Rambu Solo, Dua Pemimpin Ritual yang Nyaris Tak Dibedakan

A A

Ilustrasi arak-arakan peti jenazah berhias pada puncak upacara Rambu Solo di Toraja. [Foto: Ansensius/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Cekricek.id — Dua laki-laki berdiri di sebuah upacara kematian di Toraja, sama-sama mengenakan pakaian ritual dan memegang pengeras suara. Pemandu wisata menyebut keduanya tominaa.

Hanya satu dari keduanya yang benar. Yang lain menyebut dirinya gora-gora tongkon, dan ia anggota Gereja Toraja.

Perbedaan itu ditelusuri seorang peneliti dalam sebuah artikel tentang Rambu Solo. Namanya Anna M. Mackowiak, pengajar pada College of Religious Studies, Mahidol University, Nakhon Pathom, Thailand.

Judulnya Christian and Indigenous: Multiple Religions in Contemporary Toraja Funerals. Tulisan itu dimuat jurnal Religions Volume 15 nomor artikel 1112, terbit 14 September 2024.

Bahannya dikumpulkan dalam dua musim lapangan. Yang pertama Agustus sampai September 2017, yang kedua Juli sampai September 2018, di Tana Toraja dan Toraja Utara.

Sepuluh upacara kematian ia hadiri dan pelajari. Lima puluh tujuh orang terlibat sebagai peserta penelitian, dan artikel ini memakai keterangan 22 ahli serta 12 narasumber anonim.

Daftar Isi
  1. Dua Angka: 74,1 Persen dan Kurang dari 1 Persen
  2. Aluk Dilarang, Adat Diizinkan
  3. Tominaa yang Mewarisi, Gora-gora Tongkon yang Kuliah
  4. Kerbau sebagai Kendaraan, Kerbau sebagai Bekal
  5. Yang Merasa Tak Berubah, Yang Melihat Sudah Berubah
  6. Empat Puluh Tiga Kerbau dan Enam Anak
  7. Nama yang Disamarkan dan Batas yang Diakui

Dua Angka: 74,1 Persen dan Kurang dari 1 Persen

Toraja terkenal karena upacara kematiannya, yang berasal dari agama leluhur. Namun penganut agama leluhur itu justru yang paling sedikit jumlahnya.

Data 2023 menunjukkan susunannya. Protestan 74,1 persen, Katolik 17,04 persen, dan Islam 8,06 persen sebagai minoritas terbesar.

Penganut Alukta tidak punya kolom sendiri. Sejak 1969 mereka terdaftar sebagai Hindu, sehingga jumlahnya hanya bisa dibaca lewat angka itu.

Angkanya 4.049 orang di Tana Toraja pada 2023. Di Toraja Utara, statistik pemerintah mencatat nol penganut Hindu.

Gabungan keduanya kurang dari satu persen penduduk Sa’dan. Peneliti menyebut sebarannya yang di pinggiran membuat jumlah pastinya sulit diperkirakan.

Angka nol di satu kabupaten itu dilewatkan tanpa keterangan. Laporan tidak menjelaskan apakah benar tidak ada, atau pencatatannya yang tidak menangkap.

Di sisi lain berdiri gambaran yang jauh berbeda. UNESCO pada 2009 menyebut Aluk Todolo sebagai sistem kepercayaan yang mengatur kehidupan masyarakat Toraja.

Keterangan itu tidak menyebut kehadiran agama dunia di sana. Dua gambaran ini berdiri berdampingan, satu dari sensus dan satu dari lembaga warisan budaya.

Baca juga Ritual Batu Mbah-Mbeh yang Bertahan di Watugaluh

Aluk Dilarang, Adat Diizinkan

Pemisahan itu bermula dari misionaris Belanda. Praktik keagamaan leluhur dibelah menjadi dua kategori yang diperlakukan berbeda.

Yang digolongkan aluk dianggap keagamaan dan dilarang. Yang digolongkan adat dianggap sekadar budaya dan diizinkan berjalan.

Pembelahan itu tidak jatuh merata. Rambu Tuka, ritus yang berorientasi ke timur dan berkaitan dengan para dewa, hampir seluruhnya ditiadakan.

Rambu Solo yang berorientasi ke barat justru dibiarkan. Pendeta Gereja Toraja yang diwawancarai menyebut alasannya karena misionaris tahu upacara itu sangat penting bagi orang Toraja.

Ia menuturkan strateginya kepada peneliti. Rambu Solo tidak dilarang, tetapi sikap Protestan sedikit demi sedikit harus menggantikan makna agama yang lama.

Isinya kemudian diterjemahkan ulang. Orang yang dibaptis diberi tahu agar tidak lagi percaya bahwa roh hewan menemani jiwa manusia ke alam baka.

Yang tidak berubah adalah praktiknya. Ternak tetap dipertukarkan, tetap disembelih, dan pembagian dagingnya tetap berjalan dengan alasan sosial.

Tominaa yang Mewarisi, Gora-gora Tongkon yang Kuliah

Di sinilah dua kedudukan itu bisa dijajarkan. Tominaa adalah imam tertinggi laki-laki dalam agama leluhur.

Tugasnya menyapa para dewa dalam bahasa berhias, memimpin ritual, dan melafalkan nyanyian serta litani dari ingatan. Jabatannya diwariskan, tanpa pendidikan formal.

Gora-gora tongkon menjalankan tugas yang mirip. Keduanya yang ditemui peneliti memimpin pembacaan litani dan menjadi ahli ritus, berpakaian ritual yang khas.

Bedanya pada asal pengetahuannya. Kedua gora-gora tongkon itu belajar filologi bahasa daerah di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Bedanya juga pada agamanya. Keduanya anggota Gereja Toraja, sedangkan tominaa berada di dalam Aluk Todolo.

Keduanya menempatkan diri sebagai pejabat adat, bukan pejabat agama. Karena itu, perpindahan agama seorang gora-gora tongkon dapat diterima luas.

Mereka menyebut diri murid dan pewaris para imam Aluk Todolo. Pada saat yang sama mereka menilai fungsinya bersifat kebudayaan, bukan keagamaan.

Jumlah tominaa sendiri tinggal sedikit. Dua yang diwawancarai peneliti, satu dari Sangalla Utara dan satu dari Masanda, belum mewariskan jabatannya kepada siapa pun.

Satu nama disebut terang di laporan ini, yaitu Tato Dena atau Ne Sando. Ia tominaa yang paling sering difoto, dan ia yakin dirinya termasuk yang terakhir.

Baca juga Dua Gendang Bengkulu yang Sengaja Tak Seketuk

Kerbau sebagai Kendaraan, Kerbau sebagai Bekal

Pertanyaan yang paling sering diperdebatkan menyangkut hewan kurban. Untuk apa sebenarnya kerbau disembelih sebanyak itu.

Tominaa dari Masanda memberi satu jawaban. Menurutnya jiwa hewan kurban mengantar jiwa manusia ke alam baka, jadi hewan itu berfungsi sebagai kendaraan.

Tominaa dari Sangalla Utara memberi jawaban lain. Ia memandang hewan lebih sebagai bekal perjalanan dan persediaan di tempat tujuan.

Perumpamaannya ia sampaikan sendiri. Kalau hendak ke Jakarta atau Makassar, kata dia, orang membawa bekal, sehingga sesampainya di sana persediaannya banyak.

Mantan tominaa yang diwawancarai memberi jawaban ketiga. Ia tidak menyebut kendaraan maupun bekal, melainkan menempatkan orang tua sebagai dewa pertama orang Toraja.

Karena itu, menurutnya, orang tua menerima hewan mahal pada upacaranya. Tiga jawaban itu berdiri berdampingan di dalam satu artikel tanpa dipertemukan.

Guru agama Hindu yang diwawancarai menambahkan keberatan. Menurutnya kerbau bukan syarat, dan penyembelihan mestinya menyesuaikan kemampuan keuangan keluarga.

Seekor babi atau seekor ayam, kata dia, sudah cukup mengantar orang yang meninggal ke puya. Tominaa dari Masanda sependapat soal batas kemampuan itu.

Yang Merasa Tak Berubah, Yang Melihat Sudah Berubah

Perbedaan kedua muncul pada penilaian tentang perubahan. Ketiga tominaa dan mantan tominaa yakin upacara Alukta kebal terhadap perubahan.

Menurut mereka, yang berubah justru upacara di bawah agama baru. Perubahannya berupa pemendekan dan penyederhanaan.

Tominaa dari Masanda menambahkan tuduhan yang lebih keras. Ia menilai kekristenan justru memperkuat tekanan untuk menyembelih banyak dan berbelanja besar.

Guru agama Hindu itu berpendapat sebaliknya. Menurutnya upacara Aluk Todolo sudah tergerus oleh persaingan gengsi yang tidak sehat.

Ia memberi satu contoh yang bisa diperiksa. Ritus yang menurut namanya harus digelar sore hari kini banyak yang dimulai pagi karena jumlah persembahannya terlalu banyak.

Keempatnya sama-sama penganut agama leluhur. Peneliti mencatat perbedaan itu tanpa memutuskan siapa yang lebih tepat.

Satu jabatan bahkan sudah hilang sama sekali. Mantan tominaa itu menyebut to mebalun, imam yang mengurus jenazah, kini sudah tidak ada lagi.

Baca juga Tangis Dilo, Ratapan Fajar Suku Alas yang Kian Jarang

Empat Puluh Tiga Kerbau dan Enam Anak

Satu upacara yang diamati peneliti memperlihatkan semuanya sekaligus. Yang meninggal dan tiga dari enam anaknya anggota Gereja Toraja.

Dua anak lain merantau dan menjadi anggota Gereja Bethel Indonesia. Seorang anak perempuan menikah dengan laki-laki Bugis dan memeluk Islam.

Upacaranya tetap berlangsung besar. Empat puluh tiga ekor kerbau disembelih dan acaranya berjalan dua pekan.

Kesenian tradisi Bugis ikut ditampilkan. Seekor sapi disembelih menurut ketentuan hukum Islam, terpisah dari sembelihan yang lain.

Ibadah Gereja Toraja mendapat waktu dan tempatnya sendiri. Pendeta Gereja Bethel Indonesia juga memimpin kebaktian, di luar dugaan banyak peserta.

Pada upacara keluarga Katolik, susunannya berbeda lagi. Pembacaan litani oleh gora-gora tongkon berjalan berdampingan dengan misa requiem.

Seorang pendeta perempuan Gereja Toraja hadir mendampingi imam Katolik. Ia tidak ikut memimpin karena kebaktian Protestan dan misa Katolik punya tujuan dan kedudukan berbeda.

Anak perempuan Katolik dari yang meninggal menjelaskan alasan belanja besar itu. Ia menyebut orang tuanya sebagai wakil Tuhan yang mampu memengaruhi hidupnya di dunia.

Penjelasan itu hampir sama dengan keterangan mantan tominaa tadi. Garis pemisah antara Rambu Solo Kristen dan Rambu Solo leluhur, tulis peneliti, memang kabur.

Nama yang Disamarkan dan Batas yang Diakui

Ada satu hal yang membuat laporan ini sulit diperiksa ulang. Seluruh narasumbernya disamarkan, termasuk para ahli.

Yang muncul hanya kode. Ada EGT2 untuk ahli kedua dari Gereja Toraja, ada EA1 untuk tominaa dari Sangalla Utara, ada F43 untuk perempuan berusia 43 tahun.

Peneliti menerangkan sendiri perubahan pendiriannya. Semula ia tidak berniat menyamarkan para ahli karena itu bukan kebiasaan peneliti Toraja dan ia ingin tetap dipercaya.

Ia kemudian mengubahnya demi melindungi privasi. Alasannya, tidak semua narasumber ahli itu tokoh publik dengan derajat yang sama.

Akibatnya tetap ada. Satu-satunya ahli ritual yang disebut namanya adalah Tato Dena, dan dengan dia peneliti hanya berbincang, bukan mewawancarai secara mendalam.

Sebaliknya, laporan ini terbuka tentang batasnya sendiri. Peneliti menyatakan tidak membahas sikap umat Islam Toraja karena datanya belum cukup.

Ia juga menyebut kajian tentang keberagaman kekristenan dan keislaman di dataran tinggi Sadan masih diperlukan. Gereja KIBAID yang cukup besar disebutnya nyaris tidak diteliti.

Wawancaranya sendiri sebagian besar berbahasa Indonesia. Untuk tiga ahli ritual lanjut usia, ia mengakui penerjemah tidak bisa ditiadakan.

Di lapangan upacara itu, kedua laki-laki berpakaian ritual tadi tetap berdiri berdampingan. Yang satu mewarisi jabatannya, yang satu mempelajarinya di bangku kuliah.

Bagikan

Baca Juga

Carok Madura, dari Tanah Kapur sampai Pemilihan Kepala Desa
Kesesuaian Lahan Alpukat Taeh Bukik dan Kelas N yang Janggal
156 Atlet Sepak Takraw Pelajar dan Dua Angka yang Berbeda
Tunggu Tubang, Perempuan Pewaris yang Kehilangan Sawahnya
Sasi Lompa Haruku, Dua Puluh Pelanggaran dalam Setahun
Kampung Naga, Larangan Listrik, dan Kampung Kedua Bernama Sanaga