Cekricek.id — Sembilan ratus gram bubuk daun suruhan dibeli dari sebuah toko jamu di Situbondo, Jawa Timur, lalu dibagi rata ke dalam tiga wadah tertutup. Wadah pertama direndam etanol, wadah kedua etil asetat, wadah ketiga n-heksana. Dari tiga rendaman itulah muncul pertanyaan yang dijawab sebuah penelitian laboratorium di Jakarta: pelarut mana yang paling banyak menarik keluar senyawa yang mampu membunuh sel kanker payudara di dalam cawan.
Jawabannya dipaparkan Ade Arsianti dari Departemen Kimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Drug Development Research Center (DDRC) Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI), bersama Rafael Erlangga Bagas Pratama dan Steven Gill selaku mahasiswa kedokteran di fakultas yang sama, serta Diyah Kristanty dari Departemen Patologi Klinik, lewat artikel Solvent-Dependent Cytotoxicity of Peperomia pellucida Leaf Extracts Against MCF-7 Breast Cancer Cells (Sitotoksisitas ekstrak daun Peperomia pellucida yang bergantung pelarut terhadap sel kanker payudara MCF-7). Artikel itu terbit dalam Indonesian Journal of Medical Chemistry and Bioinformatics Vol. 5 No. 1 pada 2026.
Satu hal perlu diletakkan di depan sebelum angka-angkanya dibaca: seluruh pengujian dalam riset ini dilakukan terhadap sel di dalam laboratorium, bukan terhadap manusia. MCF-7 adalah galur sel kanker payudara yang dipelihara di cawan kultur dan sudah dipakai peneliti di seluruh dunia selama berpuluh tahun. Uji terhadap sel semacam ini adalah tahap paling awal dalam rantai panjang pengembangan obat — ia menyaring bahan mana yang layak diteliti lebih lanjut, dan sama sekali bukan bukti bahwa bahan itu berkhasiat, aman, atau boleh dipakai orang sakit.
Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri
Tanaman yang Tumbuh di Sela Ubin
Peperomia pellucida, yang di Indonesia dikenal sebagai suruhan, adalah herba tropis yang tersebar luas di berbagai daerah. Menurut taksonomi yang dicantumkan di naskah, ia masuk keluarga Piperaceae — kerabat lada — dalam bangsa Piperales. Perhatian peneliti tertuju pada tanaman ini karena kajian fitokimia sebelumnya menemukan beragam kandungan aktif dengan aktivitas antimikroba, antiradang, pereda nyeri, penurun demam, antioksidan, dan antikanker.
Latar persoalannya adalah beban kanker payudara. Data Global Cancer Observatory 2020 yang dikutip penulis mencatat 68.858 kasus baru kanker payudara di Indonesia atau 16,6 persen dari seluruh kanker, dengan 22.430 kematian atau 9,6 persen — menjadikannya kanker yang paling sering didiagnosis sekaligus penyebab kematian akibat kanker kedua terbanyak secara nasional. Kemoterapi tetap menjadi tulang punggung penanganan, tetapi manfaat klinisnya kerap dibatasi indeks terapi yang sempit, biaya tinggi, dan efek samping yang berat.
Justru di celah itulah para penulis menempatkan peringatan mereka sendiri. Obat herbal, tulis mereka, banyak dipakai sebagai pilihan pelengkap dalam perawatan kanker karena umumnya dianggap lebih aman, lebih terjangkau, dan lebih kecil kemungkinannya menimbulkan efek merugikan dibanding pengobatan konvensional. Anggapan itu tidak mereka amini begitu saja. “Meski demikian, kemanjuran antikanker mereka masih belum cukup didukung bukti ilmiah,” tulis Ade Arsianti dan rekan-rekannya. Karena itulah, menurut mereka, kajian fitokimia dan sitotoksisitas diperlukan untuk memvalidasi potensi terapeutiknya.
Tiga Pelarut, Tiga Hasil Rendaman
Penelitian dikerjakan di Departemen Kimia Kedokteran dan DDRC IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Bubuk daun suruhan diperoleh dari Toko Mustika Djamue di Situbondo, Jawa Timur. Sebanyak 300 gram bubuk pada tiap wadah direndam dalam 500 mililiter pelarut selama 24 jam pada suhu ruang, disaring, lalu ampasnya direndam ulang dengan 500 mililiter pelarut yang sama selama 24 jam berikutnya. Kedua hasil saringan digabung, dipekatkan dengan rotary evaporator, dan dikeringkan dalam oven bersuhu 50 derajat Celsius.
Selisih hasilnya besar. Etanol 70 persen menghasilkan 5,54 gram ekstrak atau rendemen 1,85 persen; etil asetat menghasilkan 1,31 gram atau 0,44 persen; dan n-heksana menghasilkan 1,17 gram atau 0,39 persen. Etanol, yang bersifat polar, jelas lebih efektif menarik keluar kandungan fitokimia daun suruhan dibanding etil asetat yang semipolar dan n-heksana yang nonpolar.
Ketiga ekstrak lalu diuji terhadap sel MCF-7 memakai metode MTT. Sel ditanam dalam pelat 96 sumur, 100 mikroliter per sumur, dan diinkubasi 24 jam pada suhu 37 derajat Celsius dalam inkubator lembap. Tiap ekstrak diencerkan menjadi delapan tingkat kadar: 3,125; 6,25; 12,5; 25; 50; 100; 200; dan 400 mikrogram per mililiter. Doksorubisin — obat kemoterapi yang sudah dipakai di klinik — menjadi kontrol positif, sedangkan larutan tanpa ekstrak menjadi kontrol negatif. Semua dikerjakan tiga kali ulangan. Setelah 24 jam, pereaksi MTT ditambahkan, dan empat jam berikutnya kristal formazan ungu yang terbentuk dilarutkan dengan dimetil sulfoksida sebelum serapannya diukur pada panjang gelombang 590 nanometer. Prinsipnya: makin pekat warna ungu, makin banyak sel yang masih hidup.
Angka IC50 dan Cara Membacanya
Hasilnya dinyatakan sebagai IC50, yakni kadar ekstrak yang dibutuhkan untuk menekan pertumbuhan sel MCF-7 sebanyak 50 persen. Makin kecil angkanya, makin sedikit bahan yang diperlukan untuk menghambat sel. Ekstrak etanol mencatat IC50 rata-rata 10,68 mikrogram per mililiter dengan simpangan baku 1,57; ekstrak etil asetat 17,81 dengan simpangan baku 5,21; dan ekstrak n-heksana 62,73 dengan simpangan baku 24,89. Doksorubisin sebagai kontrol positif mencatat 1,21 dengan simpangan baku 0,69 — masih jauh lebih kuat daripada ekstrak mana pun.
Baca juga: Satu Butir Pati di Gigi Rangka Plawangan Ternyata Bukan Gandum
Berdasarkan kriteria National Cancer Institute yang dipakai penulis, ekstrak dengan IC50 di bawah 20 mikrogram per mililiter tergolong sangat sitotoksik, 20 sampai 100 tergolong sedang, dan di atas 100 tergolong lemah atau tidak aktif. Dengan patokan itu, ekstrak etanol dan etil asetat masuk kategori aktif kuat, sementara n-heksana masuk kategori sedang. Perlu dicatat bahwa simpangan baku ekstrak n-heksana sangat lebar — nilai per ulangannya berkisar 34,04 sampai 78,53 mikrogram per mililiter — yang berarti hasilnya tidak konsisten antarpengulangan.
Uji statistiknya berjalan bertahap. Sebaran data dipastikan normal dengan uji Shapiro-Wilk, lalu dibandingkan dengan ANOVA satu arah yang menunjukkan perbedaan bermakna di antara ketiga jenis ekstrak. Uji lanjut Tukey pada selang kepercayaan 95 persen menemukan bahwa perbedaan antara ekstrak etanol dan ekstrak etil asetat tidak bermakna secara statistik, sementara ekstrak n-heksana berbeda bermakna dari keduanya. Artinya, klaim bahwa etanol lebih unggul dari etil asetat tidak ditopang uji statistik penelitian ini sendiri; yang tegas terbukti hanyalah bahwa pelarut nonpolar tertinggal dari dua pelarut lainnya.
Mengapa Etanol Menarik Lebih Banyak
Penjelasan yang diajukan penulis bersandar pada kimia pelarut. Etanol adalah pelarut polar protik yang dikenal mampu menarik spektrum fitokimia yang luas, terutama senyawa polar dan semipolar seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan triterpenoid. Etanol 70 persen mengandung fase air sekaligus fase organik, sehingga dapat melarutkan senyawa dengan rentang polaritas yang lebih lebar, khususnya fenolik kaya gugus hidroksil dan flavonoid terglikosilasi. Sebaliknya, n-heksana yang nonpolar lebih memilih senyawa lipofilik seperti asam lemak, lilin, sterol, dan terpenoid nonpolar.
Penapisan fitokimia yang pernah dikerjakan kelompok penulis sebelumnya menemukan alkaloid, flavonoid, tanin, steroid, dan triterpenoid pada daun suruhan. Flavonoid terdeteksi di semua ekstrak, sedangkan alkaloid dan triterpenoid hanya ada di ekstrak etanol dan etil asetat, tanin tidak terdeteksi di ekstrak etil asetat, dan steroid tidak ditemukan di ekstrak etanol. Perbedaan susunan itulah yang, menurut penulis, masuk akal menjelaskan urutan kekuatan sitotoksisitasnya. Hasil mereka juga sejalan dengan laporan sebelumnya oleh Wei dan rekan-rekannya, yang mencatat ekstrak metanol daun suruhan menekan sel MCF-7 dengan IC50 sekitar 10,40 mikrogram per mililiter.
Perlu ditekankan bahwa mekanisme molekuler yang disebut penulis — pemicuan apoptosis lewat jalur mitokondria, pengaturan spesies oksigen reaktif, sampai gangguan pada pensinyalan reseptor estrogen — adalah penjelasan yang mereka pinjam dari literatur senyawa flavonoid pada umumnya, bukan hasil pengukuran dalam penelitian ini. Riset ini hanya mengukur berapa banyak sel yang mati pada tiap kadar, bukan bagaimana sel itu mati.
Batas yang Harus Dibaca Bersama Angkanya
Naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan penelitian secara tersendiri. Penulisnya hanya menyatakan bahwa penelitian lanjutan dibutuhkan untuk mengurai mekanisme molekulernya, dan menutup dengan kalimat bahwa temuan itu “mendukung potensi pengembangan ekstrak berbasis etanol dari P. pellucida sebagai kandidat yang menjanjikan untuk pengembangan obat antikanker lebih lanjut”. Kata kandidat dan lebih lanjut di kalimat itu memikul beban yang berat.
Baca juga: Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas
Yang tidak dikerjakan penelitian ini perlu disebut apa adanya. Pengujian hanya memakai satu galur sel kanker, yaitu MCF-7 yang positif reseptor estrogen; naskahnya tidak melaporkan pembanding berupa sel normal, sehingga tidak diketahui apakah ekstrak itu juga membunuh sel sehat pada kadar yang sama. Tidak ada uji pada hewan, apalagi pada manusia. Tidak ada pengukuran dosis, keamanan, penyerapan, maupun interaksi dengan obat lain. Bahan bakunya pun berasal dari satu sumber di satu daerah, sementara penulis sendiri mengakui bahwa asal geografis dan kondisi lingkungan diketahui memengaruhi profil fitokimia dan, karenanya, aktivitas biologis tanaman.
Karena itu, hasil ini tidak boleh dibaca sebagai anjuran mengonsumsi daun suruhan dalam bentuk apa pun untuk kanker payudara. Ekstrak yang diuji adalah bahan terkonsentrasi hasil dua siklus maserasi dan penguapan pelarut, diteteskan langsung ke sel dalam cawan pada kadar mikrogram per mililiter — situasi yang tidak punya padanan dengan tubuh manusia yang mencerna, menyerap, mengurai, dan membuang zat. Yang dilaporkan penelitian ini adalah satu petunjuk awal di meja laboratorium, dan penulisnya menempatkannya persis di posisi itu. Riset ini didanai hibah PUTI Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia periode 2023-2024, dan para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.
















