Kearifan Smong Diwariskan lewat Nyanyian Ibu di Simeulue

A A

Awan badai menggantung di atas Pantai Lasikin, Pulau Simeulue, dengan perahu di pasir. [Foto: Abimanyu S. Aji/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Kearifan smong di Pulau Simeulue lahir dari satu peristiwa pada 1907. Gelombang besar menyapu pulau itu dan menewaskan banyak penduduknya.

Sembilan puluh tujuh tahun kemudian gelombang serupa datang lagi. Pada 26 Desember 2004, hanya tujuh orang Simeulue yang meninggal.

Angka tujuh itu bukan temuan baru. Gadeng pada 2017 dan Gadeng dan kawan-kawan pada 2018 sudah mencatatnya lebih dulu.

Yang belum dijawab penelitian sebelumnya adalah caranya. Bagaimana pengetahuan 1907 itu sampai ke kepala orang yang lari pada 2004.

Pertanyaan itu yang diambil Ramli, Ahmad Nubli Gadeng, Daska Azis, Yunisrina Qismullah Yusuf, dan Razali. Kelimanya pengajar di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Tulisan mereka terbit di Indonesian Journal of Applied Linguistics Volume 14 Nomor 2 edisi September 2024, halaman 229 sampai 239.

Naskahnya diterima 16 Maret 2024 dan direvisi 12 Agustus 2024. Disetujui 6 September 2024, lalu terbit 30 September tahun yang sama.

Daftar Isi
  1. Simeulue 1907 dan Rantai Catatan Sejak Gadeng 2017
  2. Tiga Puluh Narasumber, Lima Kecamatan, Wawancara Tiga Puluh Menit
  3. Mananga-nanga dan Bacaan Sanny 2007 tentang Nyanyian Ratap
  4. Manafi-nafi, Dua Bayi yang Dinamai Menurut Bencana
  5. Nandong dari Pukul 21.00 sampai 04.00 dan Izin Kepala Desa
  6. Batas yang Diakui Penulisnya Sendiri

Simeulue 1907 dan Rantai Catatan Sejak Gadeng 2017

Simeulue adalah kabupaten kepulauan di lepas pantai barat Aceh. Penduduknya sekitar 97.118 jiwa menurut data Kementerian Dalam Negeri tahun 2023.

Wilayahnya sebagian besar perdesaan. Warganya bergantung pada pertanian, perikanan, dan industri berskala kecil.

Letaknya membuat pulau itu rawan gempa dan tsunami. Syafwina pada 2014 sudah mencatat kerawanan geografis tersebut.

Kata smong sendiri berasal dari bahasa Devayan. Artinya tsunami, dan kata itu diwariskan lewat cerita para tetua.

Ali dan kawan-kawan pada 2019 menyebut smong sebagai kata sandi. Seluruh penduduk pulau memahaminya sebagai gelombang raksasa sesudah gempa besar.

Gadeng pada 2017 menambahkan satu keterangan penting. Kata itu dianggap sakral dan tidak boleh diucapkan sembarangan atau dijadikan bahan gurauan.

Armidin pada 2010 mencatat jalur penyampaiannya. Peringatan tsunami di Simeulue disampaikan lisan lewat nanga-nanga, sikambang, dan nandong.

Gadeng pada 2017 menyusun tiga bentuk yang lebih ringkas. Mananga-nanga sebagai nyanyian pengantar tidur, manafi-nafi sebagai cerita rakyat, dan nandong sebagai lagu.

Tiga bentuk itulah yang diperiksa ulang dalam penelitian ini. Bedanya, yang dicari bukan nilai di dalamnya, melainkan cara nilai itu ditanamkan.

Baca juga Masjid Padang Jadi Tempat Evakuasi Tsunami

Tiga Puluh Narasumber, Lima Kecamatan, Wawancara Tiga Puluh Menit

Penelitiannya memakai pendekatan etnografi. Rujukannya Reeves dan kawan-kawan pada 2008 tentang pengamatan perilaku dan persepsi dalam kelompok tertentu.

Ada satu ketidakcocokan yang perlu dicatat. Abstraknya menyebut pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, sedangkan bagian metode menyebut pendekatan etnografi.

Narasumbernya tiga puluh orang. Rinciannya dua puluh enam laki-laki dan empat perempuan, tersebar di lima kecamatan Kabupaten Simeulue.

Umur narasumber tertua tujuh puluh tahun. Yang termuda empat belas tahun pada saat pengambilan data.

Pemilihannya bukan acak melainkan bertujuan. Dasarnya pengetahuan mereka tentang smong dan peran sebagai tetua adat atau pewaris tradisi lisan.

Wawancaranya semiterstruktur dan berlangsung sekitar tiga puluh menit. Semua rekaman kemudian ditranskripsi sebelum dianalisis.

Analisisnya memakai analisis tematik dari Braun dan Clarke tahun 2006. Cara itu menandai, menganalisis, dan melaporkan pola makna dalam data kualitatif.

Ada pula analisis tekstual dan interpretatif. Yang pertama memeriksa bait lagu, yang kedua memeriksa fungsinya sebagai panduan menghadapi ancaman.

Satu kalimat di bagian metode menyisakan pertanyaan. Wawancara disebut menyasar mananga-nanga pada 20 persen narasumber, manafi-nafi 20 persen, dan nandong 20 persen.

Ketiga angka itu bila dijumlahkan hanya enam puluh persen. Sisanya empat puluh persen tidak dijelaskan masuk ke bagian mana.

Mananga-nanga dan Bacaan Sanny 2007 tentang Nyanyian Ratap

Mananga-nanga dinyanyikan saat menidurkan bayi di ayunan. Sasarannya anak sejak lahir sampai sekitar lima tahun, tepat sebelum masuk sekolah dasar.

Seorang narasumber menerangkan bahwa tradisi itu turun-temurun dan dimulai sejak anak berumur tiga tahun. Yang menyanyikannya bukan hanya perempuan muda, tetapi juga perempuan tua.

Keterangan itu sejalan dengan penelitian sebelumnya. Sanny pada 2007, Gadeng pada 2017, serta Gadeng dan kawan-kawan pada 2018 mencatat hal serupa.

Sanny pada 2007 di halaman 140 memberi penggolongan. Nanga-nanga digolongkan sebagai nyanyian ratapan atau requiem dalam sastra Simeulue.

Isinya menurut Sanny adalah kesedihan yang menimpa seseorang. Sebabnya bisa musibah yang merenggut orang terkasih atau harta yang dikumpulkan bertahun-tahun.

Gadeng pada 2017 menambahkan satu ciri bentuk. Mananga-nanga tidak memakai alat musik tradisional, tetapi tetap dinyanyikan dengan irama tertentu.

Ciri itu yang membedakannya dari nandong. Tidak ada pula syarat khusus, sehingga bisa dinyanyikan kapan saja dan di mana saja.

Naskahnya memuat satu bait utuh berbahasa Devayan. Bait itu dinyanyikan seorang narasumber perempuan lanjut usia ketika menidurkan cucunya.

Baitnya dibuka dengan ajakan mendengar. Enggel mon sao surita berarti dengarlah cerita ini, diikuti inang maso semonan yang berarti pada suatu masa dahulu.

Bagian tengahnya memuat urutan tanda. Unen ne alek linon berarti mulanya gempa, fesang bakat ne mali berarti disusul gelombang besar.

Tanda ketiga yang paling teknis. Oek suruik sauli berarti air laut surut, dan maheya mihawali berarti bergegaslah mencari tempat.

Penutupnya berupa empat kiasan. Smong dumek-dumek mo berarti tsunami adalah air mandimu, linon uak-uwak mo berarti gempa adalah ayunanmu.

Dua kiasan lainnya menyangkut langit. Kilek sulu-sulu mo berarti petir adalah lampumu, eklaik kedang-kedang mo berarti guruh adalah gendangmu.

Penulisnya menghitung enam kearifan dari bait itu. Salah satunya seruan mengingat pada baris penutup, mi redeem teher ere, yang berarti ingatlah ini.

Baca juga Tangis Dilo, Ratapan Fajar Suku Alas yang Kian Jarang

Manafi-nafi, Dua Bayi yang Dinamai Menurut Bencana

Manafi-nafi adalah cerita rakyat tanpa iringan musik. Penyampaiannya menyelip di percakapan biasa dalam keluarga maupun komunitas.

Seorang narasumber menyebut waktu-waktunya. Menjelang tidur, bersantai di teras, memasak di dapur, mengurus cengkih, atau minum kopi sore.

Narasumber lain menyebut kedudukannya. Cerita smong disebut menyatu dengan jiwa tradisi lisan Simeulue dan diwariskan turun-temurun sebagai warisan yang dijaga.

Penulisnya memakai Poerwanto tahun 2000 untuk membaca pola itu. Pewarisan budaya tidak hanya menurun dari orang tua ke anak, tetapi juga mendatar antarwarga.

Digdoyo pada 2015 dipakai untuk hal yang berbeda. Sosialisasi bisa terjadi tanpa disengaja lewat perilaku dan sikap sehari-hari.

Naskahnya memuat dua cerita utuh berbahasa Devayan. Judul pertama Tureang Anak Singa Laher Inang Maso Smong, yaitu kisah anak yang lahir saat smong.

Ceritanya tentang perempuan bernama Siti yang sedang hamil tua. Gempa besar datang, warga berlari ke tempat tinggi mengikuti Hikayat Smong, dan Siti mulai merasa kontraksi.

Ia dan suaminya mencapai bukit kecil di pinggir kampung. Dengan bantuan dukun beranak, ia melahirkan bayi laki-laki yang sehat di sana.

Warga menamai bayi itu Tsunami. Nama itu dipilih agar anak tersebut tumbuh kuat seperti semangat orang Simeulue menghadapi smong berulang kali.

Cerita kedua berjudul Silae Smong, yang berarti Putra Smong. Tokohnya perempuan bernama Laila yang menanti kelahiran anak pertamanya.

Gempa mengguncang pulau dan warga mengenali tandanya. Laila yang mendekati waktu melahirkan merasakan kontraksi keras tepat ketika gempa berlangsung.

Dengan bantuan suaminya, Amir, ia mencapai bukit terdekat. Anaknya lahir di puncak bukit di tengah kepanikan, dalam keadaan sehat.

Warga menamainya Putra Smong. Nama itu menandai kekuatan alam sekaligus keberanian yang mereka tunjukkan saat bencana.

Narasumber bernomor tujuh belas menyebut cerita kedua sebagai legenda. Menurutnya cerita itu mengingatkan tiap angkatan pada pengetahuan tradisional, ketahanan, dan harapan.

Penulisnya menautkan hal itu pada Poerwanto tahun 2000. Budaya disebut sebagai proses belajar yang dinamis, bukan sifat yang diwariskan secara biologis.

Nandong dari Pukul 21.00 sampai 04.00 dan Izin Kepala Desa

Nandong dalam bahasa daerah Simeulue berarti bersenandung. Isinya ratusan lirik yang menceritakan kisah hidup masa lalu, baik yang gembira maupun yang menyedihkan.

Takari pada 2020 menyebut fungsinya. Nandong menjadi sarana penyampaian pesan tentang tanda gelombang tinggi dan tindakan yang harus diambil.

Pentasnya di acara tertentu. Pernikahan, upacara keagamaan, festival, dan pertemuan dengan tamu dari luar Kepulauan Simeulue.

Seorang narasumber menerangkan isi pantunnya. Di dalamnya ada nasihat dari pengalaman masa lalu sekaligus kisah bencana smong tahun 1907.

Narasumber lain menyebut akibatnya. Ingatan tentang smong tetap hidup di benak setiap pendengar dan mengendap dalam ingatan bersama warga kabupaten.

Pertunjukannya melibatkan banyak orang. Alat musiknya rebana dan biola, dimainkan di atas panggung dan menarik kerumunan penonton.

Ada satu syarat yang tidak berlaku pada dua bentuk lain. Izin dari pemuka masyarakat, termasuk kepala desa dan pemangku adat, harus diminta lebih dulu.

Alasannya durasi. Sesi nandong berlangsung dari pukul sembilan malam atau sesudah salat isya sampai pukul empat pagi.

Penontonnya mengenakan pakaian adat Kabupaten Simeulue. Perpaduan suara dan musik disebut menghidupkan suasana sepanjang malam.

Naskahnya juga memuat bait Nyanyian Smong. Isinya berulang, menegaskan bahwa gempa kuat diikuti gelombang besar dan air yang surut lebih dulu.

Bait itu ditutup dengan peringatan yang keras. Anga linon ne mali, sangok pulau Simeulue, yang berarti bila gempanya kuat, Pulau Simeulue akan tenggelam.

Ada pula satu cerita tentang nenek bernama Mak Intan. Ia menyanyikan Nandong Smong kepada cucunya, Amir, setiap sore di depan rumah sambil memandang laut.

Sesudah bernyanyi, Mak Intan menerangkan bahwa smong berarti tsunami. Ia menyebut tandanya berupa gempa dan air laut yang tiba-tiba surut.

Bahasa yang dipakai berbeda antarwilayah. Devayan dipakai di Simeulue Timur, Simeulue Tengah, Teupah Selatan, Simeulue Cut, Teluk Dalam, dan Teupah Barat.

Sigulai dipakai di Salang dan Simeulue Barat. Leukon dipakai di Alafan, kecamatan di ujung utara kepulauan tersebut.

Irama dan warna suaranya berbeda antardaerah. Isi pokok nandong tetap sama di seluruh kecamatan.

Baca juga Riset Bencana Semeru

Batas yang Diakui Penulisnya Sendiri

Penulisnya menyebut usia empat tahun sebagai titik mula. Pada umur itu anak Simeulue mulai mengenal smong, cirinya, dan tindakan yang harus diambil.

Sosialisasinya disebut berlangsung tanpa sekolah formal. Jalurnya kedekatan kekeluargaan dalam komunitas yang rapat.

Peristiwa 2004 disebut mengubah cara pandang warga. Cerita leluhur yang semula didengar sebagai kisah terbukti benar, dan keyakinan pada warisan itu menguat.

Bagian keterbatasan ditulis terbuka. Penelitiannya bersandar pada data kualitatif dari wawancara, yang menurut penulisnya berpotensi memuat bias.

Saran perbaikannya disebutkan. Penelitian lanjutan diminta menambahkan pengamatan dan metode kuantitatif agar gambarannya lebih lengkap.

Batas kedua menyangkut cakupan. Penelitiannya hanya memeriksa mananga-nanga, manafi-nafi, dan nandong.

Faktor lain tidak diperiksa. Kebijakan pemerintah dan kemajuan teknologi disebut sebagai contoh yang belum masuk.

Saran ketiganya soal waktu. Penelitian jangka panjang diminta menelusuri perubahan praktik budaya dari waktu ke waktu.

Ada satu hal yang tidak dijawab naskah ini. Narasumbernya ditulis dengan nomor, sehingga nama penutur bait dan cerita itu tidak tercatat.

Bagikan

Baca Juga

Seharuk, Cerita Cerdik dari Sungai Komering
Tangis Dilo, Ratapan Fajar Suku Alas yang Kian Jarang
Teka-teki Mandailing yang Sengaja Bertentangan
Kopi Gayo Bersertifikat, Untung Lebih Besar tapi Kurang Efisien
Prodi Pendidikan Fisika Unimal Raih Akreditasi Unggul LAMDIK
Rede, Pukulan yang Menahan Penonton Indang sampai Larut