Mantra Nutuk Beham Hanya Dibaca Pemamang di Kedang Ipil

A A

Warga Kutai Kartanegara makan bersama di jalan dalam tradisi Beseprah pada upacara Erau. [Foto: Heri Setiono/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Upacara Nutuk Beham digelar pada masa panen padi gunung, pertengahan April sampai akhir Mei.
  • Pemamang menyalakan pora dan membakar asap sebelum membacakan mantra empat bait.
  • Bahasa mamang yang dipakai hanya dipahami pemamang, tidak oleh warga yang hadir.
  • Empat fungsi mantra disimpulkan, tetapi hanya dua yang diuraikan di bagian pembahasan.
Daftar Isi
  1. Bara Api dan Asap Sebelum Kata Pertama
  2. Mantra Empat Bait yang Terbagi Tiga Bagian
  3. Bahasa yang Hanya Dipahami Pemamangnya Sendiri
  4. Dua Fungsi Dibahas, Dua Lagi Berhenti di Daftar
  5. Informan yang Justru Dilukiskan sebagai Dayak Bahau

Sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, lelaki yang ditunjuk memimpin upacara itu lebih dulu menyalakan pora, bara api yang disiapkan khusus. Di atasnya dibakar asap, sejenis tanaman hutan, untuk memanggil roh nenek moyang dan penghuni rumah kalunggan, sebutan bagi mereka yang sudah meninggal. Baru setelah itu mantra dibacakan, dan orang-orang di Desa Kedang Ipil memanggil lelaki itu pemamang.

Peristiwa itu dicatat Meita Setyawati, dosen Universitas Mulawarman, dalam artikel Analisis Tuturan Mantra Upacara Nutuk Beham Masyarakat Suku Kutai Adat Lawas Desa Kedang Ipil Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur di Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies, Volume 6 Nomor 1 tahun 2023, halaman 25–33. Naskahnya diterima 30 Januari 2023 dan terbit 30 April 2023.

Bara Api dan Asap Sebelum Kata Pertama

Upacara Nutuk Beham digelar setiap tahun pada masa ngattam, yaitu panen padi gunung, dan berlangsung dari pertengahan April hingga akhir Mei. Begitu seluruh warga desa menyelesaikan panennya, upacara pun dimulai. Nama upacaranya sendiri merujuk pada kegiatan menumbuk padi ketan atau beham, prosesi yang menarik orang luar untuk ikut menonton bahkan ikut menumbuk bersama warga sepanjang ritual berlangsung.

Urutan sebelum mantra Nutuk Beham dibacaUrutan sebelum mantra Nutuk Beham dibacaUrutan sebelum mantra Nutuk Beham dibacaUpacara Nutuk Beham, Desa Kedang Ipil, Kutai KartanegaraNgattamselesaipanen padigunungPoradisiapkanbara apidinyalakanAsapdibakartanamanhutanMamangdibacaempat baitmantra4fungsi mantradicatatPeneliti mencatat empat fungsi, tetapi hanya dua yang dibahas di bagianhasil.
Sumber: Meita Setyawati, Analisis Tuturan Mantra Upacara Nutuk Beham Masyarakat Suku Kutai Adat Lawas, Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies, 6(1), 2023, hlm. 25–33. Grafik: Cekricek.id

Selain ungkapan syukur, upacara itu berfungsi sebagai ngasapi, yaitu memberi makan kepada roh-roh yang sudah meninggal. Rangkaian persiapannya mencakup pembuangan bodor, yaitu membuang yang jahat atau kotor yang dilakukan warga. Seluruh rangkaian itu bermuara pada satu bagian yang disebut peneliti sebagai puncaknya, yakni ritual mamang, saat mantra dituturkan dan komunikasi dengan leluhur dianggap benar-benar terjadi.

Yang boleh melakukannya tidak sembarang orang. Penuturnya harus punya garis keturunan dari nenek moyang, atau setidaknya sudah berguru pada orang yang mahir menuturkan mantra. Dalam tradisi Nutuk Beham, penutur itu selalu laki-laki. Warga Kutai Adat Lawas, menurut naskah tersebut, percaya upacara itu menjauhkan mereka dari marabahaya, dan kepercayaan itu bertahan meski secara resmi mereka sudah memeluk agama seperti warga Indonesia pada umumnya.

Baca juga Tuturan Ritual Hapo Ana, Doa Adat Sabu untuk Menyambut Bayi

Mantra Empat Bait yang Terbagi Tiga Bagian

Mantra yang berhasil dikumpulkan peneliti terdiri atas empat bait, yang terbagi ke tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup. Keempat baitnya, menurut catatan itu, sama-sama berisi hal yang berhubungan dengan kekuatan gaib. Jumlah itu yang menjadi seluruh bahan analisisnya, dan tidak ada mantra pembanding dari desa lain yang dikumpulkan, sehingga kesimpulan tentang ciri dan fungsinya bersandar pada satu tuturan saja.

Bentuknya diperiksa sebagai puisi lama. Rimanya asonansi, yaitu pengulangan bunyi vokal, dan susunannya disebut menyerupai pantun. Ketika dituturkan, terdengar pengulangan nada yang naik turun dari mulut pemamang, sehingga yang sampai ke telinga penonton bukan sekadar rangkaian kata melainkan alunan yang naik dan turun mengikuti baitnya.

Empat ciri mantra dirumuskan peneliti dari bahan itu: tersusun dari rangkaian kata berirama dan berima, bersifat lisan serta dianggap sakti, bersifat esoteris yaitu memakai bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicaranya, dan memakai kata-kata yang jarang muncul dalam percakapan sehari-hari karena dianggap sakral serta tidak boleh diucapkan siapa pun selain penuturnya.

Bahasa yang Hanya Dipahami Pemamangnya Sendiri

Bahasa yang dipakai dalam Nutuk Beham memang bahasa Kutai Adat Lawas, tetapi bukan yang dipakai orang berbelanja atau bercakap di rumah. Naskah itu menyebutnya bahasa mamang, dan menegaskan bahwa maknanya hanya dipahami oleh pemamang. Warga Kutai Adat Lawas pada umumnya, termasuk yang hadir dalam upacara, tidak memahami apa yang sedang diucapkan.

Peneliti tetap mencatat bahwa semua bahasa yang dipakai punya arti dan punya tujuan dalam setiap pengucapannya. Kata-kata yang dianggap sakral itu dibacakan dengan keyakinan kuat, dan dipercaya memanggil roh nenek moyang sekaligus penjaga kampung. Yang tidak dijelaskan naskahnya adalah bagaimana arti itu diperoleh peneliti, mengingat penuturnya sendiri disebut satu-satunya yang memahaminya, sementara alat pengumpul datanya hanya catatan, rekaman, terjemahan, dan klasifikasi.

Satu hal lagi dicatat tentang cara warga menjaga adab. Mereka masih memegang larangan meninggalkan makanan atau minuman yang sudah disuguhkan. Bila terburu-buru, tamu harus nyantap lebih dulu, yaitu menyentuh atau mencicipi sedikit suguhan itu. Kalau tidak, sesuatu yang buruk bisa menimpanya, dan orang Kutai Adat Lawas menyebut keadaan itu pahunan. Larangan semacam itu berjalan di luar upacara, di rumah siapa pun, sepanjang tahun.

Baca juga Ritual Kahik Malar Menjemput Jiwa yang Hilang karena Kecelakaan

Dua Fungsi Dibahas, Dua Lagi Berhenti di Daftar

Peneliti menyimpulkan mantra Nutuk Beham punya empat fungsi: sebagai pengendali sosial, sebagai pengingat, sebagai bentuk toleransi, dan sebagai sarana berdoa. Keempatnya disebut di abstrak, diulang di bagian pembahasan, dan ditulis lagi di simpulan. Namun hanya dua yang mendapat subbab tersendiri dengan uraian di bawahnya, yaitu fungsi pengendali sosial dan fungsi pengingat.

Fungsi pengendali sosial diuraikan paling panjang. Mantra dinilai mempererat hubungan antarwarga, terutama bagi yang ikut dalam upacara, sehingga mereka saling menolong. Contohnya diberikan: ketika ada warga tertimpa musibah atau gagal panen, warga lain menggelar bakti sosial. Fungsi pengingat diuraikan jauh lebih pendek, hanya sebagai ajakan hidup berdampingan dan selalu bersyukur setiap selesai panen ladang.

Fungsi toleransi dan fungsi sarana berdoa tidak pernah mendapat subbabnya. Yang ada setelah subbab pengingat justru bagian berjudul hubungan tradisi Nutuk Beham dengan masyarakat Kutai Adat Lawas, yang isinya mengulang hampir kata demi kata paragraf yang sudah muncul di subbab pengendali sosial beberapa halaman sebelumnya.

Informan yang Justru Dilukiskan sebagai Dayak Bahau

Informan utamanya dua orang pemamang dari Desa Kedang Ipil. Yang pertama disebut pria berusia di atas 25 tahun yang sudah menjadi penutur mantra dalam upacara adat Hudoq. Yang kedua pria berusia di atas 50 tahun, sekretaris adat, yang disebut memahami benar adat budaya Dayak Bahau. Keduanya tidak disebutkan namanya, juga tidak disebutkan kapan wawancara terhadap keduanya dilakukan.

Dua keterangan itu janggal untuk penelitian tentang Kutai Adat Lawas. Hudoq adalah upacara tari topeng yang dikenal pada kelompok Dayak di Kalimantan Timur, bukan pada Kutai Adat Lawas, dan Dayak Bahau adalah kelompok tersendiri. Naskahnya tidak menjelaskan mengapa dua penanda itu dipakai untuk melukiskan penutur mantra Nutuk Beham, dan tidak ada bagian lain yang menyinggung hubungan antara kedua kelompok tersebut.

Syarat informan tambahan disusun tujuh butir: aktif berperan dalam upacara dan berusia di atas 25 tahun, tidak cacat wicara serta sehat, bisa berbahasa Indonesia, mengetahui sejarah dan mutu kebudayaannya, bersedia serta punya cukup waktu, bersikap terbuka dan tidak mudah emosi, dan jenis kelaminnya tidak ditentukan. Butir terakhir itu berdiri berdampingan dengan keterangan bahwa pemamang selalu laki-laki.

Baca juga Bahasa Adat Mombesara, Cara Tolaki Melamar lewat Kiasan Kebun

Nama kecamatannya pun tertulis dua cara di naskah yang sama, Kota Bangun pada judul dan Kota Banun pada kalimat pembuka bagian metode. Di luar itu, yang tersisa tetap satu catatan lapangan yang jarang: urutan persiapan sebuah ritual panen, dari bara api sampai bait keempat, ditulis oleh orang yang hadir di tempatnya dan merekamnya dengan telepon genggam sambil menyimak.

Bagikan

Baca Juga

Suku Bajo Torosiaje Hadapi Gempa dengan Rumah Panggung Kayu
Makam Adat Toraja Menyimpan Peringkat Sosial yang Tak Terucap
Tumbuhan Obat Dayak Kenyah, 46 Jenis Dicatat di Malinau
Tujuh Motif Tato Istri Sikerei Dicatat dari Desa Madobag
Perempuan Adat Citorek Menentukan Kapan Padi di Leuit Diambil
Agama Leluhur Diakui, Tari Ritual Mappurondo Dibawakan Pihak Luar