Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

A A

Tangan menusuk ujung jari dengan alat lancet untuk memeriksa gula darah [Foto: Reversing Your Diabetes Today/Wikimedia Commons CC0]

  • Lima ranah literasi kesehatan 15 warga Artsamart naik dari skor kurang (38-46) ke baik (84-88) dalam 24 minggu
  • Berat badan turun 2,79 kg, lingkar pinggang 3,35 cm, gula darah puasa 6,47 mg/dL; sembilan dari 15 kembali normal
  • Program dirancang warga sendiri: pertemuan di kuil desa, relawan tetangga sebagai fasilitator, tanpa kata sakit atau pasien
  • Tanpa kelompok pembanding; naskah menyebut durasi 8 minggu dan 14 minggu secara bergantian
Daftar Isi
  1. Mengapa tahu saja tidak membuat orang berubah
  2. Bagaimana literasi kesehatan bekerja dalam lima ranah
  3. Bagaimana kampung dijadikan ruang belajar
  4. Yang berubah pada tubuh setelah 24 minggu
  5. Empat faktor yang membuat mekanisme itu berjalan
  6. Di mana penjelasan itu berhenti
  7. Angka yang tidak selalu sejalan di dalam naskah

Semua orang di kampung itu punya anggota keluarga yang mengidap diabetes, semuanya pernah terkena COVID-19, dan sebagian besar berperut lebih lebar dari batas aman. Namun ketika ditanya, dua belas dari lima belas orang tidak bisa menyebutkan apa yang membuat mereka berisiko. Mereka merasa sehat. Kejanggalan inilah yang menjadi titik berangkat sebuah kerja enam bulan di sebuah kecamatan di timur laut Thailand, di tepi perbatasan dengan Laos.

Kerja itu dilaporkan Arunrat Utaisang, Benjayamas Pilayon, Thisachon Thanyawarathorn, Satjaporn Panomsak, dan Nitikorn Phoosuwan dalam Population-focused community-based health literacy model for high-risk people: preventing type 2 diabetes mellitus through participatory action research in rural Thailand, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1138, tahun 2026. Para penulis berasal dari Boromarajonani College of Nursing Nakhon Phanom di Nakhon Phanom University, Artsamat Subdistrict Health Promoting Hospital, Thammasat University, dan Uppsala University di Swedia.

Mengapa tahu saja tidak membuat orang berubah

Lokasinya Kecamatan Artsamart, Distrik Muang, Provinsi Nakhon Phanom: enam desa, sekitar 3.500 penduduk, campuran warga Thai, Laos, dan Vietnam, penganut Buddha dan Kristen. Satu rumah sakit promosi kesehatan tingkat kecamatan melayani semuanya. Menurut paper, prevalensi diabetes tipe 2 di sana 10,6 persen per tahun, dan provinsi ini mencatat 27.560 kasus terdiagnosis. Persoalannya, sistem yang ada pandai merawat orang yang sudah sakit, tetapi tidak punya jalur untuk orang yang baru berisiko.

Seorang relawan kesehatan desa merumuskannya dalam diskusi kelompok yang dikutip paper: “Kami punya sistem yang baik untuk merawat orang yang sudah diabetes, tetapi kami tidak punya cara yang jelas untuk membantu orang yang berisiko sebelum mereka jatuh sakit.” Kutipan itu, seperti semua kutipan warga dalam paper, ditulis tanpa nama dan diterjemahkan para penulis dari bahasa Thai ke bahasa Inggris.

Karena itu para peneliti tidak memulai dari materi penyuluhan, melainkan dari pertanyaan bagaimana pengetahuan bisa berubah menjadi perbuatan. Jawabannya, menurut paper, terletak pada siapa yang menyampaikan, di mana ia disampaikan, dan dengan bahasa apa.

Bagaimana literasi kesehatan bekerja dalam lima ranah

Para penulis memakai kerangka literasi kesehatan Nutbeam yang bertingkat tiga: fungsional, yaitu mengerti informasi dasar; interaktif, yaitu mampu bertindak dan berdiskusi atas informasi itu; dan kritis, yaitu menimbang informasi lalu mengambil kendali atas kesehatan sendiri. Alat ukurnya kuesioner 20 butir buatan Kaewdumkoeng yang memecah literasi menjadi lima ranah: akses, pemahaman, penilaian, penerapan, dan komunikasi. Skor tiap ranah berkisar 20 sampai 100; di bawah 60 disebut kurang, 80 ke atas disebut baik.

Pada awal program, lima belas peserta berada di tingkat kurang pada semua ranah, dengan rata-rata antara 38,33 untuk penilaian dan 46,25 untuk akses. Mereka sedikit lebih mampu mencari informasi daripada menimbangnya. Yang membuatnya rumit, orang yang tidak bisa menilai informasi juga tidak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan dengan informasi itu. Skor penerapan 40,83 dan komunikasi 39,17 menunjukkan pengetahuan yang ada berhenti di kepala, tidak keluar menjadi tindakan atau percakapan dengan orang lain.

Literasi kesehatan naik dari kurang ke baikAkses 46,25 ke 87,92; Pemahaman 42,50 ke 86,67; Penilaian 38,33 ke 84,17; Penerapan 40,83 ke 85,83; Komunikasi 39,17 ke 85,00.Literasi kesehatan naik dari kurang ke baikSkor rata-rata 15 warga berisiko diabetes di ArtsamartAwal programMinggu ke-24020406080100Akses46,2587,92Pemahaman42,5086,67Penilaian38,3384,17Penerapan40,8385,83Komunikasi39,1785,00Skor tiap ranah 20-100; di bawah 60 disebut kurang, 80 ke atasdisebut baik.
Sumber: Arunrat Utaisang, Benjayamas Pilayon, Thisachon Thanyawarathorn, Satjaporn Panomsak, dan Nitikorn Phoosuwan, Population-focused community-based health literacy model for high-risk people: preventing type 2 diabetes mellitus through participatory action research in rural Thailand, BMC Public Health, 26(1138), 2026. Grafik: Cekricek.id

Bagaimana kampung dijadikan ruang belajar

Rancangan programnya tidak dibuat peneliti sendirian. Empat pertemuan kelompok kerja beranggotakan 15 sampai 20 orang, gabungan peserta berisiko, relawan kesehatan desa, tenaga kesehatan, dan pemimpin desa, menyepakati bentuknya. Pertemuan mingguan diadakan di kuil desa yang dianggap netral dan akrab, pada Selasa malam pukul enam sampai delapan supaya tidak bertabrakan dengan jadwal bertani. Fasilitator utamanya relawan kesehatan desa, bukan dokter atau perawat, sementara tenaga kesehatan berperan sebagai pengawas dan pemberi umpan balik.

Di luar pertemuan, relawan berkunjung ke rumah, dan sebuah grup LINE dipakai untuk bertanya kapan saja. Peserta mencatat sendiri makanan, durasi gerak, berat badan, dan gula darah bila ada alatnya, dalam sebuah buku catatan kesehatan. Keluarga diundang ke empat sesi bulanan. Panduan makan disusun dari makanan lokal dan musiman; tradisi berbagi makanan tidak dilarang, hanya porsinya yang diatur. Kata seperti “sakit” atau “pasien” sengaja dihindari dalam semua percakapan program.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Kehadiran peserta rata-rata 12,4 dari 14 sesi atau 88,6 persen. Relawan menuntaskan 200 dari 210 kunjungan rumah yang direncanakan. Peserta mengirim rata-rata 3,2 pesan per minggu di grup LINE, dan petugas menjawab dalam 24 jam pada 96,4 persen kasus. Catatan harian paling rajin diisi untuk berat badan, oleh 93,3 persen peserta pada lima hari atau lebih tiap minggu; catatan gula darah paling jarang, 46,7 persen, karena tidak semua orang punya alat pengukur.

Yang berubah pada tubuh setelah 24 minggu

Pengukuran ulang pada minggu ke-24, dua bulan setelah sesi terakhir, menunjukkan kelima ranah literasi naik ke tingkat baik, dengan rata-rata 84,17 sampai 87,92. Kenaikan terbesar tercatat pada penilaian dan komunikasi, dua ranah yang semula paling rendah. Tubuh ikut bergeser: berat badan turun rata-rata 2,79 kilogram, indeks massa tubuh turun 1,08, lingkar pinggang menyusut 3,35 sentimeter, lemak viseral turun 0,87 satuan, dan gula darah puasa turun 6,47 miligram per desiliter.

Yang lebih menarik adalah pergeseran per orang. Pada awal program sebelas dari lima belas peserta berada di rentang prediabetes, gula puasa 100 sampai 125 miligram per desiliter. Setelah program sembilan orang berada di rentang normal, lima tetap prediabetes dengan nilai lebih rendah, dan satu orang justru bergerak dari ambang normal ke prediabetes.

Orang terakhir itu dirujuk untuk pemantauan intensif. Satu-satunya ukuran yang tidak berubah bermakna adalah massa otot, yang para penulis kaitkan dengan durasi program yang terlalu pendek.

Yang bergeser pada tubuh pesertaYang bergeser pada tubuh pesertaYang bergeser pada tubuh pesertaRata-rata 15 peserta, tanpa kelompok pembanding-2,79kg berat badan67,15 ke 64,36-3,35cm pinggang88,73 ke 85,38-6,47mg/dL gulapuasa105,27 ke 98,809/15gula puasanormalsemula 4 orangJalan risetnya15 warga berisikoSesi di kuil desaUkur minggu ke-24Massa otot tidak berubah bermakna (21,30 ke 21,46 kg). Satu pesertabergeser dari ambang normal ke prediabetes.
Sumber: Arunrat Utaisang, Benjayamas Pilayon, Thisachon Thanyawarathorn, Satjaporn Panomsak, dan Nitikorn Phoosuwan, Population-focused community-based health literacy model for high-risk people: preventing type 2 diabetes mellitus through participatory action research in rural Thailand, BMC Public Health, 26(1138), 2026. Grafik: Cekricek.id

Empat faktor yang membuat mekanisme itu berjalan

Dari wawancara dan diskusi kelompok sesudah program, para penulis menyaring empat faktor keberhasilan. Pertama, modal komunitas: kuil, balai desa, relawan terlatih, pemimpin yang dipercaya, dan jaringan saling percaya yang sudah ada sebelum program datang. Kedua, pergeseran cara berpikir layanan kesehatan dari berpusat pada penyedia menjadi berpusat pada komunitas. Ketiga, kesadaran bahwa kesehatan dimulai dari diri sendiri. Keempat, pemantauan yang dekat tanpa menakut-nakuti atau memberi cap sakit.

Faktor ketiga inilah yang para penulis anggap sebagai inti literasi kritis. Utaisang dan rekan-rekannya menulis, dalam bahasa Inggris, bahwa “peserta yang mengungkapkan internalisasi lebih kuat atas ‘kesehatan dimulai dari diri sendiri’ (literasi kesehatan kritis) dalam wawancara cenderung menunjukkan perbaikan lebih besar pada parameter komposisi tubuh.” Dari sana mereka menduga literasi kritis menjadi perantara antara pengetahuan dan perubahan perilaku yang bertahan. Peserta yang aktif di grup LINE juga hadir lebih sering dan lebih rajin mencatat.

Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan

Di mana penjelasan itu berhenti

Para penulis sendiri menulis batasnya dengan tegas. Tidak ada kelompok pembanding, sehingga, tulis Utaisang dan rekan-rekannya dalam bahasa Inggris, “perbaikan yang teramati mungkin sebagian mencerminkan tren sekuler, regresi ke rerata, atau efek pengukuran, bukan semata efek intervensi.” Lima belas orang di satu kecamatan tidak bisa mewakili wilayah lain. Makanan dan aktivitas fisik hanya dicatat sendiri oleh peserta tanpa alat ukur objektif, dan angka komposisi tubuh dari alat impedansi adalah taksiran, bukan pengukuran baku emas.

Ada pula soal siapa yang ikut. Peserta dan pemangku kepentingan datang secara sukarela, sehingga mungkin yang terjaring adalah orang yang memang lebih termotivasi. Peneliti merangkap perancang dan penilai program, yang mereka akui membuka celah bias. Dan dua bulan setelah sesi terakhir terlalu singkat untuk menjawab apakah kebiasaan baru bertahan, sementara pencegahan diabetes menuntut perubahan yang berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Angka yang tidak selalu sejalan di dalam naskah

Pembaca yang membuka paper ini akan menemukan beberapa ketidaksesuaian. Abstrak dan bagian keterbatasan menyebut pelaksanaan delapan minggu, tetapi bagian hasil melaporkan 14 sesi mingguan yang seluruhnya terlaksana, kelompok kerja menyepakati durasi 14 minggu, dan catatan kaki tabel menyebut intervensi 14 minggu. Jumlah kunjungan rumah yang direncanakan, 210, cocok dengan 15 peserta dikunjungi 14 kali, padahal bagian metode menyebut kunjungan dua mingguan.

Teks hasil menyebut kenaikan terbesar pada ranah komunikasi sebesar 45,84 poin, diikuti penerapan dan penilaian 44,58 poin. Tabelnya mencatat lain: penilaian 45,84, komunikasi 45,83, dan pemahaman 44,17, tanpa angka 44,58 di mana pun.

Untuk gula darah puasa, nilai t 2,36 dan ukuran efek 0,61 persis sama dengan persentase lemak tubuh, tetapi nilai p keduanya berbeda, 0,009 dan 0,033. Catatan kaki tabel menyebut “13 dari 14 parameter” membaik, padahal tabel hanya memuat sepuluh parameter. Rata-rata usia tubuh sesudah program, 54,73 dengan simpangan 9,22, identik dengan usia kalender peserta.

Baca juga Petani Porang Ngrayun Menanam Tanpa Menyebut Etika

Kembali ke dua belas orang yang tidak tahu mengapa dirinya berisiko. Paper ini memberi jawaban yang sederhana sekaligus tidak sederhana: mereka bukan tidak tahu, melainkan tidak pernah diberi ruang untuk menilai dan membicarakan apa yang mereka tahu. Ketika ruang itu dibuat di kuil desa, oleh tetangga sendiri, tanpa cap sakit, pengetahuan yang sama berubah menjadi timbangan yang dicatat setiap pagi. Apakah perubahan itu bertahan setelah para peneliti pulang, naskah ini belum bisa menjawab.

Bagikan

Baca Juga

Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Ibu-ibu PKK Cupak Mengubah Jelantah dan Beras Solok Jadi Sabun
Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik
Dementia Game di Singapura: yang Berubah Justru yang Belum Kenal