Cekricek.id — Harga minyak Brent menembus 100,19 dolar Amerika Serikat per barel pada Rabu, tertinggi sejak 24 Juli, seiring eskalasi di Timur Tengah.
Pergerakan pasar itu dilaporkan Al Jazeera, Rabu (09/09/2026).
Indeks S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq sama-sama mencatat pelemahan tipis.
Bursa Eropa turun ke titik terendah dalam sepekan.
Analis senior Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, menyebut harapan atas kesepakatan damai memudar.
“Musim panas penuh harapan bahwa kesepakatan damai dapat dicapai,” katanya.
“Optimisme itu memudar saat kita memasuki September,” lanjutnya.
Baca juga kebijakan dagang Amerika Serikat yang menyasar produsen pesawat
Ahli strategi multiaset Societe Generale, Manish Kabra, menilai kenaikan harga belum cukup menekan permintaan.
“Kami memperkirakan minyak mentah perlu mencapai 150 dolar untuk menciptakan kemunduran besar dalam siklus permintaan,” katanya.
Baca juga keputusan ekonomi Uni Eropa yang diumumkan pekan ini
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran saling menyerang.
Baca juga temuan riset global lain yang menyangkut jutaan orang














