Tari Punan Leto Ditarikan di Setiap Upacara Adat Dayak Kenyah

A A

Penari laki-laki Dayak Kenyah berhiasan bulu dan tameng ukir di halaman lamin adat. [Foto: Ezagren/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Tari Punan Leto mengisahkan perebutan seorang gadis oleh laki-laki yang sama-sama menyukainya.
  • Kata punan berarti merebut dan leto berarti perempuan dalam bahasa Dayak Kenyah.
  • Tarian ini berdurasi sekitar 30 menit dan ditarikan tiga orang penari.
  • Busananya berpindah dari kulit kayu ke manik-manik dan iringannya dari sambek ke MIDI.
  • Naskahnya tidak memuat bagian metode dan tidak memaparkan keterbatasan penelitian.
Daftar Isi
  1. Nama Punan Leto Berarti Merebut Perempuan
  2. Tari Punan Leto Dibagi Tiga Adegan dengan Satu Penari yang Kalah
  3. Kirip dan Baing Menandai Pembagian Peran Penari
  4. Busana Kulit Kayu Berganti Manik-manik dan Sambek Berganti MIDI
  5. Tari Punan Leto Berdurasi Sekitar 30 Menit dengan Tiga Penari
  6. Umur Tari Punan Leto Disebut dengan Dua Keterangan Berbeda

Cekricek.id — Tari Punan Leto mengisahkan perebutan seorang gadis oleh laki-laki yang sama-sama menyukainya, dan siapa yang memenangkan pertarungan itu dialah yang akan memilikinya. Namun yang ditonjolkan para peneliti tarian ini bukan kemenangan laki-lakinya, melainkan kedudukan perempuan yang diperebutkan, yang dalam pandangan sosial budaya masyarakat Dayak Kenyah justru sangat dihormati, sementara pertarungan itu sendiri mereka baca sebagai gambaran perjuangan yang harus dilakukan laki-laki Dayak Kenyah.

Pembacaan itu datang dari Gabriella Mening, Rina Martiara, dan Tutik Winarti, yang menuliskannya dalam artikel Punan Leto: Identitas Kultural Masyarakat Dayak Kenyah di JOGED: Jurnal Seni Tari volume 19 nomor 1 edisi April 2022, halaman 85–102. Ketiganya berasal dari Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan tujuan yang mereka nyatakan adalah mendeskripsikan bagaimana tari Punan Leto menjadi identitas budaya masyarakat Dayak Kenyah.

Untuk sampai ke sana, mereka memakai pendekatan sosial budaya dari teori Raymond Williams, yang menurut mereka memiliki tiga komponen pokok, yaitu lembaga budaya, isi, dan efek. Komponen pertama menanyakan siapa yang menghasilkan produk budaya, siapa yang mengontrol, dan bagaimana kontrol itu dilakukan; komponen kedua menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol apa yang diusahakan; komponen ketiga menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan dari proses budaya tersebut. Lokasi yang mereka pilih adalah desa Ritan Baru dan Tukung Ritan, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Nama Punan Leto Berarti Merebut Perempuan

Secara leksikal, tulis ketiga peneliti, kata punan dalam bahasa Dayak Kenyah berarti merebut dan leto berarti perempuan. Secara konotatif, makna tari Punan Leto sebagai merebut perempuan mereka asumsikan bahwa hanya perempuan terpilih yang diperebutkan, dan hanya laki-laki terpilih yang mampu merebut perempuan istimewa tersebut. Alasan penghormatan itu mereka kaitkan dengan keunggulan yang menurut mereka dimiliki perempuan Dayak Kenyah.

“Bagi masyarakat Dayak Kenyah perempuan merupakan seseorang yang sangat dihormati karena memiliki keunggulan seperti mengandung, menyusui, dan merawat keluarga,” tulis Gabriella Mening, Rina Martiara, dan Tutik Winarti di halaman 86 naskah mereka. Kalimat itu diletakkan tepat sesudah penjelasan arti nama tarian, dan menjadi satu-satunya keterangan yang mereka berikan tentang mengapa perempuan ditempatkan sebagai pihak yang diperebutkan di dalam tarian tersebut.

Tariannya sendiri, menurut mereka, adalah tari rakyat yang tidak diketahui secara pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Merang, kepala adat Dayak Kenyah di Desa Tukung Ritan, menyebut kepada mereka dalam wawancara 16 Januari 2018 bahwa tari Punan Leto sudah ada sekitar 33 tahun yang lalu dan berkembang sampai sekarang, sementara kisah mitos yang melahirkannya disebut sudah ada sejak masyarakat Dayak Kenyah masih tinggal di Apo Kayan.

Baca juga Tari Perang Nias Hidup di Gunung Pangilun Sejak 1939

Tari Punan Leto Dibagi Tiga Adegan dengan Satu Penari yang Kalah

Struktur tarinya, yang mereka pecah menjadi tiga bagian, dimulai ketika penari perempuan berjalan ke tengah panggung dengan langkah pelan sambil mengayunkan kedua tangan ke kanan dan ke kiri seperti mendayung. Setelah ia sampai di tengah, dua penari laki-laki masuk dari sisi kanan dan kirinya, melangkah perlahan sambil mengayun kedua tangan ke depan dan ke belakang secara bergantian, menghadap ke depan, beberapa kali melihat ke atas dan ke bawah, pada level sedang dan rendah.

Di bagian pokok, penari perempuan menari dengan gerakan nganjet, memutar tubuh dari level sedang hingga level rendah, sementara kedua penari laki-laki mengelilinginya, mengambil tameng, dan mengeluarkan parang yang digantung di pinggang. Keduanya lalu menirukan gerakan perang dan menyerang, diselingi teriakan penyemangat yang dilakukan bergantian, sampai salah satu terjatuh sebagai tanda kalah, dan yang menang berjalan mendekati penari perempuan lalu mengelilinginya.

Bagian akhir tarian dituliskan jauh lebih ringkas, hanya berupa penari perempuan dan penari laki-laki yang melangkah pelan ke pinggir panggung, perempuan pada level sedang sambil mengayun tangan ke kanan dan ke kiri, laki-laki mengayun tangan ke depan dan ke belakang mengiringinya. Nama-nama geraknya dicatat terpisah, yakni miyei padei, masat keno, dan piling untuk penari perempuan, serta masat keno, pereng, dan mbeceu untuk penari laki-laki.

Di antara nama-nama itu ada pengulangan yang mereka sebut menjadi ciri khas tarian, seperti masat keno yang dipakai mengelilingi penari perempuan dan mbeceu yang seakan menantang lawan, sedangkan pada adegan pokok penari perempuan berimprovisasi dengan membayangkan perempuan yang cantik, anggun, dan lembut, dan penari laki-laki berimprovisasi dengan gerakan lincah, teriakan, serta gerak seperti menggoda penari perempuan.

Kirip dan Baing Menandai Pembagian Peran Penari

Pembedaan peran itu juga dipasang pada benda yang dibawa. Penari perempuan memakai kirip, bulu burung enggang, yang dikenakan pada tangan, sementara penari laki-laki memakai kelembit atau tameng dan baing atau parang, dengan kelembit biasanya diletakkan di tengah panggung sebelum tarian dimulai dan baing diikat pada pinggang penari. Properti itu mereka sebut sebagai penguat karakter sekaligus pembeda gender di dalam tari Punan Leto.

Busananya pun disebutkan satu per satu. Penari perempuan mengenakan ta'a inoq berupa rok panjang, sapei atau baju, tapung atau topi, rompi manik, beteng inoq berupa ikat pinggang manik, seleng atau gelang, anding atau anting, dan uleng inoq atau kalung manik, sedangkan penari laki-laki mengenakan beluko, topi laki-laki, dan uleng atau kalung. Yang justru tidak dipakai adalah rias, sebab tarian ini menurut mereka mengandalkan wajah penari perempuan maupun laki-laki secara natural.

Busana Kulit Kayu Berganti Manik-manik dan Sambek Berganti MIDI

Pada zaman dulu, tulis ketiganya, tari Punan Leto dan kesenian lain dipertunjukkan dengan busana dari kulit kayu yang ditumpuk hingga pipih lalu dikeringkan hingga berwarna oranye dan dijahit menyerupai baju dan rok untuk penari perempuan, sedangkan penari laki-laki memakai celana pendek dan cawat dari bahan yang sama, dan pada masa itu busana yang dipakai untuk tarian juga merupakan pakaian sehari-hari mereka.

Penari Dayak Kenyah mengangkat tongkat kayu di depan lesung berukir pada Tari Tani
Penari Dayak Kenyah mengangkat tongkat kayu di depan lesung berukir pada Tari Tani atau Mecaq Undat. [Foto: Ezagren/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Busana yang dikenakan sekarang, menurut mereka, dibuat dengan kain dan diberi manik-manik yang memiliki gambar dan memiliki arti, sementara musiknya telah memakai media elektronik. Iringan aslinya hanya satu alat, yaitu sambek, yang dalam bahasa Dayak Kenyah berarti gitar Dayak dan biasanya dimainkan laki-laki selama tarian berlangsung, tetapi seiring waktu tarian ini kini bisa diiringi musik MIDI atau Music Instrument Digital Interface.

Di titik inilah naskahnya tidak cocok dengan gambarnya sendiri. Teks menyebut satu-satunya alat musik pengiring adalah sambek, sedangkan gambar keempat yang dipasang di halaman yang sama diberi keterangan alat musik sape Dayak Kenyah dengan sumber foto sebuah akun Instagram, tanpa penjelasan apa pun tentang hubungan antara sambek yang disebut di teks dan sape yang tampak di gambar.

Baca juga Perjalanan Tari Minangkabau: Dari Panggung Adat ke Layar Digital

Tari Punan Leto Berdurasi Sekitar 30 Menit dengan Tiga Penari

Justru di bagian fungsi inilah para peneliti menyebut masyarakat Dayak Kenyah berperan menjadikan tarian tersebut identitas. Dalam pelaksanaan seluruh upacara dan acara adat di desa Ritan Baru dan Tukung Ritan, tulis mereka, tari Punan Leto selalu dipertunjukkan, dan tidak hanya dalam upacara adat, tetapi juga pada acara perkawinan serta acara silaturahmi masyarakat Dayak Kenyah, dengan durasi pertunjukan sekitar 30 menit oleh tiga penari.

“Tanpa masyarakat tarian ini hanya sebuah tarian yang hanya dipertontonkan yang tidak memiliki makna yang dalam atau sebagai penghibur saja yang tidak memiliki kaitan dengan masyarakat Dayak Kenyah,” tulis Gabriella Mening, Rina Martiara, dan Tutik Winarti di halaman 97. Kalimat itu membelokkan arah pembahasan mereka, sebab yang menjadikan tari Punan Leto bermakna bukan bentuk geraknya, melainkan orang-orang yang masih mempertunjukkan, melihat, dan memaknai simbol yang muncul di dalamnya.

Ruang dan waktunya sendiri tidak terikat, sebab menurut mereka tarian ini bisa ditarikan di panggung pertunjukan, lapangan terbuka, ataupun di rumah penduduk, pada pesta panen yang digelar setiap tahun, acara silaturahmi Dayak Kenyah, pernikahan, dan acara lain. Satu yang mereka sebut berulang adalah Mecaq Undat, pesta panen yang digelar pertengahan Mei setelah panen Februari sampai Maret, dan namanya berarti menumbuk padi dalam lesung sehingga menjadi tepung beras.

Tempatnya adalah Amin Bioq atau rumah panjang, yang dulu merupakan tempat tinggal suku Dayak Kenyah dan dibangun dengan gotong royong oleh keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan, tetapi pada masa sekarang tidak lagi dijadikan tempat tinggal melainkan rumah adat dan tempat berkumpul untuk perkawinan adat, pesta panen, pertemuan adat, dan upacara kematian di kedua desa tersebut.

Dua desa itu sendiri dulunya satu. Ritan Baru mekar pada 2013 karena perkembangan penduduk yang pesat sehingga menjadi Ritan Baru dan Tukung Ritan, keduanya mayoritas dihuni Dayak Kenyah Lepo' Tukung, yang menurut para peneliti bercocok tanam padi, sawit, sayur, dan karet, serta membuka lahan dengan gotong royong bernama senuyun, yang hanya diikuti ibu-ibu tanpa paksaan, dan gayeng kuaq, yang wajib diwakili satu anggota keluarga dan biasanya berdenda bila tidak diikuti.

Umur Tari Punan Leto Disebut dengan Dua Keterangan Berbeda

Keterbatasan penelitian ini tidak dipaparkan ketiga penulisnya di bagian mana pun naskah, termasuk di penutup. Naskah itu juga tidak memuat bagian metode yang menjelaskan bagaimana data dikumpulkan, dan meskipun daftar sumber lisan mencantumkan tiga nama, yakni Ajang, kepala adat umum Dayak Kenyah berumur 65 tahun, Merang, ketua adat Desa Tukung Ritan berumur 73 tahun, dan Wen Kedung, penari tari Punan Leto zaman dulu berumur 78 tahun, hanya Merang yang tuturannya dipakai di dalam tubuh artikel.

Beberapa ketidakcocokan lain terbaca langsung di naskahnya. Keterangan Merang bahwa tarian ini sudah ada sekitar 33 tahun yang lalu berdiri berdampingan dengan kalimat bahwa waktu penciptaannya tidak diketahui secara pasti dan dengan asal mitosnya di Apo Kayan; batas umur penari ditulis dari usia remaja hingga orang tua di pendahuluan tetapi dari anak kecil hingga dewasa di pembahasan; nomor Gambar 8 dipakai dua kali; dan kutipan Raymond Williams di dalam teks bertahun 1981 sementara daftar pustaka mencantumkan 1983.

Baca juga Ketua Adat Dayak Desa Dipilih lewat Lelehan Telur Ayam

Yang tertinggal adalah pertanyaan yang tidak dijawab ketiganya. Jika tari Punan Leto disebut tetap dijaga keaslian normanya, sementara busananya sudah berpindah dari kulit kayu ke manik-manik dan iringannya dari sambek ke MIDI, dan satu-satunya penari zaman dulu yang mereka daftarkan tidak dikutip sama sekali, bagian mana dari tarian itu yang sebenarnya dianggap tidak boleh berubah oleh masyarakat Ritan Baru dan Tukung Ritan?

Bagikan

Baca Juga

Ketua Adat Dayak Desa Dipilih lewat Lelehan Telur Ayam
Orang Punan di Longsep, dari Hutan Gaharu ke Buruh Kebun Sawit
Buntang Mamali Mati, Aruh Dayak Deah untuk Membekali Arwah
Film Dokumenter untuk Kesenian Bangreng Sumedang
Tujuh Babak Rapa'i Pulot Geurimpheng, dari Saleum hingga Gambus
Ritual Tiwah Dayak Tomun di Desa Parit, Penghormatan Terakhir Tradisi Kaharingan