Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

A A

Sungai kecil diapit pohon kelapa dan rumah-rumah di Avarua, Rarotonga, Kepulauan Cook [Foto: Patrick Nunn/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Di kelompok itu, 27,6 persen hidup dengan obesitas plus dua faktor risiko lain atau lebih.
  • Gula darah puasa tinggi, 5,6 mmol/L ke atas, ditemukan pada 37,1 persen siswa.
  • Karena itu para penulis menilai indeks massa tubuh dan lingkar pinggang andal dipakai bersama.
  • Data 2018 bervariasi tanpa penjelasan, kemungkinan karena galat pengukuran oleh banyak petugas.
Daftar Isi
  1. Pulau Kecil, Beban Besar
  2. Remaja Minta Datanya
  3. Pinggang Ikut Bicara
  4. Gula, Tensi, Kolesterol
  5. Risiko yang Menumpuk
  6. Dua Ukuran Cukup
  7. Batas Temuan
  8. Catatan pada Naskah

Hampir enam dari sepuluh remaja Rarotonga berat badannya berlebih. Angka pastinya 59,7 persen siswa Year 9 dengan median usia 13,8 tahun, terdiri atas 22,1 persen kelebihan berat badan dan 37,6 persen obesitas. Sebagian dari mereka juga sudah membawa faktor risiko metabolik lain.

Temuan itu ditulis Jacquie L. Bay, Tania John, Amy Renelle, dan enam penulis lain dalam Monitoring metabolic health in the adolescent population of Rarotonga: a multi-year cross-sectional study from 2016 to 2023. Artikel ini terbit di BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026.

Para penulis bernaung di Liggins Institute, The University of Auckland, Selandia Baru. Sebagian lain bekerja di Te Marae Ora, Kementerian Kesehatan Kepulauan Cook, dan di Kementerian Pendidikan Kepulauan Cook, dua lembaga yang menjadi mitra program pemantauan ini.

Pulau Kecil, Beban Besar

Kepulauan Cook terdiri atas 15 pulau kecil di Pasifik selatan dengan penduduk sekitar 15.000 orang. Rarotonga adalah pulau yang paling padat, dan empat sekolah di sana melayani 96 persen siswa Year 9 pulau itu. Beban penyakit orang dewasanya sudah berat sejak lama.

Di kelompok usia 18 sampai 69 tahun, 92,6 persen punya indeks massa tubuh 25 ke atas dan 75 persen 30 ke atas. Sebanyak 34 persen hidup dengan diabetes tipe 2. Hampir semua, 99 persen, punya minimal satu faktor risiko penyakit tidak menular.

Anak-anaknya juga mencatat angka ekstrem. Menurut data global yang dikutip naskah, obesitas anak usia 5 sampai 19 tahun di Kepulauan Cook dan Niue tertinggi di dunia. Kenaikannya antara 1990 dan 2022 mencapai 20 poin persen pada anak perempuan dan 25 poin persen pada anak laki-laki.

Remaja Minta Datanya

Data yang dipakai berasal dari program pemantauan kesehatan metabolik siswa Year 9. Program ini lahir dari Pacific Science for Health Literacy Project, yang kini bernama Ora’anga Tūmanava. Ketiadaan data biologis remaja sudah dicatat sebagai celah sejak proyek itu dimulai pada 2013.

Pada 2015, remaja yang mengikuti modul pelajaran program itu meminta akses ke data kesehatan pribadi, antara lain gula darah dan kolesterol. Pemeriksaan fisik sekolah yang lama hanya mengukur tinggi dan berat badan. Untuk siswa Year 9, pemeriksaan itu lalu ditambah lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah, dan kolesterol total.

Datanya mencakup 783 siswa dari empat sekolah pada 2016 sampai 2019 dan 2022 sampai 2023, sekitar 65 persen dari seluruh 1.214 siswa Year 9 periode itu. Pada 2020 dan 2021 pemantauan berhenti karena pandemi COVID-19. Siswa boleh menolak pengukuran mana pun.

Faktor risiko metabolik siswa Year 9 RarotongaKelebihan berat badan: Persen siswa +22,1%; Obesitas: Persen siswa +37,6%; Rasio pinggang-tinggi di atas 0,5: Persen siswa +39,6%; Gula darah puasa tinggi: Persen siswa +37,1%; Tekanan darah tinggi: Persen siswa +9,4%; Kolesterol total tinggi: Persen siswa +8,1%.Faktor risiko metabolik siswa Year 9 RarotongaPersen siswa berisiko, gabungan 2016-2019 dan 2022-202310%20%30%40%50%0Kelebihan berat badan22,1%Obesitas37,6%Rasio pinggang-tinggi di atas 0,539,6%Gula darah puasa tinggi37,1%Tekanan darah tinggi9,4%Kolesterol total tinggi8,1%Median usia 13,8 tahun. Jumlah siswa yang diukur berbeda per faktor;rasio pinggang-tinggi tidak diukur pada 2019.
Sumber: Jacquie L. Bay, Tania John, Amy Renelle, dkk., Monitoring metabolic health in the adolescent population of Rarotonga: a multi-year cross-sectional study from 2016 to 2023, BMC Public Health (naskah dalam proses terbit), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pinggang Ikut Bicara

Indeks massa tubuh bukan satu-satunya ukuran yang dipakai. Para penulis juga menghitung rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan, dengan rasio di atas 0,5 sebagai tanda risiko meningkat. Sebanyak 39,6 persen siswa melewati batas itu, sedangkan rata-rata rasionya 0,48.

Kedua ukuran umumnya sejalan. Di antara siswa obesitas, 78,9 persen juga berisiko menurut rasio pinggang, sedangkan 93,6 persen siswa yang tidak kelebihan berat badan tergolong risiko rendah. Hubungan antara kedua kategori ini bermakna secara statistik.

Namun keduanya tidak selalu sejalan. Sebanyak 21 persen siswa obesitas dan 68,4 persen siswa kelebihan berat badan tergolong risiko rendah menurut pinggangnya. Menurut naskah, ini menandakan risiko kardiometabolik mereka lebih rendah dibanding teman yang pinggangnya berisiko.

Sebaran indeks massa tubuh tidak berbeda bermakna dari tahun ke tahun. Sebaran rasio pinggang berbeda, terutama karena data 2018 dan 2023, dan ukuran ini tidak diambil pada 2019. Perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan tidak bermakna untuk kedua ukuran.

Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008

Gula, Tensi, Kolesterol

Gula darah puasa tinggi, 5,6 mmol/L ke atas, ditemukan pada 37,1 persen siswa. Tekanan darah tinggi tercatat pada 9,4 persen. Kolesterol total tinggi, 5,0 mmol/L ke atas, ditemukan pada 8,1 persen siswa, angka terendah di antara semua faktor yang diukur.

Jika tekanan darah tinggi-normal ikut dihitung, angkanya naik menjadi 26,5 persen. Naskah menyebut angka ini mirip temuan sebuah studi di Selandia Baru pada anak yang sedikit lebih muda. Ketiga ukuran darah dan tensi berbeda bermakna antartahun, dengan 2018 sebagai penyumbang utama.

Tekanan darah satu-satunya ukuran yang berbeda menurut jenis kelamin, dengan siswa perempuan lebih banyak bertensi normal daripada yang diharapkan. Tekanan darah tinggi juga berkaitan dengan kategori indeks massa tubuh, rasio pinggang, dan kolesterol total. Di luar itu, tidak ada hubungan bermakna antarukuran.

Risiko yang Menumpuk

Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi yang berkaitan dengan penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan penyakit ginjal kronis. Cirinya antara lain lemak perut, gula darah tinggi, gangguan lemak darah, dan hipertensi. Naskah menyebut kaitannya dengan penyakit tidak menular terutama muncul saat tiga faktor atau lebih berkumpul pada satu orang.

Lima ukuran lengkap hanya tersedia untuk 261 siswa, sekitar sepertiga sampel. Kelimanya obesitas, lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah puasa, dan kolesterol total. Kelompok ini tidak berbeda bermakna dari siswa lain, kecuali pada tahun pengambilan data.

Di kelompok itu, 27,6 persen hidup dengan obesitas plus dua faktor risiko lain atau lebih. Sebanyak 14,2 persen punya tiga atau lebih dari empat faktor, dan hanya 1,5 persen punya keempatnya sekaligus. Sebanyak 75,5 persen punya minimal satu faktor, sedangkan 41,0 persen minimal dua.

Risiko yang menumpuk pada satu anak27,6 persen siswa obesitas plus dua faktor lain; 14,2 persen punya tiga faktor atau lebih; 78,9 persen siswa obesitas pinggangnya juga berisiko.Risiko yang menumpuk pada satu anakSiswa Year 9 Rarotonga, 2016-202327,6%Obesitas plusdua faktor lainatau lebih14,2%Tiga faktoratau lebih dariempat78,9%Siswa obesitaspinggangnya jugaberisiko85,1%Tertangkapcukup lewat IMTdan pinggangJalan risetnya261 siswa dengan limaukuran lengkapPinggang, tekanan, gula,kolesterolPinggang masuk SPHEsejak 2024Empat faktor: lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah puasa,kolesterol total.
Sumber: Jacquie L. Bay, Tania John, Amy Renelle, dkk., Monitoring metabolic health in the adolescent population of Rarotonga: a multi-year cross-sectional study from 2016 to 2023, BMC Public Health (naskah dalam proses terbit), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dua Ukuran Cukup

Temuan berikutnya bersifat praktis untuk pemeriksaan di sekolah. Menggabungkan obesitas dan lingkar pinggang berisiko sudah menangkap 85,1 persen siswa yang obesitas plus dua faktor lain. Hasil kedua cara sama pada 92,3 persen siswa, dengan selisih 4,2 persen dan 3,4 persen.

Karena itu para penulis menilai indeks massa tubuh dan lingkar pinggang andal dipakai bersama. Sejak 2024, pengukuran lingkar pinggang mulai dimasukkan bertahap ke pemeriksaan fisik sekolah Kepulauan Cook. Cakupannya usia 5 sampai 18 tahun, termasuk di pulau-pulau terluar.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Batas Temuan

Naskah menyandingkan angka Rarotonga dengan studi lain. Studi Grant dan rekan pada remaja Pasifik usia 9 sampai 14 tahun di Selandia Baru menemukan 7,5 persen punya tiga faktor atau lebih. Studi Sellers dan rekan pada remaja Aborigin seusia di Darwin menemukan 14,0 persen.

Perbandingan itu punya ganjalan. Dua ukuran wajib sindrom metabolik, kolesterol HDL dan trigliserida, tidak diambil, sehingga kolesterol total dipakai sebagai pengganti. Kepatuhan siswa berpuasa sebelum tes gula darah juga rendah, dan tes HbA1c yang dicoba pada 2017 tidak stabil di ruang kelas, diduga karena panas dan lembap tanpa ventilasi mekanis.

Data 2018 bervariasi tanpa penjelasan, kemungkinan karena galat pengukuran oleh banyak petugas. Tahap pubertas siswa, yang bisa memengaruhi faktor-faktor ini, tidak dinilai. Pengukuran tekanan darah di sekolah juga sulit dikendalikan, sehingga para penulis meminta angkanya dibaca dengan hati-hati.

“Meski kami telah menilai sebagian faktor risiko sindrom metabolik, kami menyadari ini bukan penilaian yang lengkap,” tulis Bay dan rekan dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Karena itu mereka menyatakan tidak bisa membandingkan datanya secara andal dengan studi sindrom metabolik remaja lain.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Catatan pada Naskah

Beberapa angka di naskah bisa diperiksa pembaca. Abstrak menulis 39,1 persen siswa punya rasio pinggang di atas 0,5, sedangkan bagian hasil menulis 39,6 persen. Naskah juga menyebut sampel minimal 287 orang sudah dilampaui 783 siswa, padahal analisis lima faktor hanya berdiri di atas 261 siswa.

Bagian diskusi menyebut obesitas plus sedikitnya dua faktor lain sebesar 14,2 persen. Padahal bagian hasil dan Tabel 3 memberi 27,6 persen untuk kategori itu. Angka 14,2 persen di Tabel 3 adalah kelompok dengan tiga faktor atau lebih dari empat.

Label selisih juga tampak tertukar. Siswa yang berisiko menurut indeks massa tubuh dan pinggang, tetapi tidak menurut cara lengkap, disebut negatif palsu. Siswa yang lolos lewat dua ukuran tetapi tertangkap cara lengkap justru disebut positif palsu.

Angka dari Rarotonga ini baru separuh gambar sindrom metabolik remaja di pulau itu. Separuh lainnya masih menunggu tes HDL, trigliserida, dan gula darah yang lebih andal di sekolah-sekolah Kepulauan Cook.

Bagikan

Baca Juga

Ramalan ISPA di 69 Distrik Türkiye, Model Sederhana Paling Jitu
Makan di Luar Rumah di Ghana, Lulusan Kejuruan Paling Jarang
Label Jantung Berdebar di Kaleng Minuman Energi Tekan Niat Beli
Tiongkok Mendata 41 Obat yang Rawan Habis Saat Musim Penyakit
Rekreasi Air di Türkiye Membentuk Makna Sehat, Bukan Cuma Tenang
Kantin Sekolah Swasta Brasil Sering Jual Soda, Jarang Buah Segar