Busur di Relief Candi Menyusut Delapan Abad, dari Vansa ke Saranga

Ilustrasi pahatan relief batu candi memperlihatkan pemanah menarik busur

Ilustrasi pemanah pada relief candi. Bentuk busur pada relief Jawa berubah sepanjang abad VIII sampai XV. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Sebelum satu pun busur di dinding candi bisa diukur, seorang model setinggi 167 sentimeter lebih dulu diminta berpose. Ia berdiri dengan kaki menekuk dan badan condong, lalu bersimpuh, lalu bersila, lalu duduk di atas kuda dalam posisi yang dalam istilah berkuda modern disebut half-seat. Tiap pose diukur tingginya dari lantai sampai puncak kepala. Hasilnya: postur memanah menyusutkan tinggi badan menjadi 95,8 persen, bersimpuh menjadi 67,7 persen, bersila tinggal 57,5 persen, dan half-seat 94,6 persen. Angka-angka itu diperlukan karena hampir tidak ada pemanah di relief candi yang berdiri tegak sempurna.

Peragaan tersebut adalah bagian dari penelitian Irvan Setiawan dari Departemen Arkeologi Universitas Indonesia yang dipaparkan lewat artikel Perubahan Bentuk Busur Abad VIII-XV Berdasarkan Relief Candi Jawa Tengah dan Jawa Timur, terbit dalam Jurnal Arkeologi Nusantara Vol. 3 No. 2 pada 2025. Pertanyaannya sederhana tetapi belum pernah dijawab dengan cara ini: apakah bentuk busur di Jawa berubah sepanjang delapan abad, dan ke arah mana.

Bahannya diambil dari tujuh candi yang mewakili rentang kekuasaan berbeda: Borobudur dari abad ke-8, Candi Syiwa dan Candi Brahma di Prambanan dari abad ke-9, Penataran dari abad ke-12 sampai ke-15, Kedaton dari abad ke-13 sampai ke-14, Surawana dari abad ke-14, dan Sukuh dari abad ke-15. Terkumpul 33 data busur: lima dari Borobudur, sembilan dari Candi Syiwa, empat dari Candi Brahma, tiga dari Penataran, dua dari Kedaton, satu dari Surawana, dan dua dari Sukuh. Relief yang aus dan rompal parah tidak dipakai, sedangkan yang rusak ringan direkonstruksi ulang agar panjang busurnya mendekati kondisi sebelum kerusakan.

Busur yang Menyusut Delapan Abad

Ukuran busur tidak dibandingkan dalam sentimeter, melainkan sebagai rasio terhadap tinggi pemanah yang menyandangnya. Cara ini menghindari jebakan skala relief yang berbeda-beda. Busur yang tergambar sedang ditarik pun dikonversi lebih dulu ke kondisi tidak ditarik, dengan angka pembanding 1 berbanding 0,9 untuk busur panjang dan 1 berbanding 0,8 untuk busur komposit, hasil pengukuran dari peragaan.

Pada relief Borobudur, rasio rata-ratanya 77 persen dengan sebaran dari 53 sampai 93 persen. Pada abad berikutnya, di Prambanan, rasio itu justru melonjak: rata-rata 97 persen, dan ada satu busur yang panjangnya melebihi tinggi pemanahnya sendiri, yaitu 127 persen. Setelah itu grafiknya turun. Penataran dari abad ke-12 rata-rata 89 persen, Kedaton dari abad ke-13 anjlok ke 69 persen dengan rasio terendah 52 persen, Surawana 77 persen, dan Sukuh 71 persen. Setelah data diolah dengan memperhitungkan sebaran, kemiringan, dan pencilan, rata-ratanya menjadi 79 persen pada abad ke-8, 95 persen pada abad ke-9, lalu 74, 70, 77, dan 75 persen berturut-turut pada abad ke-12 sampai ke-15. Kesimpulan yang ditarik penulisnya: sejak abad ke-13, panjang busur konsisten berada di bawah 80 persen tinggi manusia.

Dari Vansa ke Saranga

Yang berubah bukan cuma ukuran. Untuk menggolongkan jenisnya, penulisnya memakai Kitab Dhanurveda, rujukan ilmu memanah pada Zaman Klasik Jawa, yang menyebut tiga variasi busur. Divya adalah busur para dewa yang berukuran sangat besar. Vansa terbuat dari bambu atau kayu, setipe dengan busur panjang, dan bisa mencapai 190 sentimeter. Saranga terbuat dari tanduk, ada yang dari tanduk utuh dan ada yang berupa busur komposit, dengan panjang hingga 150 sentimeter.

Busur komposit tidak dibuat dari satu batang. Ia disusun dari tiga bahan sekaligus: lapisan tanduk di punggung, kayu atau bambu sebagai inti, dan otot binatang yang dianyam di bagian depan. Bagian ujungnya, yang dalam istilah Timur Tengah disebut siyah atau kazan, dalam istilah Kawi disebut kotidhanus. Lengkungannya pun dibedakan menjadi lima dasar: lurus, deflex, reflex, dekurva, dan rekurva.

Dengan tolok ukur itu, seriasi yang tersusun memperlihatkan pergeseran yang rapi. Pada abad ke-8, mayoritas busur di Borobudur berjenis vansa berkurvatur lurus, dengan satu busur saja yang teridentifikasi saranga dan rekurvanya tipis sekali. Pada abad ke-9 di Prambanan, vansa masih mendominasi, tetapi mulai muncul satu busur berkurvatur rekurva yang jelas serta jejak ukiran pada bagian kotidhanus. Memasuki abad ke-12, di Penataran, saranga berkurvatur reflex mengambil alih seluruhnya. Dari abad ke-13 sampai ke-15, di Kedaton, Surawana, dan Candi Sukuh yang berdiri di penghujung masa Majapahit, saranga menjadi satu-satunya jenis, dengan satu contoh berkurvatur reflex-deflex dan gagang yang masuk ke dalam. Ujung busurnya pun kian bervariasi, berbentuk cakar terbuka maupun melingkar seperti pucuk pakis, ada yang panjang dan ada yang pendek.

Mengapa Busur Jadi Pendek Setelah Abad ke-12

Pertanyaan berikutnya adalah penyebabnya. Penulisnya mengajukan beberapa kemungkinan, tanpa memilih satu sebagai kepastian. Yang pertama menyangkut lem. Busur komposit sangat bergantung pada daya rekat karena terdiri atas banyak lapisan, dan lem yang dipakai berbasis protein hewan, entah dari jangat sapi dan kerbau maupun gelembung udara ikan. Lem semacam itu rentan terhadap suhu tinggi dan mikroba, dua hal yang berlimpah di iklim tropis. Besar kemungkinan teknologi perekat itu baru berkembang matang setelah abad ke-12.

Kemungkinan kedua adalah transfer teknologi. Pada akhir abad ke-13 terjadi invasi Mongol dengan kekuatan 30.000 prajurit ke Pulau Jawa, dan Mongol dikenal unggul berkat penguasaan busur komposit. Ketika mereka dikalahkan Raden Wijaya, busur-busur itu bisa tertinggal atau direbut, lalu diadaptasi. Kemungkinan ketiga lewat jalur dagang. Sejak abad ke-12, Jawa muncul sebagai penguasa perdagangan laut menggeser peran Sumatra, dengan Tuban dan Gresik mencapai puncak aktivitas pada zaman Majapahit. Mitra dagang utama kedua pelabuhan itu adalah India, yang saat itu diperintah dinasti keturunan Turki, dan Tiongkok di bawah Dinasti Yuan keturunan Mongol — keduanya pengguna busur komposit yang masyhur. Persebaran teknologi persenjataan lewat kontak antarwilayah memang bukan hal baru dalam catatan arkeologi.

Alasan yang paling membumi barangkali soal kepraktisan. “Busur saranga mudah digunakan dalam ruang sempit seperti di geladak kapal, benteng atau dalam hutan lebat, serta mudah digunakan sambil menunggang kuda,” tulis Irvan Setiawan. Dari sisi mekanika, ia mengutip kesimpulan bahwa busur panjang berkurvatur lurus dan busur pendek berkurvatur reflex tidak berbeda jauh dalam kinerja dan daya hancur. “Perubahan kurvatur hanya sebagai kompensasi mekanika terhadap perubahan ukuran,” tulisnya. Busur yang memendek menghasilkan energi pegas lebih kecil, dan kekurangan itu ditutup dengan lengkung yang lebih rumit serta bahan yang lebih baik.

Busur Wisnu dan Rekor 846 Meter

Ada lapis penjelasan lain yang bersifat mitologis. Dalam Dhanurveda Samhita, saranga disebut sebagai busur pusaka Dewa Wisnu, berukuran tujuh vitasti atau sekitar 147 sentimeter, dan dibuat oleh Visvakarma. Karena avatara Wisnu meliputi tokoh-tokoh seperti Rama dan Kresna, memakai saranga bisa berarti meminjam legitimasi kepahlawanan. Perpindahan tren dari vansa ke saranga, menurut penulisnya, sejalan dengan perpindahan dari busur biasa ke busur sakti.

Klaim kesaktian itu ia uji dengan data perpanahan modern. Rekonstruksi eksperimental busur perang Inggris, yang setipe dengan vansa, mencapai jarak jangkau lebih dari 300 meter. Replika busur komposit menembus 522 meter dalam pertandingan internasional di Turki pada 2024, sementara rekor busur komposit abad pertengahan tercatat 846 meter atas nama pemanah bernama Tozkoparan Iskender. Perbandingan itu ia pakai untuk menunjukkan keunggulan jangkauan saranga, meski jarak tembak replika masa kini jelas bukan pengukuran atas busur yang dipahat di dinding candi.

Yang Dipahat Belum Tentu yang Dipakai

Batas terbesar penelitian ini terletak pada sifat sumbernya: yang diukur adalah gambar busur, bukan busur. Penulisnya menyadari itu dan lebih dulu menguji apakah perbedaan gaya seni mengacaukan hasil. Relief Borobudur dan Prambanan tergolong gaya klasik tua yang naturalistik, sedangkan Penataran, Kedaton, Surawana, dan Sukuh tergolong klasik muda yang cenderung mengikuti bentuk wayang kulit yang kelak menjadi seni pertunjukan tersendiri. Setelah diamati, proporsi antara manusia dan benda pada gaya wayang kulit ternyata tetap terjaga sehingga rasionya tidak terdistorsi berarti, dan perbandingan lintas gaya dinilai masih sah.

Soal dekorasi, ia mengajukan dua kemungkinan yang belum bisa dipilih salah satunya: hiasan itu murni karya seniman pemahat, atau seniman menyalin busur nyata yang memang penuh hiasan. Bentuk cakar terbuka pada busur Penataran dan Surawana mirip dengan desain busur Dinasti Ming, sementara ujung melingkar seperti pucuk pakis sudah dikenal pada peradaban nomad Scythia, dan kemiripan itu bisa berarti persebaran tren, bisa pula kebetulan yang lahir dari bahan dan alat kerja yang serupa. Catatan lain yang perlu dipegang pembaca: Candi Surawana hanya menyumbang satu data busur, dan dua gambar dari Kedaton serta satu dari Candi Syiwa diambil dari sumber sekunder, bukan pemotretan langsung.

Jejak desain itu tidak berhenti di dinding candi. Penulisnya menunjuk gambar dari akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 di Jawa yang masih memperlihatkan ujung busur berbentuk cakar, serta busur Ampilan Dalem, pusaka regalia Sultan Yogyakarta, yang bagian kotidhanus dan gagangnya berukir.

Baca Juga

Ilustrasi detail relief batu candi memperlihatkan sosok bermahkota berkepala banyak
Rahwana Berkepala Tujuh di Prambanan, Manusia Biasa di Panataran
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Festival Kiamat dan Hutan Wakaf, Dua Cara Iman Menjaga Alam
Ilustrasi tangan memegang ponsel yang menampilkan gelembung percakapan di ruang gelap
5.976 Komentar di Bawah Siaran Fatwa PUBG dan Apa Isinya
Ilustrasi struktur bata merah candi tua di tepi kanal dikelilingi hutan rawa
Serbuk Sari Obat Malaria di Percandian Muarajambi Abad ke-7
Ilustrasi undakan batu andesit menembus padang rumput di punggungan gunung berkabut
Api Merbabu Menyingkap Tangga Batu dan Prasasti 1527 Masehi
Ilustrasi dua batu nisan tegak di halaman berumput dengan siluet masjid di kejauhan
Makam yang Menolak Pindah dan Kenduri Sko yang Berpindah ke Masjid