Kutu Putih pada Singkong di Bali Dikuasai Dua Spesies

A A

Kutu putih pada batang tanaman singkong di sebuah kebun di timur laut Thailand. [Foto: Neil Palmer (CIAT)/Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)]

  • Empat spesies kutu putih ditemukan pada singkong di sembilan daerah Bali, dan keempatnya tercatat di semua daerah.
  • Paracoccus marginatus dan Phenacoccus manihoti masing-masing menguasai 46,23 dan 45,72 persen kutu putih yang terhitung.
  • Indeks kekayaan jenis dan keragaman tergolong rendah di seluruh daerah, dengan keragaman tertinggi di Jembrana.
  • Para peneliti menyarankan pengelolaan kutu putih di Bali dilakukan pada skala wilayah, bukan per lokasi.
  • Beberapa angka indeks di teks naskah tidak cocok dengan tabelnya sendiri.
Daftar Isi
  1. Survei Kutu Putih pada Singkong Memeriksa 225 Tanaman di Tiga Lapis Daun
  2. Komposisi Spesies, Porsi Tiap Penghuni, Dikuasai Dua Kutu Putih
  3. Indeks Margalef, Ukuran Kekayaan Jenis, Rendah di Seluruh Bali
  4. Indeks Shannon-Wiener, Ukuran Keragaman, Tertinggi di Jembrana
  5. Rasio Varians terhadap Rata-rata Menandai Sebaran Acak Kutu Putih pada Singkong
  6. Kemerataan dan Dominansi, Dua Angka yang Tercatat Berbeda di Dalam Naskah

Cekricek.id — Empat spesies kutu putih pada singkong ditemukan di sembilan daerah di Bali, dan dua di antaranya paling dominan. Para peneliti membaca susunan itu lewat konsep struktur komunitas, yang dalam naskah mencakup komposisi spesies, keragaman, kemerataan, dan dominansi, semacam rapor yang mencatat siapa saja penghuni sebuah kebun dan siapa yang paling banyak.

Kajian itu ditulis Made Mika Mega Astuthi dan I Wayan Dirgayana dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Dwijendra, bersama Dicky Marsadi dari Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana. Judulnya Community Structure and Spatial Distribution of Mealybugs on Cassava Plants in Bali, Indonesia, dimuat di JPT: Jurnal Proteksi Tanaman (Journal of Plant Protection) Volume 9 Nomor 2 tahun 2025, halaman 83–94, dan terbit 31 Desember 2025.

Survei lapangannya berlangsung Juni sampai September 2025 di kebun singkong milik petani di Jembrana, Tabanan, Buleleng, Badung, Denpasar, Gianyar, Bangli, Klungkung, dan Karangasem. Riset ini didanai Kemendikbudristek lewat Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat BIMA, dengan skema Penelitian Dosen Pemula tahun anggaran 2025.

Kutu putih pada singkong, yang dalam naskah ditulis mealybugs dari ordo Hemiptera famili Pseudococcidae, disebut termasuk hama paling merusak tanaman itu. Pada serangan berat, kehilangan hasilnya 30 sampai 50 persen. Kerusakan datang dari isapan cairan tanaman, suntikan racun, dan endapan embun madu yang memicu jamur jelaga sehingga efisiensi fotosintesis menurun.

Menurut pendahuluan naskah, singkong termasuk komoditas yang diprioritaskan dalam program pemerintah Prestige Cassava untuk memperkuat ketahanan pangan lewat diversifikasi. Di Bali, penelitian sebelumnya kebanyakan hanya menyoroti satu spesies, Phenacoccus manihoti, sedangkan kajian yang melibatkan beberapa spesies sekaligus baru dilakukan di satu kabupaten. Karena itu, tim memilih pendekatan seluruh provinsi yang mencakup daerah penghasil singkong utama.

Baca juga Kutu Putih Pepaya dan Lapisan Lilin yang Menahan Racun

Survei Kutu Putih pada Singkong Memeriksa 225 Tanaman di Tiga Lapis Daun

Cara hitungnya berlapis. Di tiap daerah, lokasi ditentukan dengan metode pengambilan sampel diagonal, yang menurut naskah dipakai agar setiap lahan terwakili. Di tiap daerah dibuat lima unit sampel, dan di tiap unit dipilih lima tanaman singkong. Totalnya, menurut naskah, 225 tanaman singkong diamati di seluruh Provinsi Bali.

Tanaman itu tidak dipilih secara acak. Naskah menyebut kelima tanaman di tiap unit dipilih secara purposif, yakni sengaja, berdasarkan ada tidaknya serangan kutu putih. Dari tiap tanaman diambil daun dari tiga lapis ketinggian, yaitu daun atas, daun tengah, dan daun bawah. Pemilahan itu dimaksudkan untuk menangkap sebaran kutu putih secara vertikal di tajuk tanaman.

Setiap sampel daun dimasukkan ke kantong plastik berlabel lokasi dan ketinggian, lalu dibawa ke laboratorium. Di sana kutu putih diperiksa dan diidentifikasi sampai tingkat spesies memakai kunci identifikasi morfologi, yakni pengenalan lewat ciri bentuk tubuh. Pengambilan sampel dilakukan satu kali di setiap lokasi. Kebun yang didatangi berada pada ketinggian 9 sampai 973 meter di atas permukaan laut.

Komposisi Spesies, Porsi Tiap Penghuni, Dikuasai Dua Kutu Putih

Komposisi spesies adalah porsi tiap spesies dibanding seluruh individu yang terkumpul, mirip menghitung berapa persen isi sebuah kelas yang datang dari satu kampung. Hasilnya, empat spesies kutu putih pada singkong ditemukan, yaitu Phenacoccus manihoti, Paracoccus marginatus, Ferrisia virgata, dan Pseudococcus jackbeardsleyi. Keempatnya tercatat di semua daerah yang disurvei.

Secara keseluruhan, P. marginatus paling dominan dengan 46,23 persen dan menonjol di Karangasem, disusul P. manihoti dengan 45,72 persen yang kelimpahannya paling tinggi di Denpasar. Menurut bagian hasil, keduanya menjadi spesies dominan di sebagian besar lokasi pengamatan. Pembahasan naskah menyebut kelimpahan relatif keduanya tinggi di sebagian besar kabupaten, sehingga keduanya dinilai beradaptasi baik secara ekologis dengan agroekosistem singkong di Bali.

Dua spesies lain, F. virgata dan P. jackbeardsleyi, konsisten muncul dalam porsi rendah, di bawah 10 persen, di semua lokasi. Naskah membaca porsi kecil itu sebagai tanda daya saing yang lebih lemah dibanding dua spesies dominan. Meski begitu, keduanya disebut tetap relevan secara ekologis sebagai penanda variasi komunitas dalam agroekosistem, yakni ekosistem lahan pertanian, singkong.

Penjelasan untuk pola itu disampaikan dengan hati-hati. P. marginatus disebut dikenal luas sebagai hama invasif dengan kemampuan berkembang biak tinggi dan tanaman inang yang beragam, sedangkan P. manihoti dikenal mampu berkembang di sistem tanam yang relatif seragam. Tingginya P. manihoti di Denpasar dan Gianyar diduga berkaitan dengan budi daya singkong yang intensif, sedangkan dominasi P. marginatus di Karangasem mungkin berkaitan dengan tanaman inang yang lebih beragam.

Indeks Margalef, Ukuran Kekayaan Jenis, Rendah di Seluruh Bali

Indeks Margalef mengukur kekayaan jenis, yakni banyaknya spesies dalam satu komunitas dengan memperhitungkan jumlah individunya. Naskah memakai patokan berikut: di bawah 2,5 tergolong kekayaan jenis buruk, 2,5 sampai 4,0 sedang, dan di atas 4,0 baik. Nilai kekayaan jenis kutu putih pada singkong di sembilan daerah Bali hanya 0,368 sampai 0,388, sehingga seluruhnya digolongkan rendah dan relatif seragam.

Rumpun tanaman singkong berdaun rimbun tumbuh di tepi lahan pertanian
Ilustrasi rumpun tanaman singkong di lahan pertanian. [Foto: Knowledge and philosophy/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Angka tertinggi ada di Buleleng, 0,388, dan terendah di Bangli, 0,368. Sekilas, orang bisa mengira Buleleng punya lebih banyak jenis kutu putih pada singkong. Kenyataannya, setiap daerah sama-sama mencatat empat spesies. Yang berbeda adalah jumlah individunya: Buleleng mencatat 2.264 ekor, paling sedikit, sedangkan Bangli 3.496 ekor, paling banyak.

“Variasi nilai Dmg terutama didorong oleh perbedaan jumlah total individu, bukan jumlah spesies,” tulis Made Mika Mega Astuthi, Dicky Marsadi, dan I Wayan Dirgayana. Dmg adalah lambang indeks Margalef dalam naskah. Naskah menjelaskan, daerah dengan kelimpahan kutu putih lebih rendah seperti Buleleng justru mendapat nilai Dmg sedikit lebih tinggi dibanding daerah berpopulasi besar seperti Bangli, sesuai prinsip indeks Margalef yang peka terhadap perbandingan jumlah spesies dan logaritma jumlah individu.

Jumlah individu di daerah lain menurut Tabel 2 adalah Denpasar 3.048 ekor, Gianyar 2.893, Badung 2.841, Karangasem 2.741, Tabanan 2.490, Klungkung 2.476, dan Jembrana 2.338. Rendahnya kekayaan jenis diduga dipengaruhi keseragaman agroekosistem, termasuk jenis tanaman inang, iklim, dan sistem budi daya yang mirip.

Baca juga Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit

Indeks Shannon-Wiener, Ukuran Keragaman, Tertinggi di Jembrana

Indeks Shannon-Wiener menakar keragaman, yang dalam rumusnya ditentukan oleh porsi setiap spesies terhadap seluruh individu. Patokannya di naskah: di bawah 1,5 rendah, 1,5 sampai 3,5 sedang, dan di atas 3,5 tinggi. Menurut Tabel 3, nilainya berkisar dari 0,73 di Bangli sampai 1,22 di Jembrana. Naskah menyimpulkan nilai di semua daerah berada di bawah 1,5 dan menandakan keragaman spesies yang rendah.

Dua indeks lain melengkapinya. Indeks kemerataan mengukur seberapa rata individu terbagi di antara spesies, dengan skala 0 sampai 1, dan nilainya 0,16 sampai 0,24. Indeks dominansi mengukur seberapa kuat satu atau dua spesies menguasai komunitas, dan nilainya 0,32 sampai 0,54. Jembrana mencatat kemerataan tertinggi dan dominansi terendah, sedangkan Bangli mencatat dominansi tertinggi.

Naskah menyebut dominansi di Bangli terutama didorong oleh P. manihoti. Menurut para peneliti, komunitas dengan keragaman dan kemerataan rendah umumnya lebih rentan terhadap ledakan hama, terutama dari spesies yang sangat adaptif dan invasif seperti P. marginatus. Abstrak merangkum komunitas kutu putih pada singkong di Bali sebagai bervariasi antarwilayah, dari yang relatif stabil sampai kurang stabil.

Rasio Varians terhadap Rata-rata Menandai Sebaran Acak Kutu Putih pada Singkong

Sebaran spasial, atau pola letak serangga di lapangan, ditentukan dengan rasio varians terhadap rata-rata dari jumlah kutu putih per unit sampel. Patokannya, rasio di bawah 1 berarti pola teratur, sama dengan 1 berarti acak, dan di atas 1 berarti mengelompok. Hasilnya, keempat spesies menunjukkan pola sebaran acak, dan semuanya ditemukan dari dataran rendah sampai dataran tinggi.

“Sebaran yang luas ini menunjukkan bahwa singkong merupakan inang yang sangat cocok bagi perkembangan kutu putih di berbagai kondisi agroekologi, tanpa hambatan geografis yang tampak membatasi keberadaan spesies,” tulis para peneliti. Penyebaran itu diduga dibantu kemampuan pencar kutu putih lewat angin dan pergerakan hewan, serta aktivitas manusia seperti perpindahan bahan tanam dan perdagangan hasil pertanian.

Kesimpulan praktisnya menyangkut skala pengendalian. “Dominasi kuat P. marginatus dan P. manihoti, ditambah sebaran spasialnya yang luas, menunjukkan bahwa pengelolaan kutu putih di Bali sebaiknya dilakukan pada skala wilayah, bukan lewat intervensi terpisah yang khusus per lokasi,” tulis Made Mika Mega Astuthi dan rekan. Maksudnya, satu kebun yang dibersihkan sendirian tidak menjadi pusat perhatian rekomendasi mereka.

Strategi Pengendalian Hama Terpadu yang disarankan menekankan pengaturan ekologis, pengelolaan habitat, dan upaya pengendalian yang dikoordinasikan lintas kabupaten. Tujuannya, menurut naskah, menekan risiko ledakan hama, menjaga stabilitas agroekosistem, dan memperkecil kehilangan hasil akibat serangan kutu putih pada singkong. Temuan ini disebut sebagai data dasar untuk program pemantauan yang lebih terarah.

Baca juga Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat

Kemerataan dan Dominansi, Dua Angka yang Tercatat Berbeda di Dalam Naskah

Beberapa angka di teks tidak cocok dengan tabelnya sendiri. Bagian hasil menulis indeks Shannon-Wiener 0,66 sampai 1,22, dari Badung ke Jembrana, padahal Tabel 3 mencatat Badung 0,96 dan nilai terendah 0,73 di Bangli. Kemerataan disebut terendah 0,12 di Gianyar, sementara tabel mencatat Gianyar 0,22 dan nilai terendah 0,16.

Bagian pembahasan menyebut Bangli memiliki keragaman terendah dengan H 1,04, padahal angka 1,04 di tabel milik Gianyar. Dominansi disebut relatif tinggi pada kisaran 0,40 sampai 0,54, sedangkan tabel mencatat 0,32 sampai 0,54 dan patokan di bagian metode menggolongkan 0,30 sampai 0,60 sebagai dominansi sedang. Batas kemerataan rendah pun ditulis di bawah 0,30 di pembahasan, tetapi di bawah 0,4 di metode.

Selip lain lebih kecil. Pembahasan merujuk Tabel 1 untuk nilai Margalef, padahal angka itu ada di Tabel 2. Ada dua gambar bernomor 5, dan teks metode merujuk Gambar 2 untuk lokasi penelitian, sementara peta lokasi bernomor Gambar 1. Pola sebaran yang di bagian hasil disebut acak, di pembahasan sempat disebut relatif seragam.

Naskah tidak memuat bagian khusus tentang keterbatasan penelitian. Dari metodenya, sampel diambil sekali di tiap lokasi dalam rentang Juni sampai September 2025, dan tanaman yang diperiksa sengaja dipilih dari yang terserang. Naskah juga tidak melaporkan berapa bagian tanaman di kebun yang terserang, maupun besarnya kerugian panen singkong di Bali.

Karena itu, struktur komunitas dalam kajian ini punya cakupan yang jelas: daftar siapa dan berapa banyak kutu putih pada singkong yang ditemukan di daun tanaman yang sudah terserang, dalam satu kali pengamatan. Istilah itu tidak mencakup luas serangan, besarnya kerugian, maupun naik-turun populasi dari musim ke musim, tiga hal yang memang tidak diukur naskah ini.

Bagikan

Baca Juga

Telur Ulat Grayak di Jagung Gorontalo 92 Persen Diparasit
Hutan Adat Tenganan, Delapan Larangan dan Lima Tingkat Sanksi
24 Isolat Jamur Endofit Nanas Riau, Tujuh yang Mematikan
Kutu Putih Pepaya dan Lapisan Lilin yang Menahan Racun
Makam Tionghoa Bali dan Nisan Tertua Tahun 1838
Prasasti Manukaya dan Mata Air yang Tak Pernah Kering