Daftar Isi
Cekricek.id — Cerita Seharuk bukan sekadar lelucon nenek. Kisah itu bekerja sebagai hiburan, pendidikan moral, pengesahan adat, dan kontrol sosial sekaligus. Keempatnya jalan dalam satu kali penceritaan.
Temuan itu ditulis Alviiswari bersama Halimah, Sumiyadi, dan Rudi Adi Nugroho dari Universitas Pendidikan Indonesia. Artikel mereka, Fungsi Sosial dan Nilai Budaya Cerita Seharuk dalam Kehidupan Suku Komering di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Sumatera Selatan, terbit di jurnal Purbawidya Volume 15 Nomor 1 tahun 2026, halaman 85 sampai 100.
Seharuk adalah tokoh cerita rakyat masyarakat Komering. Penuturnya tinggal di sepanjang Sungai Komering, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Kisahnya hidup secara lisan lebih dulu, jauh sebelum dibukukan seorang tokoh lokal. Penuturannya memakai dialek Komering, dengan ekspresi wajah dan gerak tubuh sebagai pelengkap.
Naskah artikelnya diterima redaksi pada 30 Desember 2025 dan direvisi terakhir pada 8 Maret 2026. Artikelnya terbit 10 Juni 2026. Pendekatannya antropologi sastra: cerita rakyat diperlakukan sebagai teks budaya, bukan sekadar teks naratif. Kajian sebelumnya lebih banyak membedah struktur cerita, dan praktik penceritaannya jarang ikut dibaca.
Empat Fungsi Sekaligus

Kerangkanya diambil dari William Bascom. Pada 1954 Bascom menyebut empat fungsi folklor: hiburan, pendidikan moral, pengesahan adat, dan kontrol sosial. Keempatnya ditemukan tim penulis dalam episode-episode cerita Seharuk. Rujukan lainnya James Danandjaja, yang pada 1984 menempatkan folklor sebagai milik kolektif masyarakat.
Fungsi hiburan paling mudah dilihat. Dalam episode Seharuk Jadi Gila, tokoh utama berpura-pura hilang akal agar tidak diangkat menjadi khatib. Ia memperlakukan sepotong batang pisang seperti kuda, dan orang-orang dibuat keheranan. Ia juga mengajak anak-anak bermain rebana di atas makam ayahnya.
Humor serupa muncul di kisah Kulak. Seharuk dan sepupunya ketakutan karena jamur disangka hantu. Adegan semacam itu mencairkan suasana dan menahan pendengar tetap duduk sampai cerita habis.
Fungsi pendidikan moral disisipkan lewat tindakan tokoh, bukan lewat petuah. Pada episode Seluang Buta, halaman 22 buku itu mencatat Seharuk tidak pernah menjawab kasar kepada neneknya. Jawabannya cuma iyu umbai, yang berarti iya, Nek. Mencium tangan nenek, dalam bacaan tim penulis, bukan gestur pribadi melainkan tanda kesantunan yang dijunjung.
Ada pula pelajaran tentang akal budi. Di episode Betoh, sang nenek sengaja membiarkan Seharuk kelaparan sebagai pelajaran hidup. Halaman 53 mencatat kesadaran tokoh itu datang belakangan, setelah rasa lapar bekerja lebih dulu. Yang ia pelajari soal kecukupan, tanggung jawab, dan pentingnya memikirkan hari esok.
Fungsi ketiga pengesahan adat. Struktur sosial Komering masuk lewat tokoh Pasirah, Khatib, Penggawa, dan sistem marga. Halaman 11 dan 14 mencatat Pasirah Kai Pati hendak mengangkat Seharuk jadi khatib, lalu penggawa marga membawanya menghadap. Hierarki adat itu diperkenalkan kepada pendengar tanpa perlu dijelaskan terpisah.
Fungsi keempat kontrol sosial. Di episode Beruk Balak, beruk yang serakah pada pisang mati tertancap kayu, tercatat pada halaman 66. Di episode Tala Balak, Pasirah yang lalim ditaklukkan Seharuk bersama rakyat, halaman 49.
Hukuman dan perlawanan itu punya arah yang jelas. Keserakahan dihukum, kekuasaan yang lalim dijatuhkan, dan pelakunya tidak diberi jalan keluar. Batas moral masyarakat Komering ditegaskan lewat nasib tokoh. Pada episode itu Seharuk sempat diangkat menjadi Pasirah sementara oleh warga.
Baca juga Delapan Puluh Tuturan dari Tiga Video English Speeches
Empat fungsi itu tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurut tim penulis, keempatnya bekerja serentak dalam satu kali penceritaan di ruang keluarga. Klasifikasi Bascom tetap terpakai, tetapi batas antarfungsinya lebih cair dalam praktik Komering. Tokoh Seharuk sendiri diperlakukan sebagai gambaran karakter ideal: sederhana, cerdik, jujur, hormat, dan jenaka.
Enam Nilai yang Berulang
Nilai budayanya dibaca dengan dua alat. Konsep unsur kebudayaan Koentjaraningrat dipakai bersama orientasi nilai budaya Kluckhohn dan Strodtbeck terbitan 1961. Dari dua alat itu muncul enam nilai yang berulang di banyak episode. Nilai-nilai itu dibaca dari tindakan tokoh dan susunan peristiwa, bukan dari pesan penutup cerita.
Nilai pertama ketaatan kepada orang tua. Hierarki keluarga dalam cerita tidak digambarkan sebagai tekanan, melainkan sebagai kedekatan. Ketaatan Seharuk pada neneknya dibingkai sebagai kasih sayang, bukan sebagai kepatuhan yang dipaksakan. Ia menerima nasihat dan keputusan neneknya tanpa perlawanan.
Nilai kedua kerja keras, dan buktinya konkret. Halaman 21 mencatat Seharuk bergegas ke sungai memasang bubu, tangkul, dan kail. Ia mencari seluang buta sampai sore, dan pekerjaan itu menopang hidup mereka berdua. Kerja keras di situ melekat pada masyarakat uluan yang hidupnya bergantung pada sungai.
Nilai ketiga kecerdikan. Berpura-pura gila demi menghindari jabatan khatib termasuk di dalamnya, tercatat pada halaman 11. Kecerdikan itu dibaca sebagai siasat bertahan hidup di tengah keterbatasan, bukan semata tipu daya. Di episode Lukak Bangik, kecerdikan yang sama dipakai untuk memanfaatkan peluang ekonomi.
Nilai keempat solidaritas. Pada episode Tala Balak, harimau, gajah, kancil, monyet, sampai semut ikut bersama Seharuk melawan Pasirah, halaman 48. Perlawanannya kolektif, dan kemenangannya pun bukan milik satu orang. Kebersamaan itu ditempatkan sebagai dasar menghadapi persoalan sosial.
Nilai kelima kesederhanaan. Halaman 32 menyebut Seharuk dan neneknya hanya punya gubuk reot dan hidup apa adanya. Kemiskinan itu tidak digambarkan sebagai aib, melainkan sebagai keadaan yang diterima tanpa keluhan. Hidup sederhana justru dibaca sebagai etos masyarakat pedesaan Komering.
Nilai keenam religiusitas. Halaman 11 mencatat Seharuk mengurus seluruh ritual penguburan ayahnya sesuai tata cara yang benar. Agama tampil lewat tindakan tokoh, bukan lewat khotbah yang diselipkan penutur. Hasriani menilai nilai-nilai dalam cerita itu masih relevan bagi masyarakat Komering hari ini.
Sungai, Lesung, Tala Balak
Simbolnya dibaca memakai kerangka Clifford Geertz terbitan 1973. Kebudayaan diperlakukan sebagai jaringan makna yang harus ditafsirkan, bukan sebagai daftar benda. Lima simbol menonjol dalam cerita Seharuk.
Sungai Komering paling sering muncul dan hampir selalu hadir di setiap episode. Sungai itu tempat mencari ikan, mandi, jalur perahu, sekaligus ruang berkumpul warga. Halaman 23 menyebutnya sumber kehidupan kampung Seharuk. Arusnya dibaca sebagai lambang kesinambungan generasi, kedalamannya sebagai kearifan yang diwariskan.
Baca juga Ketika Prompt Jadi Pelajaran di Kelas Bahasa
Lesung muncul dalam episode Lesung. Halaman 80 sampai 81 mencatat pesan agar lesung itu tidak diberikan kepada siapa pun; gadis yang kelak menumbuknya akan menjadi istri. Lesung dibaca sebagai simbol kesuburan dan peran perempuan.
Burung Kenuai muncul di cerita Anak Pasirah Pitu. Halaman 60 mencatat burung itu bertelur emas setiap hari hingga Seharuk kaya. Kekayaan itu datang setelah ketulusan, bukan setelah keserakahan, dan urutannya tidak pernah dibalik.
Jantung pisang muncul di episode Beruk Balak. Beruk menanam jantung pisang dan menunggu pohon berbuah, tetapi yang datang justru pembusukan. Simbol itu dibaca sebagai peringatan terhadap tindakan yang tidak dilandasi pengetahuan.
Tala balak adalah alat bunyi. Halaman 46 mencatat Seharuk memukulnya, lalu warga berdatangan satu per satu. Alat itu dibaca sebagai simbol pemanggil kebersamaan, sekaligus penanda bahwa kekuatan warga bertumpu pada persatuan.
Dari Kamar Nenek ke Panggung
Konteks penceritaannya berpindah. Mulanya cerita hidup di ruang keluarga, terutama dalam relasi antara nenek dan cucu. Belakangan ia masuk ke sekolah dan acara kebudayaan yang digelar resmi. Pendengarnya pun bukan lagi hanya anak-anak dalam satu rumah.
Usman, 43 tahun, penulis buku cerita Seharuk, menjelaskan asal-usul penceritaan itu dalam wawancara pada 10 November 2025. “Cerita ini disampaikan nenek kepada cucunya sebagai strategi pendekatan dan wujud kasih sayang,” ujarnya.
Ruang penceritaannya kini melebar. Hasriani, 60 tahun, warga Komering yang diwawancarai pada 12 Januari 2026, menyebut cerita itu juga dipakai di sekolah. Guru mengambil peran yang dulu dipegang nenek.
Bentuknya berubah pula. Cerita Seharuk dipentaskan sebagai drama dalam Festival Tunas Bahasa Ibu 2025 di SDN Suko Harjo, OKU Timur. Siswa memainkannya dengan kostum tradisional dan berbahasa Komering di panggung sederhana.
Usman menyebut buku itu yang membuka jalannya. Setelah didokumentasikan, cerita Seharuk diikutsertakan dalam berbagai lomba Festival Tunas Bahasa Ibu. Tradisi lisan itu berpindah medium, dari tuturan menjadi teks lalu menjadi pementasan. Perpindahan semacam itu disebut tim penulis sebagai pergeseran dari tradisi lisan ke tradisi bermedia.
Dua Suara, Satu Buku
Datanya perlu diletakkan pada ukurannya. Wawancara mendalam dilakukan terhadap dua informan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Jumlah itu ditetapkan berdasarkan prinsip kejenuhan data, ketika keterangan yang masuk dinilai sudah berpola. Syaratnya tiga: paham ceritanya, pernah menuturkan atau menyaksikan penceritaan, dan terlibat dalam pelestarian budaya Komering.
Baca juga Maksim Kesantunan yang Runtuh di Kolom Komentar
Sumber teksnya juga tunggal. Seluruh petikan cerita diambil dari satu buku terbitan 2021 karya Nurdin, yang menjadi objek utama penelitian. Buku itu sendiri merupakan hasil pendokumentasian tradisi lisan oleh tokoh setempat.
Maka kesimpulannya berlaku terbatas. Yang terbaca adalah cerita Seharuk versi buku tersebut, ditambah pemaknaan dua penutur yang diwawancarai. Satu kabupaten belum tentu mewakili seluruh masyarakat Komering. Versi lain di kampung lain bisa saja menyimpan urutan peristiwa yang berbeda.
Peneliti lain sudah lebih dulu menyentuh cerita ini. Sunarti, Febriyanto, dan Widodo membahas unsur budaya serta nilai moralnya pada 2021. Ningsih dan timnya membedah tema, tokoh, alur, latar, dan amanat pada 2023.
Yang Belum Terjawab
Tantangan terbesarnya bukan tafsir, melainkan penutur. Hasriani menyebut intensitas penceritaan lisan dalam lingkungan keluarga terus berkurang. Kalau penceritaan berhenti, cerita itu kehilangan ruang hidupnya sebagai folklor yang aktif.
Penyebabnya disebut terang-terangan dalam wawancara. Generasi muda lebih banyak terpapar budaya populer dan media digital. Minat terhadap cerita rakyat dan tradisi membaca menurun, dan pewarisannya ikut melemah.
Dokumentasi menjawab sebagian soal. Buku, pementasan sekolah, dan festival bahasa ibu memperpanjang umur cerita. Tetapi mediumnya berganti, dan relasi antara penutur dan pendengar ikut berganti bersama medium itu.
Justru di situ sisa pertanyaannya. Nenek yang bercerita pada malam hari dan guru yang bercerita di depan kelas tidak menyampaikan hal yang persis sama. Yang satu bicara kepada satu cucu, yang lain kepada satu kelas.
Seharuk sudah berpindah panggung, dan belum ada yang tahu siapa yang akan menuturkannya ketika panggung itu bubar.















