- Petak tanpa pupuk ZA menghasilkan bobot segar umbi per rumpun tertinggi, yaitu 24,40 gram.
- Pada dosis 800 kilogram per hektare, bobot segar umbi per rumpun turun menjadi 14,02 gram.
- Diameter umbi terbesar, 24,98 milimeter, datang dari ZA 400 kilogram per hektare dan Atonik 1 cc per liter.
- Konsentrasi ZPT Atonik tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun, maupun jumlah umbi.
Daftar Isi
- Ketika takaran ZA dinaikkan, tinggi tanaman tetap di tempat
- Ketika nitrogen melimpah, jumlah daun justru menyusut
- Nitrogen berlebih menarik tenaga tanaman dari umbi ke daun
- Diameter umbi satu-satunya ukuran yang dipengaruhi kombinasi ZA dan Atonik
- Bobot umbi turun setiap kali dosis pupuk ZA dinaikkan
- Atonik menaikkan angka bobot tanpa selisih yang nyata
- Penjelasan naskah berhenti pada kata diduga
Petak bawang merah tanpa pupuk ZA justru menghasilkan umbi paling berat ketika tiga dosis pupuk ZA diuji di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang. Petak dengan takaran terbanyak, 800 kilogram per hektare, berada di urutan terbawah untuk bobot segar maupun bobot kering umbi. Pola itu berulang pada keempat ukuran bobot yang ditimbang, dari bobot per rumpun sampai bobot per petak.
Percobaan itu dilaporkan Ikhwan Nurmahmudi, Benni Satria, dan Nurwanita Ekasari Putri dari Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, dalam artikel Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Beberapa Dosis Pupuk ZA dan Konsentrasi ZPT Atonik. Artikel itu terbit di Jagur Jurnal Agroteknologi Volume 7 Nomor 2, Oktober 2025, halaman 96 sampai 103. Naskahnya diterima 20 Mei 2025, disetujui 28 Agustus 2025, dan terbit 5 Oktober 2025.
Penelitiannya berlangsung Maret sampai Mei 2025 di kebun berketinggian sekitar 383 meter di atas permukaan laut, memakai umbi bawang merah varietas Bima Brebes. Dua perlakuan disilangkan: dosis pupuk ZA 0, 400, dan 800 kilogram per hektare, serta zat pengatur tumbuh (ZPT) Atonik 0, 0,50, dan 1 cc per liter. Sembilan kombinasi itu diulang tiga kali sehingga ada 27 satuan percobaan berupa petak 1,2 kali 1,2 meter.
Rancangan yang dipakai adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Datanya diuji dengan uji F pada taraf nyata 5 persen, lalu dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test pada taraf yang sama bila F hitung lebih besar dari F tabel. Parameter yang dicantumkan di bagian metode adalah tinggi tanaman, jumlah umbi per rumpun, diameter umbi, serta bobot segar dan bobot kering umbi, masing-masing per rumpun dan per petak. Bahan yang dipakai juga mencakup pupuk SP-36 dan KCl.
Alasan memakai pupuk ZA ada pada nitrogen. Di pendahuluan, penulis menyebut nitrogen sebagai unsur hara utama yang merangsang pertumbuhan tanaman secara menyeluruh, terutama batang, cabang, dan daun, sekaligus berperan dalam sintesis klorofil yang menentukan efisiensi penyerapan energi cahaya. Atonik dipilih karena diketahui mampu merangsang aktivitas metabolisme dan pertumbuhan tanaman, termasuk pertumbuhan akar, serta dapat meningkatkan hasil.
Latar persoalannya juga ditarik dari data Badan Pusat Statistik. Pada 2020, tulis penulis, ada enam provinsi sentra produksi bawang merah nasional, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Angka produksi yang dicantumkan kemudian adalah milik Provinsi Aceh: 101.357 ton pada 2021, 100.900 ton pada 2022, dan 130.297 ton pada 2023. Dari kondisi itu penulis menyimpulkan produksi bawang merah nasional masih tergolong rendah.
Baca juga Ulat Grayak Bawang Merah Enrekang Paling Sedikit di Petak Zinnia
Ketika takaran ZA dinaikkan, tinggi tanaman tetap di tempat
Ukuran pertama yang diperiksa adalah tinggi tanaman pada pengamatan 8 MST. Analisis ragam tidak menemukan interaksi antara dosis pupuk ZA dan konsentrasi ZPT Atonik, dan masing-masing faktor pun tidak berpengaruh nyata. Rata-rata tinggi pada tiga takaran ZA nyaris kembar, yakni 26,63, 26,67, dan 26,66 sentimeter. Pada tiga konsentrasi Atonik, rata-ratanya 25,61, 27,40, dan 26,95 sentimeter.
Penulis menduga tanah di kebun itu sudah cukup mengandung nitrogen. Mereka juga menyebut kemungkinan bahwa bawang merah memiliki ambang tertentu dalam merespons nitrogen sebelum pertumbuhan vegetatifnya naik secara signifikan, dan bahwa kondisi lingkungan ikut menentukan. “Tidak signifikannya pengaruh pupuk ZA terhadap tinggi tanaman diduga dapat disebabkan oleh kandungan nitrogen dalam tanah yang telah mencukupi kebutuhan tanaman, sehingga penambahan pupuk ZA tidak menunjukkan dampak yang berarti,” tulis Ikhwan Nurmahmudi, Benni Satria, dan Nurwanita Ekasari Putri di bagian hasil dan pembahasan (hlm. 98).
Untuk Atonik, penjelasannya berbeda. Menurut penulis, efektivitas ZPT sangat bergantung pada stadium pertumbuhan tanaman, kondisi lingkungan, dosis, dan cara aplikasi, sementara dosis dan waktu aplikasi Atonik dalam percobaan ini diduga belum optimal. Mereka mencatat bahwa konsentrasi Atonik yang rendah berpengaruh pada interval penyemprotan yang tinggi seperti lima hari sekali. Dalam percobaan di Padang, penyemprotan Atonik dilakukan 15 hari sekali.
Ketika nitrogen melimpah, jumlah daun justru menyusut
Pada jumlah daun, dosis pupuk ZA mulai berpengaruh nyata, meski tetap tanpa interaksi dengan Atonik. Petak tanpa ZA mencatat rata-rata tertinggi, 29,13 helai, dan tidak berbeda nyata dengan petak 400 kilogram yang mencatat 26,31 helai. Petak 800 kilogram per hektare turun ke 20,42 helai dan berbeda nyata dari petak tanpa ZA. Penulis menyimpulkan pemberian pupuk ZA hingga 800 kilogram per hektare dapat menurunkan jumlah daun secara signifikan dibandingkan tanpa pemupukan.
Penjelasannya bertumpu pada sifat nitrogen dari ZA yang mudah larut dan cepat tersedia. Nitrogen yang tersedia berlebih, menurut penulis, berpotensi mengganggu keseimbangan unsur hara, menimbulkan stres fisiologis, dan memicu gejala toksisitas pada tanaman. Kelebihan nitrogen di tanah juga dapat memacu pertumbuhan vegetatif berlebihan dengan jaringan yang lunak dan mudah rusak, atau malah menghambat pertumbuhan organ tertentu seperti daun pada fase awal.
Atonik bergerak dengan pola sendiri. Secara deskriptif, konsentrasi 0,50 cc per liter menghasilkan rata-rata 27,22 helai, di atas 23,26 helai tanpa Atonik dan 25,37 helai pada 1 cc per liter, walau selisihnya tidak berbeda nyata secara statistik. Penulis mengaitkannya dengan auksin, giberelin, dan sitokinin yang merangsang pembelahan dan pemanjangan sel. Turunnya jumlah daun pada 1 cc per liter diduga terjadi karena konsentrasi itu melebihi kebutuhan fisiologis tanaman sehingga memicu mekanisme penghambatan (feedback inhibition).
Baca juga Layu Fusarium Pisang Makin Parah Akibat Nitrogen Berlebih
Nitrogen berlebih menarik tenaga tanaman dari umbi ke daun
Jumlah umbi bergerak ke arah yang sama dengan bobot. Petak tanpa ZA menghasilkan rata-rata 8,64 umbi, tidak berbeda nyata dengan petak 400 kilogram yang menghasilkan 8,16 umbi, tetapi berbeda nyata dengan petak 800 kilogram. Penulis menilai penambahan pupuk ZA dalam dosis tinggi tidak meningkatkan, bahkan cenderung menurunkan jumlah umbi. Atonik kembali tidak berpengaruh nyata, dengan rata-rata 8,03 umbi tanpa Atonik, 7,90 umbi pada 0,50 cc, dan 7,77 umbi pada 1 cc per liter.
Mekanisme yang ditawarkan penulis adalah perebutan energi di dalam tanaman. Penurunan jumlah umbi kemungkinan besar disebabkan kelebihan nitrogen dari ZA, sumber utama N, yang merangsang pertumbuhan vegetatif secara berlebihan dan mengganggu pembentukan organ generatif seperti umbi. “Tanaman yang mengalami kelebihan nitrogen biasanya memiliki pertumbuhan daun yang subur, namun hasil panennya menurun karena sumber energi lebih banyak digunakan untuk pertumbuhan daun dan batang, bukan penyimpanan cadangan dalam umbi,” tulis ketiga penulis (hlm. 99).
Pembahasan yang sama menyinggung sulfur dalam ZA. Unsur itu dibutuhkan untuk membentuk protein dan senyawa organosulfur seperti allicin, dan penting dalam asimilasi nitrogen sehingga bersinergi dengan N dalam pembentukan biomassa dan umbi. Untuk Atonik, penulis menduga dosisnya tidak sesuai dengan kebutuhan fisiologis tanaman atau waktu aplikasinya kurang tepat, sehingga ZPT tidak terserap dan tidak bekerja optimal.

Meski begitu, penulis menegaskan bahwa ZPT Atonik, yang mengandung auksin, sitokinin, dan giberelin, sebenarnya dapat meningkatkan produktivitas tanaman bila dipakai dalam dosis yang tepat. Auksin yang tinggi, dalam pembahasan mereka, justru menghambat pertumbuhan akar, bahkan berpotensi menyebabkan stres oksidatif hingga kematian sel dan membuat pertumbuhan daun tidak bagus. Pupuk ZA pun disebut tidak secara langsung membantu pembentukan umbi, melainkan berperan dalam pertumbuhan vegetatif, terutama daun.
Diameter umbi satu-satunya ukuran yang dipengaruhi kombinasi ZA dan Atonik
Di antara semua ukuran, hanya diameter umbi yang menunjukkan interaksi nyata antara dosis pupuk ZA dan konsentrasi Atonik. Diameter terbesar, 24,98 milimeter, datang dari kombinasi ZA 400 kilogram per hektare dan Atonik 1 cc per liter. Diameter terkecil, 16,65 milimeter, muncul dari ZA 800 kilogram dengan konsentrasi Atonik yang sama. Pada petak tanpa ZA, diameternya 20,68, 24,08, dan 22,74 milimeter untuk tiga konsentrasi Atonik.
Menurut penulis, diameter membesar pada kombinasi 400 kilogram dan 1 cc per liter karena ketersediaan nitrogen yang cukup berjalan seiring dengan aktivitas hormon pertumbuhan dari Atonik. ZPT itu disebut mempercepat dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan nitrogen, yang kemudian dipakai sebagai bahan baku pembentukan karbohidrat untuk organ generatif seperti umbi. Atonik 0,50 cc per liter juga dinilai efektif memperbesar diameter umbi, terutama bila tidak disertai ZA dosis tinggi.
Yang membuatnya rumit, pada ZA dosis tinggi respons tanaman terhadap Atonik menurun, menurut penulis mungkin akibat tekanan fisiologis karena kelebihan nitrogen. Mereka menulis bahwa penambahan dosis pupuk ZA menjadi 800 kilogram per hektare menyebabkan umbi bertambah kecil. Dosis pupuk ZA 0 dan 400 kilogram menghasilkan diameter yang relatif lebih besar atau sama dibanding 800 kilogram. Pengaruh dosis ZA terhadap diameter umbi sendiri disebut cenderung berbeda tidak nyata.
Bobot umbi turun setiap kali dosis pupuk ZA dinaikkan
Empat ukuran bobot memperlihatkan pengaruh nyata dosis pupuk ZA tanpa interaksi dengan Atonik. Bobot segar umbi per rumpun turun dari 24,40 gram tanpa ZA menjadi 17,70 gram pada 400 kilogram dan 14,02 gram pada 800 kilogram. Bobot segar per petak turun dari 577,68 gram ke 350,94 gram, lalu 241,01 gram. Pada keempat ukuran, petak tanpa ZA berbeda nyata dari dua takaran lain, sedangkan 400 dan 800 kilogram tidak berbeda nyata satu sama lain.
Bobot kering mengikuti jejak yang sama. Per rumpun, angkanya 21,49 gram, 14,02 gram, dan 11,46 gram; per petak, 495,78 gram, 285,01 gram, dan 200,27 gram. Untuk bobot segar, penulis menjelaskan bahwa bobot itu sangat dipengaruhi air yang tersimpan di dalam umbi, sedangkan nitrogen merangsang pembentukan jaringan vegetatif dan meningkatkan kadar air jaringan, terutama bila diberikan berlebihan tanpa keseimbangan dengan unsur hara lain seperti kalium.
Penurunan bobot kering dijelaskan lewat aliran hasil fotosintesis. Pertumbuhan daun dan batang yang berlebihan diduga menghambat distribusi fotosintat ke umbi, sehingga umbi cenderung lebih kecil atau lebih sedikit karena organ tanaman bersaing memakai energi metabolik. Nitrogen dosis tinggi juga disebut dapat mengganggu keseimbangan hara, menurunkan efisiensi penggunaan air, dan meningkatkan kerentanan terhadap gangguan biotik. “Hal ini dapat dikatakan bahwa semakin tinggi nitrogen yang diberikan maka akan menurunkan hasil dari suatu tanaman,” tulis para penulis (hlm. 101).
Atonik menaikkan angka bobot tanpa selisih yang nyata
Atonik memberi angka tertinggi pada kolom yang berbeda-beda. Konsentrasi 1 cc per liter mencatat rata-rata tertinggi untuk bobot segar per rumpun, 20,80 gram, dan bobot kering per rumpun, 17,39 gram. Konsentrasi 0,50 cc per liter unggul pada bobot segar per petak, 404,13 gram, dan bobot kering per petak, 343,43 gram. Penulis menyebut pengaruh Atonik ini berbeda tidak nyata, tetapi positif karena menghasilkan angka tertinggi.
Cara kerjanya, menurut pembahasan, berawal dari senyawa nitrofenol dalam Atonik yang merangsang pembelahan sel dan berkontribusi langsung pada pengisian umbi. Auksin disebut dapat meningkatkan tekanan osmotik sehingga penyerapan air naik. Aktivitas metabolisme yang meningkat lalu mendorong sintesis karbohidrat, protein, dan lemak, sementara pertumbuhan umbi sangat bergantung pada ketersediaan karbohidrat. Karbohidrat dipakai sebagai sumber energi utama, dan kelebihannya disimpan sebagai cadangan makanan di jaringan umbi.
Baca juga Penyiangan Buncis Tegak Hari ke-14 Hasilkan Polong Terbanyak
Penjelasan naskah berhenti pada kata diduga
Sebagian besar mekanisme di atas ditulis sebagai dugaan dan disandarkan pada penelitian lain, bukan diukur dalam percobaan ini. Naskah tidak memuat hasil analisis nitrogen tanah, padahal kecukupan nitrogen tanah menjadi dugaan utama untuk tinggi tanaman yang tidak berubah. Kadar air umbi, distribusi fotosintat, dan tanda stres fisiologis juga tidak dilaporkan diukur. Percobaan berlangsung Maret sampai Mei 2025 di satu kebun dengan satu varietas, dan naskah tidak memuat bagian keterbatasan penelitian secara khusus.
Beberapa ketidakcocokan terbaca langsung di naskah. Teks menyebut tinggi tanaman berkisar 24 sampai 27 sentimeter, sementara Tabel 1 mencantumkan 28,43 sentimeter pada petak tanpa ZA dengan Atonik 1 cc per liter. Teks jumlah umbi menulis dosis ZA 800 kilogram per hektare menghasilkan 7,00 umbi, sedangkan Tabel 3 mencantumkan 7,86 umbi. Teks diameter menyebut 24,98 milimeter berbeda nyata dari kombinasi lain, padahal Tabel 4 memberinya huruf kecil yang sama dengan 22,74 milimeter.
Abstrak tidak memasukkan diameter umbi ke daftar ukuran yang dipengaruhi nyata oleh dosis pupuk ZA, dan pembahasan diameter menyebut pengaruh ZA cenderung berbeda tidak nyata. Namun, kesimpulan kedua mencantumkan diameter umbi di antara variabel yang dipengaruhi dosis pupuk ZA. Paragraf bobot umbi menyebut ke-empat variabel, tetapi hanya merinci tiga. Jumlah daun dilaporkan dalam Tabel 2, meski tidak tercantum dalam daftar parameter di bagian metode.
Umbi terberat dari petak tanpa ZA mendapat jawabannya dari naskah itu sendiri: nitrogen yang berlebih diduga membelokkan energi ke daun dan batang sehingga cadangan di umbi berkurang. Hanya saja, di petak 800 kilogram yang umbinya paling ringan, Tabel 2 juga mencatat jumlah daun paling sedikit, 20,42 helai. Penulis menjelaskan dua hasil itu sama-sama dengan kelebihan nitrogen, tetapi naskah tidak memuat pengukuran bobot daun, batang, maupun kadar nitrogen jaringan tanaman.














