24 Isolat Jamur Endofit Nanas Riau, Tujuh yang Mematikan

A A

Ilustrasi rumpun tanaman nanas muda di tanah merah pada sebuah perkebunan di Luweero, Uganda. [Foto: Ssemmanda will/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Dua puluh empat isolat. Itu jumlah jamur endofit yang berhasil dibiakkan dari jaringan tanaman nanas di lahan gambut Kualu Nenas, Kampar, Riau.

Tujuh di antaranya mematikan serangga uji. Tujuh belas sisanya tidak membunuh satu ekor pun.

Angka itu dihasilkan empat peneliti Universitas Islam Riau. Mereka Yolma Hendra, Saripah Ulpah, Sulhaswardi, dan Tondi Halomoan.

Laporannya dimuat JPT, Jurnal Proteksi Tanaman terbitan Universitas Andalas, Volume 10 Nomor 1 tahun 2026, halaman 1 sampai 14.

Sasarannya satu hama. Kutu putih nanas bernama Dysmicoccus brevipes, pengisap cairan yang juga menularkan virus layu nanas.

Kerugiannya besar. Satu rujukan yang dipakai menyebut kehilangan hasil 50 sampai 70 persen akibat hama itu.

Daftar Isi
  1. Sepuluh Tanaman, Dua Umur, 24 Isolat
  2. Lima Genus dan 60 Detik Sterilisasi
  3. Tujuh dari 24 pada Uji Pertama
  4. 82 Persen dan LT50 6,4 Hari
  5. 7,1 Kali 10 Pangkat 8 yang Tidak Menjamin
  6. 40 Larva dan Angka yang Tak Bulat

Sepuluh Tanaman, Dua Umur, 24 Isolat

Sampelnya diambil dari sepuluh tanaman nanas. Semuanya tanaman sehat yang berdiri di antara tanaman yang terserang kutu putih.

Dua hamparan dipilih dengan selisih umur jauh. Yang satu berumur sekitar 15 tahun, yang lain sekitar 1 tahun.

Dari tiap tanaman diambil dua bagian. Satu potongan pelepah daun dan satu potongan akar.

Hasilnya timpang menurut umur. Tanaman tua menyumbang 16 isolat, sedangkan tanaman muda hanya 8 isolat.

Timpang pula menurut bagian tanaman. Pelepah daun menghasilkan 17 isolat, sedangkan akar hanya 7 isolat.

Rinciannya empat angka. Pelepah tanaman tua 12, pelepah tanaman muda 5, akar tanaman tua 4, dan akar tanaman muda 3.

Penyebab akar lebih sedikit diduga soal oksigen. Gambut yang jenuh air membuat kondisi hipoksia, yang membatasi pertumbuhan jamur aerob.

Baca juga Fly Ash Batubara di Gambut dan Baris Nol yang Diukur Duluan

Lokasi pengambilannya tercatat sampai koordinat. Titiknya 0 derajat 26 menit lintang utara dan 101 derajat 15 menit bujur timur.

Penelitiannya berlangsung Agustus sampai Oktober 2025. Tempatnya Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau.

Pengambilan sampelnya purposif. Yang dipilih tanaman sehat, bukan tanaman yang sudah menunjukkan gejala serangan.

Dananya dari hibah internal kampus. Nomor kontraknya tercatat lengkap di bagian pernyataan pendanaan laporan tersebut.

Lima Genus dan 60 Detik Sterilisasi

Lima genus ditemukan dari 24 isolat itu. Beauveria, Metarhizium, Trichoderma, Fusarium, dan Aspergillus.

Jaringannya dipotong 0,5 kali 0,5 sentimeter. Sterilisasi permukaannya tiga tahap, masing-masing 60 detik.

Tahapnya berurutan. Alkohol 70 persen, natrium hipoklorit 1 persen, lalu tiga kali bilasan akuades steril.

Media biaknya PDA ditambah kloramfenikol 50 miligram per liter. Inkubasinya pada 26 derajat Celsius selama 4 sampai 7 hari.

Kode isolatnya memuat tiga keterangan. Awalan KN untuk Kualu Nenas, angka untuk umur tanaman, dan huruf D untuk pelepah atau A untuk akar.

Dua genus yang ditemukan sudah lama dikenal sebagai pembunuh serangga. Yang menarik, keduanya justru diambil dari jaringan tanaman yang tampak sehat.

Tujuh dari 24 pada Uji Pertama

Uji saringnya memakai larva ulat hongkong. Serangga model itu dipakai untuk memastikan potensi jamur sebelum diuji pada hama sasaran.

Larvanya instar kelima, panjang sekitar 1,5 sentimeter. Empat puluh larva disebut dipakai untuk tiap isolat.

Kematiannya dicatat selama 7 hari. Larva yang mati disterilkan lalu ditaruh di kertas saring lembap untuk memastikan jamur tumbuh di bangkainya.

Hasilnya terbelah tajam. Tujuh isolat mematikan 33,33 sampai 100 persen larva, sedangkan 17 isolat mematikan nol persen.

Isolat teratas KN1-D27 dari genus Beauveria. Kematian larvanya 100 persen, dan seluruh bangkainya ditumbuhi jamur.

Dua isolat menyusul di angka 80 persen. Keduanya KN1-A09 dari Metarhizium dan KN15-D15 dari Beauveria.

Empat isolat lain berkisar 33,33 sampai 53,33 persen. Mereka KN15-D08, KN15-D19, KN1-A05, dan KN15-A30.

Baca juga Layu Pentil Kakao dan Asam Borat yang Melewati Batas

82 Persen dan LT50 6,4 Hari

Lima isolat berkematian di atas 50 persen naik ke uji kedua. Sasarannya nimfa instar kedua kutu putih nanas dari generasi ketiga di laboratorium.

Suspensinya berkerapatan 1 kali 10 pangkat 8 konidia per mililiter. Satu mililiter disemprotkan pada tiap kelompok berisi 15 nimfa.

Rancangannya acak lengkap dengan empat ulangan. Satu isolat karena itu diuji pada 60 nimfa.

Kematiannya dicatat 10 hari. KN1-D27 tetap teratas dengan kematian 82 persen.

Waktu paruh mematikannya paling singkat. LT50 isolat itu 6,4 hari, artinya separuh nimfa mati pada hari keenam lebih.

Peringkat kedua dan ketiga tidak berubah. KN1-A09 mematikan 71 persen dengan LT50 7,2 hari, KN15-D15 mematikan 66 persen dengan LT50 7,8 hari.

Dua isolat lain jauh tertinggal. Trichoderma KN15-D19 mematikan 46 persen dengan LT50 12,2 hari, dan Fusarium KN15-D08 hanya 6 persen.

Kontrolnya 3 persen. Selisih 79 poin antara kontrol dan isolat teratas itulah temuan pokok laporan ini.

Pemeliharaan serangga ujinya diatur ketat. Kutu putih dipelihara pada 27 derajat Celsius dengan kelembapan 70 sampai 80 persen.

Pengujiannya pada suhu sedikit lebih rendah. Nimfa diinkubasi pada 26 derajat Celsius dengan kelembapan 80 persen.

Nimfa ditaruh di potongan daun nanas bergaris tengah 2 sentimeter. Alasnya kertas saring lembap di cawan petri bergaris tengah 5 sentimeter.

Analisis ragamnya memakai uji Tukey pada taraf 5 persen. Nilai LT50 dihitung dengan analisis probit.

7,1 Kali 10 Pangkat 8 yang Tidak Menjamin

Kerapatan konidia seluruh isolat terpilih tinggi. Angkanya 4,3 sampai 7,1 kali 10 pangkat 8 konidia per mililiter.

Daya kecambahnya juga tinggi. Seluruhnya melampaui 90 persen setelah 48 jam.

Yang tertinggi justru bukan yang paling mematikan. Trichoderma KN15-D19 mencatat kerapatan 7,1 dan daya kecambah 99,1 persen.

Isolat itu hanya mematikan 46 persen nimfa. Sebaliknya KN1-D27 berkerapatan 5,6, lebih rendah, tetapi mematikan 82 persen.

Artinya jumlah spora bukan penentu tunggal. Laporan menyebut enzim perombak kutikula dan metabolit sekunder ikut menentukan keganasan isolat.

Ada pula selisih antara dua serangga uji. Kematian pada kutu putih selalu lebih rendah daripada pada larva ulat hongkong.

Penjelasannya lapisan lilin. Sekresi lilin dan embun madu kutu putih disebut mengganggu pelekatan, perkecambahan, dan penembusan konidia.

Satu isolat anjlok paling jauh. Fusarium KN15-D08 mematikan 53,33 persen larva, tetapi hanya 6 persen nimfa.

Baca juga Padi Lokal Pesisir Selatan Diuji Lawan Wereng Batang Cokelat

40 Larva dan Angka yang Tak Bulat

Ada satu angka yang tidak cocok dengan rancangannya. Metode menyebut 40 larva per isolat, sehingga tiap ekor setara 2,5 persen.

Persentase yang dilaporkan bukan kelipatan 2,5. Angka 33,33, 46,67, 53,33, dan 80 persen baru bulat bila pembaginya 30, bukan 40.

Selisih itu tidak diterangkan di bagian mana pun. Tidak ada catatan bahwa jumlah larva berubah selama percobaan.

Hal serupa terjadi pada uji kedua. Dengan 60 nimfa per isolat, satu ekor setara 1,67 persen.

Angka 82, 71, dan 66 persen tidak bisa disusun dari kelipatan itu. Laporan tidak menerangkan bagaimana angka bulat itu diperoleh.

Ada pula satu simpangan baku yang mustahil. Kematian larva KN1-D27 ditulis 100,00 persen dengan simpangan baku 2,2.

Simpangan baku itu menuntut sebagian ulangan melampaui 100 persen. Nilai maksimum kematian tidak bisa lebih dari seluruh larva yang diuji.

Tanda desimalnya pun berganti di tengah tabel. Tiga baris terakhir Tabel 2 ditulis 0,00 dengan koma, sedangkan empat belas baris sebelumnya 0.00 dengan titik.

Kata kuncinya memuat satu salah ketik. Tertulis Metharizium, sedangkan seluruh badan tulisan menulis Metarhizium.

Satu kalimat simpulannya kehilangan huruf. Tertulis gainst, yang seharusnya against.

Klaim lima genus juga tidak seluruhnya bertabel. Tabel yang ada hanya memuat tujuh isolat entomopatogen, sedangkan genus 17 isolat lain tidak didaftar.

Gambar pertamanya menampilkan nimfa instar pertama. Padahal yang diuji nimfa instar kedua.

Meski begitu, laporan ini memuat bagian yang jarang ada. Keterbatasan penelitiannya ditulis terbuka dalam empat butir.

Butir pertama soal identifikasi. Penentuan jenis jamur baru berdasarkan ciri morfologi, sehingga perlu dipastikan lewat pengurutan ITS rDNA.

Butir kedua soal tempat pengujian. Seluruh uji berlangsung di laboratorium, sedangkan di lapangan ada sinar ultraviolet, suhu berubah, dan hujan.

Butir ketiga soal mekanisme. Cara kerja isolat terbaik belum diperiksa, termasuk aktivitas enzim dan profil metabolit sekundernya.

Butir keempat soal cakupan. Sampelnya hanya dari Kualu Nenas, sehingga pengambilan di gambut Riau lainnya masih diperlukan.

Satu angka terakhir menutup laporan ini. Enam koma empat hari, waktu yang dibutuhkan satu isolat untuk mematikan separuh nimfa, dan angka itu belum diuji di kebun.

Bagikan

Baca Juga

Kentang Cingkariang, Planlet Tumbuh tapi Akarnya Menyusut
Dukun Pandita Tengger dan Tiga Ujian di Gunung Bromo
Baboi Mentawai, Ibu Adat yang Tak Satu Pun Disebut Namanya
Patuntung Ammatoa Kajang dan Haji yang Tak Sampai Mekah
Fly Ash Batubara di Gambut dan Baris Nol yang Diukur Duluan
Kutu Putih Pepaya dan Lapisan Lilin yang Menahan Racun