada yang boleh bicara.

Bagikan

Baca Juga

Pintu kulkas terbuka memperlihatkan botol dan wadah makanan di dalamnya
Kulkas Tosca yang Merekam Rumah Tangga
Papan-papan iklan menyala di persimpangan jalan kota pada malam hari
Empat Poster LA Bold dan Risiko yang Jadi Keberanian
Seorang pemetik kopi membawa keranjang di antara pohon kopi
Enam Belas Unggahan Fore Coffee dan Mitos Kopi
Rumah adat tongkonan dan lumbung padi Toraja dengan dinding berukir geometris berwarna merah, hitam, putih, dan kuning di lereng berhutan
Warna Ritual Toraja: Hitam Ternyata Bukan Duka
Ilustrasi ruang tamu rumah panggung kayu adat dengan tiang berukir, lantai tikar anyaman, dua kursi rendah berhadapan, dan meja pendek berisi wadah sirih kuningan, cangkir keramik, serta kain terlipat
Kutukan yang Tak Pernah Terbukti di Layar Film Lakuna
Kamar tidur di rumah pengasingan Mohammad Hatta di Banda Neira.
Enam Belas Peti Buku Bung Hatta ke Boven Digul