Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran

Ilustrasi detail relief batu candi memperlihatkan sosok bermahkota berkepala banyak

Ilustrasi relief tokoh bermahkota berkepala banyak. Rahwana digambarkan berbeda di Prambanan dan Panataran. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Pada panil kedua belas di pagar langkan Candi Brahma, kompleks Prambanan, Rahwana terpahat dalam posisi terbaring di atas keranda, dikerumuni para pengikutnya. Jasadnya masih memperlihatkan lima kepala dan empat tangan — tiga tangan kanan dan satu tangan kiri — dengan mahkota, anting, dan gelang yang masih terbaca jelas. Lima abad kemudian, di teras pertama Candi Induk Panataran, tokoh yang sama muncul delapan kali dan tidak satu pun menampilkan kepala berlipat. Rahwana di sana berkepala satu, bertangan sepasang, seperti manusia biasa.

Pergeseran itu yang ditelusuri Kyra Andhayu Noer dan Tjahjono Prasodjo dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, lewat artikel Perbandingan penggambaran tokoh Rahwana pada Candi Prambanan dan Candi Panataran dalam perspektif Ikonografi Komparatif, yang terbit dalam jurnal Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 2 pada 2025. Keduanya memakai analisis ikonografi Erwin Panofsky yang bertahap: deskripsi pra-ikonografis atas unsur visual tanpa tafsir, analisis ikonografi yang memberi makna berdasarkan simbolisme suatu budaya, lalu interpretasi ikonologis yang membaca konteks sejarah, sosial, dan politik di baliknya.

Alasan memilih Rahwana disebut terus terang di bagian awal. “Diskusi mengenai sosok Rahwana dalam relief Ramayana yang terdapat pada bangunan candi belum pernah dilakukan, khususnya dalam hal pemaknaan secara ikonografis,” tulis Kyra Andhayu Noer dan Tjahjono Prasodjo. Pembahasan selama ini lebih banyak berkutat pada Rama dan Hanuman, sementara musuh utama dalam kisah itu jarang diperiksa sebagai objek kajian tersendiri.

Empat Panil di Prambanan, Delapan di Panataran

Relief Ramayana di Prambanan dipahatkan di dua bangunan: 24 panil di bagian dalam pagar langkan Candi Siwa dan 30 panil di Candi Brahma. Pembacaannya searah jarum jam atau pradaksina, dimulai dari Candi Siwa dan berakhir di Candi Brahma. Ciri khasnya, satu panil kerap memuat beberapa adegan sekaligus sehingga tampilannya padat.

Rahwana hanya muncul empat kali di sana. Pada panil XIIIe Candi Siwa, ia digambarkan berhasil menculik Sita dan membawanya terbang, diangkat raksasa bersayap, lalu diserang Jatayu yang berusaha membebaskan Sita; di panil ini Rahwana berkepala tujuh dengan tujuh pasang tangan yang memegang berbagai senjata, setiap kepala bermahkota, setiap lengan berhiaskan kelat bahu dan gelang. Pada panil III Candi Brahma, ia duduk menerima Anggada, utusan Rama, yang meminta Sita dikembalikan; kali ini berkepala lima dengan lima pasang tangan dan wajah yang tenang. Pada panil VII, ia bertempur melawan Rama dan Laksmana dari atas kereta raksasa bersayap, matanya terbelalak lebar. Panil XII menutup rangkaian itu dengan kematiannya.

Di Panataran ceritanya lain. Relief Ramayana di sana berjumlah 102 panil pada teras pertama Candi Induk, dibaca berlawanan arah jarum jam atau prasawya, dimulai dekat bagian tengah sisi utara. Rahwana muncul delapan kali: pada panil 2 bersama kedua istri dan para pengikutnya, lalu panil 6, 22, 35, 58, 62, 65, dan ditutup panil 92 yang menampilkan persiapan serangan balasan terhadap Hanuman. Penomoran panil yang dipakai mengikuti penomoran W.F. Stutterheim pada 1925.

Isi adegannya pun bergeser. Di Prambanan, Rahwana hadir dalam adegan monumental — penculikan, pertempuran, kematian. Di Panataran, ia lebih sering muncul dalam adegan antarpribadi: menerima laporan seorang Bhuta tentang kekalahan prajurit di Lanka, berunding dengan dua abdinya soal Hanuman, mengancam Sita dengan pedang di tangan kanan sementara tangan kirinya menunjuk, sampai melarikan diri bersama para istri dari kobaran api yang dibuat Hanuman.

Dari Raksasa Berkepala Tujuh ke Sosok Bermahkota Kiritamakuta

Dalam naskah klasik, baik Ramayana gubahan Valmiki maupun versi Jawa Kuno, Rahwana lazim digambarkan sebagai raksasa sakti berkepala sepuluh dan bertangan dua puluh, lambang nafsu duniawi sekaligus kekuatan perusak. Ciri lain yang kerap disebut adalah mata merah menyala, tubuh besar dan kekar, perhiasan yang raya sebagai penanda statusnya sebagai raja Alengka, kadang busana merah dan anting emas. Ada pula bagian cerita yang menyebut Rama memandang Rahwana sebagai sosok yang taat dan terpelajar.

Rahwana di Prambanan tidak persis mengikuti pakem sepuluh kepala itu, tetapi tetap mempertahankan unsur adikodratinya dengan lima sampai tujuh kepala dan sepuluh sampai empat belas tangan. Gaya pahatnya naturalis: tubuh digambarkan volumetrik, berisi, berkesan tiga dimensi, sesuai kaidah estetika India masa klasik yang menekankan proporsi ideal dan kesan halus. Sebagai pembanding, kedua peneliti merujuk relief Rahwana mengguncang Gunung Kailasa di Kuil Kailasa, Ellora, India, yang diperkirakan berasal dari abad ke-8. Kemiripan prinsip penggambaran itu, menurut mereka, menunjukkan adanya dialog artistik antara pemahat Jawa dan tradisi yang berkembang di India pada masa yang sama.

Di Panataran, wujud adikodrati itu lenyap. Rahwana hanya berkepala satu dan bertangan sepasang, gaya pahatannya kaku dan pipih menyerupai wayang kulit, ekspresinya lebih menonjol dengan mata terbelalak yang memberi kesan agresif sekaligus licik. Identifikasi tokohnya tetap bisa dilakukan lewat atribut yang konsisten: mahkota jenis kiritamakuta yang menandai status tinggi, tali kasta atau upavita sebagai penanda kedudukannya sebagai raja Alengka, dan pedang atau khadga yang kerap dibawanya. Penanda lain adalah hierarki posisi — dalam banyak panil, Rahwana dipahatkan lebih tinggi daripada tokoh lain dan selalu berada di pusat adegan penting.

Satu hal yang perlu dibaca hati-hati: uraian narasi dan tabel perbandingan dalam artikel ini tidak seragam soal kemewahan busana. Bagian pembahasan menyebut busana dan perhiasan Rahwana di Panataran tidak semegah di Prambanan, sementara tabel perbandingan ikonografi justru mencatat sebaliknya, yaitu busana Panataran cenderung lebih megah dengan hiasan yang lebih raya, dan mahkota Prambanan berjenis jatamakuta. Yang konsisten di kedua bagian adalah jumlah kepala, jumlah tangan, ekspresi wajah, dan gaya pemahatan. Kondisi fisik reliefnya sendiri tidak seluruhnya utuh: wajah Rahwana pada panil LVIII sudah aus dan panil LXV mengalami kerusakan pada bagian wajah, sehingga pembacaan ikonografi di dua panil itu bertumpu pada atribut lain dan konteks naratifnya.

Prasasti Siwagrha dan Raja yang Setara Dewa

Beda gaya, menurut kedua peneliti, hanyalah lapisan permukaan. Yang mereka kejar adalah pergeseran makna simbolisnya. Di Prambanan, relief Ramayana ditempatkan pada candi kerajaan Mataram Kuno abad ke-9, dan Rahwana berfungsi sebagai personifikasi adharma — kekacauan dan kejahatan — yang harus dikalahkan Rama sebagai penegak dharma. Rama sendiri, sebagai penjelmaan Dewa Wisnu, dipakai untuk mencerminkan raja yang ideal.

Dasarnya bukan sekadar tafsir seni. Kedua peneliti mengutip bait kesembilan Prasasti Siwagrha bertarikh 856 Masehi, yang menyebut kekuasaan raja dan keraton diserahkan kepada penerusnya, Dyah Lokapala, yang disebut setara dengan Dewa Lokapala, terbebas dari nafsu, dengan masyarakat terbagi ke dalam empat asrama dan brahmana berada di posisi terdepan. Pandangan itulah yang dikenal sebagai kultus dewa-raja. Dalam kerangka tersebut, kisah Ramayana yang dipahat pada candi bukan semata kepentingan estetika, melainkan alat membangun apa yang oleh peneliti sebelumnya disebut biografi alegoris: penguasa mengaitkan dirinya dengan tokoh epik atau dewa. Pola serupa — bangunan suci yang memuat pesan politik penguasanya — juga terbaca pada candi-candi masa Majapahit di lereng gunung.

Pemberontakan Majapahit dalam Wujud Manusia Biasa

Pada abad ke-14, ketika Panataran berdiri sebagai candi kerajaan Majapahit, situasinya tidak sama. Kedua peneliti mengingatkan bahwa Majapahit sempat diwarnai sejumlah pemberontakan — Ranggalawe, Lembu Sora, Nambi, sampai perang Regreg. “Ancaman yang terjadi terhadap para penguasa tidak lagi berasal dari kekuatan supernatural, melainkan dari sesama manusia yang memiliki ambisi besar,” tulis keduanya. Karena itu Rahwana ditampilkan lebih manusiawi, bukan lagi raksasa yang semata-mata harus dikalahkan, melainkan tokoh aktif dan ancaman nyata yang harus ditangani para raja.

Perubahan kedua menyangkut siapa yang menonjol. Di Panataran, peran Rama tidak lebih menonjol dibandingkan Hanuman. Dominasi figur Hanuman dalam relief Candi Induk Panataran sebelumnya disorot Lydia Kieven, yang membacanya sebagai simbol pelaksana kekuasaan — bukan raja, tetapi penentu jalannya pemerintahan, meski kekuasaan tertinggi tetap sah berada pada Hayam Wuruk. Kyra Andhayu Noer dan Tjahjono Prasodjo menghubungkannya dengan posisi Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi yang berwenang besar pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, sebagaimana Hanuman yang berperan penting dalam upaya menyelamatkan Sita dari Rahwana.

Perlu ditegaskan bahwa hubungan itu diajukan sebagai kemungkinan, bukan sebagai bukti. Kedua penulis memakai kata seperti kemungkinan besar dan mungkin ketika menghubungkan gaya relief dengan situasi politik masing-masing zaman, dan mereka tidak menyertakan bagian khusus yang memaparkan keterbatasan penelitiannya. Perbandingan ini juga hanya bisa dilakukan pada dua candi, sebab menurut mereka relief cerita Ramayana memang hanya ditemukan di Prambanan dan Panataran. Sebagian dasar penafsiran diambil dari kajian terdahulu — antara lain Kusen yang menyimpulkan kedua relief itu mewakili dua tradisi dan perkembangan seni yang berbeda — sementara data lapangannya berupa observasi langsung dan studi pustaka.

Wayang yang Muncul di Batu Sebelum Naik ke Kelir

Salah satu yang menarik dari perbandingan ini adalah gaya pahat Jawa Timur yang pipih dan kaku itu sendiri. Relief naratif periode Jawa Tengah masih meniru India dengan bentuk naturalis dan dinamis, sedangkan relief periode Jawa Timur dipahatkan relatif pipih layaknya penggambaran wayang kulit. Bentuk visual yang hari ini dikenal lewat pementasan wayang yang masih dijaga sejumlah kelompok muda ternyata sudah punya sanak di batu candi abad ke-14.

Kesimpulan kedua peneliti menempatkan relief bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan alat komunikasi ideologis. Prambanan menyajikan Ramayana sebagai kisah kepahlawanan yang utuh untuk meneguhkan legitimasi sakral seorang raja, sementara Panataran mengadaptasi kisah yang sama ke dalam konteks yang lebih dekat dengan tantangan zamannya. Rahwana yang semula ancaman kosmik berubah menjadi alegori ancaman politik yang duniawi, berupa musuh atau pemberontak yang harus dihadapi penguasa kerajaan — dan kesan supernatural yang melekat padanya, tulis kedua peneliti, telah hilang.

Kedua candi itu kini berstatus objek yang dilindungi sebagai cagar budaya, dan relief-reliefnya tetap terbuka untuk dibaca ulang. Dalam pernyataan penulis, Kyra Andhayu Noer disebut sebagai kontributor utama yang menyusun ide, konsep, metode, analisis, dan interpretasi, sedangkan Tjahjono Prasodjo mengerjakan penyuntingan dan penyelarasan akhir; keduanya menyatakan tidak menerima pendanaan untuk penelitian ini.

Baca Juga

Ilustrasi pahatan relief batu candi memperlihatkan pemanah menarik busur
Busur di Relief Candi Menyusut Delapan Abad, dari Vansa ke Saranga
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Ilustrasi tangan memegang ponsel yang menampilkan gelembung percakapan di ruang gelap
5.976 Komentar di Bawah Siaran Fatwa PUBG dan Apa Isinya
Ilustrasi struktur bata merah candi tua di tepi kanal dikelilingi hutan rawa
Serbuk Sari Obat Malaria di Percandian Muarajambi Abad ke-7
Ilustrasi undakan batu andesit menembus padang rumput di punggungan gunung berkabut
Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi
Ilustrasi dua batu nisan tegak di halaman berumput dengan siluet masjid di kejauhan
Makam yang Menolak Pindah dan Kenduri Sko yang Berpindah ke Masjid