Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi

A A

Gedung Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Kecamatan Kebumen, Jawa Tengah [Foto: SBM9/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Rerata kelahiran remaja 34 provinsi 25,0 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun, dari 7,8 di DKI Jakarta sampai 47,0 di Papua
  • Perkawinan anak berkorelasi 0,825 dan tetap bermakna dalam regresi bersama (B 2,384; p di bawah 0,001)
  • Median usia kawin pertama dan iBangga bermakna saat diuji sendiri, gugur saat diuji bersama
  • Model menjelaskan 66,4 persen variasi; desain ekologis tidak bisa ditafsirkan di tingkat individu
Daftar Isi
  1. Papua Enam Kali Jakarta
  2. Tiga Indikator Diuji
  3. Diuji Sendiri, Semua Bermakna
  4. Diuji Bersama, Dua Gugur
  5. Mengapa Median Gagal
  6. iBangga Belum Terbukti
  7. Batas Studi Provinsi
  8. Angka yang Perlu Dicek

Perkawinan anak menentukan berapa banyak remaja melahirkan di tiap provinsi. Dari tiga indikator keluarga yang diuji pada 34 provinsi, hanya angka perkawinan anak yang bertahan sebagai penjelas. Median usia kawin pertama dan indeks pembangunan keluarga gugur begitu ketiganya diuji bersama dalam satu model.

Temuan itu ditulis Andi Nisa Fathimiyah Afidah dan Milla Herdayati dalam Provincial Disparities in Adolescent Fertility in Indonesia: An Ecological Analysis of Child Marriage, Median Age at First Marriage, and Family Development Index, terbit di Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional volume 21 nomor 3, tahun 2026. Keduanya dari Departemen Biostatistik dan Kependudukan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.

Papua Enam Kali Jakarta

Ukurannya adalah kelahiran hidup per 1.000 perempuan usia 15 sampai 19 tahun. Rerata 34 provinsi 25,0 kelahiran, dengan simpangan baku 10,46 dan median 23,15. Rentang antarprovinsi lebar, dari 7,8 sampai 47,0 kelahiran per 1.000.

Papua berada di puncak dengan 47,0 kelahiran per 1.000 remaja perempuan. Di bawahnya Sulawesi Barat 39,1, lalu Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah sama-sama 38,8. Kalimantan Tengah menyusul dengan 38,4, sehingga tiga dari lima provinsi tertinggi berada di Sulawesi.

DKI Jakarta paling rendah dengan 7,8 kelahiran. DI Yogyakarta 9,0, Kepulauan Riau 11,1, Sumatera Barat 11,4, dan Jawa Tengah 13,7. Angka Papua enam kali lipat angka Jakarta, dan tiga dari lima provinsi terendah ada di Jawa.

Kelahiran remaja: lima provinsi tertinggi dan lima terendahPapua: ASFR 15-19 +47,0; Sulawesi Barat: ASFR 15-19 +39,1; Sulawesi Utara: ASFR 15-19 +38,8; Sulawesi Tengah: ASFR 15-19 +38,8; Kalimantan Tengah: ASFR 15-19 +38,4; Jawa Tengah: ASFR 15-19 +13,7; Sumatera Barat: ASFR 15-19 +11,4; Kepulauan Riau: ASFR 15-19 +11,1; DI Yogyakarta: ASFR 15-19 +9,0; DKI Jakarta: ASFR 15-19 +7,8.Kelahiran remaja: lima provinsi tertinggi danlima terendahKelahiran hidup per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun, 34 provinsi10203040500Papua47,0Sulawesi Barat39,1Sulawesi Utara38,8Sulawesi Tengah38,8Kalimantan Tengah38,4Jawa Tengah13,7Sumatera Barat11,4Kepulauan Riau11,1DI Yogyakarta9,0DKI Jakarta7,8Rerata 34 provinsi 25,0 per 1.000. Sebanyak 16 provinsi di atas 25, 11provinsi di 15-25, dan 7 provinsi di bawah 15.
Sumber: Andi Nisa Fathimiyah Afidah dan Milla Herdayati, Provincial Disparities in Adolescent Fertility in Indonesia: An Ecological Analysis of Child Marriage, Median Age at First Marriage, and Family Development Index, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 21(3), 2026. Grafik: Cekricek.id

Penulis membagi provinsi dalam tiga kelas. Sebanyak 16 provinsi atau 47,1 persen masuk kelas tinggi, di atas 25 kelahiran per 1.000. Kelas sedang 15 sampai 25 berisi 11 provinsi, dan kelas rendah di bawah 15 hanya berisi 7 provinsi.

Peta yang mereka buat menunjukkan pengelompokan wilayah. Angka tinggi terkumpul di Indonesia timur, Sulawesi, dan Kalimantan. Angka rendah terkumpul di Jawa dan beberapa provinsi di barat, sehingga kelahiran remaja menurut penulis tidak tersebar merata melainkan mengelompok menurut wilayah.

Tiga Indikator Diuji

Ada tiga indikator provinsi yang disandingkan dengan angka kelahiran remaja. Ketiganya diambil dari publikasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional tahun 2023 sampai 2024. Empat provinsi baru, yaitu Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya, tidak ikut karena datanya belum lengkap.

Indikator pertama adalah prevalensi perkawinan anak. Ukurannya persentase perempuan usia 20 sampai 24 tahun yang menikah sebelum 18 tahun. Reratanya 7,34 persen dengan simpangan baku 3,53. Rentangnya 0,88 sampai 17,32 persen antarprovinsi, atau hampir dua puluh kali lipat.

Indikator kedua adalah median usia kawin pertama perempuan usia 15 sampai 49 tahun. Reratanya 21,93 tahun, terendah 20,9 dan tertinggi 24,7 tahun. Provinsi dengan median terendah antara lain Sumatera Selatan dan Gorontalo, sedangkan tertinggi DKI Jakarta.

Indikator ketiga adalah iBangga, Indeks Pembangunan Keluarga milik program Bangga Kencana. Skornya 0 sampai 100, dengan tiga dimensi: ketenteraman, kemandirian, dan kebahagiaan. Rerata 34 provinsi 62,59, terendah 58,7 di Papua dan tertinggi 66,3.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Diuji Sendiri, Semua Bermakna

Diuji satu per satu, ketiganya berkaitan dengan kelahiran remaja. Perkawinan anak berkorelasi paling kuat, koefisiennya 0,825 dengan nilai p di bawah 0,001. Semakin tinggi perkawinan anak di satu provinsi, semakin tinggi pula kelahiran remajanya.

Dua indikator lain berkorelasi negatif dan sedang. Median usia kawin pertama koefisiennya minus 0,425 dengan p 0,012. iBangga koefisiennya minus 0,461 dengan p 0,006, sedikit lebih kuat daripada median usia kawin.

Sampai di sini ketiganya tampak sama-sama penting bagi kelahiran remaja. Provinsi dengan median usia kawin lebih tinggi cenderung lebih rendah kelahiran remajanya. Provinsi dengan skor iBangga lebih tinggi juga cenderung lebih rendah, dan ketiga nilai p berada di bawah batas 0,05.

Diuji Bersama, Dua Gugur

Gambarannya berubah saat ketiganya dimasukkan ke satu model regresi. Perkawinan anak tetap bermakna, koefisiennya 2,384 dengan p di bawah 0,001. Setiap kenaikan satu poin persen perkawinan anak sejalan dengan tambahan 2,4 kelahiran per 1.000 remaja perempuan.

Median usia kawin kehilangan maknanya, nilai p-nya 0,718. iBangga juga gugur dengan p 0,365, koefisiennya minus 0,592. Koefisien terstandar perkawinan anak 0,806, jauh di atas dua lainnya yang hanya 0,048 dan minus 0,110.

Tiga indikator, dua hasil ujiHanya perkawinan anak yang tetap bermakna setelah ketiganya diuji bersama.Tiga indikator, dua hasil ujiHubungan tiap indikator provinsi dengan ASFR 15-19 (N = 34 provinsi)KorelasiRegresi bersamar 0,825; p <0,001B 2,384; p <0,001Perkawinan anakr -0,425; p 0,012B 0,508; p 0,718Median usia kawinr -0,461; p 0,006B -0,592; p 0,365iBangga-R2 0,664 (66,4%)Daya jelas modelKorelasi Pearson diuji satu per satu; regresi linear berganda mengujiketiganya sekaligus. Bermakna bila p di bawah 0,05.
Sumber: Andi Nisa Fathimiyah Afidah dan Milla Herdayati, Provincial Disparities in Adolescent Fertility in Indonesia: An Ecological Analysis of Child Marriage, Median Age at First Marriage, and Family Development Index, Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 21(3), 2026. Grafik: Cekricek.id

Model bersama itu menjelaskan 66,4 persen variasi kelahiran remaja antarprovinsi. Sisanya, sepertiga variasi, tidak tertangkap tiga indikator ini. Penulis menyebut faktor budaya dan norma tidak terwakili langsung dalam data provinsi, meski mereka menduga keduanya ikut membentuk perbedaan antarwilayah.

Kesimpulan penulis lugas. “Secara keseluruhan, perkawinan anak adalah faktor tingkat provinsi utama yang berkaitan dengan disparitas provinsi dalam fertilitas remaja,” tulis Andi Nisa Fathimiyah Afidah dan Milla Herdayati dalam naskah berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi Overall, child marriage was the primary province-level factor associated with provincial disparities in adolescent fertility.

Mengapa Median Gagal

Penulis menawarkan penjelasan untuk gugurnya median usia kawin. Median hanya menandai usia saat separuh perempuan usia 15 sampai 49 tahun sudah menikah. Ia merangkum waktu menikah satu populasi, tetapi tidak menunjukkan berapa banyak yang menikah sangat muda.

Dua provinsi bisa punya median yang sama tetapi berbeda jauh dalam perkawinan anak. Yang satu punya banyak pengantin di bawah 18 tahun, yang lain sedikit. Karena itu, menurut penulis, kelahiran remajanya bisa berbeda meski medianya tidak berbeda.

Perkawinan anak mengukur ekor bawah sebaran itu secara langsung. Ia menghitung perempuan usia 20 sampai 24 tahun yang menikah sebelum 18 tahun, bukan titik tengah. Di situlah, menurut penulis, indikator ini lebih peka menangkap perbedaan kelahiran remaja.

Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu

iBangga Belum Terbukti

iBangga dipakai BKKBN untuk memetakan kualitas keluarga sampai tingkat rumah tangga. Skor nasional 2024 tercatat 62,4, masuk kategori berkembang dari tiga kategori rentan, berkembang, dan tangguh. Bali tertinggi, Papua terendah dengan 58,7.

Penulis menulis bahwa bukti empiris tentang hubungan iBangga dengan luaran kesehatan reproduksi masih terbatas. Indeks ini sudah diterapkan nasional, tetapi belum banyak diuji terhadap luaran kesehatan. Mereka meminta riset lanjutan untuk memastikan peran pembangunan keluarga dalam menjelaskan perbedaan kelahiran remaja.

Meski begitu, penulis tetap menilai pendekatan keluarga penting. Mereka mengutip riset lain bahwa kebanyakan program menyasar remaja perempuan. Padahal remaja perempuan sering bukan pengambil keputusan atas pernikahannya sendiri, dan orang tua kurang disentuh.

Batas Studi Provinsi

Penulis mencantumkan empat keterbatasan. Desainnya ekologis, sehingga hubungan yang ditemukan tidak bisa ditafsirkan di tingkat individu. Rerata provinsi menutupi perbedaan di dalam provinsi, dan pola di bawah provinsi tidak bisa disimpulkan.

Datanya sekunder dan agregat, jadi variabel terbatas pada yang tersedia di publikasi nasional. Tidak ada analisis sensitivitas atau uji kekokohan untuk memeriksa kestabilan temuan. Faktor budaya dan norma pun tidak tertangkap langsung oleh indikator provinsi.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Angka yang Perlu Dicek

Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca dengan membandingkan teks dan tabel. Bagian hasil menulis rentang kelahiran remaja “7,8 sampai 47 tahun”. Satuan yang benar, sesuai tabelnya, adalah kelahiran per 1.000 perempuan.

Teks hasil juga memberi tanda persen pada angka provinsi, misalnya Papua 47 persen dan Jakarta 7,8 persen. Tabel 2 memakai satuan per 1.000 perempuan usia 15 sampai 19 tahun. Kedua satuan itu tidak sama.

Ada pula soal bahasa sebab-akibat. Bagian hasil menulis disparitas “terutama disebabkan” perbedaan perkawinan anak. Abstrak dan bagian keterbatasan hanya memakai kata berkaitan, dan menegaskan desain ekologis tidak bisa membuktikan sebab.

Koefisien median usia kawin berbalik tanda. Dalam korelasi tunggal nilainya minus 0,425, tetapi dalam regresi bersama menjadi positif 0,508 dengan galat baku 1,395. Pembalikan tanda ini tidak bermakna secara statistik dan tidak dibahas penulis.

Tahun data juga tidak dirinci per variabel. Bagian metode menyebut publikasi 2023 sampai 2024, sedangkan peta diberi judul 2024. Ejaan nama provinsi pun berbeda antara tabel dan teks, misalnya West Sumatera dan West Sumatra.

Perkawinan anak menjelaskan dua pertiga perbedaan antarprovinsi. Sepertiga sisanya masih gelap, dan dua indikator keluarga yang dipakai program nasional tidak mampu mengisinya. Yang tersisa adalah satu angka tentang pengantin di bawah 18 tahun.

Bagikan

Baca Juga

Ibu-ibu PKK Cupak Mengubah Jelantah dan Beras Solok Jadi Sabun
Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas
Dua dari Tiga Migran Myanmar di Thailand Tak Habiskan Antibiotik
Dementia Game di Singapura: yang Berubah Justru yang Belum Kenal
Semprotan Adas Sowa Tak Menutup Jurang Tanah Lempung dan Gipsum