Tujuh Motif Tato Istri Sikerei Dicatat dari Desa Madobag

A A

Dua sikerei Mentawai lanjut usia bertato duduk di lantai rumah uma. [Foto: Andrian salis/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Amelia Yuli Astuti dan Tuiyak Sakaliou membaca tujuh motif tato di tubuh istri sikerei di Desa Madobag sebagai tanda bahasa.
  • Titi Rere di betis dimaknai ibarat pagar, penanda batas wilayah atau ikatan suku.
  • Titi Dap Dap di bahu dan dada disebut tanda pengenal utama seorang istri sikerei.
  • Sibalu Balu disebut berarti delapan, tetapi juga dicatat sebagai gugusan tujuh bintang atau Pleiades.
  • Naskah merujuk gambar dan tabel yang tidak dimuat dalam berkas terbitannya.
Daftar Isi
  1. Mendatangi Tiga Kepala Suku di Kulukubuk
  2. Merekam, Menyalin, lalu Menerjemahkan
  3. Membaca Tato Istri Sikerei dari Tangan sampai Betis
  4. Menafsir Garis di Pusar, Wajah, dan Punggung
  5. Menelusuri Dap Dap dan Bintang Sibalu Balu
  6. Menutup Kajian dengan Beberapa Celah

Cekricek.id — Tarason Sakaliou, kepala suku adat Mentawai di Dusun Kulukubuk, Desa Madobag, adalah orang pertama yang ditemui peneliti untuk menjelaskan nama-nama tato istri sikerei. Dari tuturannya, bersama keterangan dua kepala suku lain, Pelege Sakaliou dan Ngoik Mananai Sapojai, tujuh motif tato di tubuh istri sikerei dibaca satu per satu sebagai tanda bahasa.

Pembacaan itu dikerjakan Amelia Yuli Astuti dan Tuiyak Sakaliou, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Ekasakti. Hasilnya terbit dengan judul Linguistic Sign Oon The Meaning of Sikerei’s Wife’s Tattoos in Madobag Village, South Siberut Mentawai Island di Jurnal JILP (Jurnal Ilmiah Langue and Parole) Volume 8 Nomor 1 tahun 2024, halaman 42 sampai 52. Tuiyak Sakaliou tercatat sebagai penulis korespondensi.

Naskah itu diterima redaksi jurnal pada 8 November 2024, direvisi 18 November, dan tersedia daring sejak 2 Desember 2024. Amelia dan Tuiyak memusatkan penelitian di Madobag, desa yang masuk Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Gambar tato dikumpulkan pada 10 Juni 2023, dan penelitiannya disebut berjalan bertahap, tanpa rincian berapa lama tiap tahap berlangsung.

Kesimpulan besarnya diletakkan Amelia dan Tuiyak di bagian akhir naskah. “Tato istri sikerei bagi masyarakat Mentawai merupakan bagian dari tatanan hidup yang berlandaskan kepercayaan Arat Sabulungan,” tulis Amelia Yuli Astuti dan Tuiyak Sakaliou. Mereka menyebut kepercayaan itu sebagai agama asli yang memberi semangat hidup, dan pola tatonya sebagai bahasa visual untuk menunjukkan asal-usul keberadaan serta tanda kepemilikan wilayah.

Mendatangi Tiga Kepala Suku di Kulukubuk

Di lapangan, Tuiyak Sakaliou dan Amelia Yuli Astuti mencari data lisan berupa nama-nama tato istri sikerei. Sumber pertama mereka Tarason Sakaliou di Dusun Kulukubuk, lalu sumber kedua yang menerangkan makna nama tato tersebut. Naskah tidak menyebut nama sumber kedua itu, meski di bagian pendahuluan tiga nama kepala suku dicantumkan sebagai narasumber wawancara.

Wawancara dengan Tarason, Pelege Sakaliou, dan Ngoik Mananai Sapojai tidak disusun ketat. Amelia dan Tuiyak hanya menyiapkan pertanyaan terstruktur yang informal untuk menggali makna nama-nama yang diukir itu, dan waktunya disesuaikan dengan kondisi yang dianggap paling tepat. Mereka juga mengamati langsung tato istri sikerei di Madobag, meski tidak ada satu pun istri sikerei yang disebut namanya.

Alasan turun ke Madobag dijelaskan Amelia dan Tuiyak sejak pendahuluan. “Bahkan generasi muda Mentawai hari ini, yang menganggap tato sebagai hal biasa, sudah mulai meninggalkan praktik budaya tradisional Mentawai,” tulis keduanya. Menurut mereka, hal itu terjadi karena budaya perlahan punah dan pengetahuan tentang asal-usul serta makna tato itu kian berkurang.

Merekam, Menyalin, lalu Menerjemahkan

Tuiyak Sakaliou dan Amelia Yuli Astuti merekam suara narasumber dengan telepon seluler selama wawancara, sementara dokumentasi dikerjakan sebelum wawancara dimulai. Rekaman itu kemudian dituliskan, dan bahasa Mentawai di dalamnya dialihkan ke bahasa Indonesia agar makna tiap tato bisa dipahami, sebelum dianalisis bersama keterangan para narasumber seperti Tarason Sakaliou.

Amelia dan Tuiyak menyebut penelitiannya berjalan dalam tiga tahap, yakni perekaman data, penulisan data, dan penyajian analisis dalam bentuk tabel. Namun tabel itu tidak ditemukan dalam naskah yang terbit. Di bagian hasil, uraian tiap motif juga berulang kali merujuk gambar di atas dengan penanda nomor 1 dan 2, padahal berkas terbitannya tidak memuat satu gambar pun selain logo jurnal.

Abstrak yang ditulis Amelia dan Tuiyak juga menyebut teknik pengumpulan datanya studi pustaka untuk mencari data yang relevan, sementara bagian metode merinci wawancara, pengamatan, dokumentasi, dan rekaman suara di Madobag. Kerangka analisisnya diambil dari teori semiotika Chandler dan Barthes, yakni penanda dan petanda, makna denotatif yang tersurat, serta makna konotatif yang memuat perasaan, emosi, dan nilai budaya.

Baca juga Baboi Mentawai, Ibu Adat yang Tak Satu Pun Disebut Namanya

Menurut Amelia dan Tuiyak, penanda dan petanda pada tato itu membentuk makna denotatif yang hanya menyampaikan informasi, lalu menjadi penanda konotatif yang melahirkan tafsir baru yang lebih kontekstual. Pola itu mereka terapkan pada setiap motif, sehingga uraian satu tato di bagian hasil diulang lagi hampir kata demi kata di bagian urutan penandaan.

Membaca Tato Istri Sikerei dari Tangan sampai Betis

Motif pertama yang diurai Amelia dan Tuiyak adalah Titi Takep di punggung tangan. Garis vertikal yang disebut uriok berpadu dengan garis horizontal, membentuk garis persegi dari siku sampai pergelangan dan menggambarkan jaring serta kail. Garis vertikal lain yang lurus dari pergelangan ke jari membentuk gambar joran pancing.

Bagi istri sikerei di Madobag, menurut uraian Amelia dan Tuiyak, jaring atau tangguk dan joran itu bermakna pencari penghidupan atau tanda keterampilan menangkap ikan. Tangguk dipakai menangkap ikan dan hewan lain dari alam, dan mewakili ketergantungan orang Mentawai, terutama istri sikerei, untuk mendapat makanan sehari-hari. Di pendahuluan, keduanya mencatat istri sikerei biasanya gemar mencari atau menangkap ikan.

Motif kedua berada di betis sampai pergelangan kaki. “Makna budaya yang terkandung dalam tato Titi Rere bagi istri sikerei di Desa Madobag ibarat pagar (salio); makna Titi Rere adalah penanda batas wilayah atau ikatan suku,” tulis Amelia Yuli Astuti dan Tuiyak Sakaliou. Polanya berupa garis horizontal yang melingkari betis, garis uriok di tulang kering, dan garis muriok sabbe yang berpola seperti duri.

Amelia dan Tuiyak juga menjelaskan mengapa Titi Rere dibuat di kaki. Kaki adalah alat untuk berjalan dan mencari kenyamanan, sebab orang Mentawai kerap berpindah untuk mencari tempat penghidupan. Di bagian urutan penandaan, nama motif ini beberapa kali ditulis Titi Dere, sementara di bagian hasil dan di kesimpulan tetap Titi Rere.

Menafsir Garis di Pusar, Wajah, dan Punggung

Titi Pusou, menurut catatan Amelia dan Tuiyak, adalah satu garis tegak lurus yang ditarik dari dada sampai perut di sekitar pusar. Motif soroi, gambar garis sederhana ini, dihubungkan dengan Titi Dap Dap dan berfungsi mengenali suku serta tempat tinggal. Keduanya menyebut motif itu terinspirasi bulu ekor ayam yang berwarna-warni, sekaligus menyebutnya semata simbol keindahan.

Di wajah, Amelia dan Tuiyak mencatat Titi Baylat, berupa garis lengkung di pipi kiri dan kanan serta garis uriok sabbe di dagu yang menyambungkan garis titik dan dap. Maknanya hiasan tubuh atau kecantikan. Motif yang umum dipakai adalah muriok sara, satu garis vertikal di dagu atau bakla, sehingga tato ini juga disebut titi bakla. Dalam uraian yang sama, garis vertikal itu sempat disebut berada di dahi.

Sampan kayu tertambat di tepi sungai berair cokelat di Pulau Siberut
Sampan kayu tertambat di tepi sungai berair cokelat di Pulau Siberut. [Foto: www.viajar24h.com/Wikimedia Commons (CC BY 2.0)]

Amelia dan Tuiyak menulis bahwa orang Mentawai tradisional telah mengenal beragam desain tato sebagai hiasan tubuh sejak ratusan tahun lalu. Pola-pola itu disebut sebagai perwujudan keinginan pribadi dan kebebasan berekspresi, dimaksudkan menghadirkan kesan gagah dan cantik pada perempuan, dengan harapan pemakainya mendapat perhatian lingkungan sekitarnya.

Motif di punggung disebut Titi Teitei. Amelia dan Tuiyak menguraikannya sebagai pola uriok sabbe vertikal dengan garis miring di sisi kiri dan kanan punggung. Garis lengkung yang oleh masyarakat adat Mentawai disebut Sarepak Abak itu melambangkan keseimbangan dengan alam, diambil dari cadik atau penyeimbang perahu, alat transportasi yang banyak dipakai orang Mentawai. Punggung dipilih karena menjadi tempat memikul barang berat.

Baca juga Tunggu Tubang, Perempuan Pewaris yang Kehilangan Sawahnya

Menelusuri Dap Dap dan Bintang Sibalu Balu

Tanda paling utama pada tato istri sikerei justru ada di bahu dan dada. “Tanda pengenal utama seorang istri sikerei adalah Titi Dap Dap, yakni tato di bahu dan dada,” tulis Amelia Yuli Astuti dan Tuiyak Sakaliou. Pola garis lengkungnya, tiga garis yang bertemu membentuk segitiga, menyerupai sayap kelelawar, tetapi di bagian lain juga disebut memberi kesan elang yang mengepakkan sayap.

Menurut Amelia dan Tuiyak, elang dipercaya sebagai simbol dunia atas yang bermakna kegagahan dan keberanian, dan melambangkan istri sikerei. Pola dan penempatan motif Titi Dap Dap disebut sudah dibakukan sebagai kesepakatan bersama beberapa wilayah dan klan Sibakat Lagai. Motif ini menyiratkan tanggung jawab istri sikerei atas perkembangan dan kelangsungan hidup manusia, termasuk kelangsungan hidup keluarga.

Titi Sibalu Balu, yang oleh Amelia dan Tuiyak disebut identitas profesi, terdiri atas delapan garis yang dihubungkan lingkaran berpola bintang dan bermakna kedudukan tinggi serta kemampuan menyembuhkan. Motif ini juga bermakna kesuburan dan kemakmuran, sehingga tidak hanya dipakai sikerei tetapi juga perempuan Mentawai tradisional, bahkan sebagian hanya sebagai hiasan. Letaknya disebut di pangkal lengan, tetapi pada kalimat berikutnya disebut di bahu.

Soal asal nama, Amelia dan Tuiyak menulis bahwa Sibalu Balu berarti delapan. Pada kalimat berikutnya mereka mencatat, “Menurut masyarakat tradisional Pulau Siberut, Titi Sibalu Balu adalah gugusan tujuh bintang atau bintang Pleiades.” Selisih antara delapan dan tujuh itu tidak dijelaskan dalam naskah. Pola bintang ini disebut menandakan seseorang terampil menjaga kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan.

Dari motif itu, Amelia dan Tuiyak beralih ke sosok sikerei sendiri. Kata sikerei disebut berasal dari kerey yang berarti mantra, dengan padanan ketcat, dan kerap disamakan dengan dukun. Saat mengobati orang sakit, sikerei tidak dianggap menyembuhkan pasien, tetapi memerintah makhluk gaib sitai maicak untuk melacak penyebab penyakit, mencari obat, atau memberikan obat.

Sikerei, menurut uraian Amelia dan Tuiyak, tidak diangkat berdasarkan keturunan. Seseorang dipanggil melayani lewat mimpi atau perasaannya, lalu memberi tahu rimata bahwa ia merasa sudah memiliki kekuatan gaib. Bila disetujui, rimata mengumumkannya kepada anggota uma. Tidak ada pendidikan atau pelatihan khusus bagi calon sikerei, dan kedudukannya penting dalam upacara punen, pujajat, dan lia.

Baca juga Kearifan Smong Diwariskan lewat Nyanyian Ibu di Simeulue

Di bagian kesimpulan, Amelia dan Tuiyak mengulang ketujuh motif itu satu per satu, dari Titi Takep di punggung tangan sampai Titi Sibalu Balu yang disebut identitas profesi. Mereka menyebut tato istri sikerei sebagai warisan budaya leluhur masyarakat Mentawai, dan polanya sebagai sarana komunikasi yang menunjukkan asal-usul keberadaan, kepemilikan wilayah, serta simbol lain.

Menutup Kajian dengan Beberapa Celah

Amelia dan Tuiyak tidak menulis bagian keterbatasan penelitian secara khusus. Di abstrak, keduanya hanya menyatakan penelitian ini dibatasi pada dua pertanyaan, yaitu apa tanda dan penanda makna tato istri sikerei di Madobag, dan apa ketentuan penandaan maknanya. Jumlah istri sikerei yang tatonya diamati, maupun nama mereka, tidak dicantumkan.

Judul yang dipakai Amelia dan Tuiyak pun menyimpan salah cetak. Kata On tercetak Oon di halaman judul, sementara abstraknya menyebut judul penelitian dengan bunyi yang sedikit berbeda, Linguistic Signs in the Meaning of Sikerei’s Wife’s Tattoos. Uraian Titi Takep dan Titi Rere di bagian hasil juga muncul kembali utuh di bagian urutan penandaan.

Tarason Sakaliou, orang pertama yang ditemui di Kulukubuk, tetap menjadi satu-satunya narasumber yang namanya dikaitkan langsung dengan penjelasan nama-nama tato istri sikerei. Dari keterangannya dan dua kepala suku lain, Amelia dan Tuiyak menyusun bacaan atas tujuh motif, sementara perempuan yang tubuhnya membawa motif-motif itu tidak disebut namanya dalam naskah.

Bagikan

Baca Juga

Ornamen Waruga Minahasa Bicara tentang Hidup, Bukan Maut
Tasawuf Rejang Diwariskan Lewat Tambo, Zikir, dan Ngarak
Gandang Sarunai Solok Selatan dan Empat Tahap Pertunjukannya
Penumpang Bandara Juanda Diramal Jitu Berkat Efek Lebaran
Perempuan Adat Citorek Menentukan Kapan Padi di Leuit Diambil
Mantra Penyembuhan Suku Tidung dari Kekapal hingga Nipah