Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus

A A

Mahasiswa mengikuti kuliah di sebuah ruang kelas kampus. [Foto: USAID Indonesia/Wikimedia Commons Public Domain]

  • Sif malam terisi 88,2 persen, sif pagi hanya 67,6 persen pada semester ganjil.
  • Ruang yang terpakai dua sif punya peluang 77,3 persen tetap penuh semester berikutnya.
  • Ramalan jangka panjang: 74,04 persen ruang terpakai penuh, 15,48 persen kosong terus.
  • Dua pasang ruang berpola saling melengkapi diusulkan digabung, dari 34 menjadi 32 ruang.
Daftar Isi
  1. Kelas malam hampir penuh, kelas pagi tidak bergeming
  2. Ruang yang penuh cenderung tetap penuh semester berikutnya
  3. Seperenam ruang diramal kosong terus-menerus
  4. Dua pasang ruang yang saling melengkapi bisa disatukan
  5. Batas angka ini sebelum dibawa ke kampus lain

Di kampus yang membuka kuliah pagi sekaligus malam, satu gedung bisa terasa seperti dua tempat yang berbeda. Menjelang magrib koridornya padat, tasnya berjejer, dan hampir semua pintu kelas tertutup karena terpakai. Pada pukul sembilan pagi gedung yang sama lengang, dan sepertiga ruangnya menyala tanpa seorang pun duduk di dalamnya. Dua wajah itu kini bisa dihitung, dan hasilnya memberi angka pada sesuatu yang selama ini hanya dirasakan.

Hitungannya dikerjakan Nahrul Hayati bersama Eko Sulistyono dan Bulan Purnama Utami dalam artikel Optimizing Classroom Allocation Using Markov Chain Model for Shifted Lecture Schedules di Jurnal Matematika UNAND, Volume 15 Nomor 1 edisi Januari 2026. Ketiganya mengajar di Departemen Matematika Institut Teknologi Batam dan Universitas Tanjungpura, dan yang mereka telusuri adalah pemakaian ruang kuliah kampus mereka sendiri.

Yang dipotret adalah tiga puluh empat ruang kuliah Institut Teknologi Batam sepanjang tahun ajaran 2024/2025. Kampus itu membuka dua sif karena sebagian besar mahasiswanya bekerja pada siang hari, sebuah pilihan yang lazim di kota industri seperti Batam. Pertanyaannya sederhana dan sangat praktis: setelah dua sif dibuka, apakah ruangnya benar-benar terpakai merata, atau beban pemakaian hanya berpindah ke satu ujung hari saja?

Kelas malam hampir penuh, kelas pagi tidak bergeming

Jawaban pertama datang dari angka pemakaian per sif. Pada semester ganjil, tiga puluh dari tiga puluh empat ruang terisi pada sif malam, atau 88,2 persen. Pada sif pagi hanya dua puluh tiga ruang yang terpakai, atau 67,6 persen, menyisakan sebelas ruang kosong setiap pagi. Jarak dua puluh poin persen itu bukan selisih kecil untuk gedung yang sama, apalagi untuk gedung yang biaya perawatannya dibayar utuh sepanjang hari.

Kelas malam penuh, kelas pagi lengangKelas malam penuh, kelas pagi lengangKelas malam penuh, kelas pagi lengangDari 34 ruang kuliah Institut Teknologi Batam, 2024/2025Kuliah pagiKuliah malam23 ruang30 ruangRuang terpakai,semester ganjil67,6%88,2%Persentase,semester ganjil23 ruang27 ruangRuang terpakai,semester genap67,6%79,4%Persentase,semester genap11 ruang7 ruangRuang kosong,semester genapAngka pagi tidak bergerak sama sekali antara dua semester.
Sumber: Nahrul Hayati, Eko Sulistyono, dan Bulan Purnama Utami, Optimizing Classroom Allocation Using Markov Chain Model for Shifted Lecture Schedules, Jurnal Matematika UNAND, 15(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada semester genap gambarnya tidak berubah banyak. Sif malam memang turun menjadi dua puluh tujuh ruang atau 79,4 persen, tetapi sif pagi tetap persis di angka yang sama, dua puluh tiga ruang dan 67,6 persen. Angka pagi yang tidak bergerak sama sekali antara dua semester adalah tanda bahwa kekosongan pagi bukan kebetulan satu musim, melainkan pola yang menetap dan berulang tanpa banyak dipersoalkan.

Bagi mahasiswa, ketimpangan itu terasa sebagai kelas malam yang berdesakan dan jadwal yang sulit digeser. Bagi kampus, ia terasa sebagai tagihan listrik, biaya perawatan, dan kebersihan yang tetap berjalan untuk ruang yang tidak dipakai separuh hari. Bagi calon mahasiswa yang ingin kuliah pagi, ia berarti pilihan jadwal yang sebenarnya masih terbuka lebar tetapi jarang ditawarkan kepada mereka yang mendaftar.

Selisih pagi dan malam itu sendiri punya penjelasan yang gampang ditebak. Institut Teknologi Batam menampung banyak mahasiswa yang bekerja pada siang hari di kota yang tumbuh sebagai pusat industri dan perdagangan, sehingga permintaan kelas menumpuk sesudah jam kerja. Yang jadi persoalan bukan permintaannya, melainkan ruang pagi yang dibiarkan menganggur tanpa penawaran kegiatan pengganti.

Baca juga 84 Mahasiswa Teknik Unhas dan Angka Korelasi 0,655

Ruang yang penuh cenderung tetap penuh semester berikutnya

Temuan kedua menyangkut apa yang terjadi pada satu ruang ketika semester berganti. Ruang yang terpakai pada kedua sif punya peluang 77,3 persen untuk tetap terpakai penuh pada semester berikutnya. Itu angka tertinggi dalam seluruh hitungan, dan artinya ruang favorit cenderung tetap menjadi ruang favorit. Penjadwalan untuk ruang berminat tinggi berjalan stabil dari semester ke semester, dan kestabilan itu sendiri bukan masalah.

Yang lebih mengejutkan justru nasib ruang yang kosong sama sekali. Ruang yang menganggur pada kedua sif tidak punya peluang sedikit pun untuk tetap menganggur; peluangnya nol persen. Sebaliknya, 66,7 persen di antaranya berpindah menjadi ruang yang terpakai penuh pada semester berikutnya. Penjadwalan di kampus itu, dengan kata lain, memang menyapu ruang yang benar-benar kosong dan memakainya kembali pada kesempatan pertama.

Justru kelompok tengah yang paling goyah. Ruang yang hanya dipakai pada sif malam punya peluang sama besar untuk bertahan seperti itu atau jatuh menjadi kosong sama sekali, masing-masing 37,5 persen, dengan sisa 25 persen naik menjadi terpakai penuh. Ruang satu sif adalah posisi yang tidak stabil, dan nasibnya nyaris seperti lemparan koin setiap kali jadwal baru disusun untuk semester berikutnya.

Seperenam ruang diramal kosong terus-menerus

Dari pola perpindahan itu, penulis menghitung ke mana keadaan akan bermuara bila cara menyusun jadwal tidak diubah. Hasilnya berupa empat angka yang berhenti bergerak: 74,04 persen ruang akan terpakai pada kedua sif, 5,15 persen hanya pagi, 5,33 persen hanya malam, dan 15,48 persen tidak terpakai sama sekali pada kedua sif. Keempatnya dijumlahkan pas menjadi seratus persen.

Seperenam ruang diramal kosong dua sif sekaligusTerpakai dua sif: Bagian ruang kuliah +74,04%; Kosong pagi dan malam: Bagian ruang kuliah +15,48%; Terpakai malam saja: Bagian ruang kuliah +5,33%; Terpakai pagi saja: Bagian ruang kuliah +5,15%.Seperenam ruang diramal kosong dua sifsekaligusRamalan jangka panjang bila pola penjadwalan sekarang diteruskan20%40%60%80%0Terpakai dua sif74,04%Kosong pagi dan malam15,48%Terpakai malam saja5,33%Terpakai pagi saja5,15%Keempat angka dijumlahkan menjadi 100 persen.
Sumber: Nahrul Hayati, Eko Sulistyono, dan Bulan Purnama Utami, Optimizing Classroom Allocation Using Markov Chain Model for Shifted Lecture Schedules, Jurnal Matematika UNAND, 15(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka terakhir itulah inti persoalannya. Hampir seperenam ruang kuliah diramal menganggur secara menahun, bukan karena satu semester yang sepi, melainkan karena cara pembagian jadwal yang terus berulang. Ruang kosong memang dipakai lagi setiap kali ketahuan, tetapi ruang lain gantian jatuh menganggur, sehingga jumlah yang menganggur tidak pernah benar-benar menyusut dari satu tahun ajaran ke tahun ajaran berikutnya.

Nahrul Hayati dan rekan-rekannya menulis bahwa mekanisme koreksi yang ada di dalam sistem penjadwalan kampus itu nyata, tetapi tidak cukup untuk menghapus ketidakefisienan. Mereka menyebut kekosongan seperenam ruang itu sebagai persoalan struktural yang menuntut campur tangan di luar kemampuan sistem yang berjalan sekarang. Kalimat itu ditempatkan sebagai peringatan bagi pengelola, bukan sebagai penilaian bahwa penjadwalan yang berjalan sekarang sudah buruk.

Baca juga Model Perundungan Sekolah Berhenti di Bawah Ambang Satu

Dua pasang ruang yang saling melengkapi bisa disatukan

Dari pembacaan itu lahir saran yang paling mudah dijalankan. Penulis menemukan pasangan ruang yang polanya saling melengkapi: A302 penuh pada semester ganjil dan kosong pada semester genap, sementara A405 justru sebaliknya. Pasangan kedua adalah B209 dan B211 dengan pola yang berkebalikan pula. Keduanya bisa digabung dengan menahan satu ruang saja dari tiap pasangan, yaitu A302 dan B211.

Bila itu dilakukan, jumlah ruang kuliah aktif turun dari tiga puluh empat menjadi tiga puluh dua, atau berkurang sekitar 5,9 persen. Penghematannya bersifat berulang karena menyangkut listrik untuk lampu, pendingin udara, dan perangkat audiovisual, ditambah biaya perawatan serta kebersihan. Dua ruang yang dilepaskan, yakni A405 dan B209, diusulkan beralih fungsi menjadi ruang diskusi, ruang kerja, atau tempat belajar mandiri bagi mahasiswa.

Saran berikutnya menyangkut ruang yang hanya terpakai satu sif. Penulis menganjurkan slot yang menganggur diisi kegiatan akademik lain seperti seminar, lokakarya, atau bimbingan tugas akhir, lalu dievaluasi berkala untuk melihat mana yang layak naik menjadi ruang dua sif. Untuk ruang yang sudah padat, yang diminta justru sebaliknya: perawatan rutin dan jeda yang cukup antarsif agar kelas sempat dirapikan sebelum rombongan berikutnya masuk.

Batas angka ini sebelum dibawa ke kampus lain

Ada beberapa hal yang perlu diingat pembaca sebelum menempelkan angka ini ke kampus mana pun. Seluruh hitungan berdiri di atas catatan satu kampus, tiga puluh empat ruang, dan dua semester berurutan. Kampus dengan jumlah program studi berbeda, gedung berbeda, atau komposisi mahasiswa pekerja yang berbeda hampir pasti menghasilkan angka yang lain sama sekali, dan mungkin pola yang lain pula.

Yang dicatat pun hanya dua keadaan, terpakai atau kosong, tanpa memperhitungkan berapa jam sebenarnya sebuah ruang dipakai dalam satu sif. Ruang yang dipakai satu mata kuliah selama dua jam dan ruang yang dipakai penuh dari pagi sampai siang sama-sama dihitung terpakai. Penulis sendiri mengakui kelemahan itu dan meminta pencatatan jam serta kepadatan pemakaian yang lebih rinci di kemudian hari agar gambarannya lebih jujur.

Ramalan empat angka tadi juga berlaku hanya selama cara penjadwalan tidak berubah. Begitu kampus menambah program studi, memindahkan kelas, atau menerapkan sistem pemesanan ruang yang diusulkan penulis, pola perpindahannya berubah dan ramalannya harus dihitung ulang. Angka 15,48 persen itu bukan takdir, melainkan bayangan dari kebiasaan yang masih dipelihara sampai sekarang dan bisa diputus kapan saja.

Baca juga Sarapan Harian Siswa SD Kampung Olo Naik ke 61,8 Persen

Yang tersisa dari hitungan ini adalah gambaran yang jarang dilihat pengelola kampus: bukan berapa ruang yang kosong hari ini, melainkan berapa yang akan tetap kosong bertahun-tahun bila tidak ada yang diubah. Penulisnya tidak menjanjikan solusi instan. Mereka menawarkan satu angka yang bisa dipakai menimbang, lalu menyerahkan keputusannya kepada orang-orang yang memegang kunci ruang itu setiap pagi dan setiap malam.

Bagikan

Baca Juga

Model Perundungan Sekolah Berhenti di Bawah Ambang Satu
Model Penularan Tuberkulosis Unggulkan Pendampingan Perorangan
Unsoed Wisuda 2.447 Lulusan, 57,6 Persen Raih Cumlaude
Satgas PPKPT 117 Kampus Berkumpul di UNJ Bahas Kekerasan
UII Terima 5.326 Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027
FK Universitas Brawijaya Lantik 18 Dokter Spesialis Baru