Manglé, Majalah Sunda yang Bertahan Enam Puluh Delapan Tahun

Ilustrasi tumpukan majalah lawas di meja kayu.

Ilustrasi tumpukan majalah lawas di meja kayu. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Nomor perdana majalah itu dicetak di Jakarta pada 1957, lalu tidak sampai ke tangan pembaca. Para pendirinya belum tahu cara mengedarkan majalah, maka tumpukan cetakan itu hanya disimpan. Yang menyelamatkannya adalah Rochamina Sudarmika, bekas guru dan kepala sekolah, yang memakai jaringan sesama guru untuk menyalurkan majalah itu satu per satu. Enam puluh delapan tahun kemudian, majalah berbahasa Sunda bernama Manglé itu masih terbit setiap Kamis — satu-satunya majalah berbahasa daerah tertua di Indonesia yang belum berhenti.

Riwayatnya ditelusuri Taufik Rahayu dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Bandung, lewat artikel The Sundanese weekly magazine “Manglé”; Fostering the growth of Sundanese literature as part of Indonesian cultural history (Majalah mingguan Sunda Manglé; Menyuburkan pertumbuhan sastra Sunda sebagai bagian sejarah kebudayaan Indonesia), yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26 No. 1 pada 2025. Taufik Rahayu sendiri bekerja sebagai redaktur fiksi di Manglé dan mengajar di Program Studi Sastra Sunda Unpad sejak 2018 — posisi yang membuka banyak pintu wawancara, sekaligus perlu diingat pembaca ketika membaca penilaiannya tentang majalah itu.

Tujuh Melati di Sampul

Manglé lahir dari suasana politik akhir 1950-an. Menurut catatan Ajip Rosidi yang dikutip dalam artikel itu, muncul kekecewaan di daerah terhadap kebijakan nasional yang memusatkan kekuasaan dan dianggap mengistimewakan satu kelompok etnis. Di Jawa Barat, kekecewaan itu berbuah organisasi dan lembaga: Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda pada 1952, Universitas Padjadjaran pada 1957 dengan Jurusan Sunda dibuka setahun kemudian, serta rangkaian kongres bahasa Sunda pada 1954, 1956, dan 1958. Media cetak berbahasa Sunda bermunculan: Lingga, Warga, Sunda, Budaja, Candra, Kudjang, Kiwari. Hampir semuanya kini tinggal nama.

Baca juga: Rayap di Tiang 1771: Klenteng Tertua Semarang Bertahan dari Sumbangan Umat

Cikal bakalnya justru sebuah perselisihan. Wahyu Wibisana, guru di Bogor, adalah penulis produktif di majalah Warga sampai ia berselisih soal politik, dipecat, dan tulisannya dilarang muat. Ia lalu sering datang ke rumah Uton Moechtar dan istrinya, Rochamina Sudarmika, di Jalan Dewi Sartika, Bogor, tempat anak-anak muda berkumpul untuk kegiatan seni dan budaya Sunda. Di rumah itulah mereka memutuskan menerbitkan majalah sendiri, tanpa perhitungan bisnis, pemasaran, ataupun pembaca.

Tujuh orang tercatat sebagai pendiri: Uton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saleh Danasasmita, Utay Muchtar, dan Alibasah Kartapranata. Tujuh orang itu diabadikan sebagai tujuh kuntum melati yang menghiasi sampul majalah sampai sekarang. Nama Manglé sendiri usul Wahyu Wibisana; dalam kamus Sunda, manglé berarti untaian atau rangkaian bunga dan daun yang wangi, biasanya dipakai di kepala.

Kehati-hatian orang lama terhadap rencana itu terekam dalam kesaksian M.A. Salmun, tokoh senior yang diminta membina redaksi pertama. “Waktu Neng Direktrise ngabadamian ngaluarkeun majalah Sunda, kuring ngawalon pondok heureut pisan: ‘Batan duit diawur-awur mah, mending injeumkeun ka kuring.’” tulis Salmun di nomor perdana. Dalam bahasa Indonesia kira-kira: ketika sang direktris meminta pendapatnya soal rencana menerbitkan majalah Sunda, ia menjawab pendek saja, daripada uang dihambur-hamburkan lebih baik dipinjamkan kepadanya. Ia bukan menyesali banyaknya majalah Sunda yang gugur, katanya, melainkan sayang pada biayanya. Toh melihat semangat anak-anak muda itu, Salmun akhirnya bersedia turun tangan.

Dari Bulanan Menjadi Mingguan

Pada mulanya Manglé terbit bulanan, dua puluh halaman, dan dijual dengan harga 2,50 rupiah. Sampulnya sejak awal selalu memuat perempuan Sunda, sebuah tradisi yang hanya sekali dilanggar: nomor 94 terbitan April 1965 memasang gambar harimau untuk memperingati ulang tahun ke-19 Divisi Siliwangi. Pada 1965, mulai nomor 86, majalah itu terbit dua kali sebulan, lalu tiga kali sebulan, dan sejak 4 Maret 1971 lewat nomor 258 ia menjadi mingguan. Sejak itu tidak pernah putus.

Perubahan isi datang bersama pergantian pemimpin redaksi. Wahyu Wibisana, yang memimpin sejak Januari 1963, mengubah Manglé dari majalah hiburan menjadi majalah yang menekankan mutu sastra. Cita-citanya ia akui sendiri bertahun-tahun kemudian dalam wawancara dengan Agus Sopian untuk majalah Pantau bertajuk “Tujuh melati nan layu”. Ditanya apakah ia sebenarnya menginginkan majalah sastra, majalah yang membuka jalan bagi kebudayaan dan harga diri Sunda, Wahyu menjawab: “Betul. Tapi yang punya duit bukan Akang.” Ia mengucapkannya kepada wartawan itu pada 2002.

Di bawah Wahyu, tiras naik dari 20.000 menjadi 65.000 eksemplar. Namun pada Juni 1965 ia dan timnya mundur karena berselisih paham dengan pemilik majalah. Penggantinya, Rustandi Kartakusumah, menambahkan syarat lain di samping mutu: cerita harus langsung mengena bagi pembaca. Ia membongkar tumpukan naskah yang pernah ditolak redaksi sebelumnya, memperbaikinya sendiri, kadang mendatangi rumah penulisnya, lalu memuatnya. Ia juga sengaja merekrut penulis yang belum dikenal. Tiras Manglé naik sampai 70.000 eksemplar, dan cerita bersambungnya “Mercedes 190” menjadi puncak popularitas majalah itu. Salah seorang yang ia temukan pada masa itu adalah Aam Amilia, yang belakangan menjadi penulis paling produktif dan pada gilirannya mengasuh penulis muda lain seperti Holisoh, Yoseph Iskandar, Taufik Faturohman, dan Tatang Sumarsono.

Kritik Sastra di Halaman Majalah Hiburan

Bagian yang jarang disorot dari sejarah Manglé adalah usahanya membangun tradisi kritik. Mulai 1963, di nomor 65, Yus Rusyana mengisi rubrik “Bale Rancage” yang membahas dongeng, pantun, wawacan, dan roman. Di nomor 71 ia menulis tentang dua novel sejarah karya R. Memed Sastrahadiprawira, Mantri Jero dan Pangeran Kornel. Setahun berikutnya, pada nomor 75 tahun 1964, lahir rubrik “Leuleuileuyang” yang khusus mengulas cerita pendek yang sudah dimuat Manglé sendiri, dan pembaca diundang ikut berkomentar. Pada November 1963, lewat nomor 73, majalah itu mengumumkan Hadiah Sastra Manglé tahunan untuk cerita pendek terbaik.

Baca juga: Sejarah Indonesia Masih Jarang Menempatkan Alam sebagai Pelaku

Menurut penuturan Abdullah Mustappa yang dikutip dalam artikel, rubrik kritik itu adalah jawaban atas teguran Ajip Rosidi lewat buku Dur panjak! dan Beber layar, yang menilai perkembangan sastra Sunda tidak diimbangi tradisi kritik yang hidup. Cerita pendek memang selalu menjadi jantung Manglé. Peneliti C.W. Watson, yang dikutip dalam artikel, menilai cerita pendek Sunda kaya gambaran situasi sehari-hari, kerap disertai humor, kesedihan, dan kritik sosial yang tajam.

Pintu masuknya bahkan disediakan bagi yang belum bisa menulis apa-apa. Rubrik “Barakatak”, dari kata Sunda untuk tertawa terbahak, menyediakan tiga anak rubrik: “Hahaha” berisi dialog lucu pendek untuk pemula, “Pangalaman Para Mitra” berisi pengalaman pribadi pembaca, dan “Carlu” berisi cerita lucu rekaan. Dari situ banyak orang pindah menulis cerita pendek. Penyair Godi Suwarna, yang karyanya membawanya ke berbagai negara, menceritakan awal perkenalannya. “Saya sudah mengenal sastra Sunda sejak baru bisa membaca — sekitar umur empat tahun. Ayah, ibu, dan Kang Engkos biasa membacakan Manglé untuk saya sampai saya bisa membaca sendiri,” katanya dalam sebuah tulisan pada 1999; kutipan itu tercantum dalam bahasa Inggris di artikel dan diterjemahkan di sini.

Siapa yang Membacanya

Pada 1963 Wahyu Wibisana menyebar angket untuk memetakan pembaca, dan hasilnya dimuat pada edisi Juni tahun itu. Dari 4.437 responden, 816 perempuan dan 3.621 laki-laki — timpang, padahal sampul majalah itu justru selalu menampilkan perempuan. Sebarannya lumayan merata: 765 mahasiswa, 1.122 guru, 1.020 pelajar dari sekolah dasar sampai menengah atas, dan 1.530 orang dari masyarakat umum, dengan rentang usia 14 sampai 53 tahun. Sebanyak 70 persen memilih Manglé untuk memperlancar bahasa mereka, 20 persen ingin lebih banyak dangding, dan 10 persen berharap lebih banyak gambar.

Survei internal 2007 menunjukkan gambaran yang lain. Hampir separuh pembaca terpusat di Kota Bandung, 50,97 persen, disusul DKI Jakarta 14,31 persen, Kabupaten Tasikmalaya 6,15 persen, dan Kota Bogor 4,36 persen. Sekitar 1,13 persen pembacanya berada di luar negeri, antara lain di Amerika Serikat, Australia, Belanda, Korea, dan Jepang. Perlu dicatat bahwa angka-angka ini berasal dari catatan bagian personalia majalah itu sendiri, bukan dari survei independen, dan tidak ada pemetaan pembaca sebaru itu sesudah 2007.

Angka yang Terus Turun

Penurunannya panjang dan bertahap. Pada 1990 tiras mingguan sudah jatuh dari 60.000 menjadi 20.000 eksemplar. Pada puncak krisis moneter, daya beli anjlok dan ongkos produksi naik, tiras merosot di bawah 10.000 eksemplar. Pada 2014 kepemilikan berpindah dari Oedjang Darajatoen kepada Uu Rukmana, bekas anggota DPRD Jawa Barat yang punya jaringan luas. Uu mewarisi 3.500 pelanggan mingguan dan segera menaikkannya menjadi 5.000 eksemplar dengan melobi pemerintah kota dan kabupaten serta perguruan tinggi negeri agar berlangganan sebagai imbalan halaman advertorial.

Strategi itu berhasil pada angka, tetapi menurut kepala sirkulasi Manglé, Dicky M. Rafiudin, format baru yang didominasi berita dan advertorial justru menjauhkan pembaca lama. Tiras turun lagi dari pekan ke pekan hingga tinggal 2.000 eksemplar per minggu pada awal 2024 — angka yang sudah termasuk langganan instansi pemerintah dan kemitraan kampus. Wakil Direktur Pemasaran Unay Sunardi menambahkan bahwa penurunan itu tidak bisa ditimpakan sepenuhnya pada advertorial, karena perkembangan teknologi, naiknya literasi digital, dan berpindahnya orang ke media sosial ikut menekan seluruh media cetak. Uu Rukmana sendiri meninggal di Bandung pada 3 Maret 2024, dan sampai artikel itu ditulis pada November 2024 Manglé sedang mencari pemilik baru.

Upaya masuk ke internet dua kali gagal. Situs yang diluncurkan pada 2012 tidak jalan karena keterbatasan sumber daya manusia. Percobaan kedua pada akhir 2020 bersama pihak lain justru dikritik pengamat bahasa Sunda karena sering menyimpang dari kaidah; pemimpin redaksi Ensa Wiarna membela diri dengan alasan situs itu menyasar pembaca muda. Menurut Dicky M. Rafiudin, kehadiran daring itu malah menggerus penjualan edisi cetak, sehingga kerja sama dihentikan.

Baca juga: Sebelum “Islam, Yes, Partai Islam, No”: Lima Pekan yang Mengubah Nurcholish Madjid

Nasib serupa dialami media berbahasa daerah lain: majalah berbahasa Jawa Jaya Baya, Djaka Lodang, dan Penjebar Semangat, serta majalah berbahasa Bali Canang Cari. Sedikit jalan keluar mulai terlihat lewat digitalisasi. Universitas Padjadjaran, lewat Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda, tengah mendigitalkan arsip cetak budaya Sunda — novel, cerita pendek, surat kabar, jurnal — dan melahirkan platform SundaDigi, yang antara lain memuat Manglé lengkap sejak nomor pertama.

Perlu ditegaskan bahwa artikel ini bertumpu pada wawancara dengan orang-orang dalam Manglé sendiri, arsip majalah, dan catatan sirkulasi internal, sehingga sudut pandangnya adalah sudut pandang redaksi. Penulisnya tidak melakukan survei pembaca baru, tidak mengaudit angka tiras secara independen, dan tidak memaparkan bagian keterbatasan penelitian secara khusus. Di kalangan penulis Sunda beredar ucapan bahwa seseorang belum sah menyebut diri pengarang Sunda kalau belum sekali pun memuat karya di Manglé. Setelah enam puluh delapan tahun, ucapan itu kini menggantung pada sebuah majalah yang sedang mencari pemiliknya sendiri.

Baca Juga

Ilustrasi seperangkat gamelan tradisional.
Musim Panas 1974: Ketika Seni Sunda Tiba di Berkeley
Ilustrasi dedaunan tanaman herbal.
Uji Lab Daun Suruhan pada Sel Kanker Payudara MCF-7
Ilustrasi halaman naskah tulisan tangan kuno
Naskah 1814: Bharatayuddha Diterjemahkan Kata demi Kata
Ilustrasi deretan tablet putih dan kapsul di atas nampan obat rumah sakit berlatar kabur.
Uji Vitamin C pada 34 Pasien Lupus di Palembang dan Batasnya
Ilustrasi tumpukan kaset pita analog lawas di samping kacapi kayu berdawai.
Euis Komariah dan Zaman Kaset yang Sudah Lewat
Guru memeriksa tas murid dengan detektor logam di sebuah sekolah di Bangkok
Thailand Perangi Perundungan Usai Penembakan Sekolah