- Keris tumbuk lada berganti nama di tiap daerah, dari sewah sampai siwar.
- Hulunya terbagi tiga: bulat polos, carang bermotif sulur, dan berkepala burung.
- Kesahihan bahan ajar 78,75 persen, di bawah batas 80 persen yang dipasang penulis.
- Keaktifan menjawab naik bertahap dari 58,33 ke 91,66 persen dalam empat pertemuan.
Daftar Isi
Sebuah pisau pendek dari pesisir timur Sumatera menyimpan nama yang aneh untuk sebilah senjata: tumbuk lada. Lada di situ bukan kiasan. Ia merujuk pada rempah yang pernah membuat pantai Sumatera ramai dikunjungi kapal asing selama lima abad, dan hulu pisau itulah yang kini dijadikan bahan kuliah bagi mahasiswa seni rupa di Medan.
Yang membuatnya jadi bahan kuliah adalah Adek Cerah Kurnia Azis bersama enam rekannya dalam artikel The Ornament of the Malay Keris Hulu “Tumbuk Lada” as a Medium for Student Creativity in Fine Arts di V-Art: Journal of Fine Art, Volume 4 Nomor 2 tahun 2025. Sebagian besar penulisnya mengajar di Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan, dan seorang lagi mengajar di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota yang sama.
Yang mereka susun adalah bahan ajar untuk mata kuliah Ornamen Nusantara, berbentuk buku cetak sekaligus buku elektronik, dengan ornamen hulu keris Melayu Tumbuk Lada sebagai isinya. Lokasi kampusnya dipilih sebagai alasan: Universitas Negeri Medan berada di dalam wilayah budaya Melayu, sehingga ornamen itu dianggap dekat dengan mahasiswanya sendiri dan tidak perlu diperkenalkan dari nol.
Pisau pendek yang namanya berganti tiap daerah
Yang menarik dari benda ini adalah namanya yang tidak pernah sama. Di Aceh ia disebut sewah. Di Sumatera Utara, Riau, dan Minangkabau ia disebut pisau tumbuk lada. Di Bengkulu, Palembang, dan Lampung ia dikenal sebagai siwar, sedangkan di Malaysia namanya badik tumbuk lada. Orang Karo dan Simalungun di Sumatera Utara ikut memakainya dengan sebutan piso tumbuk lada, meski bentuk badannya berbeda di beberapa bagian.
Namanya yang berganti-ganti itu justru menandai betapa luas jangkauannya. Penulis menyebut keris tumbuk lada sebagai benda yang khas Melayu karena hanya ditemukan di wilayah Melayu, meski suku tetangga ikut mengadopsinya dengan sejumlah perbedaan pada bentuk badannya. Satu benda, banyak nama, dan tiap nama menandai satu jalur persebaran di sepanjang pesisir.
Kata lada dalam namanya berhubungan langsung dengan perdagangan. Lada adalah komoditas utama dari pantai Sumatera sejak abad ke-15 sampai abad ke-20, dan pisau ini dibaca sebagai lambang kemakmuran pertanian masyarakat Melayu. Rasa pedas lada bahkan dikaitkan dengan ketangguhan pemiliknya, sehingga senjata dan rempah bertemu dalam satu nama. Orang Inggris bernama John Anderson tercatat sebagai yang pertama mendokumentasikannya pada 1826.
Baca juga Kerah Kebaya Labuh Riau Naik ke Enam Busana Pastel
Tiga bentuk hulu yang masing-masing bercerita
Hulu adalah bagian yang dipegang, dan pada keris tumbuk lada bentuknya terbagi tiga. Yang pertama hulu bulat polos, bentuk paling awal yang ditemukan pada penggalian di Situs Pasemah dan Situs Bongal dari abad ke-8 sampai ke-10. Rancangannya sederhana dan mengutamakan kenyamanan genggaman, tetapi sebagiannya diukir gambar kapal, tanda budaya maritim Melayu yang hidup dari laut.
Yang kedua hulu carang atau simbar, yang dipenuhi motif tumbuhan seperti sulur. Di dalamnya ada pola bernama Maha Risi, Bunga Kukur, dan Pucuk Rebung. Motif-motif itu merujuk pada tumbuhan khas setempat, termasuk tanaman lada, sehingga kemakmuran pertanian yang jadi asal nama senjatanya muncul kembali sebagai ukiran di gagangnya. Penulis menyebut jenis ini punya nilai sakral bagi masyarakat Melayu.
Yang ketiga hulu tumbuk berkepala burung, yang memadukan ukiran kepala burung dengan pola sulur agar tetap sejalan dengan prinsip seni Islam. Di sinilah perbedaan antarsuku paling terlihat. Rancangan Melayu didominasi motif tumbuhan, sementara orang Karo memakai motif khas mereka sendiri yang bernama Gerga Simarogung Ogung, sehingga satu bentuk hulu bisa dibaca sebagai penanda asal pemiliknya.
Bahan pembuatnya pun disebut. Hulu keris Melayu dikerjakan dari tiga jenis logam, yaitu besi, baja, dan bahan pamor. Ukiran pada hulu itu, menurut penulis, memperlihatkan ketelitian masyarakat Melayu dalam seni ukir sekaligus dalam pengolahan logam, dua keahlian yang harus berjalan bersamaan pada satu benda sekecil gagang pisau.
Dua belas mahasiswa dan angka yang mereka beri
Bahan ajarnya lalu diuji, dan di sinilah angka mulai bermunculan. Mahasiswa yang pernah mengambil mata kuliah terkait berjumlah 120 orang, tersebar di empat kelas berisi 30 orang. Dari jumlah itu diambil sepuluh persen dengan cara diundi, sehingga yang menguji bahan ajar tersebut berjumlah dua belas orang, tiga dari tiap kelas, dan namanya diambil dengan cara diundi.
Penilaian kepraktisan datang dari mereka, dan hasilnya 82,15 persen. Angka itu terbagi tiga: kemudahan dipakai 82,08 persen, kegunaan dalam pembelajaran 82,29 persen, dan penghematan waktu 82,08 persen. Ketiganya masuk kategori praktis menurut ukuran yang dipasang penulis sendiri, yaitu di atas 80 persen. Ketiga angka itu berdekatan, tanpa ada satu pun yang menonjol jauh dari yang lain.
Hasil belajarnya pun dilaporkan tuntas. Dari dua belas mahasiswa itu, tidak ada satu pun yang gagal, sehingga persentase kelulusannya 100 persen. Ukuran yang dipakai penulis menyebut sebuah kelas dianggap tuntas bila sekurangnya 85 persen mahasiswanya lulus, dan angka itu dilewati dengan selisih yang cukup lebar.
Angka kesahihan yang tidak melewati batasnya sendiri
Yang perlu dibaca lebih teliti justru angka pertama. Kesahihan bahan ajar dinilai dua orang ahli, satu untuk rancangan dan satu untuk isi, dengan hasil rata-rata 78,75 persen. Rinciannya: isi 77,7 persen, konstruk 79,1 persen, tampilan 79,1 persen, dan bahasa 79,1 persen. Tidak satu pun dari keempatnya mencapai 80 persen, bahkan yang tertinggi pun berhenti di 79,1 persen.
Penulis sendiri menuliskan dalam bagian caranya bekerja bahwa bahan ajar dianggap sahih bila tingkat kesahihannya melebihi 80 persen. Tabel kategori yang mereka pakai juga menempatkan rentang 70,01 sampai 85,00 persen sebagai cukup sahih, bukan sangat sahih. Dengan dua ukuran itu, angka 78,75 persen semestinya dibaca sebagai belum lolos batas yang mereka tetapkan sendiri.
Namun ringkasan artikelnya menyebut bahan ajar tersebut sahih, tanpa kata cukup dan tanpa menyinggung batas 80 persen yang mereka pasang sendiri. Pembaca yang hanya membaca ringkasan akan menyimpulkan hal yang berbeda dari pembaca yang membuka tabelnya. Selisih seperti ini penting karena menyangkut layak atau tidaknya bahan ajar itu dipakai kelas lain tanpa perbaikan lebih dulu.
Ada satu hal lagi yang perlu dicatat pembaca. Dua orang yang menilai kesahihan bahan ajar itu disebut namanya, dan salah satunya adalah penulis pertama artikel ini sendiri. Menilai pekerjaan sendiri sebagai ahli isi adalah pilihan yang lazimnya dihindari, dan naskah tidak menjelaskan mengapa hal itu ditempuh atau bagaimana benturan kepentingannya ditangani.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Bertanya dan menjawab yang naik tiap pertemuan
Bagian yang paling hidup dari laporan ini adalah catatan keaktifan selama empat pertemuan. Membaca bahan ajar dan mengerjakan latihan dijalani seluruh mahasiswa pada tiap pertemuan, begitu pula mengerjakan tugas, sehingga keduanya tercatat 100 persen. Dua kegiatan lain justru memperlihatkan perubahan dari pertemuan ke pertemuan.
Mahasiswa yang bertanya naik dari 66,66 persen pada pertemuan pertama menjadi 88,33 persen pada pertemuan kedua, lalu bertahan di angka itu sampai pertemuan keempat. Mahasiswa yang menjawab pertanyaan naik lebih pelan tetapi terus-menerus: 58,33 persen, 66,66 persen, 83,33 persen, dan 91,66 persen. Rata-rata seluruh kegiatan itu 88,53 persen, dan pengamatannya dilakukan seorang dosen yang bertindak sebagai pengamat.
Kenaikan yang bertahap pada kegiatan menjawab itulah temuan yang paling berguna bagi pengajar. Bertanya bisa naik cepat karena hanya menuntut keberanian, sedangkan menjawab menuntut bekal. Pola itu menunjukkan mahasiswa membutuhkan beberapa pertemuan sebelum merasa cukup tahu untuk menanggapi, dan bahan ajar apa pun perlu memberi mereka waktu itu sebelum dinilai berhasil atau gagal.
Batas temuan ini sebelum dipakai kampus lain
Hal pertama, penilaian ini datang dari dua belas orang. Jumlah itu memang sepuluh persen dari populasinya, tetapi tetap kecil untuk menyimpulkan bahwa sebuah bahan ajar praktis dan efektif. Satu atau dua jawaban yang berbeda saja sudah cukup menggeser rata-ratanya beberapa poin ke atas atau ke bawah.
Kedua, ringkasan artikel menyebut bahan ajar tersebut efektif dengan angka 88,53 persen, padahal angka itu adalah rata-rata keaktifan mahasiswa, bukan ukuran keefektifan yang mereka tetapkan. Keefektifan dalam naskah diukur dari ketuntasan belajar, dan angkanya 100 persen. Dua hal berbeda tertukar di dalam kalimat ringkasan yang sama.
Ketiga, yang diukur adalah anggapan dan perilaku di kelas, bukan hasil karya. Tidak ada penilaian atas gambar ornamen yang dibuat mahasiswa sesudah memakai bahan ajar itu, padahal judulnya menjanjikan bahan ajar sebagai medium kreativitas. Kreativitas yang dijanjikan belum diperlihatkan dalam bentuk karya yang bisa dilihat dan dinilai pembaca.
Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur
Yang tersisa dari kerja ini adalah usaha memindahkan sesuatu yang hampir hilang ke dalam ruang kuliah. Hulu pisau yang dulu dipegang pedagang lada kini dipegang mahasiswa dalam bentuk gambar di halaman buku. Apakah pemindahan itu cukup untuk membuatnya bertahan, angka-angka di dalam naskah ini belum bisa menjawabnya, dan jawabannya baru akan terlihat pada angkatan berikutnya.















