Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

A A

Rumah bambu beratap rumbia dengan tempayan air di tepi sungai, Pyapon, Delta Ayeyarwady, Myanmar [Foto: Michelle Ng / IWMI/Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0]

  • Uji acak berklaster di 32 puskesmas Ayeyarwady, Myanmar, melibatkan 630 ibu hamil pada 2017 sampai 2018
  • Rangkaian layanan lengkap dari hamil sampai nifas naik dari 5,4 persen menjadi 18,4 persen, peluangnya 6,8 kali
  • Kunjungan nifas empat kali melonjak dari 7,1 ke 19,9 persen, tetapi persalinan oleh tenaga terampil tidak bergeser
  • Skor pengetahuan penyakit tidak menular naik di kedua kelompok; tambahan berkat penyuluhan 2,2 sampai 3,5 poin
Daftar Isi
  1. Bagaimana selembar kartu membuat ibu kembali ke puskesmas
  2. Mengapa ujinya harus per puskesmas, bukan per orang
  3. Apa yang sebenarnya berubah, dan apa yang tidak
  4. Stiker bintang dan kunjungan nifas keenam minggu
  5. Pengetahuan yang naik di kedua kelompok
  6. Di mana penjelasan paket ini berhenti
  7. Beberapa angka yang tidak sejalan di dalam naskah

Seorang ibu hamil bisa bertemu petugas kesehatan berkali-kali dalam sembilan bulan, memeriksakan kandungan, melahirkan, lalu kembali membawa bayinya, dan tidak sekali pun diajak bicara tentang tekanan darah atau gula darahnya sendiri. Kunjungannya banyak, tetapi topiknya selalu bayi. Di tiga township di delta Ayeyarwady, Myanmar, sebuah tim peneliti mencoba membalik kebiasaan itu dengan dua alat yang sangat sederhana: selembar kartu dan empat sesi penyuluhan.

Hasil percobaan itu ditulis Moe Moe Thandar, Junko Kiriya, Akira Shibanuma, Khaing Nwe Tin, Hla Hla Win, Yu Mon Saw, Azusa Iwamoto, dan Masamine Jimba dalam Effectiveness of an Intervention Package on the Continuum of Care Among Mothers and Their Knowledge of Non-Communicable Diseases: A Cluster Randomised Controlled Trial in Myanmar, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1383 tahun 2026. Naskahnya berbahasa Inggris, ditulis peneliti dari University of Tokyo, Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, dan tiga lembaga lain.

Yang mereka uji bukan obat, melainkan cara membuat ibu datang kembali. Di Myanmar, menurut survei demografi yang dikutip paper, hanya sekitar enam dari sepuluh ibu memeriksakan kehamilan minimal empat kali, dan proporsi persalinan oleh tenaga terampil kurang lebih sama. Sementara itu penyakit tidak menular menjadi penyebab 72 persen kematian pada 2019, naik dari 47 persen pada 2000, dan perempuan disebut lebih berisiko daripada laki-laki.

Bagaimana selembar kartu membuat ibu kembali ke puskesmas

Kartu yang dimaksud disebut kartu CoC, singkatan dari continuum of care, yakni rangkaian layanan yang tidak terputus dari hamil sampai nifas. Ukurannya satu halaman, berwarna, dan ditempeli foto ibu pemiliknya. Di dalamnya tercantum jadwal empat kunjungan kehamilan, persalinan dengan tenaga terampil, empat kunjungan nifas, serta pemeriksaan tekanan darah, berat badan, gula darah, gula urine, hemoglobin, dan tetanus toksoid.

Mekanismenya bekerja lewat bidan. Setiap kali seorang ibu menerima layanan yang tercantum, bidan menempelkan stiker bintang di kartunya, di samping pencatatan rutin di buku KIA yang sudah dipakai Myanmar sejak 2011. Kartu dan buku dimasukkan ke kantong zip tahan air supaya tetap bersama, dan ibu diminta membawa keduanya ke setiap kunjungan. Rancangan kartu ini diadopsi dari proyek EMBRACE di Ghana, lalu disesuaikan dengan konteks Myanmar.

Komponen kedua adalah penyuluhan tentang penyakit tidak menular, diberikan empat kali oleh petugas kesehatan masyarakat tingkat dua: pada usia kehamilan 20 sampai 28 minggu, 29 sampai 32 minggu, 33 sampai 36 minggu, dan enam minggu setelah melahirkan. Materinya faktor risiko, gejala, pencegahan, komplikasi, dan panduan gizi, memakai pamflet dan poster yang sudah ada dari Kementerian Kesehatan Myanmar. Kelompok pembanding hanya menerima buku KIA dan penyuluhan rutin.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Mengapa ujinya harus per puskesmas, bukan per orang

Tiga township dipilih, yakni Pantanaw, Wakema, dan Ingapu, di wilayah Ayeyarwady yang pada 2014 mencatat rasio kematian ibu 354 per 100.000 kelahiran hidup, salah satu dari tiga tertinggi di Myanmar. Tiga puluh dua puskesmas diundi: 16 menjalankan paket intervensi, 16 melanjutkan layanan biasa. Pengundian dilakukan per puskesmas, bukan per ibu, karena satu bidan tidak mungkin memberi stiker kepada sebagian pasiennya saja.

Sebanyak 630 ibu hamil ikut sejak awal, 332 di kelompok intervensi dan 298 di kelompok pembanding, semuanya berusia 18 tahun ke atas dan baru memeriksakan kehamilan pertama kali pada 12 sampai 20 minggu. Separuh lebih berusia 20 sampai 29 tahun, hampir separuh tamat sekolah dasar, dan 45 persen ibu rumah tangga. Sembilan bulan kemudian, 88 ibu tidak dapat ditemui lagi, sebagian besar karena pindah township.

Apa yang sebenarnya berubah, dan apa yang tidak

Yang membuatnya rumit adalah bahwa kartu itu tidak menaikkan semua hal sekaligus. Kunjungan kehamilan minimal empat kali sesuai jadwal tercapai pada 71,4 persen ibu pemegang kartu, dibandingkan 62,1 persen di kelompok pembanding. Kunjungan nifas empat kali sesuai jadwal melonjak dari 7,1 persen menjadi 19,9 persen. Namun persalinan oleh tenaga terampil praktis tidak bergeser: 64,8 persen berbanding 65,8 persen.

Cakupan layanan ibu: kelompok kontrol vs pemegang kartu CoCANC 4 kali 62,1% ke 71,4%; Persalinan terampil 65,8% ke 64,8%; PNC 4 kali 7,1% ke 19,9%; CoC lengkap 5,4% ke 18,4%.Cakupan layanan ibu: kelompok kontrol vspemegang kartu CoCIntention-to-treat, Ayeyarwady, Myanmar, 2017-2018 (%)Kontrol (298 ibu)Intervensi (332 ibu)0%25%50%75%100%ANC 4 kali62,1%71,4%Persalinan terampil64,8%65,8%PNC 4 kali7,1%19,9%CoC lengkap5,4%18,4%Persalinan oleh tenaga terampil hampir tidak berbeda; selisih terbesarada pada kunjungan nifas.
Sumber: Moe Moe Thandar, Junko Kiriya, Akira Shibanuma, Khaing Nwe Tin, Hla Hla Win, Yu Mon Saw, Azusa Iwamoto, dan Masamine Jimba, Effectiveness of an Intervention Package on the Continuum of Care Among Mothers and Their Knowledge of Non-Communicable Diseases: A Cluster Randomised Controlled Trial in Myanmar, BMC Public Health, 26(1383), 2026. Grafik: Cekricek.id

Karena itu, rangkaian lengkap dari hamil sampai nifas, yang menuntut ketiganya tercapai sesuai jadwal, hanya dicapai 18,4 persen ibu pemegang kartu dan 5,4 persen ibu kelompok pembanding. Setelah usia, pendidikan, pekerjaan, kekayaan, tempat bersalin, dan komplikasi diperhitungkan, peluang ibu pemegang kartu menuntaskan rangkaian itu 6,8 kali lebih besar. Pada analisis yang hanya menghitung ibu yang benar-benar sempat menerima seluruh layanan, angkanya 7,0 kali.

Angka enam sampai tujuh kali itu terdengar besar, dan para penulis sendiri memberi rem. “Namun, interval kepercayaan 95 persen yang lebar pada analisis ITT maupun PP menunjukkan ketidaktepatan yang cukup besar pada estimasi yang telah disesuaikan,” tulis Moe Moe Thandar dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Rentangnya memang membentang dari 2,3 sampai 20,4 kali.

Stiker bintang dan kunjungan nifas keenam minggu

Persoalannya ada di kunjungan nifas keempat. Paper menyebut tiga kunjungan pertama, dalam 24 jam, hari ketiga, dan hari ketujuh, umumnya tercapai, terutama kalau ibu melahirkan di fasilitas kesehatan. Kunjungan keempat pada enam minggu berbeda, karena layanan itu terutama diberikan di puskesmas, bukan lewat kunjungan rumah. Di daerah studi, penyeberangan sungai dan tuntutan kerja pertanian disebut sebagai penghalang di kedua kelompok.

Ada pula kebiasaan yang disebut paper: tradisi berdiam di rumah selama tujuh hari setelah melahirkan, dan anggapan bahwa pemeriksaan nifas tidak perlu selama ibu dan bayi tampak sehat. Penyuluhan dalam studi ini, diakui para penulis, tidak secara khusus menekankan pentingnya kunjungan nifas. Padahal, tulis mereka, sebagian besar kematian ibu di Myanmar terjadi justru pada masa nifas itu.

Cara kartu itu bekerja, menurut tafsir para penulis, terletak pada interaksi. Efektivitasnya “kemungkinan besar disebabkan oleh interaksi yang efektif dan bersahabat antara perempuan dan bidan,” tulis mereka, berupa menempel stiker untuk setiap tahap yang dicapai, mengingatkan kunjungan berikutnya, dan berusaha bersama-sama menerima layanan esensial. Biayanya sekitar 0,2 dolar AS per kartu berikut stiker, dan bidan menghabiskan kira-kira lima menit per ibu per kunjungan.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Pengetahuan yang naik di kedua kelompok

Komponen penyuluhan diukur dengan tes 56 butir tentang penyakit tidak menular secara umum, hipertensi, diabetes, anemia, dan gizi. Pada awal, skor rata-rata kelompok intervensi 39,2 dan kelompok pembanding 40,1, tidak berbeda bermakna. Sembilan bulan kemudian, kelompok intervensi mencapai 46,9 dan pembanding 45,7. Selisih akhirnya tipis, tetapi arah pergerakannya berbalik: yang semula tertinggal menjadi yang terdepan.

Skor tes pengetahuan penyakit tidak menular (0-56)Perbandingan skor tes pengetahuan PTM kelompok kontrol dan intervensi pada baseline dan tindak lanjut.Skor tes pengetahuan penyakit tidak menular(0-56)Rata-rata skor ibu hamil di baseline dan sembilan bulan kemudianKontrolIntervensi40,139,2Skor awal, ITT45,746,9Skor akhir, ITT40,938,8Skor awal,per-protokol46,848,2Skor akhir,per-protokol-+2,2 ITT / +3,5 PPTambahan berkatedukasi (GEE)Kedua kelompok naik; kelompok intervensi mulai lebih rendah danberakhir lebih tinggi.
Sumber: Moe Moe Thandar, Junko Kiriya, Akira Shibanuma, Khaing Nwe Tin, Hla Hla Win, Yu Mon Saw, Azusa Iwamoto, dan Masamine Jimba, Effectiveness of an Intervention Package on the Continuum of Care Among Mothers and Their Knowledge of Non-Communicable Diseases: A Cluster Randomised Controlled Trial in Myanmar, BMC Public Health, 26(1383), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang menarik justru kelompok pembanding, yang skornya ikut naik lebih dari lima poin tanpa penyuluhan tambahan. Para penulis menduga penyebabnya adalah program PEN, paket intervensi esensial penyakit tidak menular, yang diperluas ke tiga township itu pada 2017 dan berjalan merata di kedua kelompok. Program itu melatih petugas puskesmas mencegah dan mengobati penyakit tidak menular, sehingga efek penyuluhan khusus untuk ibu hamil mungkin tersamarkan.

Setelah efek waktu dan program bersama itu diperhitungkan, tambahan yang bisa dikaitkan dengan penyuluhan adalah 2,2 poin pada analisis semua peserta dan 3,5 poin pada analisis peserta yang tuntas. Ada catatan lain: ibu di kelompok pembanding yang berhenti ikut cenderung berskor rendah sejak awal, sedangkan di kelompok intervensi pola itu tidak muncul. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa pendekatan baru ini lebih menjangkau ibu yang pengetahuannya paling terbatas.

Di mana penjelasan paket ini berhenti

Dua komponen itu tidak bisa dipisahkan efeknya, dan para penulis mengakuinya. Penyuluhan mungkin membuat ibu lebih rajin datang, sedangkan stiker bintang mungkin membuat ibu lebih rajin ikut penyuluhan. Keterbatasan lain ditulis panjang: bidan, petugas penyuluh, ibu, maupun pengumpul data sama-sama tahu siapa masuk kelompok mana, dan petugas dari kedua kelompok kerap bertemu di rapat tingkat township, sehingga informasi bisa bocor.

Di sejumlah puskesmas, bidan dan petugas penyuluh absen beberapa bulan karena cuti melahirkan atau pelatihan, sehingga sebagian ibu tidak menerima layanan sesuai jadwal. Data pun dikumpulkan pada 2017 sampai 2018, sebelum pandemi COVID-19 dan gangguan politik serta sistem kesehatan di Myanmar sesudahnya, sehingga tingkat cakupan yang tercatat mungkin tidak menggambarkan keadaan sekarang. Evaluasi biaya-manfaat tidak dilakukan.

Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan

Beberapa angka yang tidak sejalan di dalam naskah

Pembaca yang membuka naskahnya akan menemukan beberapa hal yang tidak saling cocok. Jadwal kunjungan kehamilan pertama ditulis “dalam 20 minggu” di Tabel 1, tetapi “dalam 12 minggu” di bagian definisi luaran, padahal syarat ikut studi justru kunjungan pertama pada 12 sampai 20 minggu. Bagian kekuatan studi menyebut “termasuk 640 perempuan”, sedangkan 640 adalah target rekrutmen; yang ikut 630.

Tingkat kesalahan tipe satu ditulis 0,05 persen, bukan 5 persen sebagaimana lazimnya dan sebagaimana taraf 0,05 yang dipakai dalam analisis. Tabel karakteristik menyebut kedua kelompok serupa, tetapi riwayat penyakit tidak menular sebelumnya tercatat 19,3 persen di kelompok intervensi dan 10,7 persen di kelompok pembanding. Luaran primer dinamai efektivitas kartu, luaran sekunder efektivitas penyuluhan, sementara keduanya diberikan sebagai satu paket kepada ibu yang sama.

Kembali ke ibu hamil yang datang berkali-kali tanpa pernah ditanya soal gula darahnya. Paper ini menunjukkan bahwa kunjungan yang sudah ada bisa dimuati dua hal sekaligus, jadwal layanan yang lebih tertib dan pengetahuan tentang penyakit yang akan mengancamnya jauh setelah bayinya lahir, dengan kartu seharga dua puluh sen dolar dan lima menit waktu bidan. Yang belum terjawab adalah kunjungan keenam minggu itu, yang tetap sulit dicapai oleh empat dari lima ibu pemegang kartu sekalipun.

Bagikan

Baca Juga

Sunda Indramayu Melepas Bunyi H yang Dijaga Sunda Priangan
Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
FMEA di RSUD Sadikin Pariaman, Skor Manajer Naik 14 Poin
PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter
Model SEIQR Covid-19 dari Unand: Tracing Menekan R0 ke 1,18