Cekricek.id — Layar ponsel selalu dituduh sebagai tempat puisi mati: terlalu cepat, terlalu berisik, terlalu penuh oleh hal-hal yang menuntut perhatian selama beberapa detik lalu digeser dan dilupakan tanpa jejak. Tuduhan itu terdengar masuk akal sampai seseorang membuka kolom komentar di bawah sebuah video pendek berdurasi dua puluh dua detik, tempat sebuah sajak Arab dibacakan oleh penyairnya sendiri yang sudah lama meninggal, dan menemukan bahwa yang terjadi di sana bukan pelupaan melainkan sesuatu yang lebih dekat pada pembacaan bersama — orang menulis ulang lariknya, mempertanyakannya, membantahnya dengan alasan keagamaan, menertawakan diri sendiri, lalu saling membalas di bawah kalimat orang lain, sehingga sajak berdurasi setengah menit itu memanjang menjadi percakapan yang tidak selesai-selesai.
Sajaknya berjudul Risalah Min Tahta al-Ma’, Surat dari Bawah Air, karya Nizar Qabbani, penyair Suriah yang hidup pada 1923 sampai 1998. Unggahannya dimuat akun @naltaki1 pada 8 Agustus 2024 dan isinya sederhana saja: rekaman suara Qabbani, teks lariknya di layar, dan musik latar yang muram. Lariknya sendiri pendek-pendek, tiga pengandaian yang saling menyusul, dan bunyinya kira-kira begini — seandainya aku tahu cinta itu berbahaya, aku tidak akan mencintai; seandainya aku tahu laut itu dalam, aku tidak akan berlayar; seandainya aku tahu akhirnya, aku tidak akan memulai. Tiga pengandaian, tiga penyesalan, selesai sebelum menit pertama habis, tanpa satu pun keterangan tentang siapa yang menulisnya dan kapan sajak itu pernah dicetak.
Kolom komentar di bawahnyalah yang dibedah Sabrina Az-Zahra dan Muhammad Hasyim dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dalam Metamodern audience response toward Nizar Qabbani’s poetry on Instagram reels: Literary reception study, yang terbit di jurnal LITERA Volume 24 Nomor 2 tahun 2025. Keduanya memakai teori resepsi sastra, cabang kajian yang memindahkan perhatian dari teks kepada pembacanya, lalu menyilangkannya dengan gagasan metamodernisme, istilah untuk suasana budaya yang berayun antara keyakinan khas modern dan kecurigaan khas pascamodern. Yang mereka cari bukan makna sajaknya, melainkan cara orang memperlakukannya — sebuah pergeseran perhatian yang, dalam kajian sastra, sudah lama dianggap sah tetapi jarang dikerjakan di ruang yang sebising ini.
Dua nama menopang pembacaan itu. Hans Robert Jauss membaca resepsi dari jauh, sebagai perkara sejarah: bagaimana cara orang menikmati puisi berubah dari zaman ke zaman, dan seberapa lebar jarak antara yang diharapkan pembaca dan yang sebenarnya ia peroleh. Wolfgang Iser membacanya dari dekat, sebagai perkara satu orang di hadapan satu teks: ada rongga yang sengaja ditinggalkan di dalam tulisan, dan pembaca harus mengisinya dengan pengalamannya sendiri. Az-Zahra dan Hasyim menyatukan keduanya karena, di layar ponsel, jarak sejarah dan rongga teks kebetulan bekerja di tempat yang persis sama, yaitu kolom komentar yang bisa dibaca siapa saja, terbuka, bertumpuk, dan tersimpan sebagai catatan yang bisa diperiksa berulang kali oleh peneliti tanpa perlu bertanya kepada seorang pun.
Jarak yang Justru Mendekatkan

Perjalanan puisi Arab, dalam bacaan mereka, adalah perjalanan wadah. Ia lahir sebagai tradisi lisan pra-Islam yang dihafal dan dilantunkan di hadapan orang banyak, berpindah ke halaman cetak setelah mesin cetak datang, lalu mendarat di layar yang bisa dijeda, diulang, dibagikan, dan dibalas. Setiap perpindahan itu mengubah bukan hanya cara membaca, melainkan juga siapa yang boleh ikut bicara. Di halaman cetak, pembaca diam. Di kolom komentar, ia menulis, dan tulisannya dibaca orang lain yang kemudian membalas, sehingga bacaan seseorang berubah menjadi bahan bacaan orang berikutnya, dan sajak itu tidak pernah lagi tampil sendirian di hadapan pembaca yang baru datang.
Baca juga Larangan Ibu Suliyah yang Berakhir di Atas Kanvas
Di sinilah Jauss dipakai sebagai poros. Ia menulis pada 1982 bahwa “kemampuan menafsirkan, menjembatani, dan mengaktualkan seni masa lalu terletak pada kesanggupan menafsirkan ulangnya dan menerjemahkannya ke masa kini”. Kalimat itu disusun jauh sebelum ada video pendek, ponsel pintar, apalagi kolom komentar. Yang terjadi di bawah unggahan @naltaki1 justru cocok dengannya, hanya saja pelakunya bukan penerjemah dan bukan kritikus: sajak yang direkam puluhan tahun lalu diterjemahkan ulang oleh orang-orang yang kebetulan lewat di berandanya, dan hasil terjemahan itu tinggal di sana, bisa dibantah orang lain, bisa disetujui, bisa pula dibiarkan menggantung tanpa satu balasan pun sampai unggahan berikutnya menggesernya turun.
Komentar-komentar yang dikumpulkan kedua peneliti itu dipilah menjadi empat jenis: emosional, analitis, interpretatif, dan apresiatif. Yang emosional berisi orang yang mengaku tidak sanggup, atau yang menyalin ulang satu larik dan membiarkannya berdiri sendiri sebagai pengakuan tanpa tambahan apa pun. Yang apresiatif menyebut nama Qabbani secara langsung, mendoakannya, memperlakukan penyair yang wafat pada 1998 itu seolah masih bisa mendengar dari tempatnya sekarang. Nama pemilik akun disamarkan menjadi inisial oleh penelitinya demi menjaga privasi, sehingga yang tersisa untuk dibaca memang hanya kalimat-kalimatnya, lepas dari siapa penulisnya, dari negeri mana ia menulis, dan berapa umurnya ketika mengetik kalimat itu di bawah unggahan orang lain.
Baca juga Dua Gaya Bahasa Islam di Beranda Facebook
Yang paling menarik justru komentar yang membantah. Sebagian pembaca menolak kata seandainya yang menjadi tulang punggung seluruh sajak itu, dengan alasan keagamaan: dalam hadis yang mereka rujuk, mengandaikan ulang perkara yang sudah telanjur terjadi dianggap membuka pekerjaan setan. Sajak itu dibaca sampai habis, dipahami dengan baik, lalu ditolak premisnya. Jauss punya nama untuk gejala semacam ini, yaitu teks yang mengubah cakrawala harapan pembacanya. Yang terjadi di kolom itu justru kebalikannya, sebab cakrawala pembacalah yang mengubah cara sajaknya diterima, dan penolakan itu justru menjadi bukti paling terang bahwa sajaknya benar-benar dibaca, bukan sekadar dilewati.
Rongga yang Diisi Sendiri
Iser menyebut lubang-lubang yang sengaja ditinggalkan sebuah teks sebagai blanks, ruang kosong yang menuntut pembaca mengisinya. Pada video sepanjang dua puluh dua detik, ruang kosong itu berlipat ganda: judulnya tidak dicantumkan di dalam videonya, tidak ada penjelasan, tidak ada keterangan tahun, tidak ada konteks apa pun tentang siapa yang sedang berbicara. Az-Zahra dan Hasyim bahkan harus mencari judul sajak itu di luar unggahannya, di sebuah laman kumpulan puisi Arab. Yang tersisa bagi penonton hanyalah suara seorang lelaki tua, tiga pengandaian, dan kolom kosong di bawahnya, dan justru kekosongan itulah yang menurut kedua penelitinya menjelaskan mengapa komentarnya sepanjang dan seberagam itu.
Satu utas dimulai dengan pertanyaan tentang bagaimana cinta bisa sekaligus melukai dan memperbaiki, lalu dibalas oleh orang yang mengaku larik itu menyakitkan, lalu oleh orang lain yang meminta waktu semenit saja, lalu oleh satu balasan yang isinya cuma emoji. Empat orang, satu larik, empat isian yang sama sekali berbeda. Kalau Iser benar bahwa teks sastra punya banyak lapis makna yang bisa dibaca berlainan oleh pembaca berlainan, kolom komentar adalah tempat lapisan-lapisan itu bisa dilihat menumpuk sekaligus, terbuka, bukan mengendap satu per satu di kepala masing-masing pembacanya, tidak terlihat oleh siapa pun kecuali pemiliknya sendiri, sebagaimana yang terjadi pada pembaca buku cetak selama berabad-abad.
Tidak semuanya khusyuk. Ada yang membaca tiga pengandaian Qabbani sebagai daftar tugas, lalu mengabarkan bahwa ia sudah menjalani hampir semuanya dan tinggal berlayar yang belum, ditutup dengan tiga emoji tertawa. Nada semacam itu penting bagi kedua penulisnya, dan bukan karena lucu. Justru di situlah metamodernisme menemukan bentuknya yang paling gampang dilihat: kesungguhan dan olok-olok tidak saling meniadakan, melainkan dipakai bergantian oleh orang yang sama, dalam kolom yang sama, terhadap sajak yang sama, kadang dalam satu kalimat yang sama pula, sehingga sukar menentukan mana bagian yang bergurau dan mana bagian yang sungguh-sungguh, dan barangkali memang tidak perlu ditentukan.
Ketulusan yang Tidak Malu Lagi
Metamodernisme, dalam rumusan Vermeulen dan Van den Akker yang dikutip paper ini, adalah suatu perasaan yang berayun antara komitmen yang khas modern dan keraguan yang khas pascamodern. Turunannya yang paling sering disebut adalah new sincerity, ketulusan baru, yakni kesediaan berbicara dengan sungguh-sungguh setelah satu generasi terbiasa melindungi diri dengan ironi. Komentar yang menyalin ulang satu larik tanpa menambahkan apa pun, atau yang mengaku merasakan hal persis sama seperti penyairnya, dibaca sebagai wujud kesediaan itu — orang yang tidak lagi menganggap terharu sebagai hal yang memalukan, dan tidak merasa perlu membungkusnya dengan lelucon lebih dulu sebelum menaruhnya di ruang yang bisa dilihat orang banyak.
Baca juga Beban yang Dititipkan Lagu Anak Lanang
Qabbani sendiri memang sudah lama dibaca begitu. Al-Musawi, yang menulis buku tentang lintasan modernitas dan tradisi dalam puisi Arab, menyebut bahwa “puisi Nizar Qabbani memikat banyak pembaca, terutama di kalangan generasi muda”, dan gaya Qabbani yang memakai simbol tidak lazim serta menyimpang dari norma puitis konvensional kerap disebut sebagai sebabnya. Yang berubah bukan puisinya, melainkan tempat ia ditemukan. Sajak yang dulu dicari di rak buku kini muncul di sela-sela unggahan lain tanpa diminta, di antara video yang sama sekali tidak berhubungan, dan ditonton oleh orang yang tidak sedang berniat membaca puisi, yang barangkali tidak akan pernah membuka kumpulan sajaknya seumur hidup, tetapi berhenti menggeser layar selama dua puluh dua detik.
Az-Zahra dan Hasyim tidak mengklaim lebih dari yang mereka lihat. Yang mereka baca satu sajak, satu unggahan, satu kolom komentar, tanpa hitungan berapa banyak komentar yang jatuh ke kategori mana, dan mereka menutup papernya dengan menyebut kerja ini baru fondasi bagi penelitian lanjutan tentang resepsi sastra pada era digital. Apa yang berlaku di bawah satu video Nizar Qabbani belum tentu berlaku di bawah video puisi lain, apalagi di luar bahasa Arab, dan komentar yang tampil di layar peneliti pun sudah lebih dulu disaring oleh mesin pengurut milik platformnya, sehingga yang terbaca bukan seluruh tanggapan, melainkan tanggapan yang kebetulan diangkat ke permukaan.
Yang tersisa justru pertanyaan yang tidak dijawab papernya sendiri. Sajak itu bertahan di layar dalam potongan dua puluh dua detik, dan yang membuatnya hidup bukan lariknya, melainkan orang-orang yang membalasnya dengan pengalaman masing-masing: yang menolak kata seandainya, yang menertawakan dirinya sendiri, yang menyalin ulang satu baris lalu berhenti di situ, yang mendoakan penyairnya seolah ia masih bisa mendengar. Kalau makna sebuah puisi memang terbentuk di titik pertemuan antara teks dan pembacanya, siapa sebenarnya yang sedang dibaca di kolom itu — Qabbani, atau orang-orang yang menuliskan diri mereka sendiri di bawahnya?















