- Sebanyak 46 spesies tumbuhan obat dari 25 famili dicatat di Desa Punan Gong Solok, Malinau.
- Zingiberaceae menyumbang enam spesies, Araceae lima, dan Arecaceae empat spesies.
- Daun dipakai pada 33,3 persen penyebutan, disusul umbi 22,2 persen dan akar 17,8 persen.
- Angka organ tumbuhan pada teks berbeda dengan diagram lingkaran di naskah yang sama.
Daftar Isi
- Zingiberaceae Menyumbang Spesies Terbanyak di Daftar
- Daun Dipetik Lebih Sering daripada Umbi dan Akar
- Umbi Lung Pute Diseduh sampai Airnya Tampak Jernih
- Tiga Tumbuhan Dicampur untuk Keluhan Batu Ginjal
- Angka Daun di Naskah Berbeda dengan Diagramnya Sendiri
- Snowball Sampling Menentukan Siapa yang Ditanya
Etnomedisin adalah sebutan untuk pengobatan yang dijalankan satu kelompok masyarakat dengan bahan dari lingkungannya sendiri, diwariskan secara lisan tanpa resep tertulis. Praktik itulah yang didata sembilan peneliti di Desa Punan Gong Solok, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Hasilnya 46 spesies tumbuhan obat dari 25 famili, dipakai masyarakat Dayak Kenyah untuk keluhan ringan sampai berat.
Pendataan itu ditulis Darius Rupa, peneliti Universitas Borneo Tarakan, bersama delapan rekannya dalam artikel Keragaman dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Suku Dayak Kenyah di Desa Punan Gong Solok, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara di Jurnal Biologica Samudra, Volume 7 Nomor 1 tahun 2025, halaman 18–41. Naskahnya diterima 22 Mei 2025 dan disetujui 20 Juni 2025.
Zingiberaceae Menyumbang Spesies Terbanyak di Daftar
Famili adalah tingkatan pengelompokan tumbuhan yang berada di atas marga, yang menghimpun jenis-jenis berkerabat dekat. Dari 25 famili yang tercatat, penyumbang terbanyak adalah Zingiberaceae dengan enam spesies. Itu famili temu-temuan, kelompok tanaman berimpang beraroma tajam yang di dapur lebih dikenal sebagai jahe, kunyit, dan temulawak.
Di urutan berikutnya ada Araceae dengan lima spesies dan Arecaceae dengan empat spesies. Araceae adalah famili talas-talasan yang berumbi dan bergetah, sedangkan Arecaceae famili palem-paleman, kelompok yang mencakup rotan dan kelapa. Sisanya tersebar merata, masing-masing menyumbang satu sampai tiga spesies saja, sehingga tiga famili teratas itu sendiri sudah mengisi sepertiga daftar.
Alasan Zingiberaceae menempati urutan teratas disebut penulisnya bukan semata khasiat. Tanaman famili ini mudah dibudidayakan, tumbuh di pekarangan rumah sehingga gampang dijangkau, dan pengetahuan tentang cara memakainya diwariskan turun-temurun. Tiga alasan itu, bukan kandungan kimianya, yang mereka sebut lebih dulu dalam pembahasan, dan alasan serupa dicatat pada kelompok etnis lain di Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Batak, dan Lampung.
Baca juga Tari Punan Leto Ditarikan di Setiap Upacara Adat Dayak Kenyah
Daun Dipetik Lebih Sering daripada Umbi dan Akar
Organ tumbuhan yang paling banyak dipakai adalah daun, dengan 33,3 persen dari seluruh penyebutan. Umbi menyusul di 22,2 persen, akar 17,8 persen, dan batang 11,1 persen. Sisanya tersebar pada kulit batang, bunga, buah, biji, dan getah, yang masing-masing porsinya kecil dan hanya muncul pada satu atau dua jenis tumbuhan di seluruh tabel.
Daun menang karena tiga hal praktis: jumlahnya melimpah sepanjang tahun, gampang diolah, dan kandungan kimianya dinilai tinggi. Yang disebut penulisnya adalah flavonoid dan tanin, dua kelompok metabolit sekunder — senyawa yang dibuat tumbuhan bukan untuk tumbuh, melainkan untuk melindungi diri dari serangga, jamur, dan sinar matahari.
Cara pakainya pun paling ringkas. “Daun umumnya direbus dan diminum airnya, ditumbuk dan ditempelkan, atau dijadikan ramuan mandi,” tulis Darius Rupa dan timnya. Tiga cara itu tidak menuntut alat apa pun selain wadah air, dan tidak menuntut tumbuhan itu dicabut sampai ke akarnya, sehingga sumbernya bisa dipanen berulang kali dari pohon yang sama.
Umbi dan akar dipakai untuk keluhan yang berbeda, terutama pencernaan dan pernapasan. Kunyit dan jahe disebut mengandung kurkumin serta gingerol, dua senyawa yang dalam naskah itu digolongkan antiradang sekaligus hepatoprotektif, artinya melindungi kerja hati. Getah pepaya dipakai karena papain, enzim pengurai protein yang dalam naskah itu disebut bersifat antiseptik sekaligus membunuh kuman.
Umbi Lung Pute Diseduh sampai Airnya Tampak Jernih
Tabel utama naskah itu mencatat cara pengolahan satu per satu, dan sebagiannya sangat rinci. Umbi Homalomena cordata, yang disebut warga Lung Pute, dibersihkan lalu diiris kecil-kecil, kemudian diseduh dengan air panas hingga terendam atau sampai airnya tampak jernih. Air seduhan itulah yang diminum untuk mual muntah, luka dalam, ma’ag, sakit kepala, dan masuk angin, lima keluhan sekaligus dari satu umbi yang sama.
Cara yang persis sama berlaku untuk Homalomena gadutensis atau Lung Bala, dengan daftar khasiat yang juga sama. Dua spesies sekerabat itu diperlakukan sebagai satu ramuan oleh warga, meski nama lokalnya dibedakan, dan keduanya sama-sama masuk famili Araceae yang menjadi penyumbang terbanyak kedua di daftar tersebut.
Ada pula yang tidak diminum sama sekali. Batang Amorphophallus muelleri atau Utan Bang dipotong lalu dibuang ke dalam bak air, dan orang yang terkena panu berendam di situ selama lima sampai sepuluh menit. Sementara umbi Alocasia sp. atau Nut Nan diiris tipis lalu direbus dalam bambu sampai mendidih, dan airnya dioleskan ke luka luar memakai kapas setelah dingin.
Baca juga Orang Punan di Longsep, dari Hutan Gaharu ke Buruh Kebun Sawit
Tiga Tumbuhan Dicampur untuk Keluhan Batu Ginjal
Selain pemakaian tunggal, peneliti menemukan praktik peracikan yang menggabungkan beberapa spesies sekaligus. Untuk batu ginjal, yang dicampur adalah Gynura divaricata, Strobilanthes crispus yang dikenal sebagai keji beling, dan Orthosiphon aristatus atau kumis kucing. “Hal ini menunjukkan adanya pemahaman empiris masyarakat terhadap potensi sinergistik antarspesies tumbuhan,” tulis tim itu.
Empiris di sini berarti pengetahuan yang lahir dari pengalaman berulang, bukan dari pengujian laboratorium. Sinergistik berarti campurannya dianggap bekerja lebih kuat daripada jumlah masing-masing bahan bila dipakai sendiri-sendiri. Keduanya istilah peneliti, bukan istilah warga, dan naskah itu tidak menguji di laboratorium apakah anggapan tersebut terbukti pada campuran yang mereka catat.
Keluhan yang paling sering ditangani juga dihitung. Obat luka luar dipegang delapan spesies, sakit perut enam spesies, lalu batu ginjal, ma’ag, dan batuk masing-masing lima spesies. Daftar penyakitnya sendiri panjang: malaria, demam, kolesterol, darah tinggi, kanker, luka dalam, kurap, dan panu ikut disebut di kolom manfaat.
Angka Daun di Naskah Berbeda dengan Diagramnya Sendiri
Dua angka untuk hal yang sama muncul di naskah yang satu ini. Bagian pembahasan menulis daun 33,3 persen, umbi 22,2 persen, akar 17,8 persen, dan batang 11,1 persen. Diagram lingkaran di halaman 28, yang judulnya juga persentase organ tumbuhan, memuat daun 29 persen, akar 21 persen, batang 15 persen, dan umbi 13 persen.
Urutannya pun ikut berbeda. Versi teks menempatkan umbi di posisi kedua, versi diagram menempatkan akar di posisi itu dan menurunkan umbi ke urutan keempat. Kalimat di halaman sebelumnya menambah versi ketiga, dengan menyebut umbi dan daun sebagai dua organ yang paling sering dipakai, tanpa memisahkan keduanya.
Penomoran bagian metodenya juga meleset. Subbab 2.4 diberi judul Teknik Pengumpulan Data, tetapi tiga butir di bawahnya bernomor 2.3.3, 2.3.4, dan 2.3.5, sehingga terbaca seakan masih milik subbab sebelumnya. Isi ketiga butir itu sendiri — studi pustaka, observasi, dan wawancara — tetap utuh dan tidak berubah maknanya karena penomoran tersebut.
Baca juga Enam Simbol Dayak Kayan Dicatat di Satu Desa di Bulungan
Snowball Sampling Menentukan Siapa yang Ditanya
Informan tidak dipilih acak. Peneliti memakai snowball sampling, penentuan narasumber berantai: satu orang ditanyai lebih dulu, lalu dia menunjuk orang berikutnya yang dianggap lebih tahu, dan begitu seterusnya. Syaratnya ditetapkan warga sendiri, yaitu orang yang benar-benar dianggap ahli memakai tumbuhan sebagai obat, bukan sekadar pernah memakainya sekali dua kali.
Untuk tumbuhannya dipakai cara berbeda, yaitu purposive sampling, pengambilan sampel berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan lebih dulu. Kriterianya tiga: tumbuhan itu disebut informan, dinilai bermanfaat, dan mudah dijangkau di sekitar permukiman. Spesimen yang tidak dikenali dikoleksi untuk diidentifikasi di herbarium, dengan rujukan buku, jurnal, dan pangkalan data Plants of the World Online.
Dua cara itu menjelaskan sekaligus membatasi daftar 46 spesies tersebut. Yang tercatat adalah yang diketahui ahli pengobatan dan tumbuh tidak jauh dari kampung, bukan seluruh tumbuhan berkhasiat di hutan Malinau. Naskah itu sendiri menyebut komunitas Dayak di Kalimantan secara umum memakai 58 sampai 133 spesies, jauh di atas angka yang tercatat di satu desa ini.
Penutup naskah itu menempatkan dokumentasinya sebagai bahan untuk dua hal: pelestarian pengetahuan lokal dan pengembangan fitofarmaka, yaitu obat berbahan tumbuhan yang khasiat dan keamanannya sudah lolos uji ilmiah. Yang belum ada pada 46 spesies itu justru pengujian tersebut, dan naskahnya tidak mengklaim sebaliknya.















