Cekricek.id — Jagung rebus itu baru terjual setengah ketika uangnya sudah punya nama. Beras, telur, garam. Kalau dagangan sedang agak laku, ada ikan atau ayam di meja, tetapi sepotong pun harus dibagi untuk dua sampai tiga anak. Adegan itu berdiri di halaman kedua novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J.S. Khairen, jauh sebelum tokoh mana pun di dalamnya sempat menyebut dirinya sedang menanggung siapa saja.
Yang menanggung bernama Zenna dan Asrul. Sepasang suami istri yang datang dari kampung ke Padang dengan dua anak, dua orang tua yang masih hidup, dan sederet adik yang belum tamat sekolah. Uang yang masuk ke rumah mereka tidak pernah berhenti lama di satu meja. Ia bergerak terus: ke dapur, ke ongkos bis, ke uang sekolah adik di kampung, lalu habis sebelum bulan selesai.
Pergerakan uang itulah yang dipetakan Iqbal Maulana dan Yenni Hayati dari Universitas Negeri Padang dalam artikel Potret Generasi Sandwich dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu Karya J.S. Khairen, terbit di jurnal Persona Vol. 5 No. 2 tahun 2026. Keduanya membaca novel setebal itu dengan pendekatan sosiologi sastra Alan Swingewood, lalu memilah kalimat demi kalimat yang memperlihatkan satu orang menyangga dua generasi sekaligus.
Istilah generasi sandwich sendiri dipinjam dari Burke dan Calvano, yang pada 2017 menyebutnya sebagai posisi seseorang yang harus menopang generasi di atas dan generasi di bawah pada waktu bersamaan. Bebannya bukan hanya uang, melainkan juga pengasuhan dan dukungan emosional. Survei JAKPAT pada 2020 mencatat sekitar 48 persen responden di Indonesia masuk kategori itu, dan yang terbanyak berumur 20 sampai 29 tahun. Novel Khairen terbit pada 2023, di tengah periode ketika angka semacam itu mulai ramai dibicarakan orang.
Sepiring Jagung Rebus

Di dapur keluarga itu, tanggung jawab lintas generasi tidak pernah berbentuk pernyataan. Ia berbentuk takaran. Setengah bakul jagung yang laku menentukan apakah malam itu ada telur, dan sepotong ikan yang dibagi tiga menentukan siapa yang mengalah. Maulana dan Hayati membaca potongan halaman kedua itu sebagai bukti pertama karakteristik generasi sandwich: kebutuhan dasar seluruh anggota keluarga didahulukan sebelum kepentingan siapa pun di dalamnya.
Baru pada halaman 163 tanggungan itu benar-benar diucapkan. Di sana Zenna berkata kepada suaminya, “Ya habis mau bagaimana? Kita punya keluarga, dua anak. Dua orang tua. Juga ada Yenti, sebentar lagi mungkin dua adikku akan ikut pula ke Padang. Aku mau mereka semua sekolah tinggi, Uda Asrul.” Satu kalimat, tiga lapis tanggungan, dan tidak satu pun yang bisa ia lepaskan. Kalimat itu diucapkan sebagai jawaban, bukan sebagai keluhan, dan diakhiri dengan sapaan kepada suaminya seakan-akan urusan itu sudah lama disepakati berdua.
Baca juga Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat
Umak, ibu Zenna, lebih dulu menyebut hitungan yang sama. Di halaman 15 novel itu tertulis permintaannya kepada orang lain, “Kami butuh Zenna menjahit, di ladang orang. Uangnya untuk sekolah adik-adiknya.” Zenna masih sangat muda ketika kalimat itu jatuh kepadanya. Tanggung jawab tidak menunggu ia dewasa, tidak menunggu ia punya penghasilan tetap, dan tidak menunggu ia ditanya lebih dulu.
Tiga potongan itu memikul kesimpulan pertama kedua peneliti: karakteristik generasi sandwich di novel tersebut muncul sebagai tanggung jawab atas dua generasi, peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh, dan usaha menyeimbangkan kepentingan sendiri dengan kepentingan keluarga. Ketiganya tidak pernah berdiri sebagai teori di dalam cerita. Ketiganya muncul sebagai keputusan kecil yang diambil berulang kali di dapur, di ladang orang, dan di ruang tamu. Tidak ada satu pun adegan di mana tokohnya berhenti untuk mempertimbangkan apakah beban itu adil.
Bis Bukittinggi–Padang
Perpindahan berikutnya terjadi di dalam bis. Sepanjang jalan dari Bukittinggi ke Padang, Zenna menimbang satu keputusan yang tidak bisa dibagi dua. Halaman 20 novel itu mencatat hitungannya: kalau ia mendaftar kuliah, adik-adiknya tidak akan bisa melanjutkan sekolah, sebab uang Umak tidak lagi cukup membiayai mereka berlima. Ia memilih menyekolahkan Yenti setidaknya sampai tamat SMA, Dewi dan Zella sampai SMP.
Keputusan semacam itu jarang dicatat sebagai peristiwa ekonomi, padahal justru itulah bentuknya. Maulana dan Hayati menempatkan halaman tersebut sebagai bukti faktor ekonomi: pendapatan yang tipis memaksa tokoh mendahulukan orang lain. Burke dan Calvano menyebut keterbatasan finansial memang salah satu pendorong utama seseorang masuk ke posisi menanggung dua generasi. Di novel itu, pendorongnya berbentuk satu kursi bis dan satu formulir pendaftaran yang tidak jadi diisi. Perjalanan Bukittinggi ke Padang selesai dalam beberapa jam; akibat dari apa yang ia putuskan di dalamnya berjalan bertahun-tahun sesudahnya.
Setelah pindah ke kota, hitungan itu tidak membaik. Halaman 151 menuliskan keadaan keduanya dengan kalimat pendek: mereka sama-sama harus menanggung keluarga di kampung, sementara emas dan gaji bukannya bertambah, malah terus berkurang. Dua orang bekerja, satu rumah tangga, dan dua kampung yang menunggu kiriman pada waktu yang sama. Emas yang disebut di halaman itu adalah tabungan terakhir, benda yang biasanya dibeli untuk disimpan, bukan untuk dijual kembali secepat itu.
Baca juga Menonton Dara Petak Dara Jingga di Candi Pulau Sawah
Rumah itu kemudian bertambah penghuni. Keluarga dari kampung berdatangan, adik-adik yang masih sekolah ikut tinggal, dan jumlah mulut yang harus diberi makan naik tanpa disertai kenaikan penghasilan. Kedua peneliti membaca bagian tersebut sebagai faktor demografi: struktur keluarga yang melebar membuat ruang gerak si penopang makin sempit. Faktor ketiga datang dari nilai. Janji seorang tokoh di halaman 87, “Aden akan buatkan Umi rumah bak istana!”, mereka baca sebagai komitmen moral seorang anak kepada orang tuanya.
Kantor Harian Semangat
Beban itu akhirnya berpindah ke tubuh. Di kantor Harian Semangat, tempat Asrul menulis berita, jam pulangnya makin larut. Halaman 145 mencatat ia mulai mencari sendiri pekerjaan tambahan di luar tugas menulisnya. Waktu untuk keluarga dan lingkungan sosial menyusut seiring bertambahnya jam kerja, satu bentuk dampak yang oleh Maulana dan Hayati dicatat terpisah dari dampak keuangan.
Orang lain yang lebih dulu melihat akibatnya. Di halaman 142, seorang kasir rumah makan menghela napas panjang dan memandangi Asrul dari atas sampai ke bawah: kurus kerontang, kelopak mata menghitam. Satu halaman berikutnya, kawan lamanya, Zaenal, memeluknya dan langsung merasakan tulang. “Benar-benar tinggal tulang saja kau, Asrul,” demikian dialog di halaman 143 novel tersebut.
Zenna menyusul. Di halaman 183, keluarga itu sepakat ia harus berhenti dari semua pekerjaan sampingannya, lebih banyak beristirahat, dan cukup pergi mengajar saja. Keputusannya diambil bukan karena pekerjaan itu tidak lagi dibutuhkan, melainkan karena tubuhnya sudah tidak sanggup. Dua tokoh, dua cara jatuh, satu sebab yang sama. Yang berhenti pun bukan pekerjaan utamanya, melainkan pekerjaan sampingan yang selama ini menambal selisih antara penghasilan dan kebutuhan.
Uangnya sendiri tidak pernah sempat mengendap. Halaman 170 mencatat tabungan pasangan itu terkuras pada tahun pertama pernikahan, terbagi antara biaya bayi mereka dan biaya sekolah adik-adik Zenna yang salah satunya sudah kuliah. Dari situ perdebatan rumah tangga bermula. Kedua peneliti menyandingkan bagian itu dengan catatan DeRigne dan Ferrante pada 2012, bahwa pengasuh keluarga mengeluarkan biaya medis dari kantong sendiri dua setengah kali lebih besar dibanding yang bukan pengasuh.
Baca juga Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati
Tekanan yang berjalan bertahun-tahun punya nama di literatur psikologi. Khairunnisa mencatat stres kronis, kecemasan berlebihan, serta kelelahan fisik sekaligus emosional sebagai keluhan yang lazim pada kelompok ini, dan hubungan sosial mereka ikut menipis karena dukungan dari dalam keluarga kerap tidak datang dalam bentuk yang tepat. Novel itu tidak menyebut satu pun istilah tersebut. Ia hanya memperlihatkan tulang, jam pulang yang bergeser, dan tabungan yang menipis di tahun pertama pernikahan. Maulana dan Hayati menyusun ketiganya menjadi tiga jenis dampak: finansial, kesehatan, dan sosial.
Simpang Rambutan
Ada satu jalan di novel itu yang menghapus kesan bahwa bantuan hanya mengalir satu arah. Setiap selepas subuh, Umak mengantar Joven, cucu laki-lakinya, berjalan di bawah langit yang masih gelap menuju ujung aspal terakhir. Nama tempat itu Simpang Rambutan. Perempuan yang di awal cerita meminta anaknya menjahit di ladang orang demi sekolah adik-adiknya kini mengambil alih sebagian pengasuhan cucunya sendiri. Jarak yang ia tempuh setiap pagi tidak pernah dihitung sebagai sumbangan, tetapi ia mengurangi satu tugas dari daftar Zenna.
Maulana dan Hayati menghitung adegan itu sebagai dampak positif, yaitu dukungan timbal balik antargenerasi yang meringankan beban pengasuhan Zenna dan Asrul. Simpulan mereka ditulis dengan hati-hati. Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu, tulis keduanya, “menggambarkan fenomena Generasi Sandwich sebagai cerminan realitas sosial masyarakat Indonesia” yang sarat nilai tanggung jawab, pengorbanan, dan solidaritas keluarga.
Batas kerjanya juga mereka sebut sendiri. Kajian itu hanya membaca satu karya sastra dengan satu pendekatan, sehingga temuannya berhenti pada gambaran di dalam novel tersebut dan tidak bisa diperlakukan sebagai potret seluruh keluarga Indonesia. Angka JAKPAT berdiri di wilayah yang lain, hasil survei, bukan hasil pembacaan fiksi. Keduanya menyarankan kajian lanjutan pada karya lain, atau yang menautkan representasi fiksi dengan data lapangan.
Yang tersisa dari novel itu bukan angka 48 persen. Yang tersisa adalah sepotong ikan yang harus dibagi untuk dua sampai tiga anak, dan setengah bakul jagung rebus yang uangnya sudah punya nama sebelum sempat dihitung.













