Cekricek.id — Francisco Garupe melihat umat Kristen yang ia layani ditenggelamkan oleh aparat, dan ia berenang ke arah mereka. Bukan hasil perhitungan. Dua peneliti yang membedah adegan itu menyebutnya respons moral yang naluriah, didorong empati, bukan penalaran strategis. Dalam Silence (2017), berenang itu menjadi tindakan terakhirnya. Kematian pastor Portugis tersebut mereka baca sebagai kemartiran dalam pengertian yang paling tradisional, sekaligus satu dari tiga jawaban yang sangat berbeda atas satu tekanan yang persis sama.
Pembacaan itu dikerjakan Hanna Fauziyyah dan Rima Devi, keduanya dari Universitas Andalas, Indonesia, dalam artikel berjudul Faith, Apostasy, and Inner Conflict of Kakure Kirishitan in Martin Scorsese’s Silence (2017): A Literary-Historical Analysis. Artikel itu terbit di Andalas International Journal of Socio-Humanities Vol. 7 No. 2, tahun 2025. Objek yang mereka periksa cuma satu film, garapan Martin Scorsese, hasil adaptasi novel Chinmoku karya Endo Shusaku. Fokusnya tiga pastor Portugis: Cristóvão Ferreira, Sebastião Rodrigues, dan Garupe.
Metodenya deskriptif kualitatif. Keduanya memakai analisis sastra intrinsik dengan penekanan pada psikologi sastra, yakni pendekatan yang membaca pergulatan batin tokoh lewat dialog, tindakan, dilema moral, dan respons emosionalnya di dalam narasi. Analisis mise-en-scène — penataan segala unsur yang tampak di dalam bingkai kamera, dari pencahayaan, kostum, latar, sampai akting — dipakai sebagai penopang. Datanya dikumpulkan lewat menonton film berulang kali dan membaca dekat adegan serta dialog yang berkaitan dengan konflik iman dan penganiayaan.
Seorang guru yang lebih dulu menginjak, dan seorang murid yang menyusul jejaknya kemudian
Ferreira lebih dulu. Ia digambarkan sebagai misionaris senior yang justru karena keberhasilannya menyebarkan agama memancing balasan yang jauh lebih keras dari otoritas Jepang. Penangkapannya, tulis kedua peneliti, bukan sekadar hukuman fisik melainkan awal dari krisis psikologis yang panjang. Film itu berulang kali menekankan bahwa penderitaan Ferreira tidak berhenti pada tubuhnya sendiri. Yang menghancurkannya justru pemandangan lain: orang-orang Kristen Jepang disiksa karena menolak melepas iman mereka di depan matanya. Penderitaan orang lain itulah, menurut keduanya, yang menjadi inti krisisnya.
Dari sudut psikologi sastra, konflik batin Ferreira lahir dari dilema etis antara kesetiaan pribadi dan tanggung jawab kolektif. Pilihannya disodorkan dalam bentuk yang paling tragis: mempertahankan iman berarti penyiksaan dan kematian terus berlanjut bagi orang-orang tak berdosa, sementara murtad berpotensi menyelamatkan nyawa mereka. Ketegangan moral itu, menurut analisis keduanya, terbaca pada ekspresi wajahnya, tubuhnya yang gemetar, dan momen-momen ketika ia runtuh secara emosional di hadapan para penyiksanya. Tangisan dan kelemahan tubuhnya menjadi simbol kepastian spiritual yang retak.
Ferreira akhirnya murtad. Sesudah menyangkal agamanya di depan umum, ia mengambil identitas Jepang dan bahkan ikut bekerja di lembaga negara yang memusuhi misi Kristen. Tetapi film itu, kata kedua peneliti, memberi isyarat bahwa kemurtadan tersebut berlangsung di luar dan tidak di dalam. Keraguannya saat menjalani sidang-sidang serta sikapnya yang pendiam menyiratkan rasa bersalah yang belum selesai dan kepercayaan yang belum padam. Di titik itulah, tulis kedua peneliti, Ferreira masuk ke dalam tradisi Kakure Kirishitan: iman yang bertahan dalam kerahasiaan di bawah keseragaman yang dipaksakan.
“Narasi Ferreira menantang tafsir yang menyederhanakan kemurtadan, dengan membingkainya sebagai strategi bertahan hidup di bawah pemerasan moral, bukan sebagai kegagalan spiritual,” tulis Hanna Fauziyyah dan Rima Devi, peneliti Universitas Andalas, dalam artikel jurnal tersebut. Istilah Kakure Kirishitan sendiri berarti “Kristen tersembunyi”. Sebutan itu merujuk pada orang yang secara terbuka mengaku telah meninggalkan agamanya, sementara di ruang tertutup ia terus menjalankan ibadahnya seperti sebelumnya. Kemurtadan Ferreira sendiri digambarkan film sebagai tindakan pengorbanan yang didorong belas kasih.
Baca juga Saat Sejarah Kota Cuma Daftar Bangsawan dan Gosip Kampung
Rodrigues datang belakangan, dan menurut kedua peneliti ia figur yang paling rumit secara psikologis di sepanjang film itu. Motivasi awalnya berangkat ke Jepang adalah devosi, ketaatan, dan keinginan membela nama baik mentornya sendiri, yakni Ferreira. Begitu ia berhadapan langsung dengan kenyataan keras yang dihadapi komunitas Kakure Kirishitan di lapangan, panggilan keimamatan itu berubah wujud. Ia menjelma menjadi beban moral yang berat, bukan lagi panggilan yang membanggakan seperti pada awal keberangkatannya.
Rasa bersalah kemudian menjadi kekuatan emosional yang dominan dalam dirinya. Setiap kekerasan yang menimpa para penganut yang menyembunyikannya ia tafsirkan sebagai akibat langsung dari keberadaannya sendiri di desa itu. Dialog-dialognya, kata kedua peneliti, memperlihatkan keputusasaan, frustrasi, dan ketidakberdayaan yang terus menebal. Terutama berkaitan dengan satu hal yang tidak kunjung ia dapatkan. Doa-doanya tidak berbalas. Tidak ada campur tangan yang terlihat. Keheningan itulah yang menjadi masalah filosofis pusat dalam perjalanannya, sekaligus jarak antara harapan teologis dan kenyataan sejarah.
“Aku marah. Aku tidak bisa mengasihani mereka. Bahkan para penjaga pun telah tersentuh oleh tangan-Mu,” ucap Rodrigues dalam salah satu dialog yang dikutip kedua peneliti langsung dari film tersebut. Ketika ia akhirnya tertangkap, paksaan untuk murtad bukan lagi sekadar ujian atas kepercayaan, melainkan ujian atas tanggung jawab moral. Kemurtadan disodorkan sebagai satu-satunya cara menghentikan penyiksaan orang lain. Dilema yang sama persis dengan yang sudah dilewati mentornya, Ferreira, jauh sebelum ia sendiri menginjakkan kaki di Jepang.
Ia menyerah di depan umum. Kedua peneliti menyebut keputusan itu sebagai momen keretakan batin yang paling terang di sepanjang film. Namun film itu belakangan memperlihatkan bahwa identitas spiritual Rodrigues bertahan dalam bentuk yang tersembunyi, disimbolkan lewat gestur-gestur halus dan citra-citra penutup. Perjalanannya, tulis keduanya, memperlihatkan bagaimana penganiayaan tidak menghapus iman melainkan mengubahnya menjadi pengalaman yang terinternalisasi dan membebani jiwa orang yang memikulnya seumur hidup, alih-alih melenyapkannya sama sekali.
Sebuah lempeng bergambar di lantai, dan negara yang memilih menghukum orang lain agar kau menyerah
Alat yang dipakai negara punya nama sendiri: fumie. Otoritas Tokugawa mewajibkan siapa pun yang dicurigai beriman Kristen untuk menginjak gambar Yesus atau Maria di hadapan petugas. Yang menolak disiksa atau dieksekusi. Praktik itu diberlakukan lintas generasi, bahkan sampai menyasar keturunan, demi memberantas agama tersebut hingga ke akarnya. Karena itulah banyak penganut terdorong ke bawah tanah dan merawat iman mereka secara rahasia selama lebih dari dua abad, melintasi beberapa generasi sekaligus.
Baca juga Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku
Angkanya pun hanya tercatat sebagian. Kedua peneliti mengutip catatan sejarah yang mendokumentasikan sedikitnya 3.125 martir sepanjang era Tokugawa, dengan keterangan bahwa jumlah sebenarnya bisa jauh lebih besar karena banyak kematian di wilayah terpencil tidak pernah masuk catatan. Penolakan negara terhadap agama itu, merujuk kajian yang mereka pakai, berakar pada kekhawatiran bahwa pengaruh Kristen akan menggerus kesinambungan dinasti, melemahkan pertahanan budaya, dan membuka jalan bagi intervensi politik serta kolonial Eropa.
Di dalam film, kedua peneliti menegaskan, fumie berfungsi sebagai alat dominasi psikologis dan bukan sekadar tes keagamaan. Dipaksa menginjak citra yang dianggap suci mengubah iman menjadi tindakan ketundukan yang bisa dilihat mata telanjang. Menolak berarti disiksa atau mati; menuruti berarti selamat dan pulang. Mekanisme sederhana itu melahirkan ketakutan, perpecahan sosial, dan kompromi moral di dalam komunitas yang sebelumnya saling menutupi, dan pada saat yang sama membongkar perlawanan dari dalam.
Yang paling efektif justru bukan penyiksaan terhadap si tersangka sendiri. Kedua peneliti menyoroti bagaimana kekuasaan negara dalam film itu mengeksploitasi belas kasih manusia dengan cara menghukum orang lain, bukan individu yang sedang diinterogasi. Strategi tersebut membongkar perlawanan sekaligus menjaga tampilan ketertiban di permukaan. Menurut keduanya, Silence tidak menggambarkan masyarakat Jepang sebagai bangsa yang secara hakiki kejam, melainkan memperlihatkan bagaimana sistem otoriter menormalkan kekejaman lewat kendali birokratis yang berjalan rapi dan berkelanjutan.
Warisan dari periode itu tidak ikut hilang bersama para korbannya. Kakure Kirishitan menyamarkan identitas keagamaan mereka untuk menghindari penganiayaan, kerap dengan mengkamuflase simbol-simbol Kristen agar menyerupai benda Buddha atau Shinto. Larangan terhadap agama Kristen baru dicabut pada era Meiji, seiring keterbukaan Jepang terhadap kekuatan Barat, dan sejak itu kebebasan beragama dijamin secara formal. Jejaknya kini diakui lewat penetapan UNESCO atas Situs-Situs Kristen Tersembunyi di Nagasaki, yang memperingati aktivitas misi awal sekaligus penganiayaan berat yang ditanggung umat Kristen Jepang.
Cahaya yang sengaja diredupkan, kostum yang dibiarkan kotor, dan musik yang tidak pernah datang
Bagian kedua analisis mereka berpindah dari batin tokoh ke bingkai kamera. Film itu memakai pencahayaan redup dan palet warna yang ditahan untuk memunculkan rasa putus asa sekaligus kerahasiaan. Kegelapan mendominasi adegan-adegan penyiksaan, secara visual mencerminkan ketidakpastian spiritual dan ketakutan yang dialami para tokoh di dalamnya. Musik dramatis nyaris tidak pernah muncul. Justru ketiadaan itu, tulis kedua peneliti, yang mempertajam atmosfer kesunyian dan penderitaan yang menyelimuti hampir seluruh film.
Baca juga Guru Besar Bima dan Boyolali di Meja Bedah Metodologi Sejarah
Kostum dan tata rias mengerjakan tugas yang lain lagi, yaitu menandai ketimpangan. Penduduk desa biasa tampil lusuh, kotor, dan rapuh, sementara para pejabat hadir rapi, tertib, dan berwibawa. Pakaian berlumur darah serta penampilan yang acak-acakan menyampaikan brutalitas penganiayaan tanpa perlu satu kalimat penjelas pun. Akting dan ekspresi wajah, terutama dalam pengambilan gambar jarak dekat, menurut keduanya menyampaikan konflik batin jauh lebih kuat daripada dialog mana pun, sehingga penonton ikut menanggung bobot pergulatan iman itu.
Dari situ kedua peneliti menarik fungsi yang lebih luas. Silence membeberkan pengikisan hak asasi manusia di bawah kekuasaan otoriter dan memperlihatkan bagaimana kekuasaan absolut menekan kebebasan beragama serta otonomi moral warganya. Sekaligus, dengan mendramatisasi pengalaman Kakure Kirishitan, film itu bekerja sebagai medium ingatan sejarah — merawat narasi penderitaan yang tanpa itu berpeluang tetap terpinggirkan dan tidak pernah diceritakan ulang kepada generasi berikutnya.
Kesimpulan mereka bertumpu pada tiga jalan yang berbeda: kemurtadan yang bermuatan etis, iman yang disembunyikan, dan kemartiran. Namun keduanya menyatakan sendiri bahwa kajian ini terbatas karena hanya berfokus pada satu film dan bersandar pada pendekatan kualitatif yang bersifat interpretatif. Riset lanjutan, saran mereka, bisa membandingkan film ini dengan novel Chinmoku karya Endo Shusaku atau dengan representasi penganiayaan agama di konteks budaya yang lain, termasuk lewat pendekatan lintas disiplin.
Garupe tidak pernah sampai ke tepi. Kedua peneliti mencatat bahwa konflik batinnya tidak muncul lewat keraguan seperti pada Ferreira dan Rodrigues, melainkan lewat rasa tidak berdaya dan belas kasih terhadap penderitaan yang tidak bisa ia cegah. Waktu layarnya paling sedikit di antara ketiganya, dan perannya tetap dianggap penting secara simbolis. Ia menyaksikan eksekusi serta penyiksaan yang sama, lalu tetap menolak melepas imannya sampai detik terakhir, tanpa satu pun kompromi dengan kekuasaan yang menekannya.
Sementara di sisi lain, film itu menutup Rodrigues dengan cara yang sepenuhnya berlawanan. Bukan dengan pengakuan, bukan dengan pembelaan, hanya dengan gestur kecil dan citra penutup yang menurut Hanna Fauziyyah dan Rima Devi memperlihatkan devosi yang tidak pernah benar-benar ia lepaskan. Dua pastor, satu tekanan, dua akhir yang berjauhan. Yang satu berenang ke arah air; yang satu tinggal, memakai nama Jepang, dan menyimpan imannya di tempat yang tidak bisa diinjak siapa pun.
















