Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu

Bangunan utama Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dari batu dengan gerbang di tengah dan arca di halaman

Bangunan utama Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah, berbentuk punden berundak menyerupai piramida terpancung. [Foto: Canva/javarman3, Getty Images]

Cekricek.id — Di gapura masuk Candi Sukuh, seseorang digambarkan sedang dimakan raksasa. Di sisi seberangnya, seorang lelaki berlari sambil menggigit ekor ular. Dua adegan itu bukan sekadar hiasan. Keduanya adalah sengkalan memet, cara orang Jawa Kuno menuliskan angka tahun lewat gambar, dan keduanya menunjuk bilangan yang sama: 1359 Saka, setara dengan 1437 Masehi.

Tahun itu meletakkan Candi Sukuh tepat pada masa Majapahit sedang retak dari dalam. Kerajaan yang seabad sebelumnya menguasai jalur niaga Nusantara sedang dirundung perang keluarga. Namun di lereng barat Gunung Lawu, pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut, sekelompok orang justru sedang membangun tempat pemujaan yang bentuknya sama sekali tidak menyerupai candi-candi kerajaan.

Persoalan itu ditelusuri Harriyadi dari Program Studi Pascasarjana Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, lewat artikel Candi Sukuh dan representasi agensi: Simbolisme, ritual, dan identitas sosial pada masa akhir Majapahit, yang terbit dalam jurnal Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 1 pada Mei 2025. Alih-alih membahas makna religius reliefnya — tema yang sudah puluhan tahun digarap para peneliti — ia memakai teori strukturasi sosiolog Inggris Anthony Giddens untuk membaca Candi Sukuh sebagai jejak sebuah kelompok masyarakat, bukan semata bangunan suci.

Prasasti yang Bercerita tentang Serangan dan Rebutan Tanah

Petunjuk paling terang datang dari prasasti pada Arca Garuda di kompleks candi, yang dikenal sebagai Prasasti Sukuh III. Alih bahasa yang dikerjakan epigraf R. Darmosoetopo pada 1976 berbunyi: Rejegwesi diserang dan ditekan oleh orang Medang; Ki Hempu Rama terkalahkan lalu menerjunkan diri ke api; orang saling berebut tanah. Prasasti itu ditutup angka tahun 1363 Saka atau 1441 Masehi.

Toponim Rejegwesi ditafsirkan Darmosoetopo sebagai Pagerwesi di kawasan Mojokerto, Jawa Timur — wilayah yang berdekatan dengan pusat Majapahit di Trowulan. Artinya, komunitas yang menetap di Candi Sukuh punya kaitan dengan daerah jauh di seberang, dan kaitan itu berbau kekerasan. Siapa persisnya orang Medang yang disebut prasasti belum bisa dipastikan sampai sekarang, karena toponim Medang juga tercatat di beberapa tempat di Jawa Tengah.

Yang jelas, isi prasasti itu sejalan dengan apa yang tercatat di Nagarakretagama dan Pararaton tentang penghujung Majapahit: pemberontakan, perang keluarga, dan pergolakan politik yang tak kunjung reda. Perang paregreg antara kedaton kulon dan kedaton wetan berakhir dengan hancurnya istana timur dan terbunuhnya Bhre Wirabhumi. Situasi semacam itu, tulis Harriyadi, wajar mendorong kelompok tertentu berpindah mencari perlindungan atau ketenangan batin.

Baca juga: Eksistensi Trowulan: Menyingkap Kejayaan Majapahit di Era Rajasanagara

Kaum Rsi, Golongan yang Memilih Menetap di Hutan

Siapa yang membangun dan memakai Candi Sukuh? Harriyadi menunjuk kaum Rsi — golongan pendeta berpengetahuan dan berpengalaman spiritual tinggi yang sengaja menarik diri dari permukiman ramai, menetap permanen di hutan lereng gunung, dan membentuk komunitas mandiri. Mereka berbeda dari pertapa, yang hanya tinggal sementara dan kembali ke kehidupan semula begitu keinginannya tercapai.

Buktinya ada pada Prasasti Sukuh VI, yang kini disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.5. Prasasti berbahasa dan beraksara Jawa Kuno itu memuat kata wiku, sebuah tahapan dalam kehidupan seorang Rsi, beserta angka tahun 1362 Saka. Naskah Nagarakretagama sendiri menyebut adanya tujuh dharmma lpas karsyan, permukiman keagamaan yang lepas dari kendali langsung kerajaan. Lereng barat Gunung Lawu — tempat Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Candi Planggatan berdiri — termasuk lokasi yang diduga menjadi mandala kadewaguruan atau pusat pendidikan keagamaan semacam itu.

Pilihan lokasinya pun tidak acak. Kitab Tantu Panggelaran, yang diperkirakan berasal dari abad ke-15, menyebut Gunung Lawu dengan nama Redi Katong sebagai bagian Gunung Mahameru yang terjatuh di tanah Jawa. Gunung, dalam kepercayaan masyarakat waktu itu, adalah tempat bersemayamnya para dewa.

Candi yang Tidak Memuja Rajanya

Di sinilah kontrasnya terasa. Majapahit pada umumnya menganut kultus dewaraja: raja dipandang sebagai kepala negara sekaligus keturunan atau wakil dewa di dunia. Konsekuensinya, candi-candi kerajaan dibangun sebagai tempat pendharmaan, lengkap dengan arca perwujudan untuk menghormati raja atau kerabatnya yang telah wafat. Candi Kidal, Jago, Jawi, Simping, Bhoyolangu, Surawana, Tegawangi, dan Sanggrahan mengikuti pola itu — bangunan megah dengan rongga atau batur untuk meletakkan arca. Ratu Sri Suhita, yang memerintah sezaman dengan berdirinya Candi Sukuh, bahkan diabadikan sebagai Arca Dewi Parwati yang kini berada di Museum Nasional.

Di Candi Sukuh, tidak ditemukan indikasi arca perwujudan raja maupun tanda-tanda konsep dewaraja. Yang ada justru struktur punden berundak tiga teras, relief, dan arca yang mengadopsi bentuk tinggalan budaya megalitik — corak yang jauh lebih tua daripada Majapahit itu sendiri. Kepercayaan terhadap leluhur memang sudah lama hidup di lereng Lawu, dibuktikan temuan Situs Watu Kandang Pakem, Watu Kandang Ngasinan, dan Watu Kandang Plosorejo di Kabupaten Karanganyar yang berasal dari masa protosejarah.

Baca juga: Candi Muara Takus, Menyingkap Jejak Sejarah Panjang Sekte Bhairawa hingga Islam di Tanah Melayu

Bhima, Ruwatan, dan Relief Pandai Besi

Teras ketiga, halaman tertinggi, menyimpan dua relief cerita utama: Garudeya dan Sudamala. Keduanya berkaitan dengan ritual ruwatan, upacara pembebasan dari kesialan atau kutukan, yang bermuara pada tujuan pelepasan atau moksa. Di sekitarnya masih ada potongan kisah Panji, Ramayana, Bharatayuddha, Bimasuci, Arjunawiwaha, dan Wanaparwa.

Tokoh yang menonjol adalah Bhima. Pada Candi Kyai Sukuh, bangunan kecil di depan candi induk, Bhima digambarkan menerima wadah air amerta dari Dewa Siwa sehingga ia mampu menolong manusia mencapai pelepasan. Dalam kajian arkeolog Hariani Santiko yang dikutip Harriyadi, Bhima di Candi Sukuh dipuja bukan sebagai dewa, melainkan sebagai penolong — mediator antara Siwa dan manusia.

Satu relief lain menarik karena isinya duniawi: adegan pandai besi di sisi selatan candi induk. Relief itu memberi gambaran adanya aktivitas sosial-ekonomi di sekitar candi, bukan sekadar ritual. Di teras pertama, penggambaran figur pria dengan falus dan relief falus-vagina yang setara simbol lingga-yoni menunjukkan pemujaan kesuburan — unsur yang membuat Candi Sukuh kerap disalahpahami pengunjung masa kini sebagai candi erotis semata.

Bagaimana Sebuah Kelompok Membentuk Identitasnya Sendiri

Teori strukturasi yang dipakai Harriyadi menempatkan dua hal berhadapan: agen dan struktur. Agen adalah individu atau kelompok yang bertindak; struktur adalah norma, aturan, dan sistem sosial yang membingkai tindakan itu. Menurut Giddens, hubungan keduanya berjalan dua arah. Struktur membatasi agen, tetapi agen juga bisa keluar dari struktur, bahkan melawannya, lalu membentuk struktur baru.

Dalam pembacaan itu, komunitas Rsi di lereng Lawu adalah agen, sedangkan sistem sosial-budaya Majapahit akhir adalah strukturnya. Praktik keagamaan yang dilakukan berulang-ulang dalam jangka panjang — ritual, pengajaran, interaksi sehari-hari antaranggota — menghasilkan apa yang disebut reproduksi sosial-budaya. Hasil akhirnya adalah identitas kelompok yang khas, dan identitas itulah yang tampak membeku pada batu: punden berundak, ikon bercorak megalitik, dan absennya arca raja.

Kesimpulan itu disusun dari tinggalan arkeologi yang sudah ada di permukaan dan dari hasil penelitian terdahulu, bukan dari penggalian baru. Penerapan teori strukturasi pada Candi Sukuh sendiri belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga posisinya adalah tawaran tafsir alternatif dari sudut sosial — melengkapi kajian yang selama ini terpusat pada makna religi dan simbol.

Baca juga: Jejak Imperium Terlupakan: Kisah Kerajaan Melayu yang Menguasai Nusantara Selama 9 Abad

Candi Sukuh ditemukan kembali pada 1815 oleh Jermiah Martin Johnson, Residen Surakarta, yang melaporkannya kepada Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles saat Raffles sedang menyusun The History of Java. Penelitian pertama dilakukan Van der Vlis pada 1843, disusul pencatatan Verbeek pada 1891 dan Krom pada 1914. Dua abad setelah laporan pertama itu, reruntuhan di lereng barat Lawu masih menyimpan hal yang belum tuntas dijawab — termasuk siapa orang Medang yang, menurut prasasti di kaki Arca Garuda, pernah menyerang dan menekan mereka.

Baca Juga

Sastrawan Minangkabau Darman Moenir saat wisuda pada 1989
Darman Moenir dan Novel yang Mengalahkan Budi Darma
Ratusan guci keramik amphora tertumpuk di dasar laut, tertutup endapan dan lumut setelah terendam ribuan tahun
Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Perairan Sisilia
Perahu kayu tradisional melaju di sungai lebar yang membelah hutan tropis saat matahari terbit, perbukitan tampak di kejauhan
Jejak Kerajaan Minangkabau Kuno: Ketika Sumatera Menjadi Jantung Perdagangan Dunia
Masjid berhalaman luas berdiri di kawasan pesisir dengan laut di belakangnya
Masjid Padang sebagai Tempat Evakuasi Tsunami
Kompleks stupa bata tua berlumut berdiri di padang rumput yang dikelilingi hutan tropis berkabut
Candi Muara Takus, Menyingkap Jejak Sejarah Panjang Sekte Bhairawa hingga Islam di Tanah Melayu
Cungkup beratap gonjong Minangkabau di kompleks makam Tuanku Imam Bonjol, Desa Lotta, Minahasa
Makam Imam Bonjol di Minahasa dan Nisan yang Berubah