Cekricek.id — Pada abad ke-16 dan ke-17, ketika Kerajaan Thi terbentuk di Pulau Rote, hampir seluruh penduduk dewasa dikerahkan bekerja di kawasan Termanu di bawah kuasa kolonial Belanda. Yang tua dan yang masih kanak-kanak dikecualikan; sisanya bekerja. Dari kerja itu masuk satu keterampilan yang sebelumnya asing bagi mereka, yaitu menenun dan merenda. Orang Rote memakainya untuk membuat lembar-lembar kain sehari-hari, lalu meneruskannya dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Beberapa abad kemudian kata untuk pekerjaan itu justru menjadi nama sebuah nyanyian yang menentukan sah atau tidaknya sebuah pinangan.
Nyanyian itu bernama te'o renda, dan riwayatnya ditelusuri Philby Tafuakan, Dewi Tika Lestari, dan Jermias Hartes Van Harling dari Program Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri Ambon dalam Te'o Renda: It's History, Meaning, and Function for the Rotenese Community in the Past and the Present, terbit di jurnal Ekspresi Seni Volume 27 Nomor 1 tahun 2025. Secara harfiah te'o berarti perempuan dan renda berarti merenda atau menenun, sehingga gabungannya dibaca sebagai perempuan yang sedang menenun. Temuan pokoknya sederhana dan getir: nyanyian itu kini nyaris tidak lagi terdengar di tempat ia lahir.
Daftar Isi
Abad ke-17: Menenun, Meminang, dan Kerajaan Thi

Jonas Mooy, budayawan sekaligus pemerhati budaya Rote yang diwawancarai tim itu, menjelaskan mengapa nyanyian tenun sampai dipakai untuk urusan pinangan. Menurutnya ketertarikan antara perempuan dan laki-laki Rote sering tumbuh justru saat mereka sama-sama menenun. Filosofinya kemudian diteruskan ke dalam ritual. Perempuan yang menyatukan benang menjadi selembar kain diibaratkan sama dengan yang menyatukan dua orang, dua keluarga, dan dua suku sekaligus. Mooy juga mencatat bahwa orang Rote selalu menghadirkan sastra lisan dalam hampir setiap praktik adat sehari-hari, dan sastra lisan itu cenderung menceritakan proses yang sedang berlangsung, bukan peristiwa yang sudah lewat.
Paul Haning dan Syair yang Hanya Boleh Dibaca Helo
Paul Haning, yang menulis Sastra Rote pada 2017 dan sebuah buku tentang sasandu tujuh tahun sebelumnya, menempatkan te'o renda sebagai warisan seni lisan yang disajikan dalam bentuk teks atau cerita. Ia mencatat syair semacam itu hanya boleh dilafalkan pelantun terpercaya yang disebut helo atau manahelo. Dalam bukunya yang terbit 2020, Haning menambahkan syarat lain: pada masa lalu sebuah pinangan baru diakui bila penyajian te'o renda melibatkan tiga tokoh penerima mahar. Jonas Mooy menyebut ketiganya dengan nama perannya dalam kekerabatan Rote — to'o, nan, dan ama — dan semuanya harus datang dari pihak perempuan, sebab perempuanlah yang dianggap pemilik budaya te'o renda.
Baca juga Watak Tokoh dalam Naskah Hikayat Cekel Wanengpati
Kepercayaan yang mengikat aturan itu keras. Bila ketiga tokoh tadi yang bertindak sebagai helo, rumah tangga baru diyakini akan diberkati; bila mereka digantikan orang lain, rumah tangga itu diyakini akan tertimpa celaka. Haning dan Mooy sama-sama mencatat penyajiannya terbagi tiga bagian besar yang urutannya tidak boleh ditukar: teks pinangan dari pihak laki-laki, teks jawaban dari pihak perempuan, dan teks yang menegaskan mempelai laki-laki diterima sebagai bagian keluarga perempuan. Larik pembuka dari pihak laki-laki berbunyi “Soda mole fai huhuak”, yang berarti selamat pagi, lalu disusul permintaan agar pintu rumah dibuka supaya rombongan boleh masuk.
Helo bukan sekadar penyanyi. Ia sekaligus penyair dan pemetik sasandu, dan pada masa lalu ia pula yang berhak menerima mahar dalam ritual peminangan. Setiap helo punya cara sendiri memenggal teks menjadi bagian-bagian, sehingga jumlah baitnya tidak pernah sama antara satu pertunjukan dan pertunjukan lain. Satu hal yang tidak boleh berubah adalah refrain: helo wajib menyanyikannya bersamaan dengan saat ia memulai bagian teks yang baru. Herman Ledoh, praktisi budaya Rote yang juga diwawancarai, menambahkan bahwa bunyi te'o renda dan petikan sasandu berfungsi sebagai pengumuman bagi kampung bahwa ritual peminangan akan segera dimulai.
Susana Pah, Djony Theedens, dan Sebelas Dawai
Te'o renda tidak pernah berdiri sendiri. Ia hanya boleh dinyanyikan dengan iringan sasandu gong, dan nyanyian itu memang tidak sanggup berdiri tanpa bunyi alatnya. Susana Dorothea Pah, dalam bukunya yang terbit 2001, menurunkan nama alat tersebut dari dua kata: sari yang berarti memetik dan sandu yang berarti bergetar. Djony Theedens memisahkan dua jenisnya dengan tegas. Sasandu biola memakai tangga nada diatonis dengan dawai lebih banyak, sedangkan sasandu gong memakai tangga nada pentatonis anhemitonis do, re, mi, sol, la dengan dawai lebih sedikit dan tabung berdiameter lebih kecil. Habel Edon mencatat jumlah dawai sasandu gong bervariasi, dari lima, tujuh, sembilan, sampai sebelas.
Baca juga Bias Tersembunyi di Soal Ujian Bahasa Inggris Niaga
Di sinilah para peneliti berbeda cara membaca. Agastya Rama Listya, dalam disertasinya tentang musik gong Rote pada 2018, menegaskan sasandu gong memang meminjam susunan tangga nada dari gong Rote, tetapi sumber bunyinya berlainan sama sekali: gong berbunyi dari logam, sedangkan sasandu berbunyi dari dawai yang beresonansi di dalam haik. Herman Ledoh menariknya ke arah lain lagi. Menurutnya organologi sasandu gong justru mencerminkan cara orang Rote menyambung hidup, sebab daun lontar yang dipakai membuat haik juga dipakai sebagai atap rumah, dianyam menjadi nyiru, atau dijadikan wadah air. Bentuk tabungnya sendiri diserupakan dengan wadah penampung nira lontar.
Sri Hastanto, Mantle Hood, dan Nada Tanpa Patokan
Kerangka bacanya diambil dari Sri Hastanto, yang membagi kajian musik daerah menjadi ciri fisik dan ciri nonfisik. Ciri fisik mencakup alat musik, sistem laras, dan bahasa yang dipakai; ciri nonfisik mencakup penamaan, makna, dan fungsi. Mantle Hood merumuskannya lebih lebar, sebagai penelitian objek seni musik dalam wujud gejala fisik, psikologis, estetis, dan kultural. Alan P. Merriam, antropolog yang juga dikutip, menekankan pendekatan antropologis dan menempatkan musik tradisi sebagai sarana komunikasi, simbol budaya, sekaligus norma sosial. Dari kerangka Merriam itulah tim tersebut merinci lima peran te'o renda pada masa lalu: media ritual, media komunikasi, simbol, norma sosial, dan perekat kesatuan.
Hasil pengukurannya menunjuk satu kejanggalan. Sasandu gong dilaras tanpa patokan tangga nada Barat, dan proses pelarasannya sepenuhnya bersandar pada rasa pemainnya. Tabel yang disusun tim itu memperlihatkan tiga narasumber memberi tiga jawaban berbeda untuk nada dasar: Herman Ledoh menyebut As dengan rentang C3 sampai C5, Jonas Mooy menyebut C dengan rentang E3 sampai E5, dan Esau Nalle menyebut Bes dengan rentang D3 sampai D5. Urutan nada pada tiap dawai tetap sama di ketiganya. Yang berbeda hanya titik berangkatnya, dan perbedaan itu tidak dianggap kesalahan oleh siapa pun di sana.
Sebelas dawai sasandu gong dibagi menjadi empat kelompok bernama, menurut catatan Herman Ledoh. Ina Makamu memegang mi, sol, dan la pada dawai satu sampai tiga; Nggasa memegang do dan re; Leko memegang mi dan sol; Anak memegang la, do, re, dan mi pada empat dawai terakhir. Tangan kanan menjangkau dawai satu sampai lima, tangan kiri dawai enam sampai sebelas, dan bunyi petikan itulah yang menjadi acuan nada bagi helo. Karena bagian bini disampaikan lisan dan spontan dengan durasi yang tidak bisa diramalkan, tim itu memakai notasi emik — gagasan yang dikembangkan Floris Schuiling pada 2019 sebagai penyeimbang musikologi pertunjukan.
Baca juga Menilai Sekolah Bukan dari Kerapian Dokumen
Simbol notasinya diambil dari benda-benda Rote sendiri. Lambang instrumen dibentuk menyerupai haik sasandu dengan empat garis sesuai empat nama kelompok dawai tadi. Bini pertama, pinangan dari pihak laki-laki, digambarkan seperti topi tradisional Rote beserta lambang menangkap ikan dan bertani. Bini kedua memakai tiga titik yang mewakili tiga batu tungku dan sebuah persegi panjang yang mewakili kain hasil tenun, keduanya menandai peran perempuan. Bini ketiga memakai segitiga yang berarti rumah, tanda kedua pihak siap masuk ke tahap berumah tangga dengan menggabungkan penghidupan masing-masing. Notasi emik hanya dipakai pada bagian bini, sebab refrainnya sudah punya patokan tetap.
Masa Kini: Helo Digantikan Juru Bicara
Yang dulu wajib kini kerap dilewati. Jonas Mooy menuturkan masyarakat Rote sekarang cenderung menghilangkan penyajian te'o renda dari ritual peminangan, karena rangkaiannya dianggap terlalu rumit sementara penabuh sasandu dan helo semakin sedikit. Peran helo digantikan seorang tetua yang ditunjuk sebagai juru bicara. Prosesi pinangannya lalu menyusut menjadi sekadar penyampaian maksud dan tujuan, tanpa isi dan fungsi yang dulu melekat padanya. Mooy menyebut tiga sebabnya: pewarisan yang tidak berjalan, minat anak muda yang rendah pada budaya sendiri, dan pengaruh budaya luar terhadap tradisi setempat.
Esau Nalle, praktisi budaya Rote, menambahkan bahwa te'o renda justru melebar ke acara lain: penyambutan tamu, ritual syukuran, sampai lomba kesenian. Pemilihan pemain sasandu gong dan helo tidak lagi terikat aturan lama, dan teksnya kini disesuaikan dengan acara yang sedang berlangsung. Satu jalan pelestarian yang ditempuh adalah memasukkannya ke ruang pendidikan. Tim itu mencatat konsekuensinya dengan jujur: semakin luas konteks pemakaiannya, semakin pudar sifat sakral yang dulu melekat pada nyanyian tersebut. Dua paradigma itu, kata mereka, berdiri berhadapan — yang dulu eksklusif dan terbatas, yang sekarang terbuka dan lentur.
Tim itu menyatakan kajiannya masih menyimpan keterbatasan yang perlu dibenahi, dan mendorong penelitian lanjutan atas sasandu gong, te'o renda, serta musik tradisi lain dengan penerapan notasi emik. Batasnya memang terlihat. Kesimpulan tentang pergeseran makna bersandar pada wawancara dengan tiga praktisi di satu pulau, dan contoh notasi berskala Bes hanya berlaku sebagai ilustrasi karena pelarasannya sendiri bersandar pada rasa. Riset sebelumnya menempatkan sasandu gong pada ritual syukur panen, seperti kajian Reineldis Doa dan kawan-kawan, atau pada kedudukan sasandu dalam kehidupan desa, seperti tulisan Augusta De Jesus Magalhaes. Kajian ini menambahkan satu mata rantai yang belum diisi keduanya.
Mata rantai itu adalah apa yang terjadi sesudah ritualnya sendiri ditinggalkan. Uftiyah Ganozhy Usman pernah melacak bertahannya musik suling bambu di Siulak Mukai sepanjang 1998 sampai 2021, dan Irena Andina Putri Nst menelusuri pewarisan nyanyian onang-onang. Te'o renda kini berada di titik yang berbeda dari keduanya: alatnya masih ada, penabuhnya masih hidup, tetapi tempatnya di dalam adat sudah kosong. Sebelas dawai itu masih bisa dipetik dan tiga batu tungku masih ada di dapur Rote. Yang mulai hilang adalah orang yang tahu larik mana harus dinyanyikan lebih dulu, dan keluarga mana yang berhak menyanyikannya.















