Cekricek.id — Daun pepaya menguning, batangnya mengerut, dan tanaman itu perlahan mati. Petani menyemprotnya dengan insektisida, tetapi kutu putih yang menempel di sana tetap hidup.
Kejanggalan itu punya penjelasan yang cukup tua. Tubuh kutu putih pepaya berlapis lilin tebal, dan lapisan itu menahan bahan aktif menembus ke dalam.
Serangganya bernama Paracoccus marginatus. Ia tergolong hama pendatang di Indonesia dan menyerang lebih dari 200 jenis tumbuhan.
Sebuah penelitian menguji cara menembus lapisan itu dengan minyak tumbuhan berukuran sangat kecil. Penulisnya tiga orang, dengan Mega Andini sebagai kontributor utama.
Ia bekerja di Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Buah Tropika, Solok, sekaligus di Universitas Andalas. Dua rekannya Eka Candra Lina dan Novri Nelly dari Departemen Proteksi Tanaman universitas yang sama.
Judulnya Toxicity and Developmental Disruption of Piper aduncum Nanoemulsion against Paracoccus marginatus under Laboratory Conditions.
Tulisan itu dimuat JPT, Jurnal Proteksi Tanaman terbitan Universitas Andalas, Volume 9 Nomor 1 tahun 2025, halaman 48 sampai 57.
Daftar Isi
Mengapa Ukuran Tetesan Menentukan Segalanya
Bahan bakunya sirih hutan, bernama ilmiah Piper aduncum. Tumbuhan itu disebut tumbuh melimpah di wilayah Sumatera.
Zat aktifnya bekerja pada saraf serangga. Dillapiole disebut menghambat penerusan impuls di akson, sehingga serangga lumpuh lalu mati.
Persoalannya bukan pada racunnya, melainkan pada jalan masuknya. Lapisan lilin di tubuh kutu putih itulah yang membuat insektisida sintetis pun sulit bekerja.
Di sinilah nanoemulsi masuk hitungan. Partikel berukuran 20 sampai 200 nanometer disebut punya tetesan kecil, mudah dibuat, dan ketersediaan hayatinya lebih baik.
Maksudnya begini secara sederhana. Tetesan yang cukup kecil bisa menyusup lewat lapisan lilin itu, sehingga zat aktifnya sampai ke dalam tubuh serangga.
Pembuatannya memakai teknik emulsifikasi spontan. Fase organik berisi ekstrak dan etanol dengan perbandingan satu banding satu, sebanyak sepuluh persen dari total emulsi.
Fase airnya berisi akuades dan tiga persen Tween 80. Keduanya diaduk 30 menit, lalu fase organik diteteskan ke fase air dan diaduk lagi 45 menit.
Ekstraknya sendiri dibuat dengan maserasi. Daun sirih hutan dipotong satu sentimeter, dikeringanginkan tiga pekan tanpa sinar matahari langsung, lalu diblender dan diayak.
Baca juga Hawar Daun Padi Ditahan Bakteri dari Laut Pasir Bromo
Lima Hari di Laboratorium Bioekologi Serangga
Percobaannya berlangsung Januari sampai Mei 2024. Tempatnya Laboratorium Bioekologi Serangga, Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang.
Serangga ujinya dipelihara lebih dulu. Imago dikumpulkan dari kebun pepaya di Balai Penelitian Buah Tropika, lalu dipelihara pada bibit pepaya berumur empat pekan.
Tiga bibit ditempatkan dalam kurungan plastik berkasa. Ukurannya 30 sentimeter garis tengah dan tinggi 15 sentimeter.
Pemeliharaannya sampai tiga generasi. Yang dipakai untuk pengujian adalah nimfa instar tiga dari generasi ketiga, agar populasinya sehat dan seragam.
Cara pengujiannya sederhana. Daun pepaya muda dipotong empat kali empat sentimeter, dicelup satu menit, dikeringanginkan, lalu ditaruh di cawan petri.
Uji pendahuluannya memakai tiga kadar dan satu kontrol. Kadarnya 0,25 persen, 0,5 persen, dan 0,75 persen, masing-masing enam ulangan berisi sepuluh nimfa.
Uji lanjutannya memakai lima kadar dan satu kontrol. Kadarnya 0,33 sampai 0,99 persen, masing-masing lima ulangan berisi lima belas nimfa.
Yang diamati enam hal. Kematian nimfa, kematian harian, kemunculan imago, jenis kelaminnya, serta nilai LC50 dan LC95.
Delapan Puluh Satu Persen pada Kadar yang Mana
Hasil uji lanjutannya naik bertingkat sesuai kadar. Pada 72 jam, kadar 0,33 persen mematikan 34,45 persen nimfa dan kadar 0,43 persen mematikan 41,12 persen.
Kadar 0,57 persen mencapai 58,89 persen. Kadar 0,75 persen mencapai 70,00 persen, dan kadar tertinggi 0,99 persen mencapai 81,11 persen.
Kontrolnya nol persen di seluruh waktu pengamatan. Pola kenaikannya rapi dan selisih antarkadarnya jelas.
Di sinilah muncul kejanggalan pertama. Kalimat di bagian hasil menyebut kematian tertinggi 81,11 persen terjadi pada kadar 0,75 persen.
Tabelnya menyebut angka yang berbeda. Di sana 81,11 persen jatuh pada kadar 0,99 persen, sedangkan 0,75 persen hanya mencapai 70,00 persen.
Abstrak dan simpulan justru menulis yang benar. Keduanya menyebut 0,99 persen sebagai kadar paling efektif dengan kematian 81,11 persen.
Artinya kekeliruan itu hanya ada di satu kalimat bagian hasil. Namun kalimat itulah yang paling dekat dengan tabelnya.
Kejanggalan kedua ada pada uji pendahuluan. Laporan menyatakan seluruh kadar mematikan nimfa pada kisaran 10 sampai 90 persen.
Tabelnya menunjukkan kisaran lain. Pada 72 jam, angkanya bergerak dari 23,33 persen sampai 80,00 persen, tanpa satu pun menyentuh 10 atau 90 persen.
Baca juga Layu Pentil Kakao dan Asam Borat yang Melewati Batas
Nimfa yang Tak Pernah Menjadi Imago
Temuan yang lebih menarik justru bukan soal kematian. Nimfa yang selamat pun banyak yang gagal menjadi serangga dewasa.
Pada kontrol, 93,33 persen nimfa berhasil menjadi imago. Pada kadar 0,33 persen angkanya turun menjadi 63,33 persen.
Penurunannya berlanjut seiring kadar. Kadar 0,57 persen menyisakan 37,78 persen, kadar 0,75 persen 24,44 persen, dan kadar 0,99 persen hanya 13,33 persen.
Mekanismenya, menurut laporan, menyentuh hormon. Zat aktifnya disebut mengganggu hormon juvenil dan ekdison yang mengatur pergantian kulit serta metamorfosis.
Kutikula serangganya juga rusak. Sistem pernapasannya terhambat, sehingga nimfa gagal berkembang dalam jumlah optimal.
Ada pula efek yang tidak mematikan langsung. Zat aktifnya disebut punya sifat penolak makan dan penolak serangga, sehingga konsumsi nutrisi nimfa berkurang.
Nilai LC50 dan LC95 pada 72 jam masing-masing 0,506 dan 1,222 persen. Angka itu turun dari 0,814 dan 1,950 persen pada pengamatan 24 jam.
Kejanggalan ketiga muncul di sini juga. Kalimat di bagian hasil menulis LC50 sebesar 0,509, sedangkan tabel, abstrak, dan pembahasannya menulis 0,506.
Di Mana Penjelasannya Berhenti
Beberapa hal lain perlu dicatat pembaca. Yang pertama menyangkut kadar zat aktifnya.
Bagian pendahuluan menyebut dillapiole sebagai metabolit sekunder sebanyak 79,35 persen. Bagian pembahasan menyebut minyak atsiri sirih hutan mengandung 43,3 persen dilapiol.
Selisih kedua angka itu lebih dari tiga puluh poin. Laporan tidak menerangkan mengapa keduanya berbeda sejauh itu.
Yang kedua menyangkut jumlah serangga ujinya. Metodenya menyebut lima ulangan berisi lima belas nimfa, sehingga totalnya 75 ekor per perlakuan.
Persentase yang dilaporkan justru tidak pas dengan angka itu. Nilai 81,11 persen, 34,45 persen, dan 58,89 persen baru menghasilkan bilangan bulat bila pembaginya 90, bukan 75.
Laporan tidak menerangkan selisih itu. Tidak ada catatan apakah jumlah ulangannya berubah di tengah percobaan.
Yang ketiga menyangkut nisbah kelamin. Laporan menyebut imago betina lebih banyak daripada jantan dengan perbandingan satu banding tiga.
Tabelnya memberi angka yang berbeda-beda. Pada kontrol perbandingannya sekitar satu banding dua, sedangkan pada kadar 0,99 persen sekitar satu banding sebelas.
Yang keempat menyangkut penomoran tabel. Kalimat tentang nilai LC merujuk Tabel 4, padahal nilai itu ada di Tabel 5.
Hal serupa terjadi pada kemunculan imago. Kalimatnya merujuk Tabel 3, padahal datanya ada di Tabel 4.
Yang kelima menyangkut judulnya sendiri. Bagian cara mengutip di akhir artikel memuat judul yang berbeda dari judul di halaman pertama.
Baca juga Kesesuaian Lahan Alpukat Taeh Bukik dan Kelas N yang Janggal
Laboratorium, Bukan Kebun
Batas penelitian ini disebut peneliti secara terbuka. Seluruh pengujian berlangsung di laboratorium, bukan di kebun pepaya.
Mega Andini dan dua rekannya meminta penelitian lanjutan di lapangan. Yang perlu diuji keampuhannya, kestabilan formulasinya, dan keamanannya bagi organisme bukan sasaran.
Butir terakhir itu yang paling menentukan. Nanoemulsi yang menembus kutikula kutu putih belum tentu berhenti pada kutu putih saja.
Kepadatan populasi hama di lapangan juga belum diuji. Begitu pula pengaruh hujan, sinar matahari, dan suhu terhadap tetesan sekecil itu.
Yang sudah terbukti baru satu hal. Pada kadar di bawah satu persen, nanoemulsi itu mematikan nimfa sekaligus menahan sebagian besar sisanya menjadi dewasa.
Kerugiannya sendiri bukan angka kecil. Laporan mengutip perkiraan di Afrika yang menyebut rata-rata kehilangan hasil 57 persen akibat serangan hama ini.
Kata kuncinya pun memuat satu pengulangan. Mealybug tercantum dua kali di dalam daftar lima kata kunci artikel ini.
Serangga itu juga mengeluarkan embun madu. Cairan itu memicu tumbuhnya embun jelaga yang menurunkan kegiatan fotosintesis tanaman.
Kembali ke daun pepaya yang menguning tadi, lapisan lilin itu tetap ada. Yang ditawarkan penelitian ini adalah tetesan yang cukup kecil untuk melewatinya.















