- Hanya 16,1 persen yang selalu memeriksa label gizi sebelum membeli.
- Dari 273 mahasiswa, 57 orang atau 20,9 persen menjalani diet ketat.
- Di kelompok berpengetahuan kurang, mahasiswa berdiet ketat mengisi 29,5 persen tempat.
- Hanya 14,3 persen yang sangat setuju bahwa informasi pada label bisa dipercaya dan 32,6 persen setuju.
- Penelitian ini memotret satu waktu saja, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat ditetapkan.
Daftar Isi
- Hafal lambang merah, tetapi mata lebih dulu mencari tanggal kedaluwarsa
- Mereka yakin label itu berguna, tetapi tidak sepenuhnya percaya pada isinya
- Kembali ke lima puluh tujuh mahasiswa yang berdiet ketat itu
- Apa yang diminta dua penulis dari ruang kuliah, dan di mana temuan ini berhenti
- Beberapa angka dalam naskah yang layak dibaca ulang pembaca
Lima puluh tujuh mahasiswa kedokteran di Nashik, India, mengaku sedang menjalani diet ketat. Mereka calon dokter yang menjaga makan, kelompok yang paling masuk akal diharapkan fasih membaca kemasan. Hasilnya berbalik. Ketika pengetahuan tentang label makanan diuji, justru merekalah yang lebih sering jatuh ke golongan berpengetahuan kurang, dengan peluang 1,86 kali dibanding kawan yang tidak berdiet ketat.
Kejutan itu dicatat Sayali H. Kalambe dan Akhil R. Nair dalam Food label knowledge, practices, and associated factors among undergraduate medical students in Northern Maharashtra: a cross-sectional study, terbit di BMC Public Health volume 26, artikel 1538, tahun 2026. Kalambe berasal dari SMBT Institute of Medical Sciences and Research Centre di Nashik, sedangkan Nair dari Departemen Kedokteran Komunitas Dr. D. Y. Patil Medical College di Pune.
Yang mereka tanyai adalah 273 mahasiswa sarjana kedokteran di satu kampus, lewat kuesioner yang diisi sendiri di ruang kelas. Sebanyak 59,0 persen perempuan, usia rata-rata 21,4 tahun, dan indeks massa tubuh rata-rata 23,3. Sekitar separuh dari mereka tergolong kelebihan berat badan atau obesitas menurut pedoman Asia-Pasifik. Lima pertanyaan pengetahuan lalu membelah kelas itu: 61 orang berpengetahuan kurang, 212 orang memadai.
Hafal lambang merah, tetapi mata lebih dulu mencari tanggal kedaluwarsa
Di atas kertas, para mahasiswa itu tahu aturannya. Sebanyak 96,30 persen menjawab benar bahwa lambang makanan nonvegetarian berwarna merah, dan 94,90 persen memahami syarat bahan kemasan. Lembaga yang mengatur label pangan di India, Food Safety and Standards Authority of India atau FSSAI, dikenali 84,40 persen. Angkanya baru turun pada aturan yang lebih rinci.
Aturan rinci itu menyangkut ukuran. Hanya 75,90 persen yang tahu bahwa luas panel utama pada kemasan mengikuti besar kemasannya. Lebih sedikit lagi, 66,90 persen, yang tahu bahwa ukuran lambang juga berubah menurut besar kemasan. Kalambe dan Nair membacanya sebagai celah pengetahuan pada peraturan yang spesifik, yang menurut mereka bisa ditutup dengan pengajaran yang terarah.
Lalu adegannya berpindah ke saat membeli. Sebanyak 39,6 persen mahasiswa selalu memeriksa merek, tanggal produksi, tanggal kedaluwarsa, dan harga, dan 36,6 persen lagi sering melakukannya. Label gizi lain cerita. Hanya 16,1 persen yang selalu memeriksa label gizi sebelum membeli. Kira-kira satu dari enam orang, di kelas yang kelak diminta menasihati pasien soal makanan.
Rincian di dalam label gizi itu bernasib serupa. Kandungan energi, protein, gula tambahan, dan karbohidrat selalu dibaca oleh 19,4 persen mahasiswa dan sering dibaca oleh 31,1 persen. Takaran saji selalu diperiksa 14,7 persen. Bahan tambahan 12,1 persen. Negara asal 11,7 persen. Untuk butir-butir semacam ini, jawaban yang paling banyak dipilih adalah kadang-kadang.
Tanda halal berada di ujung paling bawah. Sebanyak 13,9 persen mengaku selalu memeriksanya dan 10,3 persen sering, sedangkan 27,8 persen tidak pernah, angka tidak pernah yang tertinggi di antara sebelas kebiasaan yang ditanyakan. Nama dan alamat produsen serta berat bersih juga lebih sering dilewati. Petunjuk pemakaian sedikit lebih beruntung: 20,9 persen selalu membacanya.
Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi
Mereka yakin label itu berguna, tetapi tidak sepenuhnya percaya pada isinya
Sikap para mahasiswa itu sebenarnya ramah terhadap label. Hampir separuh, 49,8 persen, sangat setuju bahwa label membantu orang dengan kondisi kesehatan tertentu menghindari bahan tertentu, dan 39,9 persen setuju. Bahwa orang perlu membaca label dengan teliti sebelum membeli, 39,6 persen sangat setuju dan 40,7 persen setuju. Pentingnya mengetahui batas gula, lemak, natrium, dan serat per sajian didukung 87,9 persen.
Kepercayaan adalah soal lain. Hanya 14,3 persen yang sangat setuju bahwa informasi pada label bisa dipercaya dan 32,6 persen setuju. Jawaban terbanyak justru netral, 39,6 persen. Kedua penulis menyebut rendahnya kepercayaan itu sebagai hal yang mengkhawatirkan. Menurut mereka, pengajaran perlu menekankan kerangka peraturan dan standar ketepatan yang berlaku bagi label.
Satu pernyataan memecah kelas hampir rata: semua makanan berlisensi FSSAI itu sehat. Sebanyak 36,3 persen memilih netral, 31,1 persen setuju, 19,0 persen tidak setuju. Bagi Kalambe dan Nair, mereka yang menolak pernyataan itu menangkap hal yang penting, yakni bahwa lisensi tidak dengan sendirinya berarti mutu gizi. Kesadaran itu mereka anggap perlu dimiliki orang yang kelak membimbing pilihan makan pasiennya.
Jarak antara tahu dan melakukan itulah yang oleh kedua penulis dinamai celah “know-do”. Mereka khawatir kebiasaan pribadi para mahasiswa akan memengaruhi rasa percaya diri dan kecakapan mereka ketika memberi nasihat makan. Pengetahuan teori yang ada sekarang, menurut keduanya, tidak otomatis menjelma menjadi keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk membimbing pasien.
Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Kembali ke lima puluh tujuh mahasiswa yang berdiet ketat itu
Dari 273 mahasiswa, 57 orang atau 20,9 persen menjalani diet ketat. Sebaran mereka timpang. Di kelompok berpengetahuan kurang, mahasiswa berdiet ketat mengisi 29,5 persen tempat. Di kelompok berpengetahuan memadai, hanya 18,4 persen. Dari semua ciri yang diperiksa, hanya inilah yang berkaitan secara bermakna dengan pengetahuan label, dan arahnya berlawanan dengan yang orang duga.
Kalambe dan Nair menyebut hasil itu paradoks dan menawarkan dugaan. Kelompok ini, tulis mereka, mungkin bersandar pada diet yang sedang tren, saran para pemengaruh, atau pantangan kaku semacam tanpa karbohidrat, alih-alih membaca tabel informasi gizi secara teknis. Dugaan itu tidak mereka uji. Kuesionernya tidak menanyakan dari mana para mahasiswa mengambil aturan diet mereka.
Di titik itulah keduanya menulis kalimat paling tajam dalam naskah. “Ini menyingkap kerentanan yang kritis: calon dokter yang secara pribadi sadar kesehatan mungkin sedang mengikuti, dan berpotensi meresepkan, praktik diet yang tidak ilmiah,” tulis Sayali H. Kalambe dan Akhil R. Nair dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Ciri lain diam saja. Sebanyak 64,1 persen mahasiswa sedang berusaha menurunkan berat badan atau membentuk tubuh, dan 39,2 persen rutin berolahraga di pusat kebugaran. Tidak satu pun dari keduanya berkaitan dengan pengetahuan label. Jenis kelamin tidak, tingkat kuliah tidak, kategori berat badan pun tidak. Mahasiswa tahun pertama dan tahun akhir tersebar hampir sama di kedua kelompok.
Padahal kedua penulis berangkat dengan dugaan sebaliknya. Mereka mengira indeks massa tubuh akan menjadi penentu, sebab orang yang sedang mengatur berat badan semestinya lebih terdorong memakai informasi gizi. Hitungan mereka menolak dugaan itu: usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh tidak meramalkan apa pun. Sebuah penelitian di Chennai yang mereka kutip pernah melaporkan mahasiswi 3,4 kali lebih paham label daripada mahasiswa.
Tafsir yang mereka ajukan menunjuk ke ruang kuliah. Kurikulum kedokteran yang padat dan seragam, menurut keduanya, mungkin bekerja sebagai penyama rata. Paparan pendidikan yang sama menjadi pengaruh yang lebih kuat daripada ciri pribadi yang biasanya menggerakkan orang membaca label. Itu pun dugaan. Yang terukur hanyalah tidak adanya beda antarkelompok.
Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Apa yang diminta dua penulis dari ruang kuliah, dan di mana temuan ini berhenti
Usul mereka bertumpu pada praktik. Kalambe dan Nair meminta modul pendidikan yang praktis dan berfokus pada perilaku dimasukkan ke kurikulum kedokteran, supaya calon dokter lebih siap membimbing pasien. Mereka menunjuk butir yang jarang dilirik. Memahami bahan tambahan membantu mengenali alergen atau bahan yang tidak sehat, sedangkan takaran saji menentukan benar tidaknya seseorang menafsirkan angka gizi.
Mengapa label gizi jarang dibuka, naskah ini tidak mengukurnya sendiri. Kedua penulis hanya merujuk penelitian terdahulu yang menyebut keterbatasan waktu, kurangnya minat, dan kesan bahwa label gizi itu rumit. Penelitian lain yang mereka kutip menyebut rasa dan kesetiaan pada merek sebagai penentu utama pilihan makanan. Semua itu mereka sodorkan sebagai kemungkinan.
Batas temuan ini diakui penulisnya sendiri. Penelitian ini memotret satu waktu saja, sehingga hubungan sebab-akibat tidak dapat ditetapkan. Diet ketat berjalan seiring dengan pengetahuan yang kurang, tetapi tidak terbukti menyebabkannya. Pesertanya diambil dari mahasiswa yang mudah dijangkau di satu kampus, sehingga mungkin tidak mewakili seluruh mahasiswa kedokteran, apalagi seluruh India.
Ada batas lain yang menyentuh inti cerita. Semua kebiasaan tadi dilaporkan sendiri oleh para mahasiswa. Kedua penulis mengingatkan bahwa jawaban semacam itu rentan terhadap ingatan yang meleset dan terhadap keinginan untuk tampak baik. Tidak seorang pun diamati ketika benar-benar berdiri di depan rak dan memegang kemasan.
Beberapa angka dalam naskah yang layak dibaca ulang pembaca
Naskah ini memuat beberapa angka yang tidak saling cocok. Pada tabel sikap, baris tentang kepercayaan terhadap label berisi 14,3, 32,6, 39,6, 11,4, dan 2,2 persen. Pada tabel kebiasaan, baris tentang memeriksa lambang vegetarian berisi deret yang persis sama, sampai ke jumlah orangnya. Dua pertanyaan berbeda jarang menghasilkan lima angka kembar, sehingga salah satunya patut diperiksa.
Teks juga menyebut sebagian besar mahasiswa menolak anggapan bahwa semua makanan berlisensi FSSAI sehat, padahal tabelnya mencatat 24,9 persen yang tidak setuju dan 38,8 persen yang setuju. Persentase pada tabel pengetahuan pun tidak cocok dengan pembagi 273: 228 jawaban benar ditulis 84,40 persen, sementara hitungannya sekitar 83,5 persen. Kedua penulis menyatakan memakai model bahasa Gemini untuk menyunting bahasa naskah.
Lima puluh tujuh mahasiswa itu tetap di tempatnya, di antara 273 kawan sekelasnya di Nashik. Mereka menjaga makan dan kelak akan ditanya pasien tentang apa yang sebaiknya dimakan. Yang dicatat naskah ini hanya satu hal tentang mereka. Pada lima pertanyaan soal label makanan, mereka lebih sering tertinggal.















