Pajak Makanan Tinggi Gula dan Garam India Bisa Cegah 9 Juta Kasus

A A

Etalase kaca bertingkat berisi aneka gorengan dan manisan di toko camilan di India [Foto: McKay Savage/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Simulasi memperkirakan, dalam skenario 40 persen, kasus baru lima penyakit berkurang hingga 9,23 juta selama 30 tahun.
  • Dalam skenario 40 persen, rata-rata rumah tangga menanggung kenaikan belanja makanan dan minuman 1 persen.
  • Pendapatan pajak dari makanan dan minuman naik 92,0 persen pada skenario 40 persen.
  • Sebanyak 80,7 persen laki-laki dewasa India mengonsumsi natrium di atas anjuran WHO 2.000 miligram per hari.
Daftar Isi
  1. 2016 sampai 2017: Pajak Burger Kerala dan Minuman Bersoda
  2. Agustus 2022 sampai Juli 2023: Isi Belanja 261.746 Rumah Tangga
  3. 2024: Tarif 28 dan 40 Persen Mulai Diuji
  4. Empat Tahun Pertama: Indeks Massa Tubuh Turun, Lalu Stabil
  5. 2053: Tiga Puluh Tahun Kemudian
  6. September 2025: Tarif 40 Persen Masih Terbatas

Pada Juli 2017, India mulai memungut Pajak Barang dan Jasa atau GST. Tarifnya lima tingkat: 0, 5, 12, 18, dan 28 persen. Di antara makanan dan minuman, tarif 28 persen hanya jatuh pada minuman berkafein dan minuman bersoda manis. Di atasnya masih ditambah pungutan kompensasi 12 persen.

Pada 2026, terbit hitungan tentang apa yang terjadi bila tarif tinggi itu diperluas ke makanan tinggi lemak, gula, dan garam. Paper menyingkat golongan makanan ini sebagai HFSS. Simulasinya berjalan dari 2022 sampai 2053, dengan kebijakan dimulai pada 2024.

Hitungan itu disusun Maxime Roche dan rekan dari Centre for Health Economics & Policy Innovation, Imperial College Business School, London, bersama peneliti Institute of Economic Growth dan Resolve to Save Lives di New Delhi. Judulnya Taxation of foods high in fat, sugar, and sodium in India: A modelling study of health and economic impacts. Paper itu terbit di jurnal PLOS Medicine volume 23 nomor 1 tahun 2026.

Temuan utamanya ringkas. Menurut simulasi itu, tarif GST 40 persen untuk makanan tinggi lemak, gula, dan garam bisa menurunkan rata-rata kejadian tahunan lima penyakit hingga 1,72 persen. Selama 30 tahun, belanja kesehatan total bisa berkurang hingga US$18,0 miliar. Belanja makanan rumah tangga hanya naik sekitar 1 persen.

2016 sampai 2017: Pajak Burger Kerala dan Minuman Bersoda

Sebelum GST, negara bagian Kerala sudah mencoba jalan sendiri. Pada 2016–2017, Kerala memungut pajak tak langsung 14,5 persen atas burger, piza, taco, donat, sandwich, pasta, dan isian roti yang dijual di restoran. Menurut paper, pajak itu berkaitan dengan turunnya penjualan. Pajak Kerala dicabut setelah pemerintah pusat meluncurkan GST nasional. GST itu menggantikan semua pajak tak langsung di tingkat negara bagian.

Pungutan 12 persen di atas tarif 28 persen punya riwayat sendiri. Ia bagian dari mekanisme nasional untuk mengganti kekurangan pendapatan pajak negara bagian selama lima tahun pertama GST. Patokannya pertumbuhan tahunan 14 persen dari pendapatan pajak 2015–2016.

Paper mencatat pajak 28 persen dan pungutan 12 persen sejak 2017 menunjukkan dampak terbatas dalam menekan konsumsi. Minuman itu pun hanya sebagian kecil dari asupan makanan tinggi lemak, gula, dan garam.

Di luar India, langkah yang lebih luas muncul pada 2023. Tahun itu Kolombia menjadi negara pertama yang memungut cukai luas atas makanan tinggi lemak, gula, dan garam berdasarkan model profil gizi. Tarifnya dinaikkan lagi pada 2024 dan 2025.

Agustus 2022 sampai Juli 2023: Isi Belanja 261.746 Rumah Tangga

Bahan hitungan dikumpulkan dalam satu tahun. Antara Agustus 2022 dan Juli 2023, Survei Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga NSSO mencatat konsumsi dan belanja makanan dan minuman 261.746 rumah tangga di seluruh India. Setelah data tak lengkap dan pencilan dibuang, tersisa 256.464 rumah tangga.

Dari survei itu, perkiraan rata-rata asupan per orang per hari tercatat 2.015,2 kilokalori. Serealia menyumbang 900,2 kilokalori, kira-kira separuh dari seluruh kalori. Minyak dan bumbu menyumbang 361,9 kilokalori.

Garam menjadi catatan paling tebal. Rata-rata asupan natrium mencapai 3.128,6 miligram per orang per hari. Sebanyak 2.650,9 miligram di antaranya berasal dari kelompok minyak dan bumbu, yang dalam pengelompokan paper ikut memuat garam dan gula mentah.

Asupan natrium di atas anjuran WHOLaki-laki dewasa 80,7; Perempuan dewasa 73,0; Remaja 80,8.Asupan natrium di atas anjuran WHOPersen yang asupan natriumnya di atas 2.000 mg per hari,survei 2022-20230255075100Laki-laki dewasa80,7Perempuan dewasa73,0Remaja80,8Anjuran WHO: 2.000 mg natrium per hari
Sumber: Maxime Roche dan rekan, Taxation of foods high in fat, sugar, and sodium in India: A modelling study of health and economic impacts, PLOS Medicine, 2026. Grafik: Cekricek.id

Anjuran WHO adalah paling banyak 2.000 miligram natrium per hari. Sebanyak 80,7 persen laki-laki dewasa, 73,0 persen perempuan dewasa, dan 80,8 persen remaja melewatinya. Tiga dari sepuluh orang dewasa juga mengonsumsi lemak jenuh di atas batas anjuran WHO.

Untuk gula total, batas yang dipakai adalah anjuran Layanan Kesehatan Nasional Inggris, paling banyak 90 gram per hari. Sebanyak 10,0 persen laki-laki dewasa dan 6,5 persen perempuan dewasa melewatinya. Rata-rata asupan gula total tercatat 53,7 gram per hari.

Baca juga Minuman Manis Selalu Ada di Rumah, Remaja Belanda Minum Banyak

Makanan tinggi lemak, gula, dan garam menyumbang 9,9 persen energi total bila memakai definisi draf regulasi FSSAI 2022. Angkanya 11,4 persen bila memakai model profil gizi WHO untuk kawasan Asia Tenggara. Sebagian besar makanan olahan kemasan dan manisan masuk golongan ini.

2024: Tarif 28 dan 40 Persen Mulai Diuji

Skenario dibuka pada awal 2024. Pada skenario pertama, tarif GST makanan tinggi lemak, gula, dan garam dinaikkan ke 28 persen. Pada skenario kedua, ditambah 12 persen lagi sehingga setara 40 persen, sama dengan tarif barang “dosa”.

Saat itu sebagian besar barang tersebut dikenai tarif 12 atau 18 persen. Kenaikannya berarti 10 sampai 28 poin persen, atau naik 43 sampai 122 persen dari tarif semula. Sebagian besar barang di luar golongan itu bebas pajak atau dikenai 5 persen.

Pembeli tidak bereaksi sama pada setiap kenaikan harga. Permintaan sebagian besar makanan tergolong kurang peka harga, kecuali produk susu, minuman berpemanis gula, dan minuman yang tidak berpemanis gula. Minyak dan bumbu paling tidak peka: konsumsinya turun 3,7 persen untuk setiap kenaikan harga 10 persen.

Makanan olahan kemasan, yang sebagian besar tergolong HFSS, punya elastisitas harga −0,92. Paper menyebutnya mendekati elastis satuan. Rumah tangga berpendapatan rendah lebih peka harga, kecuali untuk susu.

Pada saat penerapan, belanja makanan dan minuman rumah tangga hanya naik sedikit. Dalam skenario 40 persen, rata-rata rumah tangga menanggung kenaikan 1 persen. Rentangnya 0,9 persen pada kelompok berpendapatan rendah sampai 1,3 persen pada kelompok berpendapatan tinggi.

Kenaikan kecil itu terjadi karena pembeli mengurangi makanan tinggi lemak, gula, dan garam, terutama makanan olahan kemasan. Sebagian belanja beralih ke susu dan daging segar. Paper juga mencatat makanan olahan kemasan dan daging segar saling menggantikan.

Kas negara bergerak lebih jauh. Pendapatan pajak dari makanan dan minuman naik 51,3 persen pada skenario 28 persen dan 92,0 persen pada skenario 40 persen. Dengan definisi WHO dan tarif 40 persen, kenaikannya mencapai 110,0 persen.

Baca juga Umbi Samoa Susut 81,6 Persen, Impor Minuman Naik 241 Persen

Empat Tahun Pertama: Indeks Massa Tubuh Turun, Lalu Stabil

Dampak pada tubuh muncul bertahap. Menurut perkiraan batas atas simulasi, penurunan indeks massa tubuh cenderung stabil sesudah empat tahun kebijakan berjalan. Penurunan asupan natrium bertahan dan stabil selama 30 tahun. Dalam skenario 40 persen, asupan natrium harian rata-rata turun sekitar 45,8 miligram, atau 1,62 persen dari asupan awal. Pada kelompok berpendapatan rendah, penurunannya 31,8 miligram. Pada kelompok berpendapatan tinggi, 66,3 miligram.

Sesudah 30 tahun, indeks massa tubuh rata-rata penduduk turun 0,1705 kg/m². Penurunan itu setara 0,796 persen dari nilai awal. Kelompok berpendapatan rendah turun 0,137 kg/m², sedangkan kelompok berpendapatan tinggi turun 0,219 kg/m².

Penurunan selalu lebih besar pada kelompok berpendapatan tinggi. Menurut paper, asupan awal kalori dan natrium dari makanan tinggi lemak, gula, dan garam pada kelompok ini memang lebih besar. Skenario 40 persen juga berdampak lebih besar daripada skenario 28 persen.

2053: Tiga Puluh Tahun Kemudian

Lima penyakit dipantau sampai 2053, yakni penyakit jantung iskemik, penyakit ginjal kronik, stroke, diabetes, dan asma. Menurut perkiraan batas atas simulasi, selama 30 tahun kasus baru kelima penyakit itu berkurang 5,44 juta pada skenario 28 persen. Pada skenario 40 persen, berkurang 9,23 juta kasus. Paper menyebut selisih perkiraan batas bawah dan batas atas kecil.

Rata-rata per tahun, itu berarti 0,18 juta dan 0,31 juta kasus lebih sedikit. Paper menyetarakannya dengan penurunan tahunan 1,01 persen dan 1,72 persen dari jumlah kasus baru kelima penyakit pada 2019. Penurunan terbesar terjadi pada penyakit jantung iskemik dan diabetes.

Kasus baru lima penyakit yang berkurangPendapatan rendah: Skenario 1 (GST 28%) 239, Skenario 2 (GST 40%) 377; Pendapatan menengah: Skenario 1 (GST 28%) 355, Skenario 2 (GST 40%) 603; Pendapatan tinggi: Skenario 1 (GST 28%) 513, Skenario 2 (GST 40%) 915.Kasus baru lima penyakit yang berkurangPenurunan kumulatif kasus per 100.000 penduduk selama 30tahun (2024-2053)Skenario 1 (GST 28%)Skenario 2 (GST 40%)02505007501.000239377Pendapatanrendah355603Pendapatanmenengah513915Pendapatan tinggiTabel 3, baris Total, perkiraan batas atas. Jantung iskemik, ginjalkronik, stroke, diabetes, asma
Sumber: Maxime Roche dan rekan, Taxation of foods high in fat, sugar, and sodium in India: A modelling study of health and economic impacts, PLOS Medicine, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dihitung per 100.000 penduduk, kelompok berpendapatan tinggi mencatat penurunan terbesar. Pada skenario 40 persen, kasus baru di kelompok ini berkurang 915 per 100.000 penduduk selama 30 tahun. Kelompok menengah berkurang 603, dan kelompok rendah 377.

Hipertensi ikut berkurang. Pada tahun ke-30, jumlah penderita hipertensi di India turun 7,07 juta pada skenario 28 persen dan 11,87 juta pada skenario 40 persen. Angka itu setara 3,10 persen dan 5,20 persen dari jumlah penderita menurut Survei Kesehatan Keluarga Nasional 2019–2021.

Beban penyakit diukur dengan DALY, yakni tahun hidup yang hilang karena kematian dini ditambah tahun hidup dengan disabilitas. Selama 30 tahun, DALY berkurang 10,36 juta tahun pada skenario 28 persen. Pada skenario 40 persen, berkurang 18,98 juta tahun.

Belanja kesehatan total, dari pemerintah dan rumah tangga, turun US$10,7 miliar dan US$18,0 miliar selama 30 tahun. Per tahun, itu rata-rata US$357 juta dan US$601 juta. Untuk skenario 40 persen, paper menyetarakannya dengan sekitar 0,6 persen belanja kesehatan total, atau US$0,44 per kapita per tahun.

Baca juga Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi

Penghematan itu menyentuh kantong rumah tangga. Belanja kesehatan dari kantong sendiri mencakup lebih dari 40 persen belanja kesehatan total India. Menurut paper, turunnya biaya berobat dapat mengimbangi naiknya belanja makanan, terutama bagi rumah tangga termiskin.

September 2025: Tarif 40 Persen Masih Terbatas

Pada September 2025, pemerintah India menetapkan perombakan GST. Jumlah tarif dipangkas dari lima menjadi tiga, dengan tarif 12 dan 28 persen dihapus. Pungutan kompensasi 12 persen dihentikan, dan tarif 40 persen untuk barang “dosa” diperkenalkan. Tarif 40 persen itu setara dengan tarif lama 28 persen ditambah pungutan 12 persen. Cakupannya tetap minuman berkafein, minuman bersoda manis, dan sebagian produk tembakau.

Maxime Roche, Jingmin Zhu, dan rekan menulis, “Menekan konsumsi makanan HFSS mungkin memerlukan perluasan lebih lanjut tarif barang ‘dosa’ ke semua makanan HFSS.” Di bagian akhir pembahasan, mereka menegaskan, “Mengatasi pola makan tidak sehat adalah hal yang mendesak.” Kedua kalimat itu diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Paper juga mencatat batasnya sendiri. Hitungan hanya menangkap dua jalur, yakni asupan natrium dan indeks massa tubuh. Manfaat dari bertambahnya biji-bijian utuh, sayur, buah, dan kacang-kacangan tidak dimodelkan, sehingga perkiraan dampak kesehatannya disebut kemungkinan konservatif.

Simulasi juga tidak memasukkan kecenderungan naiknya risiko penyakit di masa depan, misalnya akibat polusi udara dan perubahan iklim. Hanya lima penyakit yang dihitung. Perbedaan manfaat antarkelompok pendapatan perlu dibaca hati-hati, karena data penyakit yang sama dipakai untuk semua kelompok.

Para penulis meminta kajian lanjutan tentang beban administrasi pajak dan biaya kepatuhan perusahaan, terutama di negara dengan pasar informal yang besar. Dampak terhadap industri makanan dan inflasi juga perlu diteliti.

Bagikan

Baca Juga

Remaja Kerala Berat Lahir Rendah Lebih Mungkin Bertensi Tinggi
Warga Desa Punjab yang Sulit Beraktivitas Lebih Banyak Duduk
Makin Sering ke Warung, Siswi Medan Makin Sering Jajan Tak Sehat
Satu dari Lima Siswa Sfax Tunisia Aktif Memakai Rokok Elektrik
Berat Lahir Bayi Sri Lanka Naik Seiring Indeks Massa Tubuh Ibu
Penurunan Perokok Chile Terbesar Seiring Aturan Rokok Ketat 2013