Tujuh Babak Rapa'i Pulot Geurimpheng, dari Saleum hingga Gambus

A A

Penabuh berseragam kuning memainkan rapa'i besar dalam pertunjukan Rapa'i Pasee di Aceh. [Foto: Ishak Mutiara/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Rapa'i Pulot Geurimpheng dikembangkan Syekh Yakub Makmur dan Syekh Hasbullah di Kuta Blang, Bireuen, pada 1998.
  • Satu pertunjukan melibatkan sekitar 12 pemain dan tersusun atas tujuh babak, dari saleum pembuka hingga gambus.
  • Tabel usia penelitian mencatat sembilan dari dua belas pemain sebagai anak-anak dan remaja berusia 10 sampai 20 tahun.
  • Para penulis mencatat minimnya dukungan konkret pemerintah daerah sebagai salah satu hambatan.
  • Kesenian ini pernah meraih juara kedua lomba film dokumenter pendek Estafet Budaya Aceh 2019.

Cekricek.id — Pada 1998, Syekh Yakub Makmur dan Syekh Hasbullah berinovasi atas pola pertunjukan Rapa'i Geleng dan melahirkan Rapa'i Pulot Geurimpheng di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Dua puluh tujuh tahun kemudian, peneliti yang mengamati kesenian itu pada Juni 2025 mencatat dua belas pemainnya. Menurut tabel usia dalam penelitian itu, sembilan di antaranya anak-anak dan remaja berusia 10 sampai 20 tahun.

Catatan itu disusun Muhammad Mufadhal, Rika Wirandi, dan Tria Ocktarizka dari Institut Seni Budaya Indonesia Aceh dalam artikel Eksistensi Tradisi Rapa'i Pulot Geurimpheng Di Desa Iembude Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen. Artikel tersebut dimuat Jurnal Musik Etnik Volume 6 Nomor 1 edisi Januari/Juni 2026. Menurut keterangan di halaman pertamanya, naskah itu diterima pada 22 Mei 2026 dan diterbitkan pada 2 Juni 2026.

Penelitian kualitatif ini memakai teori eksistensi Søren Kierkegaard yang membagi keberadaan manusia ke dalam tiga tahap: estetis, etik, dan religius. Lewat tiga tahap itu, para penulis hendak melihat bagaimana Rapa'i Pulot Geurimpheng bertahan. Yang ditelaah adalah keindahan pertunjukannya, tanggung jawab masyarakat untuk melestarikannya, dan nilai religius di dalam praktik pertunjukannya. Lokasi yang dipilih adalah Desa Iembude, sesuai ejaan yang tertulis di paper, yang mereka sebut sebagai tempat asal sekaligus pusat perkembangan tradisi ini.

Daftar Isi
  1. Dua Syekh, Satu Pola Lama, dan Kesenian yang Namanya Berarti Beragam
  2. Tujuh Babak, dari Salam kepada Penonton hingga Gambus yang Paling Ekspresif
  3. Latihan yang Tak Pernah Benar-benar Berhenti, Meski Tidak Rutin Setiap Bulan
  4. Anak-anak dan Remaja di Barisan Rapa'i Pulot Geurimpheng, dan Dua Tabel yang Tak Cocok
  5. Dukungan Pemerintah Daerah yang Minim dan Sebuah Film Dokumenter Juara Kedua

Dua Syekh, Satu Pola Lama, dan Kesenian yang Namanya Berarti Beragam

Kata Geurimpheng, tulis para peneliti, dalam bahasa Aceh berarti “beragam” atau “banyak macam”. Nama itu merujuk pada variasi pukulan, gerakan, dan pola penyajian di dalam pertunjukannya. Menurut bagian pendahuluan artikel, kedua syekh pendirinya mengombinasikan unsur musikal Rapa'i Pulot dengan variasi gerak dan ritme Rapa'i Geurimpheng, sehingga lahir bentuk pertunjukan baru yang lebih dinamis.

Bagian hasil penelitian memberi keterangan yang tidak persis sama. Di sana tertulis bahwa kedua tokoh itu mengintegrasikan unsur tari serta elemen musik dari Rapa'i Kuroeng atau Lekphek, juga pada 1998. Keterangan ini bersumber dari wawancara dengan Edi Suheri, pemain canang rapa'i berusia 41 tahun, pada 12 Juni 2025. Naskah tidak menjelaskan hubungan antara dua versi asal-usul itu.

Dalam wawancara yang sama, Edi Suheri menuturkan kaitan rapa'i dengan Syekh Ahmad Ar-Rifa'i. Tokoh itu adalah pendiri Tarekat Rifa'iyyah yang memakai alat musik sejenis rebana dalam kegiatan zikir dan dakwahnya. Menurut penuturannya, tradisi itu kemudian menyebar ke Nusantara dan berakar dalam budaya Aceh. Rapa'i Geleng, bentuk yang dikembangkan kedua syekh di Kuta Blang, berasal dari Aceh Selatan.

Baca juga Kearifan Smong Diwariskan lewat Nyanyian Ibu di Simeulue

Tujuh Babak, dari Salam kepada Penonton hingga Gambus yang Paling Ekspresif

Satu pertunjukan Rapa'i Pulot Geurimpheng melibatkan sekitar 12 pemain dan tersusun atas tujuh babak. Babak pertama, saleum pembuka, adalah salam penghormatan kepada penonton dan lingkungan sekitar. Babak kedua, saleum syahi, merupakan salam dari penyair kepada penonton yang menandai dimulainya interaksi, disampaikan lewat syair berbahasa Aceh dengan hadih maja atau peribahasa Aceh.

Babak ketiga bernama cakrum, berisi senandung syair berbentuk teka-teki dan gerakan menuju babak tingkah. Babak keempat, tingkah rapa'i, menampilkan perpaduan berbagai macam pukulan rapa'i dengan gerakan tari yang dinamis. Babak kelima diberi nama saman. Pukulan rapa'i berhenti di sini. Para pemain menampilkan gerakan tari bebas tanpa iringan, yang oleh para peneliti disebut memperlihatkan kebebasan ekspresi gerak.

Babak keenam, kisah, berisi syair tentang situasi atau peristiwa tertentu yang bersifat sejarah, religius, maupun sosial. Pertunjukan ditutup dengan babak gambus atau lanie, perpaduan syair, gerak, dan pukulan rapa'i khas Pulot Geurimpheng yang sering menjadi puncak pertunjukan dengan atraksi paling ekspresif. Menurut para penulis, syair sepanjang pertunjukan banyak berisi pesan moral, ajaran agama Islam, nasihat kehidupan, hingga kritik sosial.

“Kesenian ini tidak hanya dipahami sebagai bentuk pertunjukan hiburan semata, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai-nilai religius, sarana interaksi sosial, serta simbol identitas budaya masyarakat setempat,” tulis Mufadhal, Wirandi, dan Ocktarizka dalam kesimpulan. Pada tabel analisisnya, dimensi religius itu mereka wujudkan dalam syair berisi ajaran tauhid, etika Islam, dan pengingat kewajiban kepada Allah SWT, dengan pertunjukan sebagai media dakwah.

Latihan yang Tak Pernah Benar-benar Berhenti, Meski Tidak Rutin Setiap Bulan

Sejak 1998, Rapa'i Pulot Geurimpheng dikenal di Kecamatan Kuta Blang dan menyebar ke sejumlah sanggar. Dua di antaranya adalah Sanggar Rencong Aceh di Desa Iembude dan Sanggar Lonceng Aceh di Desa Pante Pisang. Kesenian ini pernah meraih juara pertama pada Pekan Kesenian Aceh di Banda Aceh dan juara pertama lomba Hari Aksara pada 2004. Prestasi lain diraih di tingkat kabupaten dan provinsi.

“Sejak tahun 1998 hingga saat ini, latihan tidak pernah sepenuhnya berhenti, meskipun tidak dilakukan secara rutin setiap bulan,” tulis ketiga peneliti. Tabel analisis di halaman yang sama mencatat hal yang tidak sepenuhnya selaras dengan kalimat itu: latihan setiap dua minggu sekali di Sanggar Rincong Aceh. Nama sanggar itu pun dieja berbeda dari paragraf sebelumnya dalam naskah yang sama.

Meunasah Jok Surau berkubah hitam dan berdinding putih di Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh
Meunasah Jok Surau berkubah hitam dan berdinding putih di Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh. [Foto: Rachmat04/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)]

Tabel tersebut memasukkan latihan itu sebagai indikator dimensi estetis, bersama pertunjukan pada pernikahan, sunat rasul, dan festival, serta antusiasme penonton lintas usia. Para penulis menggambarkan dimensi ini sebagai penggabungan elemen ritme, gerak, dan suara secara harmonis yang menghadirkan keindahan musikal dan visual. Mereka menempatkan keindahan itu sebagai lapisan pertama keberadaan Rapa'i Pulot Geurimpheng.

Anak-anak dan Remaja di Barisan Rapa'i Pulot Geurimpheng, dan Dua Tabel yang Tak Cocok

Tabel usia dan pekerjaan pelaku merinci komposisi kelompok. Enam pemain berusia 10 sampai 15 tahun, semuanya siswa. Tiga pemain berusia 16 sampai 20 tahun, berstatus siswa atau mahasiswa. Tiga lainnya berusia 21 sampai 40 tahun dan bekerja sebagai petani, pedagang, atau guru. Para penulis membaca keberagaman demografis ini sebagai tanda proses regenerasi yang berkelanjutan.

Di tabel lain, angkanya bergeser. Tabel analisis berdasarkan teori Kierkegaard menulis “6 dari 12 pemain adalah anak-anak dan remaja usia 10-20 tahun”. Angka itu tidak cocok dengan tabel usia di paper yang sama, yang mencatat sembilan pemain berumur 10 sampai 20 tahun. Tabel analisis itu juga mencatat program revitalisasi oleh Sanggar Rincong Aceh sejak 2017. Program itu dimasukkan ke dimensi etik, yakni tanggung jawab kolektif masyarakat untuk melestarikan warisan budaya lewat generasi muda.

Upaya regenerasi sejak 2017 menjadi pokok wawancara dengan T. Syakirun Alim, pemain bak rapa'i berusia 45 tahun. Tiga informan kunci lainnya adalah Edi Suheri, Mutawakkal, dan Jufriandi. Mutawakkal, syeh atau penyair berusia 23 tahun, diwawancarai tentang syair dan antusiasme masyarakat. Jufriandi, tetua desa berusia 53 tahun, memberi keterangan tentang lokasi penelitian dan peran rapa'i sebagai media hiburan dan sosial.

Baca juga Induak dan Anak, Dua Suara di Balik Salawat Dulang

Pada tabel faktor, para penulis mencatat tantangan yang dihadapi para pelaku: pengaruh budaya populer dan digital serta kurangnya dukungan institusional. Ada pula satu catatan pendek bahwa tidak ada yang menguasai seluruh aspek seni. Naskah tidak merinci aspek mana yang dimaksud. Di bagian pembahasan, mereka menulis bahwa tantangan muncul dari pengaruh budaya modern yang mengalihkan minat generasi muda dari kesenian tradisional.

Dukungan Pemerintah Daerah yang Minim dan Sebuah Film Dokumenter Juara Kedua

Faktor kedua yang dibahas adalah pemerintah. Para penulis menyebut dukungan pemerintah sebagai faktor krusial, baik berupa regulasi seperti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 10 Tahun 2014 maupun dukungan sarana, pendanaan, festival, dan lomba. “Namun, minimnya dukungan konkret dari pemerintah daerah menjadi salah satu hambatan yang harus segera diatasi,” tulis mereka. Tabel faktor menambahkan kurangnya pendanaan rutin untuk kelompok seni.

Faktor ketiga adalah masyarakat. Penelitian mencatat antusiasme penonton dari berbagai kalangan, dengan Rapa'i Pulot Geurimpheng hadir di acara pernikahan, sunat rasul, pesta rakyat, dan Pekan Kebudayaan Aceh. Nama ajang terakhir ini tertulis berbeda dengan Pekan Kesenian Aceh di bagian sebelumnya. Di kolom tantangan, para penulis mencatat penurunan apresiasi generasi muda akibat modernisasi dan kurangnya kesadaran akan pentingnya pelestarian.

Faktor keempat adalah media sosial. Rapa'i Pulot Geurimpheng pernah meraih juara kedua lomba film dokumenter pendek Estafet Budaya Aceh 2019. Para penulis menyebutnya sebagai bukti pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan kesenian ini kepada khalayak yang lebih luas. Menurut tabel faktor, media yang sama juga menyebarkan budaya populer yang dapat meminggirkan minat terhadap kesenian tradisional.

Baca juga Tari Perang Nias Hidup di Gunung Pangilun Sejak 1939

Seluruh temuan itu bersandar pada wawancara semi-terstruktur dengan empat informan kunci, pengamatan di satu desa, dan dokumentasi berupa foto, rekaman video pertunjukan, arsip penghargaan, serta catatan lapangan. Pengamatan tercatat pada 10 dan 12 Juni 2025. Di bagian ucapan terima kasih, para penulis menyatakan penelitian mereka “masih memiliki keterbatasan”, tanpa merinci keterbatasan itu satu per satu.

Di Desa Iembude, tempat latihan Rapa'i Pulot Geurimpheng berlangsung, peneliti mencatat satu masjid dan satu meunasah. Meunasah itu dipakai untuk beribadah, Maulid, dan kegiatan sosial. Desa itu juga memiliki satu kantor geuchik, satu taman pendidikan Al-Qur'an, dan satu lapangan untuk voli, bola, dan bulu tangkis. Enam pemain termuda kelompok itu tercatat sebagai siswa.

Bagikan

Baca Juga

Rumoh Aceh Jadi Enam Busana Unisex di Padang Panjang
Nyanyian Te'o Renda Kian Jarang di Peminangan Rote
Kearifan Smong Diwariskan lewat Nyanyian Ibu di Simeulue
Dua Gendang Bengkulu yang Sengaja Tak Seketuk
Tangis Dilo, Ratapan Fajar Suku Alas yang Kian Jarang
Larangan Bermain di Sungai Brantas yang Dilukis Ulang