- Tujuh kampung di Merauke mengenal 32 nama sagu yang mengerucut ke lima rumpun; Wapeko hanya satu nama
- Laki-laki menebang dan membelah batang, perempuan menokok dan memeras pati di hutan, kadang bermalam di bivak
- Sagu sep dimasak di bara untuk duka dan pernikahan; sehari-hari warga kini makan beras dan umbi
- Marga Mahuze memegang totem sagu; larangan Sar menutup hutan dua sampai empat tahun setelah 40 hari kematian
Daftar Isi
Pagi hari, perempuan Marind-Anim berjalan berkelompok ke hutan sagu. Kalau hutannya jauh dari kampung, mereka membawa bekal dan bermalam di bivak. Di sana mereka menokok empulur dan memeras pati, sambil memungut kayu bakar, tanaman obat, dan telur kasuari. Laki-laki menempuh jalan lain: menebang pohon, berburu babi hutan dan rusa, mengambil rotan, madu, dan sarang semut.
Pembagian kerja itu tercatat dalam tulisan Akhmad Kadir, Suharno, Yohana Reawaruw, Komari, dan Agustinus Mahuze, Ethnobotanical knowledge of Marind-Anim Tribe in utilizing sago (Metroxylon sagu) in Merauke, Papua, Indonesia, di jurnal Biodiversitas volume 23 nomor 1, tahun 2022. Kadir, Suharno, dan Reawaruw bekerja di Universitas Cenderawasih, Komari di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, dan Mahuze tercatat sebagai pengamat sagu di Kampung Wasur, Merauke.
Tujuh kampung di Kabupaten Merauke menjadi tempat mereka bertanya: Wasur, Rawa Biru, Yanggandur, Tambat, Wapeko, Sanegi, dan Koiburse. Kampung-kampung itu terhampar di dataran rendah antara 4 dan 44 meter di atas laut, di sekitar rawa dan daerah aliran sungai Buraka, Bian, Eli, Kumbe, dan Maro. Di rawa-rawa itulah sagu tumbuh, dan 92 orang responden menuturkan apa yang mereka tahu tentangnya.
Kaghol dan Ambuk
Pohon yang ditebang adalah pohon yang sudah berbunga, menurut warga berumur delapan sampai sepuluh tahun. Alat kerjanya disebut Kaghol, seperangkat pelepah sagu yang mereka namai Aphn, saringan, dan pemukul yang disebut Khweg. Untuk memisahkan serat dari batang dipakai Ambuk atau Maur, tangkai kayu atau bambu yang ujungnya berlapis besi.
Delapan tahap pengolahan dibagi tegas menurut jenis kelamin. Memilih pohon layak tebang, menebang, mengangkut batang ke tempat olah, membuka kulit, dan membelah batang adalah peran utama laki-laki. Perempuan hanya sesekali ikut memilih pohon, membuka kulit, dan membelah. Mencacah empulur, menokok, dan memeras pati sepenuhnya di tangan perempuan; laki-laki sama sekali tidak menokok dan tidak memeras.
Hampir tidak ada bagian pohon yang terbuang. Pati diambil dari empulur, batang yang membusuk menjadi sarang ulat sagu, ampasnya ditinggalkan agar ditumbuhi jamur atau menjadi kompos. Kulit batang dipakai untuk lantai rumah, dinding, dan jembatan; daun untuk atap anyaman yang disebut Ebta; pelepah untuk tikar dan dinding kandang; akar direbus untuk pengobatan. Hanya buahnya yang dibiarkan.
Tiang rumah dibuat dari gaba-gaba, sagu muda yang sudah kering, yang warga sebut Yales. Tulang atap dari bambu bernama Kalalad, talinya dari serat kelapa bernama Onsasak. Di sekitar sagu tumbuh pula tanaman lain yang mereka andalkan: kelapa, mangga, wati, sirih, jeruk, talas, ubi jalar, singkong, gedi, dan sukun, masing-masing dengan nama Marind sendiri.
Tujuh Kampung, Lima Rumpun
Warga tiap kampung memberi nama sagu dengan cara berbeda. Wasur mengenal enam jenis, Rawa Biru tiga, Yanggandur empat, Tambat tujuh, Sanegi tujuh, Koiburse empat. Di Wapeko warga hanya mengenal satu nama, Daah, dan tidak membedakan jenis sama sekali. Pembedanya adalah ukuran dan bentuk daun, besar dan tinggi batang, warna batang, warna pati, serta ada tidaknya duri.
Ketika ciri-ciri itu disandingkan, 32 nama dari tujuh kampung mengerucut menjadi lima rumpun: Mbuof, Yuk, Elitel, Uliba, dan Yuforngi. Rumpun Mbuof paling luas, merangkum nama-nama dari Tambat, Wapeko, Sanegi, Rawa Biru, Yanggandur, dan Koiburse. Rumpun Elitel hanya dua nama, begitu pula Uliba dan Yuforngi. Nama yang berbeda di kampung yang berbeda ternyata sering merujuk pohon yang serupa.
Sagu berduri menjadi cerita tersendiri. Ia hanya ditemukan di Tambat, ditanam sekitar belasan tahun lalu dari bibit yang hanyut di tepi Sungai Bian, yang hulunya jauh di dekat Boven Digoel. Para penulis menulis, aslinya dalam bahasa Inggris: “Jika populasi sagu berduri bertambah, ia akan menggeser keragaman sagu setempat.” Warga sendiri mengakui pengetahuan mereka tentang jenis ini masih terbatas.
Baca juga Kebun Pala Banda Naira dan Buruh yang Belum Tercatat
Tanah tempat sagu itu tumbuh dicontoh dari tiga kampung, Wasur, Rawa Biru, dan Wapeko. Derajat keasamannya 5,0 sampai 5,7, karbon organiknya berkisar 0,75 sampai 5,30 persen, teksturnya lempung dan lempung berdebu. Pohon yang tumbuh di atasnya kini setinggi delapan sampai sepuluh meter, dan menurut warga dulu bisa lebih tinggi lagi sebelum hutan sagu terbakar dan pemulihannya tersendat.
Sagu Sep di Bara
Di Merauke sagu tidak dijadikan papeda. Papeda, yang lazim di pesisir utara Papua, dibuat dengan melarutkan pati dalam air panas hingga menjadi bubur. Marind-Anim memasak tepung sagu bersama bahan lain, biasanya daging babi, rusa, atau ikan, ditambah kelapa dan pisang. Hidangan itu disebut sagu sep, dan ia dimasak di atas bara yang mereka sebut barapen.
Perkakasnya dikumpulkan dari sekeliling: daun pisang yang disebut yaal, kulit kayu paal bus, tusuk bambu ndakla, kayu bakar takah, batu katal, sabut kelapa patakah, tempurung manggon, bambu Suba, dan air adaka. Laki-laki remaja dan dewasa menyiapkan semua bahan itu. Ibu-ibu yang menjalankan proses memasaknya.
Sagu sep hanya muncul pada acara besar: upacara duka, pernikahan, penyelesaian sengketa, juga pesta pembaptisan anak dan tindik telinga. Untuk makan sehari-hari skala keluarga, warga membuat sagu Ebayak, sagu Kwetahuk, dan sagu Sinoli. Sagu sep, tulis para peneliti, adalah bentuk syukur dan lambang keluarga yang menguatkan hubungan antarwarga.
Namun makanan sehari-hari kini bukan lagi sagu. “Meskipun banyak warga Marind-Anim telah meninggalkan sagu sebagai makanan lokal harian, sagu masih luas dipakai pada acara adat penting,” tulis Kadir dan rekan-rekannya, aslinya dalam bahasa Inggris. Hari-hari biasa diisi beras dan umbi; sagu menunggu hari yang ditetapkan adat.
Baca juga Petani Porang Ngrayun Menanam Tanpa Menyebut Etika
Totem Marga Mahuze
Sagu bagi Marind-Anim adalah leluhur. Tiap marga besar memegang totem masing-masing, dan sagu adalah totem marga Mahuze, yang dianggap marga pertama yang menanam dan memelihara sagu. Semua marga di dataran rendah Merauke mengakuinya. Karena itu Mahuze pula yang memegang hak mengatur keberadaan, keselamatan, mutu pohon, produksi, sampai penyimpanan tepungnya.
Sebelum marga lain menanam sagu, tetua Mahuze diundang lebih dulu untuk memulai. Saat panen, tetua yang sama diminta memimpin prosesi pengambilan empulur. Tujuannya agar pohon yang ditanam tumbuh dan menghasilkan pati yang banyak dan bermutu. Sagu, catat para peneliti, tidak pernah dijadikan alat politik di dalam masyarakat.
Sikap itu terbawa sampai ke sisa makanan. “Sagu adalah makanan istimewa, sehingga tidak boleh disia-siakan, tidak dijual sembarangan, dan sisa olahannya tidak boleh dibuang sembarangan melainkan harus dikubur karena sagu sangat dihormati,” tulis Akhmad Kadir, Suharno, Yohana Reawaruw, Komari, dan Agustinus Mahuze dalam naskahnya, aslinya berbahasa Inggris.
Sar di Rawa Biru dan Sanegi
Pemeliharaan sagu berjalan lewat larangan yang disebut Sar. Sar menutup satu wilayah dari pengambilan hasil alam selama dua sampai empat tahun, dan penetapannya berkaitan dengan penghormatan kepada kerabat yang meninggal: Sar diputuskan setelah 40 hari kematian. Dusun yang biasa dipanen dinyatakan tertutup agar sumber daya di dalamnya pulih dengan sendirinya.
Ada pula Quality Sar, ketika warga melihat sagu di satu kawasan tidak lagi produktif karena pohonnya tinggal sedikit. Kawasan itu ditanami, dirawat beberapa tahun, dan tak seorang pun boleh masuk. Penanaman dilakukan ketika air naik, Januari sampai Mei. Di Rawa Biru dan Sanegi berlaku sistem tebang-tanam: setiap satu pohon ditebang, dua anakan yang layak dipindahkan ke lokasi lain.
Semua itu dilaporkan sebagai gambaran kualitatif dari 92 responden di tujuh kampung, tanpa rincian berapa orang di tiap kampung, sehingga bobot tiap kampung dalam kesimpulan tidak bisa diperiksa. Data tanah pun hanya dilaporkan dari tiga kampung. Para penulis sendiri menyebut pengetahuan tentang sagu berduri masih terbatas karena baru ditemukan di satu kampung.
Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia
Catatan Naskah
Beberapa hal di naskah ini bisa dicek pembaca. Kepala halaman menulis volume 23 nomor 1, Januari 2022, tetapi sitasi di abstraknya menulis tahun 2021. Kampung Tambat disebut berada di Distrik Tanah Merah pada abstrak dan bagian metode, tetapi Tanah Miring pada dua tabelnya. Koiburse ditulis di Distrik Malind pada satu tabel dan Marind pada tabel lain.
Angka-angkanya juga tidak selalu bertemu. Koordinat bujur Koiburse ditulis 140 derajat 17 menit 88,8 detik, padahal satu menit hanya 60 detik. Kapasitas tukar kation di teks berkisar 6,95 sampai 26,69, sedangkan tabelnya menulis 7,32 sampai 25,86. Tinggi pohon disebut delapan sampai sepuluh meter di satu paragraf, lalu pohon tertinggi mencapai empat sampai tujuh meter di paragraf lain.
Sampel tanah dinyatakan diambil dari tujuh kampung, tetapi tabelnya hanya memuat tiga. Abstrak menyebut konservasi lewat tebang pilih, sedangkan isi naskah menguraikan sistem tebang-tanam. Dalam uraian rumpun, sagu Yuk dari Wasur disebut serupa dengan sagu Yuk dari Wasur, yaitu dirinya sendiri. Ketidakcocokan seperti ini kecil, tetapi menumpuk.
Yang tinggal di akhir naskah adalah perempuan-perempuan yang berangkat pagi itu. Mereka masih menokok dan memeras pati di hutan, membawa pulang sagu untuk pesta duka atau pernikahan, sambil di rumah nasi dan umbi yang terhidang setiap hari. Bivak di hutan sagu itu kini bukan lagi jalan menuju makan malam, melainkan jalan menuju hari yang ditetapkan adat.














