Kucing Hitam Jadi Motif Tujuh Karya Batik Tulis Si Upiak

A A

Dua perajin membatik tulis dengan canting di Trusmi, Cirebon, Jawa Barat. [Foto: Ahaetulla/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Tujuh karya batik tulis bermotif kucing hitam dibuat untuk satu kamar anak perempuan.
  • Penutup kasur berukuran 216 kali 116 sentimeter menjadi karya terbesar.
  • Pewarnanya Remazol empat warna, dikunci dengan waterglass sebelum dilorod.
  • Abstraknya tidak menyebut hiasan dinding dan alas meja yang dibahas di bagian hasil.
Daftar Isi
  1. Kucing Hitam yang Hendak Dipulihkan Namanya
  2. Lima Tahap dari Sketsa ke Kain Mori
  3. Malam, Canting Cecek, dan Larutan Waterglass
  4. Tujuh Karya dan Ukurannya Masing-Masing
  5. Yang Bisa Diperiksa di Naskahnya

Kain mori itu dibalik untuk diperiksa punggungnya. Malam yang baru saja ditarikkan di sepanjang garis motif harus benar-benar tembus sampai sisi belakang; kalau ada bagian yang belum tembus, malam ditambahkan lagi di situ. Tanpa pemeriksaan itu, warna akan merembes keluar dari batas motif ketika kain masuk ke tahap pewarnaan, dan kucing hitam yang digambar di atasnya akan kehilangan garis.

Kucing hitam itu digambar Yosi Elinda bersama Jupriani dari Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Laporannya berjudul The Black Cat as an Ornamental Motif in Hand-Drawn Batik for Upiak’s Bedroom Aesthetic Design, terbit di V-Art: Journal of Fine Art, Volume 4 Nomor 2 edisi Juni 2025. Naskahnya diterima 25 Februari 2025 dan disetujui 16 Juni 2025.

Kucing Hitam yang Hendak Dipulihkan Namanya

Alasan memilih kucing hitam ditulis terus terang: melawan anggapan buruk yang berakar pada mitos lama. Bentuk hewannya distilisasi, anatominya disederhanakan tetapi ciri pokoknya dipertahankan, dan garisnya dibuat melengkung serta mengalir. Kucing itu dihadirkan bukan sebagai pertanda sial, melainkan sebagai lambang perlindungan, ketenangan, dan keanggunan di dalam satu kamar tidur.

Bunga lily dipasang di dekat kucing sebagai penyeimbang. Naskah itu menyebut lily dengan nama ilmiah Lilium longiflorum, bunga putih yang sejak zaman Yunani kuno dimaknai sebagai kesucian, ketulusan, dan kepolosan. Kehadirannya dipakai untuk melunakkan pesan, sementara motif geometris, daun, dan garis lengkung mengisi latar agar irama gambarnya tetap terjaga.

Warna yang dipilih empat, yaitu hitam, putih, ungu lembut, dan hijau daun. Hitam dipakai untuk menandai kekuatan dan identitas, ungu serta putih untuk kesucian dan kedamaian, sedangkan hijau untuk kesegaran. Seluruhnya diarahkan pada satu penghuni: Si Upiak, panggilan akrab bagi anak perempuan dalam kebudayaan Minangkabau, yang kamarnya dijadikan tempat karya-karya ini dipasang.

Kamar tidur dipilih bukan tanpa alasan. Naskah itu mengutip Surowiyono yang menyebut kamar sebagai ruang untuk beristirahat dan menyimpan barang pribadi, serta Mauliani yang menekankan bahwa kamar harus menopang privasi dan kemandirian penghuninya. Bagi anak dan remaja, ruang itu disebut ikut berperan dalam pembentukan identitas dan ruang ekspresi dirinya.

Lima Tahap dari Sketsa ke Kain Mori

Penciptaannya mengikuti lima tahap, yaitu persiapan, elaborasi, sintesis, perwujudan konsep, dan penyelesaian. Tahap persiapan berisi pengamatan terhadap kucing hitam sebagai subjek utama, penelusuran pustaka dan sumber daring, serta penyiapan bahan berupa kain mori, malam, canting, dan pewarna. Teknik yang dipilih batik tulis, dengan alasan keluwesannya menyampaikan detail halus secara manual.

Tahap elaborasi memperdalam gagasan lewat penelusuran rujukan dan pembuatan sketsa tangan yang menjajal bentuk, ekspresi, dan siluet kucing. Tahap sintesis mengubah sketsa itu menjadi rancangan yang utuh: satu pra-desain disusun untuk mengatur komposisi, lalu disempurnakan secara digital agar bisa dipakai sebagai acuan ketika pencantingan dan pewarnaan dikerjakan di atas kain.

Tujuh karya batik untuk satu kamarTujuh karya batik untuk satu kamarTujuh karya batik untuk satu kamarUkuran dan tahapan karya batik tulis bermotif kucing hitam7Karya batiktulis216Sentimetersisiterpanjang66Sentimetergaris tengahalas meja4WarnaRemazoldipakai5TahappenciptaanJalan risetnyaPersiapanElaborasiSintesisPerwujudanPenyelesaianKarya terbesar penutup kasur 216 kali 116 sentimeter, terkecil lampuhias 56 sentimeter.
Sumber: Yosi Elinda dan Jupriani, The Black Cat as an Ornamental Motif in Hand-Drawn Batik for Upiak’s Bedroom Aesthetic Design, V-Art: Journal of Fine Art, 4(2), 2025. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Ornamen Waruga Minahasa Bicara tentang Hidup, Bukan Maut

Malam, Canting Cecek, dan Larutan Waterglass

Pengerjaan di atas kain dimulai dengan canting klowong untuk menarik garis utama motif. Sesudah garisnya tuntas, isen-isen ditambahkan dengan canting cecek, yaitu isian berupa titik dan garis halus yang memberi tekstur pada bidang motif. Isian itu baru benar-benar terlihat setelah malamnya dilorod pada tahap akhir pengerjaan.

Batik yang dipakai sebagai medium disebut warisan budaya takbenda yang diakui UNESCO pada 2009. Naskah itu juga mengutip Kalinggo Hanggopuro, yang menyatakan penulis terdahulu memakai ejaan bathik, bukan batik, karena merujuk aksara Jawa tha, dan menilai pengertian batik sebagai susunan titik belaka kurang tepat.

Pewarnaannya memakai pewarna Remazol dalam empat warna, yaitu merah, kuning, biru, dan hitam. Pengolesannya manual: spons untuk bidang yang lebar, cotton bud untuk motif yang kecil. Warna terang disapukan lebih dulu, warna gelap menyusul, supaya gradasinya halus dan warna yang sudah masuk tidak tertutup oleh warna berikutnya.

Setelah diwarnai, kain dilapisi waterglass secara merata untuk mengunci warna, lalu diangin-anginkan dua sampai tiga jam pada suhu ruang, kemudian dibilas. Pelorodan dikerjakan dengan merendam kain dalam larutan kanji agar malamnya melunak, lalu merebusnya bersama waterglass atau soda abu. Kain dibilas air dingin dan dikeringkan di tempat teduh agar warnanya tidak pudar.

Tujuh Karya dan Ukurannya Masing-Masing

Karya pertama berjudul Harmonis, hiasan dinding berukuran 114 kali 81 sentimeter. Di tengahnya seekor kucing hitam duduk dengan ekor melengkung dan pita di kepala, dikelilingi kucing-kucing yang lebih kecil. Latarnya biru tua, dan motif rumah gadang ikut dimasukkan sebagai penanda bahwa kamar itu berdiri dalam kebudayaan Minangkabau.

Karya kedua, Relaksasi, sarung bantal berukuran 76 kali 59 sentimeter di atas kain primisima. Motif utamanya kucing hitam yang tidur di atas bunga besar, memakai pita dan baju berbintik. Tepinya diberi renda merah muda, sementara latarnya biru dongker agar bunga merah, merah muda, ungu, dan hijau di sekelilingnya terlihat lebih tegas.

Karya ketiga, Nyaman, sarung guling berukuran 96 kali 33 sentimeter dengan kucing hitam berdiri tegak berbaju bintik. Karya keempat, Jaga, penutup kasur berukuran 216 kali 116 sentimeter dan menjadi yang terbesar. Di dalamnya tiga kucing hitam duduk berdampingan, dengan pola gelombang merah muda di bagian bawah yang dimaknai sebagai perjalanan hidup.

Tiga karya terakhir berukuran lebih kecil. Melengkapi adalah alas meja bundar bergaris tengah 66 sentimeter dengan tiga kucing mengelilingi satu bunga besar. Harapan adalah lampu hias 56 kali 25 kali 25 sentimeter berbentuk rumah panggung, bermotif tepi Itik Pulang Patang. Hidup adalah baju tidur berukuran 113 kali 69 sentimeter dengan kucing dalam berbagai pose.

Fungsi ganda itu ditegaskan di tiap karya. Sarung bantal dibuat mengikuti peran bantal sebagai penanda istirahat, sarung guling mengikuti peran guling sebagai teman tidur, dan alas meja bundar dipilih karena lingkaran dimaknai sebagai keutuhan. Bentuk lampu hias yang menyerupai rumah panggung dipakai untuk menyambungkan benda modern dengan rumah adat.

Baca juga Tujuh Motif Tato Istri Sikerei Dicatat dari Desa Madobag

Yang Bisa Diperiksa di Naskahnya

“Ketujuh karya ini tidak hanya menjadi elemen dekoratif yang mempercantik kamar, tetapi juga media reflektif dan edukatif,” tulis Yosi Elinda, peneliti Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Padang, bersama Jupriani. Maksudnya, menurut bagian simpulan itu, mengajak orang memandang kucing hitam secara lebih adil dan lepas dari prasangka berdasarkan warna bulunya.

Daftar karyanya sendiri tidak sama di dua tempat. Abstrak menyebut tujuh karya tekstil berupa seprai, sarung bantal, lampu tidur, dan baju tidur, tanpa menyebut hiasan dinding maupun alas meja. Padahal pada bagian hasil, hiasan dinding justru dibahas paling awal dan alas meja bundar mendapat bagiannya sendiri lengkap dengan ukuran.

Bagian penyelesaian menulis bahwa kain yang sudah dilorod dijahit menjadi hiasan dinding, lalu diberi bingkai atau penggantung supaya bisa dipasang di tembok. Kalimat itu berdiri sebagai keterangan tunggal, seolah seluruh kain berakhir menjadi satu produk yang sama, sementara enam karya lain di naskah yang sama berbentuk sarung bantal, guling, penutup kasur, alas meja, lampu, dan baju tidur.

Model penciptaannya pun disebut dua kali dengan dua sumber. Bagian metode menyatakan lima tahap itu berasal dari model yang dikembangkan Konsorsium Seni, sementara bagian proses penciptaan menyebut lima tahap yang sama sebagai rumusan Bandem terbitan 2001. Naskahnya tidak menjelaskan hubungan antara kedua penyebutan tersebut.

Batas kajiannya harus dibaca dari bentuk laporannya, sebab tidak ada bagian keterbatasan tersendiri. Ini laporan penciptaan karya, bukan pengujian: ketujuh karya dinilai oleh penciptanya sendiri lewat pameran, tanpa uji penerimaan pada anak yang kamarnya dituju. Pewarna yang disebut hanya empat warna Remazol, sementara karyanya memuat merah muda, ungu, dan hijau tanpa keterangan cara pencampurannya.

Baca juga Tiga Bentuk Pintu yang Bicara di Istana Siak

Yang tersisa dari pengerjaan itu adalah tujuh lembar kain dengan satu tokoh yang sama, dan satu kamar yang sekarang dipenuhi hewan yang selama ini dijauhi. Ukurannya tercatat rapi, dari 216 sentimeter di penutup kasur sampai 25 sentimeter di sisi lampu hias. Yang belum tercatat adalah apa kata Si Upiak ketika pertama kali memasuki kamarnya.

Bagikan

Baca Juga

Aplikasi Android untuk Transkripsi Musik Minangkabau Diuji
Wayang KASPO Dibuat dari Papan Limbah Kulit Singkong
Abu Daun Nangka Jadi Glasir Keramik dalam Empat Formula
Pusako Randah Mengalir ke Anak Perempuan di Tujuh Daerah Minang
Bumi Minangkabau Festival 2026 Digelar Empat Hari di Batusangkar
Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi