- Dari 764 mahasiswa kesehatan Hanoi, 25,7 persen laki-laki kelebihan berat atau obesitas, perempuan 4,5 persen
- Kedokteran umum 16,3 persen berbobot lebih, keperawatan 3,0 persen; farmasi berpeluang 0,56 kali
- Perempuan 5,32 poin lebih rendah pada stereotip negatif; jurusan dan tahun kuliah tidak mengubah sikap
- Depresi menaikkan peluang BMI tinggi 1,09 kali per poin, tetapi menurunkan stereotip negatif 1,90 poin
Daftar Isi
Timbangan di kamar kos dan kuesioner tentang orang gemuk tampak tidak berkaitan, tetapi keduanya diisi oleh mahasiswa yang sama di dua kampus kedokteran Hanoi. Yang pertama mencatat berat badan calon dokter, perawat, dan apoteker itu sendiri. Yang kedua mencatat bagaimana mereka menilai orang lain yang kelebihan berat. Enam peneliti Vietnam menaruh kedua catatan itu berdampingan pada 764 mahasiswa, lalu menemukan bahwa keduanya bergerak dengan pengungkit yang berbeda.
Sandingan itu tertuang dalam naskah Ngo Xuan Khoa, Vo Tien Huy, Nguyen Xuan Tuan, Ngo Thi Tam, Tran Linh Cham, dan Hoang Duc Hanh berjudul Nutritional status and attitudes toward overweight and obesity among health-science students in Vietnam, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 2253 pada 2026. Naskahnya berbahasa Inggris, ditulis peneliti dari Hanoi Medical University, Vietnam National University, Ton Duc Thang University, dan Dai Nam University. Di satu sisi ada status gizi. Di sisi lain ada sikap terhadap obesitas.
Kedua sisi diukur pada mahasiswa yang sama: 764 orang dari jurusan kedokteran umum, keperawatan, farmasi, dan program kesehatan lain, tahun pertama sampai tahun keenam. Berat badan dinilai dari indeks massa tubuh dengan ambang WHO untuk orang Asia, yakni kelebihan berat mulai 23 dan obesitas mulai 25. Sikap dinilai dengan skala ATOP, dua puluh pernyataan tentang orang gemuk yang dikelompokkan ke tiga ranah: stereotip negatif, keyakinan positif, dan inferioritas psikologis.
Tubuh Sendiri: Siapa yang Lebih Berat
Pada sisi timbangan, sebagian besar mahasiswa berada di rentang normal, 59,4 persen. Kelebihan berat 8,5 persen dan obesitas 3,0 persen, sehingga hanya sekitar satu dari sembilan yang punya berat berlebih. Yang lebih besar justru kelompok berat badan kurang, 29,1 persen. Untuk mahasiswa yang kelak menasihati pasien soal makan, angka kurus itu hampir tiga kali lipat angka gemuk.
Perbedaan paling tajam ada pada jenis kelamin. Di antara 253 mahasiswa laki-laki, 25,7 persen kelebihan berat atau obesitas. Di antara 511 mahasiswa perempuan, hanya 4,5 persen. Sebaliknya, 35,8 persen perempuan berbobot kurang, dibanding 15,4 persen laki-laki. Setelah faktor lain diperhitungkan, peluang perempuan masuk kelompok BMI lebih tinggi hanya seperempat peluang laki-laki, dengan rasio odds 0,25.
Tempat tinggal ikut menggeser timbangan. Mahasiswa yang tinggal bersama keluarga lebih sering berbobot lebih, 16,9 persen, dibanding yang mengontrak, 9,8 persen, atau yang di asrama, 7,6 persen. Dalam model, mengontrak menurunkan peluang BMI tinggi menjadi 0,64 kali dibanding tinggal bersama keluarga. Empat belas mahasiswa dengan tempat tinggal lain mencatat 21,4 persen, tetapi jumlahnya terlalu kecil untuk ditimbang serius.
Sikap: Siapa yang Lebih Keras Menilai
Pada sisi kuesioner, skor dibakukan ke rentang 0 sampai 100 dan skor tinggi berarti sikap lebih negatif. Rata-rata stereotip negatif 33,29, cukup rendah. Rata-rata keyakinan positif 56,08 dan inferioritas psikologis 47,79. Para peneliti membacanya sebagai sikap yang sedang: mahasiswa tidak menolak orang gemuk secara terbuka, tetapi juga tidak sepenuhnya bebas dari prasangka.
Pernyataan yang paling kuat membentuk ranah stereotip negatif adalah bahwa orang gemuk tidak bisa menjalani hidup normal, bahwa pekerja gemuk tidak sukses, dan bahwa orang lain merasa tidak nyaman di dekat mereka. Di ranah keyakinan positif, pernyataan intinya adalah orang gemuk sama bahagianya dengan orang lain, percaya diri, dan menarik. Di ranah inferioritas, intinya adalah orang gemuk merasa tidak sebaik orang lain dan tidak puas pada diri sendiri.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Di sini pun jenis kelamin membelah. Mahasiswa perempuan mencatat skor stereotip negatif 5,32 poin lebih rendah daripada laki-laki, perbedaan yang bermakna secara statistik. Pada dua ranah lain, perempuan dan laki-laki tidak berbeda. Jadi perempuan lebih jarang gemuk sekaligus lebih lunak menilai orang gemuk, dua hal yang di sisi laki-laki sama-sama bergerak ke arah sebaliknya.
Aktivitas fisik hanya masuk di sisi ini. Mahasiswa dengan aktivitas sedang mencatat stereotip negatif 3,79 poin lebih rendah daripada yang aktivitasnya rendah, sedangkan aktivitas tinggi tidak berbeda. Di sisi timbangan, aktivitas fisik tidak terkait BMI sama sekali dalam model. Tubuh yang bergerak tidak otomatis lebih ringan, tetapi tampaknya lebih longgar menilai tubuh orang lain.
Jurusan yang Membedakan Timbangan
Jurusan memisahkan berat badan dengan jelas. Mahasiswa kedokteran umum paling sering berbobot lebih, 16,3 persen, disusul program kesehatan lain 12,5 persen. Farmasi hanya 5,4 persen dan keperawatan 3,0 persen. Tidak satu pun dari 66 mahasiswa keperawatan yang obesitas. Di dua jurusan terakhir, hampir empat dari sepuluh mahasiswa justru berbobot kurang, 39,4 persen.
Dalam model, mahasiswa farmasi berpeluang 0,56 kali dibanding mahasiswa kedokteran umum untuk berada di kelompok BMI lebih tinggi. Keperawatan menunjukkan arah serupa dengan rasio 0,58, tetapi tidak sampai bermakna secara statistik karena jumlahnya kecil. Para peneliti menduga pola hidup dan rutinitas akademik tiap jurusan lebih menentukan berat badan daripada pengetahuan gizi yang diajarkan di kelas.
Jurusan yang Tidak Membedakan Sikap
Pada sisi sikap, jurusan tidak berbicara apa-apa. Mahasiswa kedokteran, keperawatan, farmasi, dan program lain mencatat skor stereotip, keyakinan positif, dan inferioritas yang tidak berbeda bermakna. Tahun kuliah, indeks prestasi, dan tahap klinik pun tidak berpengaruh pada sikap. Mahasiswa tahun keenam yang sudah bertemu pasien menilai orang gemuk kurang lebih sama dengan mahasiswa tahun pertama.
Timbangan sendiri hanya menyentuh satu ranah sikap. Mahasiswa kelebihan berat mencatat skor inferioritas psikologis 53,46, tertinggi di antara kelompok BMI, dan 8,40 poin di atas mahasiswa berbobot kurang. Mereka lebih setuju bahwa orang gemuk merasa tidak sebaik orang lain. Namun pada stereotip negatif dan keyakinan positif, berat badan sendiri tidak membuat mereka berbeda dari teman yang lebih ringan.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Yang menarik, 23 mahasiswa obesitas justru mencatat inferioritas psikologis terendah, 41,30, dan stereotip negatif terendah pula, 30,59. Dalam naskahnya Ngo Xuan Khoa, Vo Tien Huy, Nguyen Xuan Tuan, Ngo Thi Tam, Tran Linh Cham, dan Hoang Duc Hanh menulis, “Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa status berat badan pribadi terutama berkaitan dengan persepsi yang diarahkan ke diri sendiri, bukan keyakinan umum tentang orang dengan obesitas,” terjemahan dari kalimat aslinya yang berbahasa Inggris.
Depresi yang Menambah Berat
Skor depresi diukur dengan enam pernyataan, dan rata-ratanya 11,83 dengan simpangan kecil. Setiap tambahan satu poin depresi menaikkan peluang masuk kelompok BMI lebih tinggi 1,09 kali. Dalam probabilitas terprediksi, mahasiswa dengan skor depresi 10 berpeluang obesitas 2,6 persen, sedangkan pada skor 14 peluangnya 3,5 persen. Kebahagiaan dan resiliensi tidak mengubah timbangan.
Para peneliti menyebut kemungkinan mekanismenya: makan karena emosi, berkurangnya gerak, dan berubahnya pengaturan nafsu makan. Namun mereka mengingatkan bahwa rancangan potong lintang tidak bisa memastikan arah sebab. Depresi bisa menambah berat, tetapi berat berlebih pun bisa menekan suasana hati. Naskah itu menyimpulkan bahwa konteks tempat tinggal dan depresi lebih berperan pada status gizi mahasiswa daripada faktor akademik.
Depresi yang Melunakkan Penilaian
Di sisi sikap, depresi bergerak ke arah yang tidak diduga. Setiap tambahan satu poin depresi menurunkan skor stereotip negatif 1,90 poin dan skor inferioritas psikologis 1,70 poin. Mahasiswa yang lebih murung justru lebih enggan menempelkan cap buruk pada orang gemuk. Sementara kebahagiaan dan resiliensi, yang bisu di sisi timbangan, di sini menaikkan keyakinan positif masing-masing 1,39 dan 0,47 poin.
Dengan demikian dua sisi itu punya pengungkit yang tumpang tindih tetapi tidak sama. Timbangan digerakkan jenis kelamin, tempat tinggal, jurusan, dan depresi. Sikap digerakkan jenis kelamin, depresi, kebahagiaan, resiliensi, dan aktivitas sedang. Di abstraknya para penulis merumuskan, “Berat berlebih dan sikap terkait berat badan tampak sebagian saling bebas, tetapi dipengaruhi kesejahteraan mental dan konteks pelatihan,” juga terjemahan dari bahasa Inggris.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Ada batas yang diakui penulisnya sendiri. Berat dan tinggi badan dilaporkan mahasiswa, bukan ditimbang peneliti, sehingga bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi. Seluruh sikap juga laporan diri, dan sikap tersembunyi yang tidak disadari tidak diukur. Sampel hanya dari dua universitas di Hanoi. Asupan makan dan pola tidur tidak dicatat, padahal keduanya bisa menjelaskan sebagian perbedaan berat badan.
Ada pula hal yang bisa diperiksa pembaca di naskahnya. Tabel faktor sikap menulis jumlah responden 765, sedangkan seluruh analisis lain memakai 764. Bagian analisis menyebut skor ranah “BAT”, padahal skala yang dipakai bernama ATOP. Tahap klinik disebut berbeda bermakna dalam sebaran BMI, tetapi dalam model berurutnya praklinik dan klinik sama sekali tidak bermakna, dan abstrak hanya mengangkat versi pertama.
Satu lagi yang layak dicermati. Naskah menyebut aktivitas fisik menunjukkan gradien, dari 9,0 persen berbobot lebih pada aktivitas rendah ke 17,0 persen pada aktivitas tinggi. Namun nilai p untuk perbedaan itu 0,205 dan dalam model pun tidak bermakna. Arah depresi yang berlawanan di dua sisi, menambah berat sekaligus melunakkan sikap, juga tidak dibahas sebagai satu paradoks oleh para penulisnya.
Pada akhirnya dua catatan itu tetap berdampingan tanpa saling menjelaskan. Timbangan mahasiswa kesehatan Hanoi bercerita tentang laki-laki, rumah keluarga, dan jurusan kedokteran. Kuesioner mereka bercerita tentang laki-laki, suasana hati, dan tubuh yang bergerak secukupnya. Jenis kelamin dan depresi hadir di kedua sisi, dengan arah yang tidak selalu sejalan, dan naskah ini berhenti pada asosiasi tanpa memutuskan sisi mana yang menggerakkan sisi lainnya.















