- Di kelompok kasus, 28,6 persen remaja lahir di bawah 2.500 gram, dibanding 16,9 persen di kelompok kontrol.
- Rasio odds tersesuaikan untuk berat lahir rendah 2,52, dengan rentang kepercayaan 95 persen 1,48 sampai 4,30.
- Remaja yang tidak makan sayur sama sekali dalam sepekan punya rasio odds 10,12 dibanding pemakan sayur harian.
- Tekanan darah hanya diukur dalam satu kunjungan, sehingga temuannya bukan hipertensi yang sudah dipastikan.
Daftar Isi
Di sekolah-sekolah dua distrik Kerala, India selatan, yakni Ernakulam dan Kannur, tekanan darah siswa kelas 6 sampai 12 diperiksa antara Juli 2023 dan Januari 2025. Semua pengukuran dikerjakan satu pemeriksa terlatih. Manset tensimeter selalu dipasang di lengan kanan, dengan ukuran yang disesuaikan dengan lingkar lengan tiap anak.
Hasilnya ditulis Mufeeda Moidu, Brilly M Rose, dan Aswathy Sreedevi dari Departemen Kedokteran Komunitas, Amrita Institute of Medical Sciences and Research Centre, Kochi, Kerala. Paper berjudul Association of low birth weight with high blood pressure among adolescents in Kerala, South India: an unmatched case control study itu dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.
Pertanyaan mereka berpusat pada satu angka lama, yakni berat badan saat lahir. Apakah remaja yang dulu lahir dengan berat rendah lebih sering bertekanan darah tinggi? Berat lahir rendah di sini berarti di bawah 2.500 gram, mengikuti definisi WHO. Kebiasaan makan, bergerak, dan tidur ikut diperiksa.
Kuesioner Dibawa Pulang ke Rumah
Tujuh sekolah dipilih di dua distrik itu. Ada sekolah pemerintah, sekolah swasta yang dibantu pemerintah, dan sekolah swasta penuh. Semuanya sekolah campuran putra dan putri. Lewat para siswa, kuesioner dan formulir izin dikirim ke rumah. Orang tua diminta mengisi berat lahir anaknya.
Sebanyak 1.050 remaja menerima berkas itu. Pada hari yang dijadwalkan, 930 berkas kembali dengan persetujuan orang tua. Sebanyak 120 remaja kemudian dikeluarkan. Rinciannya, 35 berkas tidak lengkap, 75 tanpa keterangan berat lahir, dan 10 anak demam pada hari pemeriksaan.
Tersisa 810 remaja yang diperiksa. Berat lahir dari laporan orang tua dicocokkan dengan kartu imunisasi atau kartu kelahiran bila tersedia. Sekitar separuh catatan dicek silang dengan cara itu. Tinggi dan berat badan setiap anak juga diukur dengan alat standar.
Baca juga Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi
Hari Pemeriksaan: 140 Remaja Bertensi Tinggi
Di sekolah, setiap remaja duduk tenang sedikitnya tiga sampai lima menit sebelum diukur. Alatnya tensimeter air raksa yang sudah dikalibrasi. Bila angkanya tinggi, pengukuran diulang dua kali dengan jeda lima menit. Rata-rata bacaan kedua dan ketiga menjadi angka akhir.
Hasilnya dipilah memakai klasifikasi Indian Academy of Paediatrics 2022. Remaja dengan tekanan darah meningkat, hipertensi tahap 1, atau hipertensi tahap 2 masuk kelompok kasus. Paper menyebut ketiganya sebagai tekanan darah tinggi. Remaja bertekanan darah normal menjadi kelompok kontrol.
Sebanyak 140 kasus pertama dan 420 kontrol pertama yang memenuhi syarat masuk analisis, sesuai jumlah yang ditetapkan sejak awal. Tiap distrik menyumbang 70 kasus dan 210 kontrol. Total pesertanya 560 remaja, dengan usia rata-rata 14,01 tahun.
Sesudah pemeriksaan, orang tua remaja bertensi tinggi diberi tahu hasilnya. Mereka disarankan membawa anaknya untuk pemeriksaan lanjutan. Alasannya tertulis di paper: pengukuran pada satu hari di satu tempat belum cukup untuk mendiagnosis hipertensi.
Beberapa ciri tidak membedakan kedua kelompok. Jenis kelamin, tempat tinggal di desa atau kota, status ekonomi, jenis keluarga, dan jenis sekolah tidak berbeda bermakna. Di desa, misalnya, tinggal 65 persen kasus dan 65,2 persen kontrol.
Dua ciri lain berbeda jelas. Separuh kasus punya riwayat hipertensi dalam keluarga, dibanding 33,3 persen kontrol. Remaja gemuk atau obesitas mencakup 29,4 persen kasus dan 11,7 persen kontrol. Remaja kurus justru lebih banyak di kelompok kontrol, 15 persen berbanding 5 persen.
Kembali ke Hari Lahir: 28,6 Persen Kasus di Bawah 2,5 Kilogram
Catatan berat lahir membawa analisis mundur ke awal hidup para remaja. Di kelompok kasus, 40 dari 140 anak lahir di bawah 2.500 gram, atau 28,6 persen. Di kelompok kontrol, angkanya 71 dari 420 anak, atau 16,9 persen.
Sebelum faktor lain diperhitungkan, rasio odds kasarnya 1,96. Hubungan itu bermakna secara statistik dengan nilai p 0,003. Angka ini kemudian diuji bersama riwayat keluarga, berat badan, kebiasaan makan, aktivitas fisik, dan tidur dalam satu model.
Hasil akhirnya, rasio odds tersesuaikan untuk berat lahir rendah 2,52, dengan rentang kepercayaan 95 persen 1,48 sampai 4,30. Dalam bagian diskusi, para penulis menulis bahwa remaja yang lahir dengan berat rendah 2,5 kali lebih mungkin bertensi tinggi dibanding yang lahir dengan berat normal.
Kesimpulan paper bertumpu pada angka itu. “Faktor-faktor awal kehidupan, terutama berat lahir, mungkin memainkan peran penting dalam perkembangan tekanan darah tinggi,” tulis Moidu dan rekan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris. Pengujian ulang yang memperhitungkan asal sekolah memberi rasio odds yang nyaris sama.
Paper juga menyebut riset lain yang searah. Di Tiongkok, studi pada lebih dari 45.000 anak usia 6 sampai 18 tahun mencatat rasio odds 1,29. Di Swedia, studi kohort pada 16.265 orang kembar mencatat penurunan berat lahir 500 gram terkait kenaikan risiko hipertensi 42 persen.
Tidak semua riset sepakat. Di Brasil, studi pada 4.452 anak berusia 11 tahun menemukan hubungan itu tidak lagi bermakna setelah faktor lain disesuaikan. Para penulis menduga usia peserta yang lebih muda dalam studi semacam itu menjadi salah satu sebab perbedaannya.
Baca juga Pemakai Ponsel Lama di Iran Lebih Rentan Kena Darah Tinggi
Sepekan Sebelum Diukur: Buah, Sayur, dan Jalan ke Sekolah
Pertanyaan soal makan, gerak, dan tidur mencakup tujuh hari terakhir. Dalam sepekan itu, 30 persen kasus sama sekali tidak makan buah, dibanding 19 persen kontrol. Remaja yang makan buah setiap hari hanya 8,6 persen di antara kasus, sedangkan di antara kontrol 19,3 persen.
Sayur memperlihatkan jarak lebih lebar. Sebanyak 66 persen kontrol makan sayur setiap hari, sedangkan di antara kasus hanya 40 persen. Yang sama sekali tidak makan sayur ada sembilan kasus dan empat kontrol. Pada model akhir, tidak makan buah sepekan memberi rasio odds 2,73.
Untuk sayur, paper mencatat pola bertingkat. Dibanding pemakan sayur harian, rasio odds remaja yang makan sayur empat sampai enam hari 1,90, yang satu sampai tiga hari 4,16, dan yang tidak makan sama sekali 10,12. Para penulis meminta angka terakhir dibaca hati-hati karena rentang kepercayaannya lebar.
Perjalanan ke sekolah ikut tercatat. Sebanyak 50,7 persen kasus tidak pernah berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah dalam sepekan itu. Di antara kontrol, angkanya 28,8 persen. Rasio odds tersesuaikannya 2,48 dibanding kelompok rujukan yang aktif berjalan atau bersepeda.
Latihan penguat otot juga muncul. Remaja yang berlatih hanya satu sampai tiga hari sepekan punya rasio odds 2,17 dibanding yang berlatih empat hari atau lebih. Tidur empat sampai enam jam semalam memberi rasio odds 1,93, dengan nilai p 0,050. Paper menyebutnya hubungan di garis batas.
Satu faktor bergerak ke arah sebaliknya. Remaja kurus punya rasio odds 0,29, dan paper menyebutnya bersifat melindungi. Gemuk atau obesitas memberi rasio odds 2,62, sedangkan riwayat hipertensi keluarga 2,08. Makanan cepat saji dan minuman berkarbonasi tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok.
Ernakulam dan Kannur, Dua Pola yang Berbeda
Analisis per distrik memperlihatkan pola bersama dan pola yang berbeda. Di Kannur, berat lahir rendah memberi rasio odds 2,45, dan riwayat hipertensi keluarga 3,14. Tidur pendek menonjol di sana. Tidur empat sampai enam jam memberi rasio odds 3,73, dan tidur lebih dari enam sampai delapan jam 3,71.
Di Ernakulam, gemuk atau obesitas menjadi faktor terkuat dengan rasio odds 4,05. Berat lahir rendah tetap terkait, dengan rasio odds 2,04. Tidak makan sayur sama sekali memberi rasio odds 6,54, dan makan sayur satu sampai tiga hari 3,46.
Kedua distrik menyumbang jumlah peserta yang sama. Di keduanya, berat lahir rendah tetap tercatat sebagai faktor yang menyertai tekanan darah tinggi. Pola sayur di Ernakulam, menurut para penulis, sejalan dengan temuan keseluruhan studi.
Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas
Catatan Keterbatasan dari Para Penulis
Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Berat lahir berasal dari laporan orang tua, dan usia kehamilan saat lahir tidak diketahui. Karena itu, bayi prematur tidak dapat dibedakan dari bayi yang kecil untuk usia kehamilannya. Data makan juga bergantung pada ingatan remaja selama sepekan.
Tekanan darah hanya diukur dalam satu kunjungan. “Temuan ini berkaitan dengan tekanan darah tinggi berdasarkan penilaian satu kunjungan, bukan hipertensi yang sudah dipastikan,” tulis mereka. Pemberian ASI, konsumsi garam, dan tahap pubertas juga tidak diperhitungkan.
Desain kasus-kontrol menyisakan soal urutan waktu untuk kebiasaan makan, gerak, dan tidur. Kebiasaan itu bisa saja berubah setelah tensi tinggi muncul. Untuk berat lahir, soal itu tidak ada, karena berat lahir pasti mendahului tekanan darah tinggi.
Paper menyarankan anak dengan berat lahir rendah, kurang makan buah dan sayur, serta kurang bergerak mungkin perlu pemantauan tekanan darah lebih dekat dan perubahan gaya hidup sejak dini. Langkah berikutnya, menurut para penulis, adalah studi prospektif jangka panjang untuk memastikan urutan waktu serta efek jangka panjang berat lahir dan kebiasaan hidup terhadap tekanan darah.















