Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh

A A

Ilustrasi dua lelaki berbusana Jawa membawa sesaji di tengah kepulan asap dupa. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Cekricek.id — Pada 21 November 2024, Muhammad Adib duduk menjawab pertanyaan sekelompok peneliti di Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang. Usianya 52 tahun. Ia dikenal sebagai penggiat sejarah desa itu. Yang ditanyakan kepadanya bukan silsilah dan bukan makam. Yang ditanyakan adalah sebongkah batu tua yang berdiri di tengah permukiman.

Batu itu dipanggil warga dengan nama Mbah-Mbeh. Wawancara hari itu kemudian menjadi salah satu tumpuan artikel The Ritual of Mbah-Mbeh Stone and Its Meaning for the Community of Watugaluh Village, Jombang. Penulisnya lima orang dari Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo: M. Kharis Majid, M. Nurrosyid Huda Setiawan, Amanda Puspa Rachima, Alysha Putri, dan Utdmah Mazirotus Sakinah.

Artikel itu terbit di jurnal Purbawidya Volume 15 Nomor 1 pada Juni 2026. Isinya satu pertanyaan yang diurut sabar. Sebuah desa yang seluruh penduduknya muslim tetap menaruh sesaji di depan batu peninggalan kerajaan Hindu-Buddha. Sejak kapan itu berlangsung, dan bagaimana bentuknya sekarang.

Daftar Isi
  1. Abad Kesepuluh: Batu, Prasasti, dan Nama Desa
  2. Sebelum 2010: Ritual yang Berjalan Tanpa Jadwal
  3. April 2010: Hari Jadi Desa Mendapat Tanggal
  4. November 2024: Dua Hari Wawancara di Empat Dusun
  5. Juni 2026: Apa yang Dicatat dan Apa yang Tidak

Abad Kesepuluh: Batu, Prasasti, dan Nama Desa

Yoni batu berukir di Jombang, Jawa Timur, ditempatkan di atas landasan beratap.
Yoni batu berukir di Jombang, Jawa Timur, ditempatkan di atas landasan beratap. [Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

Menurut keterangan Adib kepada tim peneliti, batu itu peninggalan Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dari Wangsa Isyana. Ia mengaitkannya dengan Mpu Sindok. Ia menyebut angka tahun yang cukup rinci, sekitar 10 April 971 Masehi. Pada masa itu, katanya, Mataram Kuno masih dipimpin mertua Mpu Sindok. Kerajaan itu berkali-kali kalah oleh serangan Sriwijaya. Mpu Sindok turun membantu mertuanya. Ia mengerahkan seluruh senjata yang ada dan menggalang warga. Perang itu dimenangkannya. Sesudah menang, menurut catatan yang dirujuk tim peneliti, ia mendirikan dua tugu kemenangan: Jaya Mertha dan Jaya Setamba.

Di dalam tugu itu terdapat pernyataan yang dikutip artikelnya apa adanya, yakni “We are prasida mangkarsa rahyangta kadatwan, ri bhumi mataram ri watugaluh”. Para sejarawan, tulis tim itu, mengartikannya sebagai keterangan bahwa ibu kota Kerajaan Mataram Kuno berpindah ke Watugaluh. Dari kalimat itulah nama desa berasal.

Namanya juga bisa dibaca dari sisi bahasa. Watu berarti batu dalam bahasa Jawa. Galuh diartikan perak atau sesuatu yang berkilau. Legenda lain yang dicatat artikel itu menyebut batu tersebut sebagai penanda batas wilayah kerajaan sekaligus tanda tanah yang bebas pajak.

Batu Mbah-Mbeh bukan satu-satunya temuan di desa itu. Ada pula sumur dan lumpang yang oleh warga dianggap bertuah. Tim peneliti mencatat keyakinan warga bahwa benda-benda itu dulu menandai kekuasaan wilayah atau menjadi bagian dari bangunan keagamaan yang lebih besar pada masa Mataram Kuno.

Sebelum 2010: Ritual yang Berjalan Tanpa Jadwal

Sesaji di depan batu itu tidak punya kalender. Feryanto, Kepala Desa Watugaluh, menerangkan hal itu kepada tim peneliti pada 22 November 2024. Sesaji terdiri atas sekarwangi, dupa yang warga sebut dengan nama Yoshua, serta makanan dan minuman. Semuanya diletakkan di atas batu atau di altar kecil di sekitarnya. Urutannya punya aturan sendiri. Sekarwangi dan dupa diletakkan ketika orang sedang berdoa atau mengajukan hajat. Makanan dan minuman baru diletakkan sesudah hajat itu dianggap terkabul. Menurut Feryanto, makanan itu tidak dibiarkan membusuk di situs. Ia diambil kembali, lalu dimakan atau dibagikan kepada siapa saja yang mau.

Baca juga Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban

Alasannya praktis, yaitu menjaga kebersihan area situs. Doa yang dipakai umumnya berbahasa Jawa kuno. Kalimatnya dilagukan sebagai mantra warisan pendahulu desa. Sebagian warga memakai bahasa Arab. Tim peneliti mencatat penegasan warga bahwa doa itu tetap ditujukan kepada Tuhan, dan batu hanya diperlakukan sebagai perantara.

Suwandi, lurah di desa itu, diwawancarai pada hari yang sama dengan Feryanto.

Keterangan ketiga narasumber saling menguatkan pada satu titik. Ritual hanya dijalankan oleh orang yang memang memercayainya. Tidak ada waktu wajib. Datang atau tidak datang adalah urusan pribadi masing-masing pelaku ritual. Pengecualiannya ada pada malam-malam tertentu. Pada malam Jumat Kliwon dan hari besar dalam penanggalan Jawa, sebagian warga berkumpul untuk berdoa bersama. Yang memimpin biasanya sesepuh desa atau tokoh spiritual setempat. Mereka dianggap punya kemampuan khusus berkomunikasi dengan arwah leluhur.

Ritual itu juga menempel pada daur hidup. Beberapa hari sebelum pernikahan, calon pengantin dibawa berdoa di situs. Pada panen raya, doa dilakukan bersama sebagai ungkapan syukur. Ketika wabah penyakit atau bencana datang, warga berkumpul lagi untuk meminta keselamatan. Pesertanya tidak selalu orang Watugaluh. Tim peneliti mencatat kedatangan peziarah dari luar daerah, di antaranya dari Surabaya dan Jakarta. Namun menurut Adib, tujuan utama pengurus situs bukan melayani peziarah. Tujuannya menjaga sejarah batu itu agar tidak hilang.

April 2010: Hari Jadi Desa Mendapat Tanggal

Perayaan hari jadi Desa Watugaluh jatuh setiap 10 April. Tanggal itu sengaja diambil dari angka tahun yang dikaitkan dengan Mpu Sindok. Namun perayaannya sendiri tidak setua batunya. Menurut keterangan Feryanto, perayaan itu baru mulai digelar pada 2010.

Susunan acaranya tetap dari tahun ke tahun. Pagi hari diisi arak-arakan budaya yang warga sebut karnaval. Sesudahnya menyusul pertunjukan wayang kulit, gamelan, tari, dan orkes. Malam harinya warga berkumpul di sekitar situs untuk berdoa bersama, membaca Yasin, dan bertahlil.

Baca juga Makian Warganet Dibaca Lewat Linguistik Forensik

Acara ditutup dengan pembagian nasi tumpeng dan makan bersama. Tim peneliti menempatkan susunan itu sebagai bukti tempelan dua lapis tradisi. Tahlil dan Yasinan berasal dari praktik keislaman warga. Tumpeng dan karnaval berasal dari adat Jawa. Keduanya dijalankan dalam satu malam yang sama.

Angka penduduknya membantu menakar konteks itu. Desa Watugaluh dihuni sekitar 4.800 jiwa dan seluruhnya muslim. Mayoritas mengikuti Nahdlatul Ulama. Wilayahnya seluas 25 hektare, terbagi menjadi sawah dan permukiman, dan terbelah dalam empat dusun: Watugaluh Krajan, Gendong, Nanggalan, dan Jasem. Pekerjaan warganya tercatat cukup rinci dalam artikel itu. Pandai besi terpusat di Dusun Jasem, terutama di RW 1 dan RW 2. Tahu dan tempe dikerjakan di RW 1 RT 3. Rengginang dibuat di RW 4 RT 2 dan dikenal dengan sebutan Jasem Opak Rengginang.

Ada pula koperasi wanita dengan 137 anggota aktif dan satu unit badan usaha milik desa. Dusun lain menggarap pertanian, peternakan, dan perikanan dalam skala lebih kecil. Jagung dan padi ditanam warga. Mangga, rambutan, dan pisang menjadi komoditas unggulan. Lele dan gurami dipelihara sebagian petani.

November 2024: Dua Hari Wawancara di Empat Dusun

Pengumpulan datanya berlangsung singkat dan berurutan. Adib diwawancarai pada 21 November 2024. Feryanto dan Suwandi diwawancarai pada 22 November 2024. Tim itu memakai pendekatan fenomenologi dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta arsip desa dan sumber digital sebagai data sekunder.

Temuan lapangannya menyebut satu dusun secara khusus. Warga Dusun Nanggalan disebut paling kuat memelihara kepercayaan pada mitos dan daya benda mati. Tim peneliti menyebut lapisan itu sebagai dinamisme. Roh yang diyakini menghuni batu tersebut dinamai Ki Ambeh, dan dari nama itulah sebutan Mbah-Mbeh berasal. Keyakinan itu diwariskan dari mulut ke mulut lewat sesepuh desa.

Fungsi sosialnya tercatat di luar urusan doa. Menjelang perayaan hari jadi, warga bergotong royong menghias situs, menyiapkan makanan, dan mengurus perlengkapan acara. Tim peneliti mencatat semua lapisan warga ikut, tanpa pemilahan status sosial atau ekonomi. Sebagian sengketa kecil antarwarga juga diselesaikan lewat mediasi tokoh adat di sekitar situs.

Kaitannya dengan sawah pun disebut. Sebagian petani meyakini hasil panen tidak hanya bergantung pada kerja dan cuaca. Sebelum musim tanam dimulai, mereka menggelar doa bersama dan meletakkan sesaji di sekitar batu. Tim peneliti membaca kebiasaan itu sebagai cara warga menaruh hubungan manusia, alam, dan leluhur dalam satu garis.

Baca juga Ketika Puisi Nizar Qabbani Pindah ke Instagram Reels

Untuk menempatkan temuannya, tim peneliti memakai dua rujukan lama. Clifford Geertz membelah masyarakat Jawa menjadi abangan, santri, dan priyayi. M. C. Ricklefs menyebut percampuran animisme, Hindu-Buddha, Islam, dan tradisi lokal di Jawa sebagai proses aktif, bukan sisa masa lalu yang pasif. Tim itu membaca ritual Watugaluh dengan kacamata kedua penulis tersebut.

Satu keterangan warga dicatat tanpa diperiksa ulang. Seorang lelaki tua disebut bertahun-tahun mengalami gangguan jiwa dan tidak membaik meski berobat ke rumah sakit dan dokter. Ia dikatakan pulih setelah memakai ramuan rumput teki dari sekitar situs. Artikel itu mencatatnya sebagai keyakinan warga, bukan hasil pemeriksaan medis.

Juni 2026: Apa yang Dicatat dan Apa yang Tidak

Perjalanan naskahnya panjang. Redaksi Purbawidya menerima naskah pada 24 Maret 2025. Revisi terakhir masuk pada 12 Januari 2026. Naskah disetujui terbit pada 24 Februari 2026. Artikelnya baru terbit pada 10 Juni 2026, hampir dua tahun sesudah wawancara pertama dengan Adib.

Batas penelitiannya diakui sendiri oleh penulisnya. Tim itu menyatakan hasil kajian kualitatif ini menekankan pemahaman makna secara mendalam dan tidak dimaksudkan untuk menarik kesimpulan umum. Keterangan intinya berasal dari tiga orang di satu desa. Satu desa di Diwek jelas bukan gambaran Jawa.

Kesimpulan yang mereka tarik pun sengaja dijaga sempit. Ritual Mbah-Mbeh, tulis tim itu, lebih tepat dibaca sebagai medium penyampaian makna dan pengungkapan keyakinan warga, bukan sebagai alat yang langsung mengubah struktur sosial desa. Fungsi perekatnya diakui, tetapi tidak dinaikkan derajatnya.

Batu itu masih berdiri di tempatnya. Sesaji masih diletakkan orang yang percaya. Tanggalnya kini sudah tercatat.

Bagikan

Baca Juga

Ilustrasi dalang memainkan wayang di atas panggung pertunjukan.
Mata Biru dan Merah di Poster Wayang Golek
Ilustrasi seorang penampil berdiri disorot lampu di panggung gelap sementara penampil lain berbaring di lantai.
Teater Potlot dan Riset Gambut Sebelum Naskah Ditulis
Ilustrasi kamus tebal terbuka memperlihatkan dua lajur lema.
Bengkel dan Bahagia, Dua Jalan Kata Serapan
Ilustrasi tangan pembatik menorehkan malam dengan canting di atas kain bermotif.
Tujuh Belas Titik di Batik Singo Mengkok
Ilustrasi kelompok pemusik tradisi berbusana hijau memainkan gendang dalam sebuah pertunjukan.
Bak'ba, Pantun Bernyanyi dari Simpang Parit
Ilustrasi seorang lelaki berkaus jingga menatap layar telepon pintar di ruangan bercahaya kebiruan yang temaram.
Disfemisme Penagih Pinjol dan Dampaknya pada Korban