Cekricek.id — Wirausaha pemuda adalah istilah dengan batas umur yang pasti. Yang dimaksud warga negara berusia 16 sampai 30 tahun yang bekerja dengan status berusaha.
Batas itu bukan buatan peneliti. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan yang menetapkannya.
Status berusaha juga punya definisi sendiri. BPS memasukkan yang berusaha sendiri, yang dibantu pekerja keluarga, dan yang dibantu buruh dibayar.
Pada kelompok itulah pertanyaannya diajukan. Apakah memakai internet untuk usaha menaikkan pendapatan mereka.
Yang menelitinya Nabella Primasetya dan Putu Geniki Lavinia Natih. Keduanya dari Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Tulisannya dimuat Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Volume 26 Nomor 2 edisi Juli 2026, halaman 230 sampai 246.
Bahannya Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2022. Jumlah yang dianalisis 22.994 wirausaha pemuda.
Daftar Isi
Skor kecenderungan, pasangan yang dicarikan
Dua cara hitung dipakai berurutan. Yang pertama regresi kuadrat terkecil biasa, yang dikenal sebagai OLS.
Cara itu punya satu kelemahan yang disebut bias seleksi. Maksudnya, orang yang memilih memakai internet mungkin memang sudah berbeda sejak awal.
Bedanya begini. Mereka bisa jadi lebih terdidik, lebih terlatih, atau sudah punya pembukuan sebelum menyentuh internet.
Kalau itu dibiarkan, kenaikan pendapatan bisa salah alamat. Yang terbaca pengaruh internet, padahal pengaruh pendidikan.
Cara kedua dipakai untuk menutup celah itu. Namanya Propensity Score Matching, atau pencocokan skor kecenderungan.
Skor kecenderungan adalah peluang seseorang memakai internet. Peluang itu dihitung dari ciri yang bisa diamati, bukan dari hasilnya.
Tiap pemakai internet lalu dicarikan pasangan. Pasangannya bukan pemakai internet, tetapi punya skor kecenderungan yang sama.
Selisih pendapatan antara pasangan itu yang dipakai. Ukurannya disebut ATT, yaitu rata-rata pengaruh pada mereka yang memakai.
Pendapatan yang diukur bukan omzet. Yang dipakai penghasilan bersih berupa uang pada Agustus 2022, lalu diubah ke logaritma natural.
Pengubahan itu punya alasan praktis. Dengan logaritma, koefisiennya bisa dibaca langsung sebagai persentase perubahan.
Variabel kendalinya ada empat belas. Di antaranya pendidikan, pelatihan, jenis kelamin, status kawin, izin usaha, dan pembukuan.
Empat lainnya menyangkut usaha dan waktu. Jam kerja, lama usaha, tempat tinggal, serta umur dan umur kuadrat.
Wilayah bersama diperiksa lebih dulu. Istilah itu menunjuk rentang skor kecenderungan yang dimiliki kedua kelompok sekaligus.
Tanpa rentang itu, pasangan tidak bisa dicari. Pemeriksaannya dilakukan secara visual lewat sebaran kepadatan skor.
Baca juga Pustek UGM Uji Coba Belanja Daring di Pasar Kolombo
Lima puluh lima persen, bukan lima puluh satu
Hasil OLS-nya lebih tinggi 51 persen. Pendapatan wirausaha pemuda pemakai internet dibanding yang bukan pemakai.
Hasil pencocokannya lebih besar. Dua algoritma, Kernel dan Radius-Caliper, sama-sama memberi angka 55 persen.
Artinya OLS justru meremehkan pengaruhnya. Penulisnya membaca selisih itu sebagai tanda bias seleksi memang ada.
Kualitas pencocokannya juga dilaporkan. Bias rata-rata setelah dicocokkan 1,3 persen untuk Kernel dan 1,4 persen untuk Caliper.
Keduanya di bawah ambang 5 persen. Penurunan biasnya 94,29 persen dan 94,23 persen.
Ada 13 sampel yang tidak mendapat pasangan. Jumlah itu kecil dibanding 22.994 pengamatan, sehingga syarat wilayah bersama dinyatakan terpenuhi.
Komunikasi, promosi, dan tiga yang menghilang
Pertanyaan berikutnya menyangkut jenis pemakaian. Sakernas membedakan internet untuk komunikasi, promosi, penjualan lewat media sosial, dan penjualan lewat lokapasar.
Diuji sendiri-sendiri, keempatnya berpengaruh. Koefisiennya 0,509 untuk komunikasi, 0,377 untuk promosi, 0,344 untuk media sosial, dan 0,252 untuk lokapasar.
Diuji bersamaan, hanya satu yang bertahan. Komunikasi tetap 0,476 dan tetap nyata, sedangkan tiga lainnya jatuh ke angka kecil.
Angkanya 0,050 untuk promosi dan 0,010 untuk media sosial. Lokapasar 0,042, dan ketiganya tidak lagi nyata secara statistik.
Maksudnya bukan ketiganya tidak berguna. Maksudnya, begitu komunikasi masuk model, tiga jenis lain tidak menambah keterangan apa pun.
Di sinilah contoh sehari-hari tadi meleset. Yang dibayangkan orang sebagai berjualan daring justru bukan yang menaikkan pendapatan.
Penulisnya menduga sebabnya skala usaha. Rata-rata wirausaha pemuda berskala mikro dan memakai internet untuk berkomunikasi.
Baca juga UGM Buka Akses Pasar Petani Merauke lewat Digipangan
Intensitas pemakaian juga diuji. Ukurannya jumlah jenis internet yang dipakai sekaligus, dari satu sampai empat.
Yang memakai satu jenis naik 46,7 persen. Yang memakai dua jenis naik 56,7 persen.
Yang memakai tiga jenis justru turun menjadi 49,6 persen. Yang memakai empat jenis naik lagi paling tinggi, 61,7 persen.
Pola itu tidak menanjak rapi. Tulisan ini mencatat selisihnya, tetapi tidak menerangkan mengapa tiga jenis lebih rendah daripada dua.
Daya jelas modelnya sendiri kecil. Nilai R kuadratnya 0,086, artinya model hanya menerangkan 8,6 persen ragam pendapatan.
Pembanding dari luar negeri ikut dikutip. Wang dan rekan pada 2024 mencatat internet memperkuat jaringan sosial wirausaha pedesaan di Cina.
Satu rujukan lain justru menemukan hal berbeda. Lorca dan rekan pada 2019 menyebut lokapasar tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan pendapatan.
Sebabnya disebut efek substitusi. Penjualan lewat saluran daring menggantikan penjualan lewat saluran fisik, bukan menambahnya.
Temuan serupa dicatat untuk Indonesia. Effendi dan Subroto pada 2021 menyebut pemanfaatan perdagangan elektronik tidak selalu menaikkan pendapatan.
Dunia pun makin banyak berinternet. Penggunanya 4,1 miliar orang pada 2019, atau 54 persen penduduk dunia.
Dua tahun kemudian angkanya naik. Penggunanya menjadi 4,9 miliar orang atau 63 persen penduduk dunia.
Desa dan kota, dua angka yang tampak berlawanan
Pengaruhnya lalu dipilah menurut tempat tinggal. Di pedesaan 52 persen dan di perkotaan 36 persen.
Artinya internet lebih berguna di desa. Penulisnya mengaitkannya dengan turunnya biaya transaksi dan terbukanya informasi.
Namun ada angka lain yang arahnya berlawanan. Variabel desa pada model pendapatan bernilai negatif, berkisar minus 0,351 sampai minus 0,452.
Keduanya tidak saling membatalkan. Wirausaha pemuda desa berpendapatan lebih rendah, tetapi kenaikan yang mereka peroleh dari internet lebih besar.
Pemilahan menurut sektor memberi pola serupa. Pertanian 75 persen, jasa 44 persen, dan manufaktur 21 persen.
Sektor pertanian yang paling tertolong. Petani disebut bisa menjangkau pasar dan layanan yang sebelumnya tidak terjangkau.
Saran kebijakannya mengikuti dua temuan itu. Investasi infrastruktur internet diarahkan ke pedesaan, dan pelatihan digitalisasi disesuaikan dengan kebutuhan petani.
Baca juga Menulis Persuasif Digital
Umur 27,7 dan tanda yang berlawanan
Peluang memakai internet juga dimodelkan sendiri. Yang dipakai model logit dengan pseudo R kuadrat 0,1605.
Pendidikan tinggi memberi koefisien terbesar. Angkanya 2,197, disusul pembukuan 1,245 dan izin usaha 1,060.
Pelatihan juga menaikkan peluang itu. Koefisiennya 0,634.
Umur dimasukkan dua kali, lurus dan kuadrat. Bentuk itu dipakai untuk menangkap hubungan yang naik lalu turun.
Titik baliknya dihitung 27,7 tahun. Setelah usia itu, pemakaian internet wirausaha pemuda mulai menurun.
Dua variabel bertanda negatif. Status kawin minus 0,356 dan lama usaha minus 0,064.
Yang paling menarik justru jenis kelamin. Koefisiennya minus 0,240, artinya wirausaha pemuda laki-laki berpeluang lebih kecil memakai internet daripada perempuan.
Pada model pendapatan tandanya terbalik. Jenis kelamin laki-laki bernilai 0,505, artinya pendapatan mereka justru lebih tinggi.
Tulisan ini tidak mempertemukan keduanya. Tidak ada bagian yang menerangkan mengapa kelompok yang lebih jarang berinternet justru berpendapatan lebih besar.
Angka latar yang perlu dibaca ulang
Bagian pembuka memuat dua angka tentang pemuda dan internet. Yang pertama 92,36 persen pemuda Indonesia disebut memakai internet pada 2022.
Yang kedua jauh lebih kecil. Persentase pemuda memakai internet disebut masih rendah, hanya berkisar 23,38 persen.
Kedua angka itu berdiri berdekatan tanpa pembeda. Abstraknya menambahkan kata untuk bisnis pada angka yang kecil, tetapi badan tulisan tidak.
Angka pembanding lain lebih jelas. Akses internet pemuda perkotaan 95,98 persen dan pedesaan 87,48 persen.
Penetrasi internet nasional 2021 tercatat 77,02 persen. Jumlah penduduknya 272.682.600 jiwa, naik dari 73,7 persen pada tahun sebelumnya.
Riwayat naskahnya juga panjang. Diterima 19 September 2024, disetujui 27 Agustus 2026, dan terbit daring 6 September 2026.
Bagian keterbatasan ditulis terbuka. Sakernas 2022 tidak menyediakan variabel cakupan sinyal dan biaya, sehingga keduanya tidak bisa dikendalikan.
Batas kedua soal umur. Analisisnya hanya untuk 16 sampai 30 tahun, sehingga perbandingan antarkelompok umur belum bisa dilakukan.
Istilah wirausaha pemuda punya batas yang jarang disebut. Kata itu menyatakan umur dan status kerja, bukan besar usaha, modal, atau apakah usahanya bertahan tahun depan.















