- Intensitas serangan ulat grayak di petak tanpa refugia mencapai 61,11 persen dan masuk kategori sangat tinggi.
- Petak zinnia dan petak kombinasi menurunkan intensitas serangan ke 27,78 persen dengan kategori sedang.
- Rata-rata jumlah ulat di petak zinnia hanya 2,50 ekor per tanaman, dibanding 5,25 ekor di petak tanpa refugia.
- Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian, dan hasil panen tidak termasuk parameter yang diamati.
Daftar Isi
Cekricek.id — Bunga zinnia paling menekan ulat grayak bawang merah di Enrekang. Di petak tanpa refugia, intensitas serangan ulat mencapai 61,11 persen dan masuk kategori sangat tinggi. Di petak zinnia, angkanya turun ke 27,78 persen dengan kategori sedang.
Temuan itu datang dari percobaan lapangan di Desa Potokullin, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang berjalan dari Maret sampai Juli 2025. Identifikasi serangganya dikerjakan di Laboratorium BRMP (Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian).
Penelitinya tiga orang dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Riskiani tercatat sebagai penulis pertama dari program studi itu. Rifni Nikmat Syarifuddin dan Trisnawaty AR adalah dosen di program studi yang sama.
Hasilnya terbit dengan judul Pengaruh Refugia Terhadap Keberadaan Ulat Grayak (Spodoptera exigua Hbn.) Pada Tanaman Bawang Merah Di Kabupaten Enrekang. Artikel itu dimuat Jagur Jurnal Agroteknologi Volume 8 Nomor 1, April 2026, halaman 11–16, terbitan Universitas Andalas. Naskahnya diterima pada 20 Mei 2025, disetujui pada 8 Agustus 2025, dan terbit pada 30 April 2026.
Refugia adalah tanaman yang ditanam untuk menyediakan habitat bagi musuh alami hama. Menurut paper, tanaman ini menjadi tempat berlindung sekaligus penyedia tepung sari bagi predator, parasitoid, dan serangga penyerbuk. Tujuannya mengendalikan hama secara alami tanpa mengandalkan bahan kimia.
Produksi bawang merah Sulawesi Selatan menurun. Paper mengutip data Badan Pusat Statistik: produksinya turun dari 183.210 ton pada 2021 menjadi 175.160 ton pada 2022. Salah satu hama yang disebut ikut menurunkan hasil adalah ulat grayak bawang merah, Spodoptera exigua.
Hama ini paling merusak pada fase larva, saat ia memakan jaringan daun secara langsung. Paper menyebut rata-rata populasi larva bisa mencapai sekitar 11,52 ekor per rumpun ketika tanaman berumur 49 hari. Kerugian hasil tanpa pengendalian disebut berkisar 45–47 persen, dan di Sulawesi Selatan serangannya dapat berujung gagal panen total.
Baca juga Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit
Petani umumnya langsung mengandalkan pestisida sintetis saat serangan datang. Paper mencatat pemakaian terus-menerus itu dapat memicu resistensi hama dan berdampak buruk pada lingkungan. Refugia diuji sebagai cara pengendalian ulat grayak bawang merah yang berwawasan lingkungan.
Tiga Bunga Uji
Marigold dipilih karena nektarnya beraroma dan menarik serangga, baik musuh alami maupun hama, untuk mendekat. Warna, ukuran, dan bentuk tanamannya juga disebut ikut memancing kedatangan serangga. Zinnia menyimpan nektar dan benang sari di kelopaknya, yang menjadi daya tarik bagi serangga penyerbuk.
Paper menyebut zinnia berpotensi besar sebagai tanaman refugia dalam sistem pertanian berkelanjutan. Tapak dara disebut menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi predator alami hama serta polinator. Tanaman ini juga mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan intensif.
Rancangannya Rancangan Acak Kelompok dengan lima perlakuan: P0 tanpa refugia sebagai kontrol, P1 marigold (Tagetes erecta), P2 zinnia (Zinnia elegans), P3 tapak dara (Catharanthus roseus), dan P4 kombinasi ketiganya. Setiap perlakuan diulang empat kali.
Tiap ulangan berisi sembilan tanaman, sehingga total ada 180 tanaman bawang merah sebagai unit pengamatan. Bahan lainnya mencakup polybag, pupuk kandang, label, alkohol 70 persen, deterjen cair, dan kapas. Alatnya linggis, selang air, sweep net, pitfall trap, mikroskop, kamera, dan toples plastik.
Tujuh Minggu Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap minggu selama tujuh minggu, sampai tanaman berumur 49 hari setelah tanam. Rentang itu dipilih berdasarkan masa aktif ulat grayak pada fase vegetatif tanaman, dari usia muda sampai tengah. Serangga di tanaman refugia ditangkap dengan sweep net dan pitfall trap, lalu diidentifikasi di laboratorium dengan mikroskop.
Datanya dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) memakai perangkat lunak Microsoft Excel. Analisis itu dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf nyata 5 persen. Huruf yang berbeda di belakang angka tabel berarti berbeda nyata pada taraf uji tersebut.
Petak tanpa refugia menampung ulat grayak bawang merah paling banyak. Sampai minggu ketujuh, rata-rata jumlah ulat di P0 tercatat 5,25 ekor per tanaman, sedangkan petak zinnia hanya 2,50 ekor per tanaman. Tiga petak lain berada di antara keduanya, yakni kombinasi 2,75 ekor, marigold 3,00 ekor, dan tapak dara 3,50 ekor.
Kepadatan Terendah
Kepadatan populasi memberi urutan serupa. P0 mencapai 0,58, disusul tapak dara 0,39, marigold 0,33, kombinasi 0,31, dan zinnia 0,28. Paper menyebut P2 sebagai perlakuan paling efektif karena kepadatannya terendah dan secara statistik berbeda nyata dibanding kontrol.
Jumlah tanaman terserang juga paling tinggi di petak tanpa refugia. Sampai minggu ketujuh, rata-rata di P0 mencapai 5,5 tanaman, sedangkan petak zinnia dan petak kombinasi sama-sama mencatat 2,5 tanaman.

Petak marigold mencatat 3,75 tanaman terserang dan tapak dara 3,5 tanaman. Dengan nilai BNJ 1,64, keempat petak refugia diberi huruf yang sama. Keempatnya dinyatakan berbeda nyata dari kontrol yang tidak ditanami bunga.
Ulat Grayak Bawang Merah
Intensitas serangan ulat grayak bawang merah menunjukkan jarak paling lebar. P0 mencapai 61,11 persen dan masuk kategori sangat tinggi, sedangkan zinnia dan kombinasi sama-sama turun ke 27,78 persen dengan kategori sedang. Marigold mencatat 41,67 persen dengan kategori tinggi, dan tapak dara 38,89 persen dengan kategori sedang.
Seluruh petak refugia dinyatakan berbeda nyata dari kontrol, dengan nilai BNJ 18,26. Di bagian pembahasan, paper membulatkan angka itu menjadi 61 persen untuk kontrol dan 28 persen untuk zinnia serta kombinasi.
Baca juga Mikoriza Lokal Tekan Kutu Kebul Cabai Kopay dari 30 Persen
Zinnia dan kombinasi disebut sebagai perlakuan paling efektif dibanding perlakuan refugia lainnya. Paper mengaitkan rendahnya populasi ulat di petak zinnia dengan tingginya jumlah serangga predator di sana, seperti kepik pemburu, semut api, dan laba-laba penenun.
Penghuni Bunga
Tabel serangga pada tanaman refugia memuat tiga belas spesies. Paper mengelompokkannya ke dalam empat fungsi, yakni penyerbuk, predator, parasitoid, dan hama. Penyerbuk yang disebut adalah lebah madu (Apis mellifera) dari ordo Hymenoptera.
Kupu-kupu Coenonympha oedippus, Neptis hylas, dan Delias hyparete dari ordo Lepidoptera juga banyak ditemukan dan disebut berpotensi sebagai penyerbuk atau indikator lingkungan. Daftar lengkapnya juga memuat Tipula paludosa, Leucauge argyra, Chitaura moluccensis, Anopheles gambiae, Solenopsis richteri, Epilachna borealis, dan Aulacophora spp. Semuanya tercatat sebagai data primer 2025.
Kelompok predator terdiri atas laba-laba (Araneae), kepik pembunuh Pristhesancus sp., dan semut api. Parasitoid diwakili tawon Netelia, sedangkan serangga hama yang ikut datang adalah kumbang koksi Epilachna dan oteng-oteng. Laba-laba dan semut yang menempati refugia disebut berperan sebagai predator alami ulat grayak bawang merah.
Untuk zinnia dan kombinasi, alasan yang diajukan bersifat fisik. Keduanya dinilai paling efektif karena “refugia tersebut memiliki struktur bunga yang padat dan daun yang rimbun”, tulis Riskiani, Rifni Nikmat Syarifuddin, dan Trisnawaty AR.
Baca juga Startup IPB Klaim Produktivitas Bawang Merah Naik 40 Persen
Keberadaan laba-laba dan semut itu juga disebut ikut menurunkan intensitas serangan pada tanaman bawang merah. Menurut paper, tanaman refugia mampu menarik serangga karena menyediakan berbagai jenis sumber pakan yang penting bagi keberlangsungan hidup serangga.
Angka Tak Selaras
Pada tabel kepadatan populasi, zinnia (0,28) diberi huruf berbeda dari marigold (0,33), padahal selisihnya hanya 0,05 dan nilai BNJ yang dicantumkan 0,30. Tabel jumlah ulat memuat soal serupa. Zinnia (2,50) dan marigold (3,00) berselisih 0,50, jauh di bawah nilai BNJ 2,69, tetapi hurufnya tetap berbeda.
Kalimat penjelas tabel kepadatan juga bertentangan dengan dirinya sendiri. Setelah menyebut P2 berbeda nyata dari kontrol, Riskiani dan dua rekannya menulis bahwa “kontrol (P0) justru menunjukkan populasi tertinggi serta tidak berbeda nyata dengan perlakuan yang lain”.
Bagian metode membalik definisi dua parameter: intensitas serangan disebut dihitung dari jumlah ulat, sedangkan kepadatan populasi dari jumlah tanaman terserang. Bagian hasil menjelaskan keduanya sebaliknya, dan kolom tabel intensitas serangan pun berjudul jumlah tanaman terserang walau isinya persentase. Kesimpulan menyebut delapan ordo serangga, tetapi hanya tujuh nama ordo yang dituliskan.
Yang Belum Terjawab
Paper tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Percobaannya berlangsung di satu desa dalam satu periode, Maret sampai Juli 2025, dengan pengamatan tujuh minggu pada fase vegetatif. Hasil panen tidak termasuk parameter yang diamati.
Tabel serangga juga tidak memuat jumlah individu per perlakuan, sehingga klaim tingginya predator di petak zinnia tidak disertai angka. Kesimpulan paper tetap menyebut P2 paling efektif menekan kepadatan populasi ulat grayak bawang merah dan berbeda nyata dari kontrol. Kombinasi dan zinnia juga disebut mampu menurunkan intensitas serangan secara signifikan.
Di Potokullin, petak tanpa bunga refugia tetap mencatat serangan tertinggi, 61,11 persen.















