Prasasti 907 Masehi Menyebut Wayang, Kabar Tertua Pertunjukan Jawa

Ilustrasi pertunjukan wayang kulit dengan iringan gamelan pada malam hari

Ilustrasi pertunjukan wayang kulit dan gamelan yang jejaknya terekam pada prasasti dan relief candi Jawa Kuno. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Pada 907 Masehi, juru tulis Raja Balitung di Mataram Kuno memahatkan sebuah frasa pendek pada lempeng prasasti: galigi mawayang, pertunjukan wayang. Dua kata itu tidak menjelaskan siapa dalangnya, berapa lama pertunjukannya, atau bagaimana bentuk bonekanya. Namun bagi peneliti seni pertunjukan, baris itu punya bobot besar. “Ini bisa dikatakan kabar tertua tentang seni pertunjukan di Indonesia,” tulis Soni Sadono dan Brilindra Pandanwangi tentang catatan pada prasasti Balitung tersebut.

Penelusuran itu dipaparkan Soni Sadono dari Telkom University dan Brilindra Pandanwangi dari Institut Seni Indonesia Surakarta lewat artikel Performing Arts in Ancient Java: Historical and Archaeological Studies, yang terbit dalam jurnal Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 1 pada 2025. Keduanya mengumpulkan prasasti, relief candi, kakawin, dan artefak alat musik, lalu menyusunnya sebagai satu garis waktu dari masa Mataram Kuno, Kadiri, hingga Majapahit.

Metodenya sejarah dengan empat tahap sebagaimana klasifikasi Kuntowijoyo: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Bahan dikumpulkan dari arsip digital Delpher.nl, KITLV.nl, dan Oapen.org, serta dari perpustakaan Batu Api di Sumedang, Jawa Barat. Naskah klasik seperti Negarakertagama dan Pararaton dipakai lewat alih bahasa yang dikerjakan para sarjana Belanda. Kerangka penafsirannya diambil dari teori fungsionalisme Emile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life, yang menempatkan ritual dan kesenian sebagai perekat kesadaran kolektif sebuah masyarakat.

Wayang untuk Hyang, Bukan untuk Penonton

Sadono dan Pandanwangi memulai dari fungsi awal wayang. “Wayang pada mulanya berfungsi sebagai media pemujaan terhadap roh leluhur,” tulis keduanya. Pada tahap itu wayang bukan tontonan, melainkan bagian dari upacara yang menghubungkan manusia dengan dunia arwah, dan masih kental oleh kepercayaan animisme serta dinamisme. Jarak antara fungsi ritual dan fungsi hiburan itulah yang belakangan kembali dipersoalkan oleh para pegiat wayang di kota-kota besar ketika mencari bentuk pementasan yang masih bisa ditonton hari ini.

Petunjuk tentang fungsi ritual itu muncul di prasasti Wukajana, yang menyebut pertunjukan wayang sebagai mawayang buat hyang — wayang untuk Hyang, sebutan bagi dewa dalam kebudayaan Jawa. Prasasti tersebut mengisahkan penetapan desa Wukajana, Tumpang, dan Telu sebagai sima bagi bihara di Dalinan, dan pertunjukan yang digelar pada peristiwa penetapan sima itu membawakan lakon Bhimma Kumbara, satu serpihan dari kisah Mahabharata. Prasasti Kuti menyebut istilah Haringgit yang disebutkan setara dengan Awayang.

Pada abad ke-9 dan ke-10, menurut kedua penulis, wayang mulai dimainkan sebagai hiburan sekaligus alat menyampaikan nilai moral dan ajaran agama, seiring digubahnya Mahabharata dan Ramayana ke dalam bahasa Jawa Kuno. Kesenian ini bertahan pada abad-abad berikutnya. Nicolaas Johannes Krom mencatat pemakaian wayang gender pada 1157, tanda bahwa pada abad ke-12 wayang masih jadi pertunjukan populer.

Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri, yang berkuasa pada 1135 hingga 1157, disebut sebagai tokoh penting dalam perkembangan wayang purwa. Ia menampilkan leluhurnya lewat wayang, sehingga pertunjukan itu sekaligus berfungsi sebagai alat mengenang sejarah. Jejak wayang kulit purwa yang lebih tua diperkirakan ada pada abad ke-11 berdasarkan bait ke-59 Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa, yang menyebut sebuah pertunjukan wayang pada akhir masa Dharmawangsa Teguh dan awal pemerintahan Airlangga.

Perlu dicatat bahwa tidak semua garis silsilah itu berdiri di atas bukti yang sama kuatnya. Kedua penulis mengutip hipotesis peneliti Belanda J.L.A. Brandes bahwa wayang merupakan unsur asli kebudayaan Jawa yang sudah ada sebelum pengaruh India datang, sambil menyatakan bahwa hipotesis itu masih memerlukan banyak pembuktian. Untuk jenis wayang beber, sumber yang dipakai adalah Kitab Sastro Mirudo, yang menyebut wayang beber dibuat pada 1283 oleh Condro Sengkolo dan diteruskan oleh putra Prabu Bhre Wijaya.

Gamelan di Tangan Ayah Hayam Wuruk

Sampai masa Majapahit, wayang tetap hidup di lingkungan istana. Kakawin Negarakertagama menceritakan Kertawardhana, ayah Maharaja Hayam Wuruk, sebagai penabuh gamelan yang cakap meski tergolong amatir, dan permainannya mengiringi sang ratu yang melantunkan tembang bersama sebuah wayang bertopeng. Pada pupuh 66, Negarakertagama menyebut wayang sebagai kesenangan yang menggembirakan hati rakyat, dan Hayam Wuruk kerap menyelenggarakannya untuk menghibur penduduk.

Catatan dari luar juga ada. Ma Huan, salah seorang pembantu Laksamana Cheng Ho yang ikut pelayaran ke Jawa pada abad ke-15, mencatat kebiasaan orang Jawa memainkan gulungan gambar dengan dua batang kayu sambil menuturkan cerita dengan suara lantang, sementara orang-orang duduk menonton di hadapannya. Deskripsi itu dipakai kedua peneliti sebagai gambaran wayang beber yang sedang dimainkan.

Tari yang Mengikuti Aturan Natyasastra

Bukti tentang tari muncul dari prasasti yang lebih tua lagi. Prasasti Poh bertarikh 905 Masehi mencatat para seniman tari diundang menghadiri upacara penetapan sima dan menari di tempat upacara; tarian yang disebut adalah tari topeng. Prasasti Taji bertarikh 823 Saka atau 8 April 901 memuat keterangan serupa, yaitu upacara penetapan sima yang menampilkan tarian atau mangigel. Yang menarik dari catatan itu, semua yang hadir termasuk para pejabat kerajaan ikut menari secara bergantian.

Relief menyediakan bukti visualnya. Di Candi Prambanan terpahat gambaran orkestra dan lonceng yang mengiringi pertunjukan tari atau upacara, sementara relief tari di Candi Borobudur menampilkan penari dengan sikap tubuh yang dinamis dan penuh gairah. Sadono dan Pandanwangi menyandarkan pembacaan ini pada kajian Edi Sedyawati, yang menemukan bahwa kaidah tari klasik Hindu sudah dikenal dan diterapkan di Jawa Tengah pada abad ke-8 sampai ke-10.

Kaidah yang dimaksud berasal dari Natyasastra India: sikap berdiri (sthana), gerak kaki dasar (cari), sikap badan, dan sikap tangan. Sikap berdiri mandala, dengan kedua tungkai ditekuk ke samping, dominan dalam tari Jawa Tengah. Dari lima sikap kaki yang dikenal dalam Natyasastra, seluruhnya ditemukan pada relief candi di Jawa Tengah. Dari dua puluh enam sikap tangan tunggal yang dikenal, sekitar tiga belas terpahat di relief. Sedyawati juga mencatat konteks sosialnya: tarian yang mengikuti kaidah klasik India digambarkan berkaitan dengan kalangan bangsawan, sedangkan tarian rakyat yang tidak mengikuti kaidah itu justru dilekatkan pada penggambaran yang merendahkan. Pembelahan antara tari istana dan tari rakyat semacam itu juga menjadi bahan kajian pada tradisi lain di Nusantara, termasuk pada tari yang berpindah dari panggung adat ke layar digital.

Dari masa yang lebih muda, Kakawin Negarakertagama memuat gambaran tari sembilan orang yang dibuka dengan lawakan. Pertunjukan itu digambarkan penuh tawa beruntun sampai perut penonton kaku, tetapi juga memuat adegan sedih yang mampu merenggut air mata. Naskah Pararaton, yang menurut kedua penulis ditulis pada abad ke-17, menyebut Menak Jingga membuat tari melati dan mendang untuk para pengikutnya setelah rangkaian pertarungan antartokoh — tanda bahwa tari juga dipakai untuk menghormati prajurit dan mencairkan suasana seusai perang.

Lonceng Perunggu di Dieng, Suling Bambu di Kidung Sunda

Bukti alat musik paling tua yang disebut dalam artikel ini adalah relief pada salah satu candi di Dieng, yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-8 atau akhir abad ke-7 dan memuat gambaran lonceng perunggu kecil. Di Candi Sari, sekitar 750 Masehi, muncul kecapi bersenar tiga, siter bersenar satu, dan simbal kecil. Candi Nagasari dari masa yang sama menampilkan sepasang lonceng gajah, sedangkan relief petirtaan Jalatunda memperlihatkan harpa kecil berbentuk busur dengan tiga senar.

Di luar relief, sejumlah besar alat musik perunggu ditemukan di Jawa Tengah meski tanggalnya sulit dipastikan, mulai dari bonang-ketel, saron, bilah gender, aneka lonceng, kendang, sampai gong. Sebagian instrumen bambu bahkan diperkirakan lebih tua daripada pengaruh Hindu: sundari, sejenis aeolus bambu, tercatat dalam Arjunawiwaha sekitar 1040; calung disebut dalam prasasti Buwahan pada 1181; damyadamyan, klarinet bambu, muncul sekitar 1188; dan guntang, siter bambu, tercatat dalam Kidung Sunda tak lama setelah 1357. Warna bunyi dari perangkat semacam itulah yang sampai sekarang masih dicari oleh musisi yang menggarap komposisi bernuansa Jawa.

Prasasti Gandasuli dan Poh menyebut alat musik seperti curing dan perangkat gamelan — padahi, regang, tuwung — yang dipakai dalam upacara dan kegiatan keagamaan. Pada masa Hindu-Jawa, jabatan yang berkaitan dengan musik seperti kepala penabuh kendang, pemimpin orkestra, dan kepala pemain harpa berulang kali disebut dalam prasasti. Di Majapahit, kelompok alat musik dikenal sebagai vaditra dan digolongkan berdasarkan sumber bunyinya: avanaddha untuk membran kulit, ghana untuk badan alat itu sendiri, sushira untuk tiupan udara, dan tata untuk dawai yang dipetik.

Negarakertagama memberi gambaran skala pemakaiannya. Setiap bulan Palguna, seluruh kalangan kerajaan merayakan upacara yang diikuti pejabat, hakim, abdi desa, bahkan orang-orang dari tempat jauh. Gamelan diusung berkeliling di atas usungan di tengah kerumunan dan dibunyikan tujuh kali sambil hidangan diarak, sementara pendeta Siwa-Buddha membacakan mantra dan menggelar sesaji api. Perpaduan unsur Siwa dan Buddha semacam ini juga terekam pada bangunan keagamaan masa Majapahit yang lain, termasuk candi di lereng Lawu yang tidak memuat arca raja. Sumber Cina menambahkan keterangan tentang tambur tembaga, gong kuningan besar, alat tiup dari tempurung kelapa, dan gendang yang dipakai dalam sayembara musik.

Nama Seorang Pelawak di Relief Borobudur

Bagian yang paling jarang dibicarakan dalam kajian seni Jawa Kuno justru muncul dari prasasti yang sama. Prasasti Poh 905 Masehi mencatat bahwa para seniman yang diundang sebagai saksi upacara penetapan sima mencakup pelawak. Nama profesi ini juga berulang di prasasti Waharu Kuti, Penggumulan, Mantyasih, sampai Wukajana pada masa Mataram Kuno.

Sadono dan Pandanwangi membagi dua jenis lawakan pada masa itu. Mabanol mengandalkan gerak fisik dan visual: gerak tubuh, tarian, dan mimik wajah. Mamirus bertumpu pada ucapan, yaitu permainan kata, humor verbal, dan gurauan cerdas. Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur mencatat seorang pelawak bernama Paninganing yang disebut sangat digemari orang pada zamannya, sementara prasasti Alasantan bertarikh 939 Masehi dipakai sebagai bukti tambahan tentang populernya seni pertunjukan pada periode tersebut.

Rangkaian bukti itu tetap punya batas yang diakui sendiri oleh penulisnya. Data empiris yang terbatas, tafsir yang belum tuntas atas artefak dan teks kuno, serta minimnya pendekatan multidisiplin dalam penelitian terdahulu membuat bentuk, fungsi, dan makna seni pertunjukan Jawa Kuno belum bisa direkonstruksi secara utuh. Sebagian besar sumber tertulis yang mereka pakai pun berupa terbitan dan terjemahan lama, bukan pembacaan baru atas prasasti aslinya, sehingga penanggalan seperti tahun pembuatan wayang beber bergantung pada keterangan naskah yang belum diuji ulang.

Yang mereka simpulkan lebih bersifat pola: wayang, tari, musik, dan lawak di Jawa Kuno berkembang dengan menyerap unsur Hindu-Buddha tanpa kehilangan akar lokalnya, dan bertahan menyeberang ke masa Islam. Dalam pernyataan penulis pada akhir artikel, Soni Sadono disebut sebagai kontributor utama dan Brilindra Pandanwangi sebagai kontributor pendamping, dan keduanya menyatakan penelitian ini dibiayai sendiri tanpa dukungan dana dari pihak ketiga.

Baca Juga

Ilustrasi tumpukan kain tenun tradisional berlatar permukaan batu prasasti
Dua Kain yang Hanya Boleh Dimiliki Raja pada Masa Mpu Sindok
Ilustrasi arca batu dewa matahari di relung dinding candi
Menelusuri Tujuh Arca Dewa Surya di Jawa dari Kediri sampai Prambanan
Ilustrasi dermaga batu menjorok ke laut dangkal dengan perahu nelayan di kejauhan
Dua Bangkai Kapal Uap di Perairan Bawean yang Dipotong Warga
Ilustrasi gedung kuliah beton bertingkat tiga di kampus dengan pohon palem
Enam Dekade FKIP Unsri dari Kursus Bahasa Inggris ke Program Doktor
Ilustrasi panggung konser dengan tata cahaya.
Film Konser KATSEYE Tembus Lima Besar Box Office Amerika
Ilustrasi tumpukan manuskrip menguning tersimpan di lemari kaca kayu berukir
Naskah Kuno Palembang Dirawat dengan Tembakau dan Kapur Barus