Kriya Lolok Bali Dibaca Lewat Tiga Kerangka Estetika Camp

A A

Pasar suvenir dan kerajinan di Ubud, Bali [Foto: Fabio Achilli/Wikimedia Commons CC BY 2.0]

  • Lolok, souvenir falus Bali, dibaca sebagai parodi atas simbol sakral lingga-yoni Hindu
  • Simbol falus sudah dipakai era Majapahit dalam ritus kesuburan, bukan sekadar lambang seks
  • Wisatawan Barat lebih nyaman menerima lolok, wisatawan lokal berlatar timur menganggapnya vulgar
  • Dibaca lewat tiga kerangka sekaligus: estetika postmodern, relasional, dan camp Susan Sontag
Daftar Isi
  1. Sakral yang Diobral
  2. Parodi sebagai Siasat
  3. Humor sebagai Jembatan
  4. Camp yang Merayakan Berlebihan
  5. Identitas yang Tak Selesai
  6. Bagian yang Bisa Diperiksa Pembaca

Bali menjual dirinya sebagai pulau yang anggun, sakral, dan penuh upacara, tempat setiap ukiran kayu dan patung batu konon menyimpan doa. Namun di pasar seni dan toko oleh-olehnya, berdampingan dengan arca dewa dan topeng Barong, berjejer pula kriya berbentuk falus yang dijual terbuka sebagai gantungan kunci, pembuka tutup botol, asbak, dan pajangan meja, disebut dalam bahasa Bali sebagai lolok, dan tidak ada yang menyembunyikannya di bawah meja.

Kriya itulah yang dibedah Nofrial dan Kendall Malik, dua pengajar Seni Kriya dan Desain Produk dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Padang Panjang, dalam Humor, Erotika, dan Identitas: Membaca Kriya Lolok Bali dalam Bingkai Estetika Camp dan Postmodern, dimuat ARTCHIVE: Indonesia Journal of Visual Art and Design volume 6 nomor 2, tahun 2025. Keduanya tidak turun ke pasar dengan alat rekam wawancara, melainkan menyusun bacaan lewat studi pustaka estetika dan pengamatan atas narasi produk itu di berbagai media daring.

Pembacaan pertama mereka menempatkan lolok sebagai parodi, bukan sekadar barang lucu tanpa beban makna. Dengan meminjam definisi Syafril, Nofrial dan Kendall Malik menyebut parodi sebagai dialog antarteks yang mengekspresikan ketidakpuasan terhadap gaya atau karya masa lalu, mengambil untung dari kelemahan teks yang dirujuknya untuk menyindir, mengecam, atau membuat lelucon. Lolok, tulis mereka, memenuhi syarat itu: ia menyindir kesakralan lingga sambil tetap membawa bentuknya ke mana-mana.

Sakral yang Diobral

Dalam kepercayaan Hindu Bali, lingga-yoni bukan mainan. Ia patung batu yang menggambarkan pertemuan kelamin laki dan perempuan, mewakili kesuburan, keseimbangan kosmis, dan pertemuan akasa-pertiwi, langit dan bumi, tempat hujan yang turun menjadi benih kehidupan yang menyuburkan tanah. Nofrial dan Kendall Malik menelusurkan akar simbol itu jauh ke belakang, sampai ke peninggalan Majapahit, tempat falus dan vulva sudah dipakai dalam ritus kesuburan sebagai media komunikasi spiritual dengan kekuatan alam, bukan semata lambang seksual seperti yang sering disangka orang luar.

Justru dari akar sekokoh itulah lompatan ke lolok terasa janggal sekaligus wajar. Begitu Bali memasuki industri pariwisata, tulis Nofrial dan Kendall Malik mengutip Sunarya, kesenian sakral dan profan sama-sama ditampilkan untuk wisatawan tanpa banyak sekat, dan budaya sekuler pun merembes ke sektor kriya yang menopang industri itu. Simbol yang tadinya dijaga dalam pura kini diproduksi ulang dalam bahan yang lebih murah, bentuk yang lebih eksplisit, dan tujuan yang jelas komersial, dijual di etalase dan pinggir jalan tanpa penghormatan seremonial apa pun.

Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda

Parodi sebagai Siasat

Yang menarik dari pembacaan Nofrial dan Kendall Malik bukan hanya bahwa lolok mendekonstruksi yang sakral, melainkan bagaimana dekonstruksi itu berfungsi sebagai kritik yang tersembunyi. Parodi, menurut mereka, menyisipkan sindiran terhadap banalitas industri pariwisata sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya lokal bisa direduksi menjadi konsumsi visual yang ringan. Lolok bukan cuma benda jenaka yang mengundang tawa pengunjung toko suvenir, tetapi juga pendobrak otoriterisme kriya Bali modern yang selama ini selalu menampilkan wajah tradisi yang seragam dan sopan.

Dari Lingga-Yoni Sakral ke Souvenir LolokBagan alur: dari simbol lingga-yoni sakral menjadi souvenir lolok bercorak camp.Dari Lingga-Yoni Sakral ke Souvenir LolokAlur pembacaan Nofrial dan Kendall Malik atas kriya lolok BaliLingga-yonisimbolkesuburanIndustriwisatasakral &profanEstetisasibentukfalus jadiParodi &kitschhumor,ironi,Campsengajaberlebihan,Bagan meringkas argumen naskah, bukan urutan waktu bertanggal.
Sumber: Nofrial dan Kendall Malik, Humor, Erotika, dan Identitas: Membaca Kriya Lolok Bali dalam Bingkai Estetika Camp dan Postmodern, ARTCHIVE: Indonesia Journal of Visual Art and Design, 6(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Di titik inilah argumen Nofrial dan Kendall Malik berayun ke arah yang tidak selalu nyaman. Mereka menulis bahwa objek vital yang seharusnya tertutup kini diumbar dan diobral, dan pendobrakan itu bukan hanya terhadap konsep kesucian lingga, melainkan juga terhadap gagasan bahwa kriya kriya Bali wajib selalu tampil dalam nuansa ke-Bali-an yang serius. Namun mereka tidak berhenti pada catatan kritik itu saja; keduanya lantas menggeser pembacaan ke ranah yang lebih sosial, ke apa yang terjadi ketika benda ini benar-benar dipegang wisatawan.

Humor sebagai Jembatan

Meminjam estetika relasional Bourriaud, Nofrial dan Kendall Malik menempatkan lolok bukan sebagai objek yang selesai maknanya begitu selesai dibuat, melainkan sebagai pemicu relasi antara wisatawan, pedagang suvenir, dan masyarakat Bali sendiri. Reaksi humor, keterkejutan, bahkan obrolan singkat di depan lapak, menurut mereka, adalah bagian dari pengalaman estetis itu sendiri, sehingga lolok pantas disebut sebagai semacam souvenir naratif yang membawa jejak interaksi dan tafsir kultural setiap kali berpindah tangan.

Namun jembatan itu tidak selalu menyeberang dengan mulus untuk semua orang. Nofrial dan Kendall Malik mencatat bahwa wisatawan Barat atau Eropa cenderung merasa nyaman dengan keterbukaan semacam ini karena sejalan dengan konsep budaya asal mereka, sementara wisatawan lokal yang berlatar adat dan budaya ketimuran yang kental kerap menganggapnya vulgar, cabul, bahkan tidak pantas dijadikan produk suvenir. Persoalannya, tulis mereka, terletak pada bagaimana pengamat menafsirkan bentuk visual itu lewat nilai yang dianutnya masing-masing, bukan pada bentuk lolok itu sendiri.

Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah

Camp yang Merayakan Berlebihan

Kerangka ketiga yang dipakai Nofrial dan Kendall Malik datang dari Susan Sontag, yang menaruh perhatian pada estetika yang merayakan hal berlebihan, eksentrik, dan kitsch. Camp, tulis mereka mengutip Sontag lewat Syafril, “adalah satu model estetisisme dan merupakan idiom estetik kontradiktif, satu cara melihat dunia sebagai fenomena estetik, bukan dalam pengertian keindahan melainkan keartifisialan dan penggayaan,” dan lolok, dalam bacaan mereka, adalah contoh yang nyaris sempurna: vulgar secara terang-terangan, tetapi dikemas dekoratif dan jenaka sehingga tidak diminta untuk ditanggapi serius.

Tiga Kerangka Membaca Kriya LolokKartu ringkas: tiga kerangka estetika yang dipakai membaca kriya lolok Bali.Tiga Kerangka Membaca Kriya LolokMetode kualitatif: studi pustaka dan observasi daringIPostmodernparodi & dekonstruksisimbol sakral (Lyotard)IIRelasionalhumor jadi interaksiwisatawan-wargaIIICampkitsch & eksentrisitasdirayakan (Sontag)Jalan risetnyaStudi pustaka estetikapostmodern, relasional,Observasi daring atasnarasi dan distribusiBaca kriya lolok lewattiga kerangka sekaligusKetiga kerangka dipakai berdampingan, bukan bertahap atau salingmenggantikan.
Sumber: Nofrial dan Kendall Malik, Humor, Erotika, dan Identitas: Membaca Kriya Lolok Bali dalam Bingkai Estetika Camp dan Postmodern, ARTCHIVE: Indonesia Journal of Visual Art and Design, 6(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Kitsch-nya sendiri, menurut Nofrial dan Kendall Malik, tampak dari sifat produk ini yang berupa tiruan, mudah dibawa, jauh dari sifat sakral, asal jadi, dan berharga murah, sebuah karya massal untuk wisatawan yang oleh Sunarya disebut sebagai seni dalam rangka. Alih-alih menilai itu sebagai kemunduran, estetika camp justru merayakan absurditasnya sebagai bagian dari ekspresi budaya, sehingga kebebasan berekspresi pengrajin dan seniman Bali, dalam kerangka ini, diakui sebagai praktik artistik yang sah, bukan penyimpangan yang perlu diluruskan.

Identitas yang Tak Selesai

Ketiga kerangka itu bermuara pada satu gagasan yang lebih besar: komodifikasi budaya. Nofrial dan Kendall Malik menulis bahwa kriya lolok beralih fungsi dari atribut dewa dalam agama Hindu menjadi produk kerajinan penunjang pariwisata, kehilangan esensi sakralnya dan berubah menjadi objek peniruan massal. Bali, dalam proses ini, tidak lagi hanya menampilkan sisi sakral dan spiritualnya kepada dunia, melainkan juga sisi humor dan keterbukaan, membentuk apa yang mereka sebut sebagai identitas performatif yang terus berubah mengikuti konteks pasar dan relasi kuasa antara produsen lokal dan konsumen global.

Nofrial dan Kendall Malik sendiri tidak menutup mata bahwa metode mereka bersandar pada studi pustaka dan pengamatan daring, bukan wawancara langsung dengan perajin, pedagang, atau wisatawan yang benar-benar membeli dan memberikan lolok sebagai oleh-oleh. Klaim tentang reaksi humor, keterkejutan, dan perbedaan penerimaan antara wisatawan Barat dan lokal, dengan begitu, lebih merupakan simpulan dari pembacaan teori dan pengamatan media ketimbang temuan yang diuji langsung di lapangan tempat lolok itu benar-benar berpindah tangan.

Bagian yang Bisa Diperiksa Pembaca

Ada satu kejanggalan kecil dalam naskah yang bisa dicek pembaca yang teliti. Saat menjelaskan penolakan Bali terhadap narasi besar dalam seni, Nofrial dan Kendall Malik menulis rujukannya sebagai Jean-Francois Lyotard tahun 1980, tetapi entri yang sama di daftar pustaka mereka mencantumkan tahun 1984 untuk buku The Postmodern Condition yang dimaksud. Tahun kelahiran gagasan dan tahun terbit terjemahan Inggrisnya memang bisa berbeda, namun naskah tidak menjelaskan mana yang mereka maksud, sehingga pembaca dibiarkan menebak sendiri versi mana yang sebenarnya mereka rujuk.

Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80

Nofrial dan Kendall Malik tidak menutup argumen mereka dengan seruan berapi-api. Mereka mengetuk pelan lewat simpulan bahwa “kriya lolok merupakan hasil reinterpretasi simbol sakral menjadi produk profan tanpa sepenuhnya kehilangan akar budayanya,” tulis keduanya dalam naskahnya.

Batas antara sakral dan vulgar, antara seni dan suvenir, menurut mereka, semakin kabur dan cair dalam praktik kriya Bali saat ini. Yang tersisa bagi siapa pun yang pernah membeli atau sekadar tertawa melihat lolok di etalase toko oleh-oleh adalah pertanyaan yang tidak mereka jawab tuntas dalam naskah itu: pada titik mana sebuah simbol berhenti menjadi suci, dan mulai menjadi sekadar barang yang laku dijual di pinggir jalan.

Bagikan

Baca Juga

Kronologi Dana 1 Persen Freeport untuk Amungme dan Kamoro
Sasando dan Tiga Versi Asal-usulnya di Desa Oebou, Rote Ndao
Pemakaman Raja Marapu di Rindi: Delapan Kuda, Delapan Kerbau
Sunda Indramayu Melepas Bunyi H yang Dijaga Sunda Priangan
Nalar Mistis Kebo-keboan Banyuwangi Dicari Nilai Islamnya
Adu Ayam Talang Mamak: Perintah Tuhan yang Bergeser Jadi Judi