Pendapatan Negara Naik, Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir Turun

A A

Ilustrasi tangan mungil bayi baru lahir bertumpu di kain putih berbulu [Foto: Chidy/Pexels]

  • Saat pendapatan per orang naik 1 persen, rasio kematian ibu turun kira-kira 0,23 persen dan kematian bayi baru lahir turun sekitar 0,14 persen.
  • Rata-rata rasio kematian ibu di Afrika 505,09 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Eropa 13,82.
  • Secara global, inflasi yang lebih tinggi berjalan bersama kematian ibu dan kematian bayi baru lahir yang lebih tinggi.
  • Di Asia arah itu berbalik, sebab inflasi yang lebih tinggi justru berkaitan dengan kematian ibu dan bayi baru lahir yang lebih rendah.
Daftar Isi
  1. Afrika: angka kematian tertinggi, pendapatan terendah
  2. Eropa: angka kematian terendah, pendapatan tertinggi
  3. Pendapatan: naik di semua benua, kematian ibu turun
  4. Harga: naik di sebagian benua, kematian ikut naik
  5. Asia: harga naik, kematian justru lebih rendah
  6. Pengangguran: bermakna bagi bayi, hanya di Asia

Harga barang di pasar dan keselamatan seorang ibu di ruang bersalin tampak seperti dua urusan yang tidak bersinggungan. Yang satu dicatat bank sentral, yang lain dicatat bidan. Sebuah penelitian atas 152 negara mempertemukan keduanya dan mendapati pola yang berulang selama tiga dasawarsa. Saat pendapatan per orang naik 1 persen, rasio kematian ibu turun kira-kira 0,23 persen dan kematian bayi baru lahir turun sekitar 0,14 persen.

Temuan itu dimuat dalam Macroeconomic determinants of maternal and neonatal mortality: a global panel analysis karya Esra Özer, Aykan Coşkun, dan Şerife İrem Döner, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Özer dan Döner berasal dari Department of Midwifery, Faculty of Health Sciences, Ankara Medipol University, sedangkan Coşkun dari Faculty of Economics, Administrative and Social Sciences, Gedik University di İstanbul. Mereka membaca data 1991–2023 dari World Health Organization dan World Bank.

Dua ukuran kematian menjadi pusat perhatian. Pertama, rasio kematian ibu, yaitu kematian selama kehamilan atau dalam 42 hari setelah kehamilan berakhir karena sebab yang terkait kehamilan. Kedua, angka kematian bayi baru lahir. Di seberangnya berdiri tiga ukuran ekonomi yang akrab di telinga: pendapatan per kapita, inflasi, dan pengangguran.

Para penulis membuka naskah dengan gambaran yang muram. Menurut perkiraan yang mereka kutip, sekitar 800 perempuan meninggal setiap hari karena sebab yang sebagian besar dapat dicegah. Lebih dari 95 persen kematian itu terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Dari sana pertanyaannya bergerak: seberapa erat nasib ibu dan bayi mengikuti naik turunnya ekonomi sebuah negara.

Afrika: angka kematian tertinggi, pendapatan terendah

Sisi pertama adalah Afrika. Rata-rata rasio kematian ibu di Afrika 505, tertinggi di antara lima benua yang dibandingkan. Angka kematian bayi baru lahirnya 30,41 per 1.000 kelahiran hidup, juga tertinggi. Pada saat yang sama, pendapatan per kapita rata-rata benua itu hanya 1.840,58 dolar Amerika Serikat, terendah dari semuanya.

Meski begitu, garisnya menurun. Rasio kematian ibu di Afrika melampaui 700 per 100.000 pada awal 1990-an, lalu turun ke bawah 300 pada 2023. Kematian bayi baru lahir bergerak dari sekitar 40 menjadi 22 per 1.000. Pendapatan per kapitanya ikut naik, tetapi tipis saja, dari sekitar 2.000 menjadi 3.000 dolar. Pengangguran di benua itu bertahan di kisaran 9 sampai 10 persen.

Afrika dan Eropa dalam angka rata-rataAfrika dan Eropa dalam angka rata-rataAfrika dan Eropa dalam angka rata-rataRata-rata 1991-2023AfrikaEropa505,0913,82Kematian ibu30,414,80Kematian bayi barulahir1.840,5824.608,45PDB per kapita(US$)Ibu per 100.000 kelahiran hidup, bayi per 1.000 kelahiran hidup.
Sumber: Esra Özer, Aykan Coşkun, dan Şerife İrem Döner, Macroeconomic determinants of maternal and neonatal mortality: a global panel analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Eropa: angka kematian terendah, pendapatan tertinggi

Di sisi lain berdiri Eropa. Rata-rata rasio kematian ibunya 13,82 per 100.000 kelahiran hidup dan sepanjang masa yang diamati selalu berada di bawah 20. Angka kematian bayi baru lahirnya 4,80 per 1.000, turun dari di bawah 9 menjadi 2. Keduanya terendah di antara lima benua, berpasangan dengan pendapatan per kapita rata-rata tertinggi, 24.608,45 dolar.

Pendapatan Eropa juga tumbuh paling jauh, dari sekitar 13.000 menjadi hampir 40.000 dolar per kapita. Di antara dua kutub itu, Asia menurunkan rasio kematian ibu dari lebih 200 pada 1991 menjadi di bawah 100 setelah 2010. Kematian bayi baru lahirnya turun dari 25 menjadi di bawah 10. Amerika dan Oseania bertemu di angka 8 sampai 9 per 1.000.

Kedua ukuran kematian itu sendiri berjalan seiring. Di seluruh negara yang diamati, rasio kematian ibu dan angka kematian bayi baru lahir berkorelasi kuat dan positif, dengan nilai 0,9163. Keduanya juga berkorelasi kuat dan negatif dengan pendapatan per kapita. Para penulis menyajikan korelasi ini sebagai gambaran awal, sebelum pengaruh negara dan tahun diperhitungkan.

Baca juga Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter

Pendapatan: naik di semua benua, kematian ibu turun

Setelah perbedaan antarnegara dan antartahun diperhitungkan, pendapatan tetap menonjol. Di tingkat global, kenaikan 1 persen pendapatan per kapita berkaitan dengan penurunan sekitar 0,23 persen rasio kematian ibu dan 0,14 persen angka kematian bayi baru lahir. Kaitan itu bertahan ketika yang dipakai adalah pendapatan setahun dan dua tahun sebelumnya.

Untuk kematian ibu, arah itu muncul di kelima benua. Kaitannya paling besar di Amerika, yakni 0,323, disusul Eropa 0,305, Oseania 0,225, Afrika 0,180, dan Asia 0,162. Untuk bayi baru lahir gambarnya tidak serata itu. Pendapatan berkaitan dengan kematian bayi yang lebih rendah di Amerika, Asia, dan Eropa, tetapi tidak di Afrika maupun Oseania.

Kaitan pendapatan dengan kematian ibuAmerika: Penurunan (%) +0,323; Eropa: Penurunan (%) +0,305; Oseania: Penurunan (%) +0,225; Afrika: Penurunan (%) +0,180; Asia: Penurunan (%) +0,162.Kaitan pendapatan dengan kematian ibuTurun (%) saat PDB per kapita naik 1 persen0,10,20,30,40Amerika0,323Eropa0,305Oseania0,225Afrika0,180Asia0,162Angka global 0,233 persen. Hubungan, bukan sebab-akibat.
Sumber: Esra Özer, Aykan Coşkun, dan Şerife İrem Döner, Macroeconomic determinants of maternal and neonatal mortality: a global panel analysis, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menghubungkan pola itu dengan ruang fiskal dan daya beli rumah tangga yang melebar ketika pendapatan naik. Keduanya, menurut naskah, dapat menopang persalinan oleh tenaga terampil, layanan kegawatdaruratan kebidanan, dan perawatan intensif bayi baru lahir. Akses pada obat dan perbekalan penting pun ikut membaik. Penjelasan ini mereka sebut sebagai jalur yang masuk akal.

Harga: naik di sebagian benua, kematian ikut naik

Pada perkara kedua, arahnya berbalik. Secara global, inflasi yang lebih tinggi berjalan bersama kematian ibu dan kematian bayi baru lahir yang lebih tinggi. Polanya paling jelas di Eropa, tempat inflasi berkaitan positif dengan kedua ukuran kematian. Di Amerika kaitan positif itu hanya tampak pada bayi baru lahir. Di Afrika dan Oseania, inflasi tidak menunjukkan kaitan yang bermakna dengan kematian ibu.

Naskah itu menawarkan penjelasan yang dekat dengan keseharian. Lonjakan harga dapat menaikkan ongkos transportasi, obat, dan bahan habis pakai, sekaligus menggerus nilai nyata anggaran kesehatan. Di tingkat rumah tangga, ketidakstabilan ekonomi dapat menjelma menjadi obat yang tak terbeli, rantai pasok farmasi yang terganggu, dan tenaga kesehatan yang upahnya tergerus.

“Stabilitas makroekonomi berkaitan erat dengan kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir,” tulis Esra Özer, Aykan Coşkun, dan Şerife İrem Döner dalam simpulan naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menekankan pentingnya pertumbuhan yang menjaga daya beli dan melindungi masukan sistem kesehatan. Namun, mereka juga mencatat bahwa hubungan inflasi dengan kematian tidak seragam di semua kawasan.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Asia: harga naik, kematian justru lebih rendah

Asia menjadi pengecualian yang paling mencolok. Di Asia arah itu berbalik, sebab inflasi yang lebih tinggi justru berkaitan dengan kematian ibu dan bayi baru lahir yang lebih rendah. Para penulis menyebut arah ini berlawanan dengan dugaan dan meminta pembaca menafsirkannya dengan hati-hati. Menurut mereka, pola itu mungkin mencerminkan masa turunnya inflasi yang berbarengan dengan perluasan cepat sistem kesehatan, atau kebijakan seperti subsidi dan pengendalian harga yang meredam guncangan.

Pada perkara pendapatan, Asia sejalan dengan benua lain. Pendapatan per kapita yang lebih tinggi berkaitan dengan kematian ibu dan bayi baru lahir yang lebih rendah. Untuk bayi baru lahir, kaitan pendapatan di Asia bahkan termasuk yang lebih besar. Pendapatan per kapita benua itu sendiri tumbuh mantap hingga sekitar 18.000 dolar, dengan pengangguran di kisaran 4 sampai 6 persen.

Pengangguran: bermakna bagi bayi, hanya di Asia

Ukuran ketiga, pengangguran, memberi sinyal paling samar. Di tingkat global, perubahan pengangguran tidak berkaitan secara bermakna dengan kematian ibu, tetapi berkaitan positif dengan kematian bayi baru lahir. Ketika dipecah per benua, kaitan dengan kematian bayi itu hanya bermakna di Asia. Tidak satu benua pun menunjukkan kaitan bermakna dengan kematian ibu pada hitungan utama.

Para penulis menduga sebabnya terletak pada alat ukurnya. Di kawasan dengan sektor informal yang besar, terutama sebagian Afrika Sub-Sahara, guncangan ekonomi bisa terserap lewat perpindahan ke kerja informal, jam kerja yang berkurang, dan penghasilan yang susut. Angka pengangguran resmi tidak menangkap semua itu. Karena itu, mereka menyarankan penelitian berikutnya memakai ukuran lain seperti informalitas atau setengah pengangguran.

Baca juga MDSR Kematian Ibu Aceh Utara Macet di Tahap Identifikasi

Ada sejumlah keterbatasan yang diakui naskah. Data kematian yang dipakai adalah deret sekunder hasil pemodelan, sehingga perbedaan pelaporan antarnegara dapat memengaruhi perbandingan, khususnya di negara berpendapatan rendah. Pendapatan diukur dalam dolar berjalan. Nilai tukar, utang luar negeri, dan inflasi harga pangan tidak ikut dihitung. Negara rapuh atau terdampak konflik mungkin kurang terwakili, dan Oseania hanya menyumbang delapan negara.

Yang terpenting, hasil ini tidak membuktikan sebab dan akibat. “Temuan ini harus ditafsirkan sebagai hubungan yang telah disesuaikan, bukan sebagai pengaruh sebab-akibat,” tulis ketiga peneliti. Mereka tidak menyingkirkan kemungkinan arah sebaliknya, yakni perbaikan kesehatan yang ikut mendorong kinerja ekonomi dalam jangka panjang.

Dari pola itu para penulis menurunkan tiga saran. Di tempat inflasi berkaitan dengan kematian yang lebih tinggi, anggaran layanan ibu dan bayi perlu dilindungi, termasuk lewat subsidi transportasi dan bantuan tunai. Pertumbuhan perlu diterjemahkan menjadi layanan primer, rujukan, dan kegawatdaruratan. Di tempat pengangguran berkaitan dengan kematian bayi, perlindungan sosial perlu disambungkan dengan perlindungan biaya bagi ibu dan bayi. Para penulis menutup dengan usul agar penelitian mendatang memasukkan emisi karbon dioksida, mutu udara, dan perpindahan penduduk akibat iklim.

Bagikan

Baca Juga

Enam dari Sepuluh Keluarga Pengungsi Yaman Belum Hidup Bersih
Lansia Tiongkok yang Tinggal Sendiri Lebih Banyak Kehilangan Gigi
Pasien Diabetes di Desa India Masih Tertinggal Layanan Digital
Rasa Tak Adil dan Gangguan Tidur serta Makan Warga Kota Tiongkok
Pekerja Kantoran Istanbul yang Rajin Bergerak Makan Lebih Baik
Iklim dan Modal Asing Perlebar Ketimpangan di Empat Negara ASEAN