Lakon Wisran Hadi Dipindahkan ke Film Lewat Kaba

A A

Ilustrasi orang-orangan sawah berdiri di tengah petak sawah yang menghijau. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Lakon Wisran Hadi pindah ke film lewat kaba dan bahasa Minang. Perubahannya dimulai pada menit pertama film. Yang dipertahankan justru tema dan alurnya. Sisanya dibongkar.

Kajian itu dikerjakan Topan Dewa Gugat dan Vickrie Ardy dari Politeknik Bina Madani, Gangga Lawranta dari Institut Seni Indonesia Denpasar, serta Vereki Martiano dari Universitas Putera Batam. Judulnya The Ecranisation of the Wayang Padang Play Script by Wisran Hadi into a Film Script. Terbit di jurnal Ekspresi Seni Volume 27 Nomor 1 tahun 2025.

Ekranisasi berarti pemindahan karya sastra ke layar. Pamusuk Eneste menyebutnya bentuk resepsi pembaca yang melahirkan karya baru. Penambahan dan pengurangan hampir selalu terjadi di dalamnya, sebab sistem sastra dan sistem film memang tidak sama.

Wayang Padang adalah lakon panggung. Ia pernah dipentaskan Bumi Teater Padang, kelompok yang didirikan Wisran Hadi sendiri. Lakon itu bercerita tentang ancaman perpecahan di balik kesemrawutan politik, tarik-ulur undang-undang, dan hukum yang tebang pilih.

Daftar Isi
  1. Boneka dan Dalang
  2. Sawah yang Dijual
  3. Burung Pembawa Kabar
  4. Kaba Menggantikan Nyanyian
  5. Dialog Pindah ke Minang
  6. Yang Belum Dijawab

Boneka dan Dalang

Ilustrasi pertunjukan wayang dengan boneka kayu di atas panggung kecil.
Ilustrasi pertunjukan wayang dengan boneka kayu di atas panggung kecil. [Foto: Pexels]

Semua tokoh dalam lakon itu boneka. Manusia yang ada pun dibuat berlaku seperti boneka. Yang menggerakkan mereka sebuah sistem, dan sistem itu bernama kekuasaan. Dari sinilah kekuasaan menjadi tema pokok penciptaan filmnya, dan bukan adat atau percintaan seperti yang biasa diduga orang tentang lakon Minangkabau.

Kesimpulan itu ditarik dari dialog pembuka. Di sana sesama orang-orangan sawah saling menegaskan status masing-masing di hadapan burung. Mereka sadar hanya bisa bergerak bila ada orang yang menggerakkan, persis seperti wayang di tangan dalang.

Keluhan itu diteruskan sampai satu titik getir. Gerakan yang mereka lakukan sendiri, kata mereka, pasti akan dianggap didalangi orang lain. Maka bergerak dan diam sama-sama tidak menyelesaikan apa pun bagi mereka. Kebebasan yang mereka miliki habis pada kekuasaan orang lain atas tubuh mereka.

Orang-orangan sawah digolongkan sebagai tokoh teatrikal, yaitu karakter yang tidak wajar dan bersifat simbolis. Golongan itu diambil dari pembagian Rikrik El Saptaria atas empat jenis watak dalam lakon. Tiga sisanya adalah watak datar, watak utuh, dan watak karikatural.

Untuk membedah struktur dramatiknya, pengkarya memakai buku The Architecture of Drama karya David Letwin, Joe Letwin, dan Robin Stockdale. Buku itu menekankan bagaimana unsur struktural drama dirangkai menjadi rancangan yang sistematis. Cara bacanya dilengkapi pendekatan dekonstruksi, yang menuntut muatan filosofis sebuah teks dilacak lebih dulu.

Sawah yang Dijual

Konflik intinya soal tanah. Penghulu hendak menjual sawah warisan karena didesak utang yang menumpuk. Perempuan penunggu sawah menolak keras, dan penolakan itu berlangsung sepanjang lakon tanpa pernah dicabut. Sawah itu satu-satunya lahan yang bisa mereka wariskan.

Baca juga Prasasti Prasi A dan Umur Desa Dawan di Klungkung

Dalam adat Minangkabau, harta pusaka tinggi diwariskan lewat garis ibu. Penghulu semestinya membimbing kemenakan, bukan menjual pusakanya. Pengkarya membaca tokoh itu sebagai penghulu yang sengaja dibelokkan Wisran Hadi dari hakikatnya, menjadi penguasa yang memakai jabatannya untuk keuntungan sendiri.

Sahrul N, anggota Bumi Teater yang meneliti pertunjukan ini untuk disertasinya di Institut Seni Indonesia Surakarta, mencatat kasus penghulu menjual harta pusaka memang sering terjadi ketika Wayang Padang dipentaskan. Penghulu semacam itu, tulisnya, sangat dibenci kemenakannya sendiri. Kasus semacam itu bukan rekaan panggung.

Adat menyediakan tiga pengecualian saja. Pusaka baru boleh dijual bila gadih gadang tak balaki, rumah gadang katirisan, atau bilo adaik ndak tagak. Keputusannya pun tetap harus lewat musyawarah, bukan kehendak satu orang. Penghulu dalam lakon itu melewati ketiganya sekaligus.

Perempuan penunggu sawah karena itu ditempatkan sebagai protagonis. Ia bertahan pada adat dan pada martabatnya sebagai perempuan Minangkabau. Dalam adat itu ia dituntut mewariskan pusaka kepada keturunannya, sehingga penolakannya bukan sekadar kekerasan hati pribadi.

Burung Pembawa Kabar

Burung-burung dalam lakon itu tokoh pelengkap. Mereka datang membawa berita dari luar dan sekaligus menghasut penghuni sawah. Pengkarya membacanya sebagai perumpamaan media zaman sekarang. Mereka digambarkan menghalalkan segala cara agar tetap hidup, tanpa memedulikan kerugian orang lain.

Percakapan mereka dengan orang-orangan sawah berputar pada satu tuduhan. Burung dianggap datang untuk mencuri padi, sementara sawah yang dijaga sudah lama tidak berpadi. Yang tersisa hanya tanah gersang, dan keluarga petani di sana malah menerima beras bantuan.

Orang-orangan sawah akhirnya tidak mempercayai kabar mereka sama sekali. Burung menjawab bahwa kabar tetap kabar, entah disebut isu, trik politik, atau gosip artis. Perdebatan itu berhenti tanpa satu pihak pun menang. Dari adegan itulah burung disimpulkan berperan ganda, sebagai pembawa berita sekaligus tukang hasut.

Sumber bacaan filmnya dikumpulkan dari dua tempat. Pengkarya menonton rekaman pertunjukan Wayang Padang yang diunggah kanal Nazrul Azwar pada 17 November 2017. Sumber kedua berasal dari arsip pribadi Sahrul N, anggota Bumi Teater. Selain itu dibaca pula berita, ulasan, kritik, dan disertasi tentang pertunjukan tersebut.

Adaptasi semacam ini punya pembanding di luar Indonesia. Akira Kurosawa menyatakan ia mengagumi Macbeth ketika membuat Throne of Blood pada 1957, meski tidak satu baris pun dialog Shakespeare dipakainya. George Bluestone justru menilai banyak film adaptasi melemahkan karya sastra yang menjadi acuannya.

Baca juga Sudah Punya Rekening, Belum Tentu Terlayani

Baz Luhrmann memilih jalan sebaliknya pada 1996. Ia memindahkan Romeo and Juliet ke latar abad modern, tetapi kekuatan dialog Shakespeare dipertahankannya utuh. Roman Polanski, yang justru banyak memakai larik puisi Shakespeare, malah dianggap menyimpang dari teks aslinya.

Kaba Menggantikan Nyanyian

Lakon aslinya dibuka dengan nyanyian. Perempuan penunggu sawah turun dari tangga dangau, menarik tali berkaleng, dan burung-burung terbang. Ia lalu menyanyi sendu sambil berjalan menyusuri pematang dan mengusir burung dengan gerakan tangan yang berirama.

Nyanyian itu dibawakan seperti membaca puisi. Isinya perintah menjauh kepada burung, hama, murung, duka, bingung, dan dusta. Orang-orangan menyambung irama itu dengan larik tentang penjarah dan pengabur sejarah, sambil digerakkan para pemain seperti wayang.

Dalam skenario, pembuka itu diganti kaba. Dua tukang kaba muncul di hamparan sawah subur yang lalu beralih ke suasana pasar yang ramai. Mereka menceritakan negeri ini kepada penonton dalam pantun berbahasa Minang yang panjang.

Fungsinya seperti dalang yang membuka pertunjukan wayang. Pengkarya memilih kaba sebagai penanda identitas Minangkabau di dalam filmnya. Lewat kaba itu pula pikiran penonton digiring masuk ke alur yang sudah disiapkan. Yang pertama terdengar dalam film bukan nyanyian perempuan, melainkan suara tukang kaba.

Latarnya ikut bergerak. Di antara orang sawah yang berjualan, menabuh alat musik, dan menumbuk padi, tampak penghulu yang panik menatap ponselnya. Utang sudah mendesaknya sejak adegan pertama, jauh sebelum ia membuka mulut. Penonton diberi tahu motifnya sebelum diberi tahu namanya.

Dialog Pindah ke Minang

Bahasa dialog diubah seluruhnya ke bahasa Minang. Alasannya agar isu dan gagasan budaya di dalamnya terasa dekat bagi penonton. Pengkarya menyebut bentuk garapannya mengacu pada gaya French New Wave, dengan bahasa verbal Minang sebagai pintu masuknya.

Adegan demonstrasi orang-orangan sawah menjadi contoh yang paling terang. Mereka menghadang perempuan penunggu sawah dan menyatakan sedang berdemo damai. Alasannya mereka bosan dipakai hanya untuk menakut-nakuti, padahal tidak bisa menangkap atau menghukum siapa pun.

Dalam naskah aslinya kalimat itu berbunyi “Kami tidak mau lagi jadi orang-orangan.” Larik yang sama ditulis ulang dalam bahasa Minang di skenario filmnya. Keduanya kutipan dari karya, bukan ucapan seseorang kepada wartawan. Bunyinya berubah, tuntutannya tidak.

Jawaban perempuan penunggu sawah dipertahankan nadanya. Ia menuduh mereka sudah dipengaruhi orang lain dan justru sedang didalangi. Lalu ia menantang mereka berdiri di atas kaki sendiri, sambil mengingatkan bahwa mereka bahkan tidak punya kaki.

Baca juga Makian Warganet Diukur dengan Pasal 27A UU ITE

Nyanyian perempuan penunggu sawah juga berubah bentuk. Di naskah asli ia dibaca seperti puisi tentang bumi yang berpeluh disiangi petani. Di skenario ia menjadi dendang berbahasa Minang, dengan larik yang sama tetapi bunyi yang berbeda.

Yang Belum Dijawab

Tema dan alur sengaja tidak diubah. Pengkarya ingin karakteristik Wisran Hadi tetap terasa di dalam filmnya. Yang diubah hanya empat hal: pembuka cerita, bahasa yang dipakai, latar waktu, dan bagian penutup. Empat itu pula yang menjadi isi laporan penelitiannya.

Alurnya tetap linear, dengan awal, tengah, dan akhir. Yang ditambahkan hanya prolog berupa kaba di bagian depan. Latar tempatnya tetap sawah, yang dalam film itu dipakai sebagai analogi sebuah negara dan sebagai panggung imajinasi.

Di Indonesia ekranisasi bukan hal baru. Kajian atas novel Balada Si Roy karya Gol A Gong menunjukkan perubahan besar pada tokoh dan alur ketika difilmkan. Hal serupa ditemukan pada novel Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia, yang alur, tokoh, dan latarnya bergeser di layar.

Ending film dipilih menggantung. Penonton tidak diberi penyelesaian dan harus menafsirkan sendiri akhir ceritanya. Pilihan itu dimaksudkan memancing pikiran kritis, bukan menutup cerita dengan rapi. Dua pilihan lain, akhir bahagia dan akhir getir, sengaja ditinggalkan.

Penelitiannya mengakui satu hal belum tuntas. Menjaga esensi budaya dan pesan moral naskah asli tetap menjadi tantangan ketika karya itu disesuaikan dengan penonton masa kini. Tantangan itu disebut sebagai temuan, bukan sebagai perkara yang sudah dipecahkan.

Batas kajiannya juga perlu dicatat. Ia bertumpu pada satu lakon dan satu proses penciptaan, serta tidak mengukur bagaimana penonton menerima filmnya. Satu naskah juga bukan seluruh teater Minangkabau. Bagian ending baru pun dibicarakan sebagai pilihan bentuk, tanpa teks skenarionya ditampilkan.

Di sawah gersang itu orang-orangan menuntut berhenti didalangi. Yang kini menggerakkan mereka sebuah kamera, dan tuntutan tadi tetap dibiarkan tanpa jawaban sampai layar padam.

Bagikan

Baca Juga

Lakon Wayang Padang Wisran Hadi Diubah Jadi Skenario Film
Botol Jamu yang Berpindah Arti dalam Abadi Nan Jaya
Marsha Timothy Ajak Nonton Ayah Aku Mau Cerita
Konflik Iman Kakure Kirishitan di Film Silence
Film Harusnya Puncaki Penonton Terbanyak di Hari Pembuka
Noah Centineo Ungkap Alasan Batal Perankan He-Man