- Takaran 20 ton per hektar memberi bobot basah umbi per rumpun rata-rata 86,04 gram, tertinggi di antara empat takaran.
- SS Sakato membentuk rata-rata 15,21 umbi per rumpun, sedangkan Bima Brebes 13,42 umbi.
- Takaran di atas 20 ton per hektar tidak memberi tambahan hasil umbi per petak yang berbeda nyata secara statistik.
- Abstrak menulis 6,028 tons/ha untuk SS Sakato, kesimpulan menulis 6.028 ton per hektar, dan tidak satu tabel pun memuat angka itu.
Daftar Isi
Cekricek.id — Pupuk kandang ayam 20 ton per hektar memberi umbi bawang merah terberat. Itu hasil uji tanam di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Payakumbuh, pada Agustus hingga Oktober 2024. Takaran di atasnya tidak memberi tambahan yang berbeda nyata secara statistik.
Uji itu membandingkan dua varietas bawang merah, SS Sakato dan Bima Brebes, pada empat takaran pupuk dari kotoran ayam petelur. Hasilnya, varietas dan takaran pupuk tidak menunjukkan interaksi yang signifikan, baik pada pertumbuhan maupun hasil panen.
Laporannya berjudul Penggunaan Dua Varietas Benih Bawang Merah dan Takaran Pupuk Kandang Ayam Petelur Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). Naskah itu terbit di Jagur Jurnal Agroteknologi Volume 7 Nomor 1, April 2025, halaman 57–67, terbitan Universitas Andalas. Naskah diterima redaksi jurnal pada 22 Januari 2025 dan terbit 30 April 2025.
Penulis pertamanya Julyadi dari Program Studi Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Dua penulis lain, Yusnaweti Amir dan Teguh Haria Aditia Putra, tercatat sebagai dosen di program studi yang sama.
Kebun di Payakumbuh
Kebun percobaan itu berada di ketinggian sekitar ±514 meter di atas permukaan laut. Rancangannya Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan dua faktor: varietas dan takaran pupuk kandang ayam petelur sebanyak 0, 10, 20, dan 30 ton per hektar, masing-masing diulang empat kali.
Paper menyebut hasilnya 32 perlakuan kombinasi, dengan satuan percobaan berupa petak berukuran 100 x 100 sentimeter. Selain kotoran ayam, bahan yang dipakai mencakup Urea, SP36, KCl, dan fungisida bermerek Antracol 70 WP, Megazeb 80 WP, Siodan 20 WP, Zilfo, serta Pordeex.
Alatnya sederhana: cangkul, pisau, timbangan, ajir, gembor, dan handsprayer. Data diuji dengan uji F pada taraf nyata 5 persen. Bila F hitung lebih besar dari F tabel, pengujian dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test pada taraf yang sama.
Tinggi dan Anakan
Tinggi tanaman diukur pada umur enam minggu setelah tanam. Bima Brebes rata-rata setinggi 36,98 sentimeter, SS Sakato 33,98 sentimeter, dan selisih itu berbeda nyata. Takaran pupuk kandang ayam juga berpengaruh pada tinggi tanaman.
Tanaman tanpa pupuk rata-rata setinggi 33,21 sentimeter, sedangkan takaran 10, 20, dan 30 ton per hektar masing-masing 36,17; 36,50; dan 36,04 sentimeter. Ketiga takaran itu tidak berbeda nyata satu sama lain, tetapi sama-sama lebih tinggi daripada kontrol.
Sel tertinggi di tabel adalah Bima Brebes dengan 20 ton per hektar, 38,67 sentimeter, dan terendah SS Sakato tanpa pupuk, 31,50 sentimeter. Jumlah anakan, dihitung pada umur yang sama, tidak berubah nyata oleh varietas maupun takaran.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
SS Sakato rata-rata membentuk 10,77 anakan dan Bima Brebes 11,85 anakan. Menurut takaran, rata-rata anakan bergerak dari 10,16 tanpa pupuk ke 11,33 pada 10 ton, 12,29 pada 20 ton, lalu 11,24 pada 30 ton per hektar. Tabel ini tidak memuat huruf beda nyata sama sekali.
Umbi Lebih Banyak
SS Sakato unggul pada jumlah umbi. Pada umur 71 hari setelah tanam, varietas ini rata-rata membentuk 15,21 umbi per rumpun, sedangkan Bima Brebes 13,42 umbi, dan selisih itu berbeda nyata.
Penulis mengaitkannya dengan potensi genetik SS Sakato, yang disebut memiliki mata tunas lebih banyak, berkisar 9 hingga 25 buah. Takaran pupuk kandang ayam tidak mengubah jumlah umbi secara nyata; rata-rata tertinggi tercatat pada 30 ton per hektar, 15,04 umbi.
Rata-rata terendah justru ada pada 20 ton per hektar, 13,50 umbi. Di takaran itu, Bima Brebes hanya membentuk 11,58 umbi per rumpun, sementara SS Sakato pada takaran yang sama 15,42 umbi.
Pada bobot, dua varietas tidak berbeda nyata. Bobot basah umbi per rumpun SS Sakato rata-rata 74,60 gram dan Bima Brebes 78,73 gram, sedangkan bobot keringnya 65,69 gram dan 71,60 gram. Rata-rata bobot basah per petak pun tidak berbeda nyata: SS Sakato 673,19 gram, Bima Brebes 612,44 gram.
Takaran Pupuk Kandang Ayam
Pada bobot umbi, takaranlah yang membedakan. Tanpa pupuk, bobot basah umbi per rumpun rata-rata 63,33 gram; dengan 20 ton per hektar, angkanya naik menjadi 86,04 gram. Takaran 10 dan 30 ton per hektar menghasilkan 76,17 dan 81,12 gram.
Menurut uji lanjut, 20 ton berbeda nyata dari kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dari 10 maupun 30 ton. Pola serupa muncul pada bobot basah umbi per petak: kontrol rata-rata 505,25 gram, takaran 10 ton 718,62 gram, 20 ton 720,00 gram, dan 30 ton 627,38 gram.

Per sel, petak SS Sakato dengan 20 ton per hektar mencatat angka tertinggi di tabel itu, 815,00 gram, sedangkan petak SS Sakato tanpa pupuk hanya 485,00 gram. Bobot kering umbi per rumpun mengikuti arah yang sama.
Kontrol mencatat 53,04 gram, lalu 70,75 gram pada 10 ton, 78,04 gram pada 20 ton, dan 72,75 gram pada 30 ton per hektar. Tiga takaran itu berbeda nyata dari kontrol, tetapi tidak berbeda nyata satu sama lain. Bobot kering tertinggi per sel ada pada SS Sakato dengan 20 ton, 78,67 gram.
Baca juga Lalat Buah Cabai di Sumbar dan Varietas yang Paling Tahan
Untuk bobot basah umbi per rumpun, para penulis memberi catatan soal signifikansi. “Perbedaan ini menunjukkan bahwa peningkatan dosis pupuk kandang ayam secara umum mampu meningkatkan berat umbi, meskipun tidak semuanya signifikan secara statistik,” tulis Julyadi, Yusnaweti Amir, dan Teguh Haria Aditia Putra.
Angka yang Janggal
Beberapa bagian naskah tidak cocok satu sama lain. Pembahasan tinggi tanaman menulis bahwa meningkatnya dosis sejalan dengan peningkatan tinggi, padahal rata-rata 30 ton, 36,04 sentimeter, lebih rendah daripada 20 ton, 36,50 sentimeter.
Pembahasan Tabel 5 menyebut pengaruh signifikan pada dosis 10, 20, dan 30 ton dibandingkan kontrol. Tabel yang sama memberi takaran 30 ton notasi AB, sehingga berbagi huruf B dengan kontrol. Menurut keterangan tabel itu, hanya huruf yang berbeda yang menandai beda nyata.
Pembahasan Tabel 6 menulis berat kering umbi per petak, sedangkan judul tabelnya berat kering umbi per rumpun. Bobot kering per petak tercantum sebagai parameter di bagian metode tetapi tabelnya tidak ada, sementara jumlah anakan dilaporkan di Tabel 2 walau tidak masuk daftar parameter.
Kejanggalan paling mencolok ada pada angka produksi. Abstrak berbahasa Inggris menulis SS Sakato 6,028 tons/ha dan Bima Brebes 5,615 tons/ha, sedangkan kesimpulan berbahasa Indonesia menulis 6.028 dan 5.615 ton per hektar. Tidak satu tabel pun memuat angka tersebut, dan cara menghitungnya tidak dijelaskan.
Jumlah umbi per rumpun di teks pembahasan ditulis bersatuan gram, yakni 15,04 g dan 13,50 g. Keterangan tanah pun berbeda: pendahuluan membahas tanah ultisol, pembahasan Tabel 5 menyebut tanah Inseptisol sebagai tanah yang digunakan dalam penelitian, dan bagian metode tidak menyebut jenis tanah.
Soal ketinggian, dua paragraf bertolak belakang. Satu menyebut SS Sakato beradaptasi tinggi termasuk di dataran rendah; paragraf lain menyebut varietas itu lebih optimal di dataran tinggi, sedangkan Bima Brebes lebih cocok di dataran rendah. Kepala halaman menulis rentang 57–67, nomor DOI menulis 57-66, dan tabel mengeja Bima Berebes.
Batas Uji Ini
Naskah tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Uji dijalankan pada satu kebun percobaan, dalam satu periode Agustus hingga Oktober 2024. Laporan ini juga tidak menyajikan analisis tanah kebun maupun kandungan hara kotoran ayam yang dipakai.
Angka hara kotoran ayam di pendahuluan berasal dari literatur, bukan dari pengukuran di Payakumbuh. Penjelasan tentang keunggulan varietas pun berupa dugaan: penulis menulis bahwa banyaknya umbi SS Sakato diduga kuat berkaitan dengan potensi genetiknya.
Baca juga Startup IPB Klaim Produktivitas Bawang Merah Naik 40 Persen
Naskah tidak melaporkan pengukuran genetik. Penulis sendiri menulis soal kecocokan varietas dengan lingkungan. “Setiap varietas memiliki tingkat adaptasi yang unik terhadap lingkungan pertumbuhan tertentu, sehingga apabila ditanam dalam kondisi yang kurang sesuai, varietas unggul sekalipun mungkin tidak dapat mengekspresikan potensi maksimalnya,” tulis mereka di pembahasan bobot basah per petak.
Pertanyaan Tersisa
Kesimpulan naskah memuat tiga butir. Tidak ada interaksi signifikan antara varietas dan pupuk kandang ayam petelur, SS Sakato menghasilkan jumlah umbi terbanyak, dan 20 ton per hektar disebut meningkatkan pertumbuhan serta produktivitas secara optimal.
Tabel bobot umbi memang menempatkan 20 ton sebagai rata-rata tertinggi. Namun, pada bobot basah per rumpun, bobot basah per petak, dan bobot kering per rumpun, takaran itu tidak berbeda nyata dari 10 ton per hektar.
Asal angka produksi per hektar dalam kesimpulan itu tidak ditunjukkan naskah.















