Sarapan Harian Siswa SD Kampung Olo Naik ke 61,8 Persen

A A

Warung bubur ayam yang melayani pembeli sarapan pada pagi hari di Jakarta. [Foto: RasyaAbhirama13/Wikimedia Commons CC BY-SA 3.0]

  • Murid yang sarapan tiap hari naik dari 52,9 persen menjadi 61,8 persen.
  • Pemahaman orang tua tentang gizi seimbang naik dari 36,7 persen menjadi 70 persen.
  • Kebiasaan membawa bekal dan memilih jajan berdasarkan gizi hampir tidak berubah.
  • Pengukuran dilakukan segera sesudah kegiatan, sehingga berlaku jangka pendek.
Daftar Isi
  1. Tujuh tahap dari pendataan sampai pascates
  2. Kenaikan nilainya kecil, dan penulisnya mengakuinya
  3. Yang paling berubah justru pengetahuan orang tua
  4. Pengukurannya dilakukan segera, dan itu diakui sebagai batas
  5. Yang diusulkan untuk kegiatan berikutnya

Pihak sekolah menyebut satu keluhan yang berulang: murid sering jajan sembarangan lalu mengeluh sakit perut di tengah jam pelajaran. Dari keluhan sesederhana itu, tujuh orang dari Fakultas Keperawatan Universitas Andalas menyusun satu hari penyuluhan untuk murid, orang tua, dan guru, lalu mengukur apa yang berubah tepat sesudahnya.

Kegiatannya dilaporkan Dewi Murni bersama Susmiati, Rika Fatmadona, dan empat rekannya dalam artikel A Child Education Model in an Effort to Improve the Culture of Healthy Snacks and Breakfast Based on Parents and Children at SDN 04 Kampung Olo, Padang City di Warta Pengabdian Andalas, Volume 33 Nomor 2 tahun 2026. Naskahnya terbit 30 Juni 2026.

Sasarannya dua kelompok sekaligus, yaitu murid dan orang tuanya. Alasannya disebut di bagian pembahasan: penyuluhan gizi yang menyentuh anak dan orang tua secara bersamaan dinilai lebih berhasil daripada penyuluhan yang hanya menyasar satu pihak. Guru dan pemangku kepentingan sekolah ikut dilibatkan lewat diskusi terarah agar hasilnya tidak berhenti di ruang kelas. Kegiatan ini sendiri berbentuk pengabdian masyarakat, kerja sama Fakultas Keperawatan Universitas Andalas dengan SDN 04 Kampung Olo di Gunung Pangilun, Kota Padang.

Tujuh tahap dari pendataan sampai pascates

Rancangannya satu kelompok dengan pratest dan pascates, dijalankan dalam tujuh tahap. Dimulai dari koordinasi dengan sekolah, penyiapan bahan tentang sarapan sehat, jajan aman, dan gizi seimbang, lalu pratest untuk mengukur pengetahuan awal murid dan orang tua. Sesudah itu baru penyuluhan, diskusi dengan guru, penguatan perilaku seperti membawa bekal bergizi dan memilih jajan aman, dan terakhir pascates untuk menakar seberapa jauh pengetahuan peserta bertambah sesudah semuanya dijalankan.

Angka sesudah satu kali penyuluhanAngka sesudah satu kali penyuluhanAngka sesudah satu kali penyuluhanHasil kegiatan di SDN 04 Kampung Olo, Kota Padang7Tahapkegiatandijalankan0,9Poinkenaikan nilaisiswa0,8Poinkenaikan nilaiorang tua100Persensiswa kenalijajan aman88,2Persensiswa cucitanganJalan risetnyaPratestPenyuluhanPenguatanPascatesNilai siswa naik dari 31,7 ke 32,6 dan nilai orang tua dari 29,6 ke30,4.
Sumber: Dewi Murni, Susmiati, Rika Fatmadona, dan empat rekannya, A Child Education Model in an Effort to Improve the Culture of Healthy Snacks and Breakfast Based on Parents and Children at SDN 04 Kampung Olo, Padang City, Warta Pengabdian Andalas, 33(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Bahan yang dipakai tidak muluk: paparan salindia, selebaran, ceramah yang mengajak peserta bicara, dan diskusi terpandu. Naskah menyebut cara itu dipilih supaya peserta ikut terlibat, bukan sekadar mendengar, dan supaya pemahaman tentang gizi dasar bisa dipegang sendiri sesudah kegiatan selesai. Data dikumpulkan dengan kuesioner yang sama sebelum dan sesudah penyuluhan, diberikan kepada murid maupun orang tua.

Kenaikan nilainya kecil, dan penulisnya mengakuinya

Nilai rata-rata murid naik dari 31,7 menjadi 32,6, sementara nilai rata-rata orang tua naik dari 29,6 menjadi 30,4. Selisihnya masing-masing nol koma sembilan dan nol koma delapan poin. Naskah tidak membesarkan angka itu; kalimatnya menyebut kenaikannya memang tampak kecil secara angka, tetapi menandai perbaikan yang konsisten pada beberapa butir.

Butir yang disebut menguat adalah memilih menu sehat, mengenali jajanan aman, dan menyadari peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Di luar nilai rata-rata itu, naskah melaporkan angka lain yang bergerak lebih jauh, terutama pada kelompok orang tua, dan angka-angka itulah yang membuat kegiatan ini tidak berhenti sebagai catatan administratif belaka.

Baca juga Harapan Orang Tua pada Program MBG dari 63 Kota di Indonesia

Yang paling berubah justru pengetahuan orang tua

Pada kelompok orang tua, pemahaman tentang gizi seimbang naik dari 36,7 persen menjadi 70 persen. Kesadaran memilih jajanan aman naik dari 63,3 persen menjadi 80 persen. Adapun orang tua yang memastikan anaknya sarapan naik dari 43,3 persen menjadi 50 persen, kenaikan yang paling tipis di antara ketiganya.

Lima butir sebelum dan sesudah penyuluhanSiswa: sarapan 52,9% ke 61,8%; Siswa: cuci tangan 82,4% ke 88,2%; Ortu: paham gizi 36,7% ke 70,0%; Ortu: antar sarapan 43,3% ke 50,0%; Ortu: jajan aman 63,3% ke 80,0%.Lima butir sebelum dan sesudah penyuluhanPersen peserta pada tiap butir, diukur tepat sesudah kegiatanSebelumSesudah0%25%50%75%100%Siswa: sarapan52,9%61,8%Siswa: cuci tangan82,4%88,2%Ortu: paham gizi36,7%70,0%Ortu: antar sarapan43,3%50,0%Ortu: jajan aman63,3%80,0%Pengukuran dilakukan segera sesudah penyuluhan, sehingga berlakusebagai perubahan jangka pendek.
Sumber: Dewi Murni, Susmiati, Rika Fatmadona, dan empat rekannya, A Child Education Model in an Effort to Improve the Culture of Healthy Snacks and Breakfast Based on Parents and Children at SDN 04 Kampung Olo, Padang City, Warta Pengabdian Andalas, 33(2), 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada kelompok murid, yang melaporkan sarapan setiap hari naik dari 52,9 persen menjadi 61,8 persen. Yang mencuci tangan sebelum makan naik dari 82,4 persen menjadi 88,2 persen. Seluruh murid, atau 100 persen pada pascates, disebut mampu menyebutkan ciri jajanan aman dan bahaya bahan tambahan seperti pengawet berbahaya dan pewarna buatan. Naskah menyebut jumlah anak yang menahan diri membeli jajanan tidak aman ikut bertambah sesudah kegiatan itu, meski perubahannya dicatat lewat laporan mereka sendiri.

Naskah juga menyebut apa yang tidak bergerak. Kebiasaan membawa bekal dari rumah dan kebiasaan memilih jajanan berdasarkan nilai gizinya, bukan berdasarkan rasa, disebut hampir tidak membaik sama sekali. Dua kebiasaan itulah yang menuntut perubahan di dapur dan di warung, bukan sekadar di ruang penyuluhan, dan keduanya justru yang paling menentukan apa yang benar-benar masuk ke perut anak setiap hari.

Pengukurannya dilakukan segera, dan itu diakui sebagai batas

Batas terbesar penelitian ini disebut berkali-kali oleh penulisnya sendiri. Pratest dan pascates dijalankan tepat sebelum dan tepat sesudah kegiatan, sehingga hasilnya berlaku sebagai perubahan pengetahuan dan laporan diri jangka pendek, bukan sebagai bukti perubahan perilaku yang bertahan. Tidak ada pengukuran ulang berselang waktu.

Naskah juga tidak mencantumkan jumlah peserta. Persentase murid dan orang tua dilaporkan tanpa menyebut berapa orang yang mengisi kuesioner, sehingga pembaca tidak bisa menakar seberapa berat satu orang menggeser angka. Tidak ada pula kelompok pembanding yang tidak menerima penyuluhan, sehingga kenaikan yang tercatat tidak bisa dipisahkan dari pengaruh lain yang mungkin bekerja pada hari yang sama.

Baca juga Tiga Jam Antiperundungan di Sebuah SD di Pasaman

Dewi Murni, dosen Departemen Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Andalas sekaligus penulis korespondensi naskah, menulis dalam laporannya: “Kami berharap program edukasi ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku jangka panjang. Ketika anak dan orang tua bersama-sama menjaga pola makan sehat, budaya sarapan bergizi dan jajan sehat dapat menjadi kebiasaan seumur hidup.”

Kalimat itu ditempatkan sebagai harapan, bukan sebagai simpulan. Di paragraf sebelumnya naskah menegaskan bahwa menambah pengetahuan bukan satu-satunya tujuan kegiatan, melainkan menumbuhkan kebiasaan baru di dalam keluarga dan sekolah, dua tempat yang tidak bisa dijangkau satu kali kunjungan. Beberapa orang tua, menurut naskah, mengaku memang sering kesulitan menyiapkan sarapan karena waktu terbatas atau terbiasa mengandalkan menu siap saji.

Sejumlah rujukan yang dipakai naskah juga memperlihatkan bahwa hasil seperti ini tidak selalu seragam. Satu kajian di Denpasar menemukan 80 persen murid kelas lima memang rutin sarapan, tetapi tidak menemukan hubungan nyata antara kebiasaan itu dan status gizi mereka, karena yang menentukan adalah asupan sepanjang hari, bukan sarapannya saja.

Kajian lain yang dikutip menegaskan jarak antara tahu dan melakukan. Satu penelitian menemukan seluruh orang tua sudah berperan baik dalam mendorong jajan sehat, tetapi hanya 52,8 persen anak yang benar-benar memilih jajanan dengan baik. Jarak itulah yang membuat penyuluhan sekali jalan sulit diandalkan sebagai penentu.

Yang diusulkan untuk kegiatan berikutnya

Usul pertamanya soal media. Naskah menyarankan penguatan lewat komik, poster, dan video pendidikan agar murid lebih terlibat dan bahannya lebih mudah diterapkan. Rujukan yang dipakai menyebut media visual seperti video, salindia, dan selebaran pernah menaikkan pengetahuan orang tua dari 13,3 persen menjadi 53,3 persen.

Usul kedua menyangkut pedagang. Naskah menilai kerja sama dengan penjual jajanan di sekitar sekolah perlu diperkuat supaya pilihan yang tersedia memang lebih sehat dan lebih aman. Alasannya sejalan dengan rujukan yang dikutip: anak cenderung memilih jajanan sehat ketika pilihan yang tidak sehat memang tidak tersedia di dekatnya, sementara makanan tinggi garam, lemak, dan gula justru lebih gampang ditemukan di luar rumah.

Usul ketiga menyangkut pihak yang dilibatkan. Program serupa disarankan diperluas ke sekolah lain dengan menggandeng pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan warga sekitar, sehingga lingkungan yang mendukung kebiasaan makan sehat tidak berhenti di pagar sekolah.

Baca juga DWP Padang Mengajar: Bekali Siswa SD dan SMP Cegah Bullying

Beberapa keterangannya tidak sepenuhnya rapi. Nilai murid ditulis 31,7 menjadi 32,6 pada tabel, tetapi 31,75 menjadi 32,69 pada uraian; nilai orang tua ditulis 30,4 pada tabel dan 30,46 pada uraian. Daftar pustakanya pun memuat tiga rujukan yang tercantum dua kali dengan judul yang nyaris sama, dan kepala halaman naskah tertulis dengan rentang halaman yang berulang.

Yang tersisa dari kegiatan satu hari ini adalah satu selisih kecil pada nilai rata-rata, satu lonjakan besar pada pengetahuan orang tua, dan dua kebiasaan yang tidak bergeming. Penulisnya menutup dengan menyebut kerja sama sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan sebagai syarat agar angka-angka itu tidak kembali ke tempat semula. Yang mereka tawarkan bukan program selesai, melainkan pijakan pertama yang masih menunggu kelanjutan.

Bagikan

Baca Juga

Skrining Kesehatan Mental Remaja di Padang Belum Efektif
Olahraga Rekreasi Hanya Menurunkan Kecemasan Remaja LPKA
Aktivitas Fisik Siswa Kepulauan Seribu: Duduk 2 Jam Sehari
Skrining Kesehatan Jiwa Remaja SMK: Cemas Terbanyak
Lemon RRQ Ajak Anak Muda Belajar Mobile Legends Lewat Series Kakak Kelas MLBB
Leani Ratri Oktila, Legenda Para-Bulu Tangkis, Kini Aktif Bermain Padel Bersama Keluarga